“Permisi, apa benar ini kamar dari Andika?” ucapku dengan sopan. Aku mencoba untuk tersenyum ramah dengan mereka. Ini adalah tugas terberat yang pernah diberikan Fito padaku. Dia menganggapku sebagai asisten apa bagaimana ya? Kenapa aku terus disuruh-suruh olehnya? Aku menggelengkan kepalaku dengan pelan. kenapa aku malah memikirkan hal lain. Aku harus fokus. Agar masalah ini bisa selesai dengan lancar. Keduanya terlihat memandangiku dari atas hingga bawah, kemudian kembali lagi ke atas. Aku merasa seperti Puteri Indonesia yang sedang dinilai oleh para dewan juri. “Iya, aku adalah Ayahnya. Ada keperluan apa kemari?” jawab pria yang duduk di sofa. Tebakkanku ternyata memang benar. Dia adalah Ayahnya, melihat wajah songong Ayahnya. Aku bisa menebak, negosiasi ini tidak akan berjalan deng

