Beberapa karyawan terlihat melintas di depan ruanganku. Aku melirik ke arah jam, ternyata sudah menunjukkan waktu makan siang. Aku meletakkan beberapa berkas ke dalam map. Meletakkannya secara berurutan, agar aku bisa dengan mudah melanjutkannya nanti. Ada siluet orang yang berdiri di depan ruanganku. Aku bisa menebaknya, itu pasti Jefri. Tidak mungkin orang lain. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Lama-lama aku merasa Jefri ini semakin menempel padaku. Apa aku harus mengatakan bahwa aku tidak ingin ikut campur dalam masalahnya dengan Dinda? Aku bisa beralasan tentang Sofi. Dia bisa aku jadikan latar belakang ketidakmauanku mencampuri urusan mereka lagi. Sejujurnya, jika aku ada dalam urusan mereka. Hatiku selalu merasa sakit dan senang dalam waktu yang bersamaan. Aku senang mereka

