Di taman rumah sakit, Isaura menangis. Air matanya luruh begitu saja meski dia tidak sesenggukan.
Kalau bukan karena Langit menolongnya, menolong mereka, Pamannya mungkin tidak akan ditangani segera sebab mereka tidak punya uang untuk dijadikan jaminan.
Kalau bukan karena Langit menolongnya, mungkin Pamannya sudah mengalami komplikasi kegagalan fungsi organ sebab tulang rusuknya ada yang patah dan dapat melukai paru-paru serta jantungnya.
Kalau bukan karena Langit ada disana, Isaura tidak tau harus membawa Pamannya kemana.
15 menit lalu ketika Pamannya dibawa ke ruang operasi, Isaura menghampiri meja resepsionis untuk melengkapi administrasi. Tapi rupanya hal itu sudah lebih dulu dilakukan Langit meski instruksinya hanya dengan satu kalimat, Urus semua ini atas nama saya.
Miris. Sekarang, Isaura juga memiliki hutang pada tetangga yang baru dikenalnya itu. Semoga Langit tidak akan menyuruh rentenir untuk menagih hutangnya kelak. Segera, dia akan bicara pada Langit biar lelaki itu bersedia memberinya sedikit kelonggaran.
Isaura menghela napas, buru-buru mengusap air matanya dan membasuh wajah. Ia tidak punya banyak waktu untuk menangis lama-lama. Ia harus menengok Pamannya, berbicara dengan Langit agar memberinya tenggat waktu untuk menyicil hutang, dan membereskan rumahnya yang bak kapal pecah.
Lagipula, ia besok harus sekolah.
"Isaura, kamu darimana saja?"
Tangannya dicekal Langit erat, membuatnya meringis. Isaura baru berbelok di koridor ruang operasi dan Langit mencekalnya seperti elang yang baru mendapat mangsa.
Sebetulnya, Langit sudah mencari gadis itu kesana kemari.
"Dari taman. Ada apa? Bagaimana kondisi Paman?"
"Operasinya sudah selesai, kondisinya membaik dan sudah dipindah ke kamar inap." Kabar baik dari Langit.
Gadis berseragam SMA itu bersandar lemas ke dinding. Ia mengusap wajahnya letih. Lisannya bergumam sykur. Berdiri dengan sikap protek di hadapannya, Langit ikut tersenyum. Ia mengusap wajah Isaura kemudian menangkupnya dengan tangan.
"Semuanya akan baik-baik saja."
Senyum getir membayang di wajah Isaura. Ditatapnya Langit dengan ekspresi memelas. "Kakak, aku akan mencicilnya, tolong beri aku waktu ya."
"Apa?"
"Biaya rumah sakitnya. Aku akan mencicil. Aku bisa kerja paruh waktu-"
"Sudahlah, jangan dibahas sekarang." Langit mencubit hidungnya agar Isaura berhenti bicara. Ia lantas menatap jam dinding di koridor, menyadari bahwa ini hampir tengah malam dan gadis itu belum makan sama sekali. Langit juga ingat kalau ia tadi mengambil kunci mobil dengan terburu-buru dan mengabaikan Alva yang merajuk karena ditinggal sendirian. "Sekarang kamu mau apa?"
"Pulang."
"Ayo, aku antar."
Isaura membiarkan tangannya digenggam Langit sebab rasanya ia terlalu lemas untuk melangkah seorang diri. Mendadak ia merasa ngantuk, apalagi aroma menthol mobil Langit terasa menenangkan.
Dan keberadaan Langit sendiri sudah mampu membuatnya tenang.
***
“Isaura?”
Ketika Isaura membuka mata, Langit sudah menyodorkannya seporsi burger besar dan masih panas. Aromanya menggoda, sehingga Isaura tidak sempat berpikir untuk menolak. Lagipula, ia tak yakin Langit tidak mendengar bunyi perutnya.
Diterimanya burger itu dengan wajah sumringah dan mulai melahapnya dengan satu gigitan besar. "Enakkgh."
