Tidak Tumbang

1097 Kata
“Sarjana kok kerjanya jadi tukang cuci keliling?! Ngapain dulu bayar kuliah mahal-mahal? Hey, Rahmi! Orang tuamu dulu sampai pontang-panting nyari pinjaman buat ongkos kamu berangkat kuliah, tapi lihat! Anak yang mereka perjuangin, nyatanya malah malu-maluin. Sudah jadi janda pula,” kata Bu Lastri tak hentinya memaki. Rahmi mematung di tempat. Hinaan dari tetangganya yang bernama Ibu Lastri itu menusuk hatinya, membuat senyumnya seketika luntur. Ia mengepalkan tangannya. Darahnya terasa mendidih. Ia menahan napas, berusaha menenangkan diri. Ia tidak akan membiarkan hinaan itu meruntuhkan semangatnya. Ia berjanji, ia akan membuktikan kepada semua orang bahwa ia bisa sukses, bahkan dengan pekerjaannya saat ini. Ia akan membalas hinaan itu, tidak dengan kata-kata, tetapi dengan kesuksesannya. Mata Rahmi berkaca-kaca, tetapi sorot matanya tajam. Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu membalas. “Iya, Bu. Saya janda. Saya akui itu. Tapi setidaknya, saya janda terhormat. Saya tidak pernah merebut suami orang lain, apalagi mengharapkan harta mereka. Saya juga tidak pernah mencaci-maki orang lain di jalanan.” Wajah Ibu Lastri seketika berubah. Senyum sinisnya memudar, digantikan oleh raut terkejut. Ia tidak menyangka, Rahmi akan membalas ucapannya. “Kamu … kamu kok ngomong begitu?!” tanya Ibu Lastri, suaranya terdengar kaget dan marah. “Saya hanya berkata jujur, Bu. Saya juga bukan perempuan yang suka mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Oh, ya, terus ... kenapa dengan pekerjaan saya? Memangnya kerja cuci baju keliling itu salah? Selama itu pekerjaan baik dan halal, saya bakal ambil. Daripada saya harus jual diri di jalanan tengah malam. Saya juga punya prinsip, Bu. Dan prinsip saya, lebih baik miskin harta daripada miskin hati,” balas Rahmi, suaranya tegas. Ibu Lastri terdiam. Ia tidak bisa berkata-kata lagi. Rahmi membalas hinaan itu dengan kata-kata yang menusuk. Ia pun pergi meninggalkan Ibu Lastri yang mematung di tempat. Ia berjalan dengan kepala tegak, merasa bangga dengan dirinya sendiri. Meski sebenarnya ia juga merasa sedih mengingat perjuangan kedua orang tuanya dulu yang membantunya sampai bisa mendapat gelar sarjana. Rahmi juga mengambil hal positif dari perkataan Bu Lastri, menjadikannya semangat baru untuk hidupnya. Mungkin, pikirnya, ia harus mencari pekerjaan lain nantinya agar bisa membuat kedua orang tuanya bangga. Sesampainya di rumah, Rahmi disambut oleh Bu Dewi dan Pak Mamat. Keduanya melihat Rahmi dengan khawatir, lalu menanyakan apa yang terjadi. Rahmi pun menceritakan semua yang terjadi, dari awal hingga akhir. “Bapak bangga sama kamu, Nak,” ucap Pak Mamat, matanya berkaca-kaca. “Bapak benar. Nak, kamu sudah berani. Itu yang penting. Jangan pernah takut sama omongan orang lain! Yang penting, kamu sama anakmu bahagia,” balas Bu Dewi, sambil memeluk Rahmi erat. Rahmi menangis. Ia merasa, ia tidak sendirian. Ia punya keluarga yang selalu ada untuknya. “Makasih, Bu. Makasih, Pak. Rahmi akan buktiin kalau Rahmi bisa sukses.” *** Keesokan harinya, Rahmi mulai menjalani kehidupan barunya sebagai tukang cuci. Ia mendapatkan pelanggan baru dari grup w******p yang dibuat oleh Wulan. Rahmi mulai mendapatkan pemasukan yang cukup untuk membeli stok s**u bagi bayinya, dan ia pun semakin percaya diri. Di Minggu pertama, tepatnya hari Senin, Rahmi mendapatkan dua pelanggan baru dari grup w******p. Keduanya adalah teman Wulan. Mereka menyambut Rahmi dengan ramah, dan memuji brosur yang Rahmi buat. Rahmi merasa senang. Di hari Selasa, Rahmi mendapatkan tiga pelanggan baru juga. Mereka adalah tetangga Wulan. Mereka juga menyambut Rahmi dengan ramah, dan