2

1292 Kata
Mau tidak mau Isaura dibuat terpesona oleh dapur bernuansa retro itu. Dapurnya luas dan bersebelahan dengan ruang makan. Di salah satu sisi ruang makan ada dinding kaca yang mengarah pada vertical garden di halaman samping rumah yang menyerupai jalan kecil. Langit membuka kulkas 2 pintu yang tingginya hampir setara dengan lelaki itu. Di kulkas tidak ada bahan lain selain daging sapi, ayam, selada yang mulai layu, dan telur. Ia bergeser untuk membiarkan Isaura melihat isi kulkasnya. "Hanya ada ini. Tanggal kadaluwarsanya juga belum lewat." "Serius?" "Iya.” Langit menjawab ragu. Isi kulkasnya memang begini adanya. “Bagaimana? Aku bisa belanja dulu kalau kamu mau." "Mau kumasakkan daging sapi lada hitam?" Langit langsung mengangguk senang. "Alva suka daging, ia akan senang." Jadi Isaura langsung mengeluarkan daging sapi itu, menaruhnya di meja pantri, dan mempelajari tata letak dapur. Berbeda jauh dari dapurnya yang kecil dan seadanya, dapur di rumah Langit bersih dan tertata rapi. Dalam hitungan sekon ia sudah mengumpulkan bawang bombay, beberapa siung bawang putih, paprika, dan bumbu lainnya. Dapur itu benar-benar lengkap. Sementara Isaura memasak, Langit beralih ke kamarnya untuk membersihkan diri dan ia membiarkan Isaura berkreasi di dapurnya dengan leluasa. Setengah jam kemudian, Langit kembali ke dapur dengan kaos hitam lengan pendek dan celana selutut warna hitam pula. Rambutnya basah sehabis keramas dan handuk putih bertengger di bahunya yang lebar. Ia duduk di kursi bar, mendapati Isaura sudah hampir selesai masak. Daun selada yang hampir layu tadi sudah sedikit lebih segar saat Isaura merendamnya di air dingin dan sudah kering untuk ditata di atas piring. Barulah, potongan tipis daging sapi itu ditaruh di atasnya, menguarkan aroma masakan rumahan yang khas. Sudah lama tidak ada yang memasak di rumah itu. Langit tersenyum lebar menatap piring besar berisi tumis daging sapi dengan taburan wijen. "Alva, ayo makan!" Isaura meringis saat Langit berteriak memanggil saudara kembarnya. Ia sedang mencuci peralatan masak saat Alva muncul dengan kuas dan tangan belepotan cat. Ia menatap Isaura dengan kening berkerut. "Kenapa dia masih disini?!!" "Isaura memasak makan malam untuk kita." Langit menatap tangan Alva. "Cucilah tanganmu, jangan makan dengan tangan kotor seperti itu." Alva merengut, menaruh kuasnya serampangan. "Aku kan makan dengan sendok." Tapi meski begitu, ia menurut untuk cuci tangan. Ditatapnya Isaura dengan garang saat mendekati bak cuci. "Minggir!" Isaura bergeser tanpa kata, menunggu Alva mencuci tangannya dengan lama sebelum kembali meneruskan sisa pekerjaannya. Dengan sedikit lonjakan, Alva mendekati meja makan dan berseru senang. "Daging. Tapi, apakah ini bisa dimakan? Siapa tau tidak matang." "Ini aman. Makanlah." Langit menyerahkan sepiring nasi kepada Alva, lalu menyiapkan sepiring lagi untuknya. Dan sepiring lagi. "Isaura, duduklah. Kamu juga harus makan." "Aku akan makan di rumah." "Kamu sudah memasak ini dan lebih baik kalau kamu juga ikut makan." Namun Isaura tetap menggeleng. "Pamanku mungkin juga belum makan. Nanti aku sekalian memasak di rumah. Setelah ini aku akan langsung pulang." Ia bergegas menyelesaikan kegiatannya dan melepas apron hitam di tubuhnya. "Aku pulang sekarang. Terima kasih sudah menolong." Langit mengernyit heran. Yang ia tau, Isaura justru yang sudah menolongnya menyiapkan makan malam. Tapi lelaki itu tak ambil pusing dan mengusap bibirnya dengan serbet padahal ia baru makan 2 suap. "Aku antar kamu pulang." Satu-satunya perempuan disana menggeleng. "Tidak usah, rumahku dekat. Kalian makanlah." "Ya, tentu saja kami akan makan." Alva menyahut jutek. Namun Langit tetap bergegas dan mendahului Isaura melangkah lebih dulu. "Kita tidak tau situasi di rumah kamu sudah aman atau belum." "Maaf aku merepotkan." Lelaki tinggi yang berjalan di depan Isaura itu tertawa ringan. "Sepertinya aku yang malah merepotkan. Minta dimasakkan makan malam segala." "Tidak, aku sudah biasa memasak kok." Mereka lantas berjalan beriringan di bawah langit malam. Meski rumah mereka di ujung yang berlawanan dan tidak terlalu jauh, suasana di perumahan itu cukup sepi kalau sudah gelap. Makanya Langit ragu membiarkan Isaura pulang sendirian. Dan di sebelahnya, Isaura merasa aman. Ia memiliki insting bahwa ia bisa memercayai Langit untuk mengantarnya pulang. Benaknya lantas berkelana di rumah tadi, saat ia mengamati saudara