Langit tersenyum. Ia kembali mengemudikan mobilnya keluar dari pelataran restoran cepat saji 24 jam menuju kompleks rumah mereka.
Rumah Isaura tampak kacau dengan halaman porak poranda. Hampir seperti baru diamuk badai.
Langit menatap gadis di sebelahnya dengan ragu. "Yakin mau turun?"
"Tentu saja."
"Kamu bisa menangis kalau kamu mau."
Isaura menoleh ke arah Langit seraya tersenyum lebar. "Tadi aku sudah menangis," sahutnya. "Kakak, terima kasih banyak bantuannya malam ini."
"Sama-sama. Setelah ini langsung istirahat saja, besok beres-beresnya."
Begitu Isaura turun dari mobil Langit, memasuki rumahnya yang kacau balau, ia langsung merasa sendirian dan lelah. Hanya mengganti seragamnya dengan pakaian rumah, Isaura langsung meringkuk di kasurnya, terlelap tanpa mimpi.
Dia harus menyimpan tenaganya untuk hari esok, dan esoknya lagi.
***
"Gadis kecil."
Isaura menoleh bingung saat mendengar suara Langit. Lelaki itu rupanya sedang memanaskan mobil sebelum berangkat kerja dan sudah rapi mengenakan setelannya. Dia betulan tidak melihat Langit sedang berdiri disana. Lagipula dia hampir tidak pernah memperhatikan. Senyumnya kemudian mengembang sumringah. “Kakak.” Dia balik menyapa, mendekat. "Kakak memanggilku?"
"Memangnya siapa lagi?"
Isaura nyengir. "Oh- aku tidak melihat kakak disitu.”
"Kita berangkat bersama."
"Hah?"
Langit berdecak gemas, Isaura kenapa lemot begini. "Aku akan mengantar kamu ke sekolah."
"Tidak perlu, Kakak. Aku bisa naik bus seperti biasanya." Isaura betulan sudah banyak merepotkan lelaki itu sejak kemarin. Apalagi jarak Rumah Sakit Edelweis dengan sekolahnya berlawanan arah. "Tapi terima kasih tawarannya, Kakak, aku duluan. Selamat bekerja!"
Langit menatap enggan pada punggung kecil yang berbalik dan hendak menjauh itu. Mendadak sebuah ide tercetus begitu saja. "Isaura, kita harus bicara soal hutangmu."
Sepertinya 'hutang' memang kata kunci yang tepat untuk Isaura. Gadis itu langsung berbalik, menatap Langit kaget sekaligus gugup. Astaga, Isaura! Bagaimana mungkin pagi ini dia terbangun dengan perasaan ringan?
Gadis itu merutuk dalam hati. Pantas saja ia merasa tidak wajar.
"Hmm… bagaimana?"
"Kita bicara di mobilku, aku tidak punya banyak waktu," kata Langit sambil melirik jam tangan. Ia pamit sebentar pada Alva, lalu mengeluarkan mobilnya dari carport.
Meski gugup, Isaura akhirnya memasuki Juke hitam itu. Sampai mobil melaju keluar kompleks perumahan, mereka hanya saling diam yang membuat Isaura gugup setengah mati, perutnya sampai mulas. Ia bahkan tidak sadar kalau tadi Langit sampai memasangkan sabuk pengaman untuknya. "Kakak, bagaimana hutangnya?"
"Ah, iya." Langit melirik gadis di sebelahnya dan tersenyum simpul. "Katamu kamu bisa kerja paruh waktu untuk melunasi hutangmu."
Isaura mengangguk yakin. "Ya."
"Kerja dimana?"
"Belum tau, tapi aku akan mencarinya sepulang sekolah."
"Tidak perlu mencari. Bekerjalah di rumahku," pinta lelaki itu. "Aku butuh seseorang yang bisa memasak untukku dan Alva. Kalau memungkinkan, kamu juga bisa menemani Alva bermain."