memuji kerjanya yang cepat dan bersih. Hari Rabu, Rahmi mendapatkan satu pelanggan baru. Pelanggannya adalah seorang Ibu yang tinggal di blok F. Ibu itu terlihat sinis, tetapi tetap memakai jasa Rahmi. Hari selanjutnya, yakni hari Kamis, lagi-lagi Rahmi mendapat dua pelanggan baru. Keduanya adalah teman dari teman Wulan kemarin. Mereka menyambut Rahmi dengan ramah, dan memujinya yang berani. Sementara untuk hari Jumat, Rahmi libur. Ia menghitung uang yang ia dapatkan. Uang itu cukup untuk membeli beras, s**u, dan popok. Hari Sabtu dan Minggu, jika tidak ada panggilan, ia akan menemani bayinya. Hatinya merasa bahagia. Kemudian, di Minggu kedua, di hari Senin, Rahmi kembali mendapatkan tiga pelanggan baru. Mereka yang tahu dari mulut ke mulut. Mereka terlihat terkejut saat tahu bahwa Rahmi adalah seorang sarjana, tetapi mereka tetap memakai jasa Rahmi. Di hari Selasa: Rahmi kembali menerima panggilan dari dua pelanggan sebelumnya. Keduanya adalah teman dari teman Wulan. Mereka yang sibuk pun merasa terbantu dengan adanya jasa cuci yang Rahmi tawarkan. Selain itu, mereka juga merasa puas dengan hasil kerja Rahmi. Sehingga mereka kembali menggunakan jasa Rahmi. Untuk hari Rabu, Rahmi sangat bersyukur karena tiba-tiba ada yang memanggilnya saat berjalan menawarkan jasanya. Ia mendapatkan satu pelanggan. Pelanggannya adalah seorang pria yang tinggal di blok A. Pria itu terlihat ramah, dan memuji kerjanya yang cepat dan bersih. Di hari berikutnya, Rahmi mendapatkan dua pelanggan baru yang merupakan tetangga dari pria yang tinggal di blok A kemarin. Dan, di setiap hari Jumat, Rahmi pasti libur. Ia menghitung uang yang ia dapatkan. Uang itu cukup untuk membeli beras, s**u, dan popok. Ia pun sangat bersyukur. Rahmi mulai menjalani kehidupan barunya. Ia menyeimbangkan pekerjaan dengan mengurus anaknya. Ia bangun pagi, menyiapkan sarapan, lalu pergi bekerja. Pulang sore, ia langsung mengurus anaknya, lalu istirahat. Ia tidak pernah lelah, karena ia tahu, ia bekerja untuk anaknya. Suatu hari, tepatnya hari Sabtu, Rahmi mendapatkan panggilan dari seorang pelanggan baru yang bernama Bu Ratna. Meskipun biasanya di hari Jumat - Minggu ia libur, tapi jika ia siap dan mau, maka ia akan memenuhi panggilan itu. Bu Ratna adalah seorang Ibu yang tinggal di blok B, dan ia membutuhkan jasa Rahmi untuk mencuci baju keluarganya. Rahmi pun setuju, lalu pergi ke rumah Bu Ratna. Rumah Bu Ratna terlihat mewah. Ada sebuah mobil terparkir di depan rumah, dan ada taman yang sangat luas. Hati Rahmi berdebar. Ia menekan bel. Pintu terbuka, dan Bu Ratna menyambutnya dengan senyum ramah. “Mbak Rahmi, ayo masuk! Nggak usah sungkan,” ucap Bu Ratna. Rahmi masuk ke dalam rumah. Ia pun melihat tumpukan cucian yang menggunung dan mulai mencuci. Sambil mencuci, ia melamun, teringat kembali pada hinaan yang ia dapatkan dari Bu Lastri. Ia tersenyum, seperti berkata, “Ya, sudahlah!” Meskipun begitu, ia tidak menyesal menjadi tukang cuci. Karena pekerjaan itu jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh, nyatanya bisa membuahkan hasil. Saat ia sedang mencuci, sebuah mobil berhenti di depan rumah tersebut. Rahmi awalnya tidak begitu peduli, sama sekali tak memperhatikannya, ia tetap fokus pada pekerjaannya. Namun, saat ia melirik ke arah pintu, ia terkejut saat melihat sosok yang sangat ia kenal: Ipah, mantan adik iparnya, sedang masuk ke dalam rumah. Jantung Rahmi terasa seperti berhenti berdetak. Seluruh tubuhnya mendadak lemas. Ia tidak menyangka, ia akan bertemu dengan Ipah di sina. Ia langsung bersembunyi di balik tumpukan cucian, berharap Ipah tidak melihatnya. “Kenapa Ipah bisa ada di sini?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN