“Saya dimintai tolong sama teman, Pak,” jawabnya dengan sopan. Dia menundukkan kepalanya. Aku menghela napas dengan perlahan. Kenapa bukan temannya sendiri yang meminta tanda tangan dariku? Siapa yang sudah menyuruh anak magang dengan senak jidatnya? Membuat dia melakukan pekerjaan yang bukan bagiannya. “Baiklah, letakkan saja di meja. Aku akan mengeceknya terlebih dahulu. Kau bisa pergi. dan satu hal lagi, jika itu bukan bagian dari pekerjaanmu. Jangan mau melakukannya. Mereka mempunyai tugasnya masing-masing. Tidak perlu takut pada mereka. Kamu diterima atau tidak, bukan dari keputusan mereka. Kamu mengerti?” ucapku padanya. Aku mencoba menahan emaosi. Bagaimana bisa mereka melakukan itu pada anak magang? Dia mengangguk dengan pelan, “Ba-baik, Pak,” jawabnya tergagap. Sepertinya,