"Bermain?" Kening Isaura berkerut dalam. Memasak tentu akan dilakukannya dengan senang hati. Apalagi dia punya latar belakang keluarga yang berbisnis kuliner dan membuatnya yakin dengan kemampuan memasaknya sendiri.
Tapi bermain? Sejak kemarin, yang ia dapati mengenai Alva adalah bahwa lelaki emosional itu benar-benar kekanakkan. Hanya saja, ia tak mengira kalau sampai separah ini sampai butuh teman bermain segala. Si adik kembar itu pasti sangat merepotkan Langit.
Lelaki itu mengangguki Isaura. "Iya, tapi itu pun kalau Alva mau ditemani. Kalau tidak, kamu hanya perlu memasak," katanya dengan tangan kiri terulur untuk mengganti saluran radio. Ia bosan mendengar siaran berita mengenai kemacetan Jakarta yang itu-itu saja. Setidaknya, lagu-lagu lawas terdengar lebih menyenangkan dibanding berita membosankan itu.
Melihat Isaura masih terdiam, Langit melanjutkan, "Untuk memasak, kamu tidak harus memasak makan siang, terlebih kalau masih di sekolah. Aku akan membuatnya lebih santai agar tidak mengganggu sekolahmu. Bagaimana pun, itu yang utama." Langit menambahkan.
Melihat Isaura masih ragu, Langit tak mendesaknya untuk menjawab. Lagipula seharusnya ia membicarakan masalah ini nanti saja. Tapi apa mau dikata, Langit ingin mengantar Isaura ke sekolahnya. Dia butuh alasan kuat agar Isaura tidak pergi. "Nah, sekarang belajarlah dengan benar."
Isaura mengangguk, baiklah. Tawaran Langit entah kenapa terkesan sangat memudahkannya. Tapi karena dia tidak punya rencana lain, tawaran ini adalah yang terbaik. "Kakak, terima kasih."
"Sudah sana, turun. Jangan berterima kasih terus."
Isaura terkekeh, ia turun dari Juke hitam itu dan berjalan menuju gerbang sekolahnya. Ketika ia menoleh, mobil Langit masih ada disana, lelaki itu melambai sebelum akhirnya melaju pergi.
Gadis itu menunduk, kembali tersenyum menatap jalinan tali sepatunya sembari berpikir betapa beruntungnya ia bisa mengenal Langit. Pada saat seperti itu, kebaikan kecil saja bisa jadi begitu berarti. Sangat berarti.
Di koridor, ia berjalan bersama beberapa siswa yang lain menuju kelas 12 IPA 5 di lantai 1. Ruang kelas itu tidak ramai, juga tidak lengang. Beberapa murid sedang sibuk mengerjakan PR contekan, biasanya yang ini murid IPA abal-abal. Ada juga yang membaca komik, ada yang sedang mengepang rambutnya. Beberapa bahkan sedang menyapu dan membersihkan papan tulis karena piket.
Isaura duduk di bangkunya yang sedang ditempati Markus karena gerombolan anak laki-laki sedang bergosip. Markus segera berdiri, dan langsung duduk di meja Isaura. Menatap teman sekelasnya dengan serius. "Markus, ada apa?"
"Ketua kelas kita ulang tahun lusa," sahutnya.
"Lalu?"
"Ulang tahunnya bertepatan dengan ulang tahun wali kelas. Jadi anak laki-laki sedang membuat rencana. Taulah, urusan lelaki."
Isaura mendengus. Ketua kelas dan wali kelas mereka memang laki-laki, pantas saja anak perempuan tidak diajak diskusi. Paling jauh nanti anak perempuan mengurusi kue dan makanan, juga hadiah. Bukannya durhaka, hanya saja Isaura malas kalau harus mengurusi kejutan ulang tahun begitu. Sebab ia sendiri tak ingat kapan terakhir kali merayakan ulang tahun.
Sepertinya malah tidak pernah.
“Lalu aku harus apa?”
“Biasalah, urus konsumsi,” jawab Markus seraya terkekeh.