Kulihat tembok rumahku dengan mata berkaca-kaca, dengan membawa tas ransel dan kardus berisi buku kuliah. Pada akhirnya keputusan ayah tidak bisa diganggu gugat, sekali bilang A tetap A. Mungkin ayah memang sudah tidak memiliki hati ketika dengan teganya membiarkanku sendirian di luar rumah dalam kondisi berbadan dua. Kunyalakan mesin motor sambil mengusap air mataku, melaju tanpa berpamitan kepada ayah maupun bunda. Aku bahkan tidak tahu harus mengarahkan setir motorku ke mana, jika aku tidak memiliki tempat yang dituju. Rasa mual itu semakin hari semakin bertambah, seakan menambah penderitaanku. Kadang jika sedang sendiri, ingin rasanya aku mengakhiri hidup tapi sadar jika bukan hanya aku sendiri melainkan ada janin yang sedang tumbuh di dalam perut. Aku kembali menangis, ketika pada a