kembar lelaki itu dan menyadari betapa kontrasnya sikap mereka. Gurat wajah Langit memang menegaskan bahwa lelaki itu memiliki sikap tenang dan dewasa. Sedangkan Alva, benar-benar sebaliknya. Ia mudah emosi, tidak bisa tenang, tidak bisa menjaga sikap, intinya kekanakan sekali. Yang jelas Isaura malah bisa menerima kenyataan kalau Alva adalah adik Langit yang usianya jauh di bawah, bukannya saudara kembar lelaki tinggi di sebelahnya. Omong-omong, ia jadi penasaran soal usia. "Berapa usia Kakak?" Well, Isaura mulai merasa setidaknya ia harus menaruh rasa hormat pada Langit mengingat lelaki itu terlihat dewasa dan matang. "Aku 29 tahun, lebih tua 5 menit dari Alva." Beda 12 tahun! "Seharusnya aku memanggil dengan sebutan Kakak daritadi." "Baru sadar?" Langit tertawa santai dengan kedua tangan di saku. Isaura nyengir, jemarinya memainkan tali ranselnya yang hampir lusuh. "Kakak kerja dimana?" "Rumah sakit." Isaura buru-buru mendongak takjub. "Jadi Kakak adalah dokter. Dokter apa?" "Aku bukan dokter. Lebih ke mengurus manajemen rumah sakit di Jakarta." Langit tersenyum. "Rumah sakit apa?" "Rumah sakit Edelweis." Nama Edelweis mengingatkan Isaura pada rumah sakit swasta di beberapa daerah Jakarta yang terkenal mewah dengan teknologi maju. Letaknya pun di daerah strategis. "Di cabang yang mana Kakak bekerja?" "Menurut kamu yang mana?" "Jakarta Selatan? Itu paling dekat dari perumahan ini." Lagi-lagi Langit tertawa pelan. "Anggap saja begitu." "Mana bisa dianggap begitu? Informasinya kan jadi tidak valid." "Memangnya kalau valid mau apa?" Langit menatapnya dengan binar usil. "Entahlah, mungkin aku bisa dapat free pass kalau sakit." Isaura lalu tertawa mendengar jawabannya sendiri. "Tidak jadi. Nanti aku malah hutang, kan repot." Langit mengusak kepala Isaura dengan gemas. Gadis SMA itu hanya setinggi bahunya, tampak kecil dibanding Langit yang tinggi tegap. "Kalau begitu jangan sampai sakit. Kamu harus sehat." "Biar tidak hutang sana-sini kan?" Sementara Isaura tertawa oleh topik itu, Langit tersenyum getir. *** "Rumahku gelap sekali." Isaura mendesah, berusaha bersikap santai dan melupakan fakta bahwa sejam lalu ia baru saja menangis di hadapan Langit karena mengira lelaki itu bosnya rentenir. Ia bahkan pura-pura tidak melihat bahwa deretan tanaman sayur yang ia tanam di sudut halaman telah porak poranda. Padahal rencananya ia akan memasak makan malam dengan salah satu tanaman yang sudah siap panen itu. "Terima kasih sudah mengantar,” ujarnya pada Langit. "Hmm. Masuklah." Isaura berbalik setelah menutup pagar setinggi perutnya, memasuki rumah kecil yang gelap gulita itu. Ketika ia menyalakan lampu, tatapannya terpaku pada sang Paman yang tergeletak dengan wajah babak belur dan tidak sadarkan diri. "PAMAN!" Pekiknya. "Paman, bangunlah." Ditepuknya pipi lelaki paruh baya itu agar sadar. Tapi sang Paman masih juga tidak sadarkan diri. Isaura panic. "Paman, bangunlah. Aku minta maaf karena pulang telat. Seharusnya aku pulang lebih awal. Paman, maafkan aku." Isaura mulai ketakutan lagi saat disadarinya bahwa perabot di rumah itu tidak pada tempatnya. Semuanya porak poranda, televisi mereka satu-satunya bahkan sudah pecah layarnya. "Ya Tuhan." "Isaura, dia kenapa?" Tau-tau saja Langit menerjang ke arahnya untuk memeriksa kondisi Pamannya. Beberapa detik lalu, ia mendengar pekikan Isaura dan menyadari ada yang tidak beres. Jadi ia menerobos masuk dan mendapati rumah itu lebih kacau dari yang ia duga. Lelaki paruh baya yang sering dilihat Langit duduk di salah satu warung, tak sadarkan diri dengan wajah babak belur. Jadi lelaki itu adalah Paman Isaura. "Isaura-," Gadis di sebelahnya sudah melesat ke salah satu ruangan. Langit mengenali ruangan itu adalah sebuah kamar, tampaknya kamar Isaura karena ada banyak buku disana. Sayangnya, buku-buku itu juga sudah berantakan. Sebagian di antaranya sobek bersamaan dengan beberapa lukisan kanvas yang dirusak. Jelas sekali Isaura tampak terpukul. Langit meraih bahunya agar mereka berdiri berhadapan. Menatap lekat manik gadis itu agar tau bahwa Langit aka nada bersamanya dan dia tidak perlu melalui ini sendiri. "Kita akan membawanya ke rumah sakit. Kamu tunggu disini dan jangan kemana-mana. Aku akan mengambil mobil." Isaura tidak menyahut, belum juga sepenuhnya mencerna perkataan Langit namun lelaki itu sudah melesat pergi. Setetes air matanya luruh di tengah ketakutannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN