Menohok

1064 Kata

Hati Rahmi terbakar. Hinaan yang diterimanya kali ini jauh lebih pedas dari biasanya. Semua lelah dan kesabaran yang ia tahan selama ini seolah runtuh. Ia menatap tajam mata Bu Lastri, matanya yang biasa teduh kini menyala penuh amarah. Namun, alih-alih membalas dengan perkataan, ia hanya tersenyum kecil. Senyum yang bukan menunjukkan kelemahan, melainkan ketenangan yang membuat Bu Lastri semakin kesal. “Kok diam? Nggak punya kata-kata lagi, ya?” sindir Bu Lastri, menantang. Rahmi sungguh tidak ingin ada keributan, tidak ingin adu jotos alias berdebat dengan Bu Lastri lagi. Pikirnya, ini hanya akan membuang-buang waktu saja. Ya, seharusnya ia tidak perlu meladeni hal-hal yang tidak penting semacam ini. Akan tetapi, hinaan Bu Lastri benar-benar sudah keterlaluan, melewati batas dan membu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN