Hinaan

1063 Kata
Pagi itu, Rahmi mempersiapkan diri untuk menemui pelanggan pertamanya, Wulan. Di depannya tergeletak sebuah keranjang besar berisi detergen, pelembut pakaian, dan plastik kemasan. Hatinya berdebar kencang, suaranya seolah-olah bergemuruh di telinganya. Ada perpaduan antara gugup, takut, dan rasa bangga. Selama ini, ia hanya mencuci untuk keluarganya. Kini, ia akan melakukan hal yang sama tapi untuk orang lain, demi menyambung hidup. “Nak, hati-hati ya!” ucap Bu Dewi, suaranya penuh kekhawatiran. Ia berdiri di ambang pintu, menatap putrinya dengan tatapan sendu. “Iya, Bu. Rahmi pamit dulu,” balas Rahmi. Ia mencium tangan ibunya, lalu menggendong bayinya sebentar, mengecup keningnya. Kehangatan kulit bayinya adalah satu-satunya pelipur lara yang ia miliki. Kekuatan kecil itu terasa begitu nyata, menjadi pengingat mengapa ia harus berani melangkah. Si kecil itu adalah pemantik semangatnya. Kemudian Sari pun mulai berjalan. Di perjalanan, tak bisa dipungkiri jika dirinya merasa ragu. Setiap langkah di jalanan yang beraspal terasa berat. Ia bertanya-tanya, apakah ia bisa melakukan pekerjaan ini dengan baik? Apakah Wulan akan meremehkannya karena ia seorang sarjana yang kini menjadi tukang cuci? Rasa takut akan penilaian orang lain masih menghantuinya, tetapi tekadnya lebih kuat. Ia tidak boleh menyerah. Ia harus membuktikan kepada semua orang, bahwa ia bisa bangkit, terutama kepada mantan keluarga suaminya. Bahwa ijazah sarjananya tidak akan menghalangi tekadnya untuk mencari nafkah, bahkan dengan pekerjaan yang dianggap orang lain sebagai pekerjaan rendahan. Tak lama kemudian, ia tiba di rumah Wulan, yang berada di blok G. Rumahnya terlihat modern dan mewah. Hati Rahmi kembali berdebar. Ia menekan bel. Hingga tak berapa lama, pintu terbuka, dan Wulan menyambutnya dengan senyum ramah. “Mbak Rahmi, ayo masuk!” ucap Wulan, suaranya terdengar lembut dan bersahabat. Rahmi terkejut. Ia tidak menyangka, Wulan akan seramah ini. Ia kira, ia akan dipandang sebelah mata. Ia pun merasa lega dan kemudian masuk ke dalam rumah, lalu duduk di sofa. Wulan menyodorkan segelas air putih. “Terima kasih, Mbak,” ucap Rahmi, merasa lega. “Sama-sama. Oh iya, Mbak Rahmi, cuciannya ada di belakang. Mbak mau langsung kerjakan?” tanya Wulan. “Iya, Mbak. Saya mau langsung kerjakan,” balas Rahmi. Wulan mengangguk, lalu tersenyum. “Kalau ada apa-apa, panggil saja saya, ya?! Jangan sungkan!” Rahmi lantas mengangguk. Ia pergi ke belakang, dan melihat tumpukan cucian yang menggunung. Biasanya ia akan mengeluh jika cucian di rumahnya seperti dan sebanyak itu. Namun, kali ini ia justru bersyukur karenanya. Ia pun mulai mencuci. Sambil mencuci, menggosok baju dengan tangannya, ia melamun. Ia teringat kembali pada hinaan keluarga Mas Tegar. Kembali, hatinya terasa sakit. Namun, buru-buru ia menepisnya. Ia tidak bisa berlama-lama larut dalam kesedihan. Bayangan itu rasanya sudah tidak penting dan hanya akan menggores luka lama saja. Yang pasti, saat ini dirinya harus fokus bekerja. Ia harus membuktikan kepada mereka, bahwa ia bisa sukses tanpa mereka. Ia harus menunjukkan bahwa ia tidak selemah yang mereka kira. Saat Rahmi sedang mencuci, Wulan menemaninya mengobrol. Wulan tertarik dengan kisah Rahmi, dan Rahmi pun menceritakan sebagian kecil dari hidupnya, termasuk masalah rumah tangganya dan perpisahannya dengan Tegar. Wulan mendengarkan dengan penuh empati, dan memberinya semangat. Hubungan mereka berubah dari sekadar penjual dan pembeli menjadi