Di kantin kantor. Aku dan Jefri makan bersama-sama. Kami terbiasa duduk di dekat sebuah show case. Karena dengan begitu kami bisa dengan mudah mengambil minuman, tanpa khawatir dinginnya akan berkurang. Kali ini menu makan siang di kantin cukup membuatku ingin nambah lagi dan lagi. Sayangnya, aku harus menahan rasa ingin nambah itu. Mengambil pepes tongkol lagi akan membuat semua mata tertuju padaku. Aku tidak ingin imejku menjadi buruk. Di cap menjadi si doyan makan bukanlah hal baik. Bisa jadi para cewek-cewek malah ilfel denganku. Kan enggak enak banget. Ada seorang cewek yang tiba-tiba berjalan ke arah meja kami. Awalnya, aku mengira dia akan mengambil minuman. Nyatanya, dia malah duduk tepat di sebelah Jefri. Apa dia target Jefri? “Hai,” sapanya. Dia duduk di samping Jefri, tapi

