Kemudian dia menepuk-nepuk pundaku dan menganggukkan kepalanya. Dia seolah sedang berkata, tidak apa-apa. Aku masih diam dan tidak berbicara apa pun. Tapi, seperrtinya Fito dan Tiwi menyadarinya. Bahwa aku merasa sangat menyesal telah bertanya seperti itu kepadanya. “Yo, kenapa? Sudahlah enggak usah dipikir. Kami memang menjalaninya seperti ini.” kalimat yang diucapkan oleh Fito membuatku semakin tidak mengerti dengan huubungan mereka. Mereka sengaja tidak berpacaran? “Iya, Yo, kmi memang menjalaninya tanpa status. Tidak masalah, kamu tiak perlu merasa tidak enak.” Tiwi pun menyahuti ucapan dari Fito. Dia juga mencoba membutaku merasa nyaman berada di antara mereka. “Sudah ya, jangan dpikirin lagi.” kali ini Sofi yang menimpali. Aku mengangguk. Sebenarnya aku benar-benar merasa t