pertemanan. Wulan bahkan menawarkan bantuan dan memberikan tips-tips sederhana kepada Rahmi. “Mbak Rahmi, kamu nggak perlu malu! Kamu itu hebat! Kamu berani keluar dari zona nyaman. Kamu berani bangkit. Banyak orang yang nggak bisa kayak kamu,” ucap Wulan. “Terima kasih, Mbak,” balas Rahmi, matanya berkaca-kaca. “Sama-sama. Oh, iya, saya mau tanya, Mbak Rahmi. Kok ada bekas luka di tangan Mbak?” tanya Wulan, suaranya terdengar penasaran. Rahmi terkejut. Ia menutupi tangannya, lalu tersenyum tipis. “Ini Cuma luka jatuh, Mbak. Nggak apa-apa.” “Tapi kelihatannya parah banget, Mbak,” balas Wulan. Rahmi terdiam. Ia memandangi tangannya, lalu berkata, “Ini luka saat saya jatuh. Dulu, saat saya hamil, saya jatuh dari tangga. Parahnya, waktu itu ... Mas Tegar Cuma lihatin saya tanpa mau menolong.” Wulan terkejut. “Kok bisa, Mbak?” “Iya, Mbak. Dia malah bilang, ‘Makanya jangan ceroboh!’ Hati saya sakit banget, Mbak. Padahal, saya jatuh karena mau ambil air minum untuk dia,” balas Rahmi. Luka di tangan itu adalah pengingat yang menyakitkan, simbol betapa ia pernah begitu rapuh. Dulu, ia pernah jatuh dari tangga saat hamil, namun ia bersyukur, meskipun Tegar tak berhati, bayi dalam kandungannya selamat. Kini, luka itu bukan lagi hanya tentang rasa sakit, melainkan sebuah simbol kekuatan dan keajaiban yang mengingatkannya betapa berharganya hidup yang ia genggam. Wulan terdiam. Ia menatap Rahmi dengan tatapan penuh iba. “Mbak Rahmi, kamu itu kuat. Kamu sudah melewati banyak hal. Kamu nggak usah malu, Mbak!” Rahmi tersenyum. Ia merasa, ia sudah mendapatkan teman baru. Ia merasa, ia sudah tidak sendirian. Setelah selesai mengerjakan pekerjaan pertamanya, Rahmi berpamitan dengan Wulan. Ia berjalan kembali ke rumahnya dengan hati yang berbunga-bunga, merasa bangga dan lega. Di benaknya terus terngiang perkataan Wulan. “Mbak Rahmi, besok saya mau pakai jasa Mbak lagi ya? Ini ada uang untuk upah Mbak,” ucap Wulan, sambil menyerahkan amplop berisi uang. Rahmi terkejut. Ia tidak menyangka, Wulan akan membayar lebih dari harga yang ia tawarkan. “Mbak, ini terlalu banyak,” ucap Rahmi. “Nggak apa-apa, Mbak. Anggap saja ini upah tambahan,” balas Wulan, sambil tersenyum. Rahmi menerima uang itu dengan rasa haru. Ia mengucapkan terima kasih, lalu berjalan kembali ke rumahnya. Saat ia melintasi halaman rumah salah seorang tetangga, ia bertemu dengan seorang ibu yang sedang menyiram tanaman. Ibu dengan rambutnya yang disanggul itu menatapnya dengan pandangan sinis. “Wah, sudah dapat pelanggan, ya? Hebat, ya, sarjana mau jadi tukang cuci! Nggak malu, ya?” ucap Ibu itu, nada suaranya terdengar mengejek. Hinaan itu menusuk hati Rahmi, membuat senyum di wajahnya seketika luntur. Ia mematung di tempat, rasanya darah di seluruh tubuhnya mendidih. Ia tidak langsung membalas, tetapi otaknya bekerja keras, mencari kalimat yang paling tepat untuk membalas hinaan itu. “Kenapa, kok diam? Malu? Makanya, jadi perempuan itu jangan ceroboh! Kalau bisa menjaga suami, nggak akan jadi janda, ‘kan?” sindir Ibu itu lagi, sambil tertawa sinis. Rahmi menahan napas. Ia menatap Ibu itu dengan mata yang berkaca-kaca, tetapi sorot matanya tajam. Rahmi mengepalkan tangannya di balik keranjang. Ia tidak akan membiarkan hinaan itu meruntuhkan semangatnya. “Amit-amit … jangan sampai anak saya kaya kamu! Hey, Rahmi, cari kerja kantoran, gih! Sayang banget ijazahmu itu! Jadi tukang cuci mah, yang nggak sekolah juga bisa,” sindir si Ibu blak-blakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN