Aku memandangi punggung gadis yang pernah kutorehkan luka di hatinya. Langkah kakinya mantap. Dia terlihat bahagia. Seolah dia telah melupakan sakitnya rasa yang pernah aku berikan padanya. Aku tersenyum. Langit malam ini menjadi saksinya. Jika aku merindukan sosoknya. Jika nyatanya, aku menaruh hati padanya. Walau di sisi hatiku yang lain masih ada nama orang lain. “Jadi kau mau makan apa?” tanyanya sangat antusias. Saat kami telah semakin dekat dengan warung-warung tenda di perempatan kompleks. Binar matanya sungguh indah. Senyumnya masih secantik dulu. Rambut indah yang dia kucir model ekor kuda. Membuatnya terlihat segar dan lebih muda. “Apa saja, kau mau makan apa?” balasku. Aku tersenyum ringan. Masih mengikuti langkahnya yang terus berjalan mendekat ke arah para pedagang. Dia ta

