Aku tidak mampu menjawab pertanyaan yang lebih cocok disebut permintaan itu. Masih tidak percaya pula bahwa Randy, benar-benar mencintaiku walau kondisiku saat ini bisa saja menjatuhkan harga dirinya sebagai laki-laki. Mana ada orang yang mau menerima perempuan yang baru saja melahirkan tanpa adanya seorang suami? Bahkan ikatan pernikahan pun tidak ada, jika dia serius denganku, aku yakin pasti semua orang akan menghujatku sebagai perempuan yang tidak tahu diri. Pertanyaan Randy hanya bisa kubalas dengan senyuman tipis lalu mengalihkan pandangan ke arah luar jendela kereta yang kini membentang hamparan sawah yang menghijau dengan pohon-pohon pisang yang berjejer. Perjalanan selama hampir enam jam dari Surabaya ini memang terasa cukup lama jika suasana di antara kami berdua bukanlah suasa

