bc

Different Twins

book_age12+
7
IKUTI
1K
BACA
goodgirl
drama
tragedy
twisted
bxg
heavy
serious
female lead
naive
sacrifice
like
intro-logo
Uraian

Awalnya, Isaura berpikir bahwa Lentera Langit Abraham hanyalah tetangga di ujung jalan yang hidup berdua dengan adiknya kembarnya yang mengalami kelainan psikologis karena suatu kecelakaan.

Tapi akhirnya, ketika Isaura memutuskan membalas budi baik Langit yang pernah menolongnya, Isaura justru ikut terjebak dalam kelindan masa lalu traumatis lelaki itu.

Sementara di sisi lain, ada Alva yang amat tergantung padanya untuk memperjuangkan masa depan.

It's about a man, who will do anything for his love.

Faro Abraham akan selalu memberikan yang terbaik yang bisa ia lakukan. Bahkan ketika ia harus merelakannya pergi, he will do,,

chap-preview
Pratinjau gratis
1
"Sttt!" Isaura menoleh saat ia sedang bersembunyi di cekungan pagar rumah besar tetangganya yang ada di ujung jalan. Sebuah mobil Nissan Juke hitam berhenti di hadapannya. Pakaian pulang kerja yang dikenakannya terlihat menakutkan. Wajah Isaura langsung panik. "Ya?" Ia mencicit pelan. Pengemudi Juke hitam itu mengernyit. "Sedang apa disana?" Isaura tidak menjawab. Dia mengintip keluar, untuk melihat apakah rumahnya yang ada di ujung jalan satunya masih ditunggui para lintah darat atau tidak. Pengemudi Juke hitam itu ikut menoleh ke arah Isaura memandang. "Ada yang membuatmu takut?" tanyanya lagi. "Ya." Isaura berbisik sebagai jawaban. Para lintah darat itu sudah pergi, tapi mungkin mereka hanya bersembunyi. Ini keempat kalinya dalam bulan ini lintah darat mendatangi rumahnya. Persoalannya, tentu saja, Pamannya yang pemabuk itu kembali berhutang demi bisa berjudi. Pengemudi mobil itu, seorang lelaki berusia akhir 20-an dan berwajah putih bersih, mengamati gadis berseragam SMA yang masih tampak ketakutan itu. "Bukankah kamu penghuni rumah di ujung sana?" "Ya." "Tidak ada apa-apa disana." "Ya. Eh, maksudnya, tadi ada apa-apa disana." Isaura semakin mendekap erat tas sekolahnya, berharap benda berisi buku itu bisa menyembunyikan tubuh kecilnya. "Siapa?" Lelaki itu bertanya lagi. "Lintah darat." Pandangan Isaura masih terarah ke rumahnya, takut-takut menatap. Ketika orang itu tak berkata apa-apa lagi, barulah Isaura menyadari bahwa ia tidak sedang bicara sendiri. Lelaki dewasa dengan setelan jas hitam itu duduk tenang di balik kemudi Jukenya yang juga hitam. Dan wajahnya datar, hampir tanpa ekspresi. Alisnya yang lurus menaungi mata kecil yang tajam, mengamati Isaura lekat. Tenggorokan Isaura tercekat saking takutnya. Dia menyadari sesuatu. Lututnya lemas hampir jatuh. "Anda- astaga, saya minta maaf. Saya janji saya akan melunasi hutang Paman segera. Tapi tolong beri saya waktu. Saya betulan tidak punya uang." Isaura menangkupkan tangannya dan sontak menangis. Lelaki itu tentu saja bingung. Ia keluar dari mobil dan menghampiri Isaura, menyentuh bahunya yang membuat gadis itu bergetar ketakutan. "Tolong jangan sakiti saya. Jangan culik saya juga. Saya betulan tidak punya uang." Isaura menangis semakin kencang dan mulutnya terpaksa harus dibekap agar tidak membuat keributan. Tentu saja gadis itu semakin ketakutan. "Hei, lihat aku. Jangan menangis, aku baik. Sekarang lihat aku." Isaura membuka matanya perlahan, wajah lelaki itu sejengkal di hadapannya. Matanya melotot ngeri. Kenapa dia dibekapa? Jangan-jangan dia mau dibawa pergi? "Sttt, jangan berisik. Aku bukan orang rentenir itu," ujarnya lagi. "Namamu Isaura, kan?" Mengangguk. "Bagus. Sekarang dengarkan, Isaura. Aku bukan bagian dari orang-orang itu, dan aku tidak akan menyakiti kamu. Kamu tau