Dua hari Randy menginap di rumah kontrakan membuat kesedihanku setidaknya berkurang. Ditambah dengan pemilik kontrakan yang begitu ramah dan sudah menganggapku seperti anaknya walau sebenarnya, hal ini sungguh memalukan. Usai sarapan nasi gudeg yang dibeli di warung pinggir jalan, Randy berpamitan kepadaku. Air mataku langsung berkaca-kaca, dia lelaki terbaik yang kupunya walau aku masih tidak bisa memberikan hati. Sialnya, hanya Niguel pemilik hati ini dan sialnya pula dia masih misterius entah di mana. Randy mengenakan jaket hitam, mencubit pipi Raja yang kubalas dengan mencubit pipinya. Kata orang dulu, bayi yang terlalu sering dicubit pipinya akan menjadi tak nafsu makan. Ya, walau hal itu tidak bisa dibuktikan secara medis apalagi aku yang mahasiswa keperawatan. Ah, iya, Randy a

