Sesampainya di rumah Dinda. Aku memarkir motor dengan asal. Segera melepas helm dan mengetuk pintu rumahnya. Di sana memang terlihat sepi. Jefri sangat keterlaluan, dia malah bisa-bisanya mengarang cerita ada meeting di luar. Sementara kekasihnya sedang sakit seperti itu. Aku mengetuk pintu sekali lagi. Sebab tidak ada sahutan dari dalam. Apa Dinda sedang sendirian di dalam rumah? Apa dia baik-baik saja di dalam sana? Karena masih juga tidak ada jawaban. Aku pun memberanikan diri mendorong pintu rumahnya. Ternyata tidak dikunci! “Din ....” aku memanggilnya cukup keras. Tapi, masih juga tidak ada jawaban. “Din?” aku memanggilnya lagi. Aku sudah masuk lebih dalam ke rumahnya. Semoga dia mendengar panggilanku kali ini. Ada suara pintu yang terbuka. Aku menoleh, dan mendapati Dinda k