namaku?" Menggeleng. "Aku Langit, pemilik rumah ini." Melotot kaget. Ketika binar ketakutannya berkurang, Langit melepas bekapannya di mulut Isaura dan menatap gadis berseragam SMA itu dengan lekat. Isaura tergeragap. "Langit… Lentera Langit… yang itu?" Langit tersenyum geli. "Yang itu yang mana?" "Yang itu- yang sering bikin gaduh." Senyum di wajah Langit memudar. Maksud mereka sangat berbeda. Dan bukan itu yang Langit kira akan ia dengar. Seolah sadar, Isaura mendorong Langit dengan tenaganya yang seperti selentingan bulu bagi lelaki tinggi seperti Langit dan menoleh lagi ke rumahnya. Ia keluar dari cekungan pagar rumah Langit sambil mengusap air matanya. Melangkah menjauh. Langit mengikuti. "Mau kemana?" "P-pulang." "Yakin? Siapa tau mereka masih bersembunyi." Bukannya Langit ingin menakuti, tapi kemungkinan seperti itu selalu ada. Dan Isaura kembali masuk ke cekungan pagar dengan takut, membuat Langit tersenyum geli lagi. "Di rumahku lebih aman daripada disini. Masuklah." Langit menarik tas Isaura agar mengikutinya memasuki rumah yang ternyata lebih besar dari bayangan Isaura. Dengan pagar hitam tinggi menjulang yang melindungi, siapa sangka bahwa rumah itu sebenarnya bernuansa minimalis modern yang hangat dengan pencahayaan warna warm white untuk area luar. Didudukannya Isaura di sofa tamu lalu melepas jas kerjanya begitu saja. "Mau minum apa?" Isaura menggeleng. "Tidak tau." "Teh hangat mau?" "Mau." "Sekalian makan?" Isaura menggeleng pelan. "Minum saja." Langit mengangguk dan berlalu ke dapur seraya melepas dasi hitamnya, meninggalkan Isaura yang menunggu di ruang tamu dengan canggung. Ini pertama kalinya Isaura memasuki pagar hitam tinggi rumah pojok yang selalu dilewatinya itu, bahkan memasuki ruang tamunya. Yang ia tau, rumah ini adalah rumah paling bagus di lingkungannya, sekaligus rumah paling miserius. Sebab katanya, sering ada suara gaduh dari rumah ini padahal Langit tinggal sendiri. Mendadak gadis itu merinding. Itu tidak mungkin hantu kan? Dan tetangganya yang misterius ini sedang di dapur untuk membuatkannya secangkir teh. Langit juga tidak mungkin memberi gelas itu sesuatu kan? Seperti sianida, antasida, atau apalah itu. Siapa tau kan, seperti kasus kopi sianida itu. Jangan-jangan Langit bohong dan sebenarnya lelaki itu malah bosnya para rentenir. Dan karena Isaura tidak kunjung membayar hutang pamannya, maka Langit memutuskan terlibat langsung untuk menghabisinya dengan berpura-pura menjadi orang baik. Kalau Isaura sudah tidak sadarkan diri dengan sesuatu dalam minuman itu, organ dalamnya akan dengan mudah dipreteli untuk dijual di pasar gelap. Dengan begitu, hutang pamannya akan lunas. Astaga, Isaura kembali meringkuk ketakutan. Ia baru saja memutuskan untuk pergi diam-diam ketika Langit muncul dengan pakaian tidur berwarna pastel. Yang omong-omong, cepat sekali ganti pakaiannya. Arah munculnya juga tadi dari dapur kemana sebelumnya Langit mengarah. Isaura menelan saliva gugup. "A-aku… tidak jadi tehnya. Aku pulang," ujarnya terbata. Isaura sudah mencapai pintu, tangannya sudah menyentuh handle ketika Langit mendekatinya dengan wajah penasaran. Aroma minyak telon menyapa penciumannya. "Kamu siapa?" Langit yang berpiyama itu bertanya ragu. Eoh? Isaura mendongak bingung. Langit lupa dengannya? Mereka baru saja bertemu tidak lebih dari 5 menit lalu. Lagipula, ini memang Langit. Wajahnya persis seperti itu. Hanya saja, gurat wajahnya polos dan lembut. Apa iya Langit juga bercukur dulu? Mana sempat. Beberapa saat kemudian lelaki berpiyama itu berdiri tegak dan menatapnya marah. Alis lurusnya menukik tajam. "Kamu pengasuh yang baru