Lagi-lagi tidak ada jawaban. "Apa anak itu sedang mandi?" Lelaki itu menaikkan sebelah bibirnya. Membayangkan hal gila yang akan Zee lakukan untuknya. "Oke, ana akan sabar menunggu." Kini ia sandarkan tubuhnya ke dinding. Fatih mulai gelisah, mondar-mandir depan pintu. Sudah setengah jam dan gadis itu belum juga membukanya. Ia putar handle paksa. "Zee ...!" Suaranya meninggi. Sama seperti sebelumnya, tidak ada jawaban. Memikirkan hal lain, pria itu menggerakkan tangannya meraba tempat kunci. Ada! "Itu artinya Zee tidak ada di dalam." Masih berusaha tenang, pria itu mengambil ponsel di sakunya, menghubungi Kakak Zee dan orang tuanya. Bukan jawaban yang diinginkan yang ia dapatkan justru kabar bahwa Zee harusnya ada di klinik santri karena tadi siang gadis itu masih sangat lemah.

