Aku berdiri di sana, di hadapannya, dengan tangan yang di perban, menatap Ben dengan senyumnya yang mengembang. Napasnya terlihat tersengal seperti dia berlari untuk sampai ke sini. Ben melihat senyumnya bagai yang pertama kali. Dan catat satu hal, bukan-karena-paksaan. Aku memalingkan wajahnya untuk melihat Kevin denga tatapan… bodoh? Alisnya bertautan, wajahnya tertutup sedikit rambut karen Aku melihat Ben dengan posisi menunduk. Ben segera membalas tatapannya. Kini aku tepat di hadapan Ben, membuat otaknya seketika mati dengan hanya melihat wajah ku. Ben patut berbangga hati, kini dia dapat melihat mata indahn ku dengan jelas. "Lain kali beritahu aku kalau kamu mau dateng." Ucap Ben, memandangi ku dengan lembut. "Aku nggak yakin kamu mau ketemu aku, kalau aku beritahu kamu dulu."