kan?!!" Tudingnya hampir berteriak. Isaura menggeleng bingung, juga takut. Ah, ia memang penakut sebenarnya. "Bukan." "Lalu kenapa kamu disini?!!" "Aku… Langit menyuruhku masuk. Kamu Langit?" Tanya Isaura konyol. Bukannya menyahut, lelaki itu mendengus. Ia hendak berbalik untuk pergi namun sosok lain datang dengan nampan berisi secangkir teh. Sosok itu masih mengenakan pakaian kerja yang dipakai 'Langit' dengan dasi dan kancing teratas yang sudah berantakan. Oke, sekarang ada 2 Langit disini. "Alva, masuklah. Dia tamuku," tegur Langit yang berpakaian kerja. Nah, sekarang Isaura yakin yang mana Langit asli. Hanya saja, ia tak menyangka kalau ada 2 Langit di rumah ini. 2 wajah yang kelewat mirip itu memiliki kesan yang berbeda. Langit memiliki kesan tegas dan dewasa, sementara yang satunya berkebalikan. Lelaki mirip Langit yang rupanya bernama Alva itu merengut. "Biasanya Langit tidak pernah punya tamu." Langit melirik Isaura sejenak sebelum menyahuti Alva. "Dia beda." "Sama saja." Lelaki yang disebut Alva tadi mendesis ke arah Isaura. "Kamu manusia kan?" "Tentu saja." Isaura mengangguk cepat saking takjubnya melihat wajah keduanya. 2 wajah yang bagai pinang dibelah 2. Sama-sama mempesona, tapi punya karisma yang berbeda. Sepertinya Isaura sudah melupakan ketakutannya. Alva akhirnya pergi setelah menatap Isaura dan Langit dengan sinis. Langit tersenyum sopan ke arahnya, kembali meminta Isaura duduk. "Ini tehnya." Ketika meraih cangkir teh itu, rasanya begitu menenangkan. Isaura tak sadar bahwa tangannya telah begitu dingin oleh ketakutan. "Terima kasih," cicitnya. Ia ingin segera menghabiskan teh itu dan pergi dari rumah ini. Langit menatapnya dengan senyum geli. Isaura masih tampak ketakutan, mungkin masih berpikir kalau Langit adalah salah seorang rentenir. "Berapa usiamu?" "Eh? 17 tahun." Untuk sesaat mereka hening. Pikiran Isaura kembali terarah ke rumahnya yang tadi disantroni para rentenir saat pulang sekolah dan ia terpaksa sembunyi di cekungan pagar rumah Langit. Dimana Pamannya? Apakah Pamannya baik-baik saja? Isaura sebetulnya ingin tidak peduli soal apa yang menimpa Pamannya. Tapi mau bagaimana pun, Isaura menyayangi adik Ibunya itu yang sudah mau menampungnya. Apalagi, dulu, Pamannya itu adalah orang yang dekat sekali dengannya sejak kecil. "Tadi itu Alva," ujar Langit kemudian. "Dia adik kembarku." "Wajahnya pucat." Langit mengangguk mengiyakan. "Alva hampir tidak pernah keluar rumah." "Kenapa?" "Aku selalu sibuk kerja, dan tidak ada yang bisa mengawasinya jika keluar rumah." Langit mengulas senyum yang bagi Isaura terlihat sendu. Ia tidak berkata lebih lanjut yang membuat rasa penasaran Isaura memuncak. Isaura ingin bertanya, dimana orangtua mereka? Atau kenapa Alva harus ada yang mengawasi? Kenapa Alva selalu di rumah? "Kamu bisa masak?" "Hah?" Isaura mengerjap. Ia banyak melamun dan kebiasaan itu buruk jika tidak dihentikan. "Kamu bisa masak?" Langit mengulangi pertanyaannya. "Bisa. Aku memasak untuk Pamanku." "Bisakah kamu memasak untuk kami? Aku merasa bersalah karena membuat Alva sering menyantap frozen food instan." Langit menatapnya lurus dengan binar harapan di mata cokelatnya. "Oke. Lagipula aku sedang takut pulang." Untuk pertama kalinya sejak ia dicekam rasa takut, Isaura tersenyum lebar.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Beautiful Pain

read
13.6K
bc

Oh, My Boss

read
387.0K
bc

Revenge

read
35.5K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.3K
bc

Penghangat Ranjang Tuan CEO

read
33.8K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
6.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook