Aku menunggu dengan was-was di depan ruang prodi S1 sambil menggigit kuku jari. Sesekali kupandangan ruangan bercat cokelat itu dengan gelisah, aku berdiri ingin masuk, namun kuurungkan niat takut menganggu pembicaraan antar orang tua itu. Pada akhirnya yang bisa datang hanyalah bunda, ayah benar-benar sudah angkat tangan. Ayah memang menepati perkataan dan sumpahnya, bahwa dia tidak akan pernah mempedulikanku lagi. Hatiku pedih, aku ingin menangis. Tapi, air mataku sudah kering dibuatnya, terlebih ketika bunda tahu aku tinggal di tempat kerjaku, di kamar yang sempit dan panas bekas gudang. Tapi, bunda tidak bisa berbuat apa-apa ketika hakim di rumah adalah ayah. Kulirik jam di tangan kananku, sudah satu jam lebih bunda berbicara dengan bu Asti, entah apa yang mereka bicarakan. Aku tak

