Pagi Itu
"Yeeeaayyy aku yang menang!" Seorang gadis berlari meninggalkan jejak tapak kaki diatas pasir basah. Nafasnya terengah-engah. Ia lantas duduk meluruskan kaki di tepian yang sedikit jauh dari suara ombak duduk diatas pasir putih yang kering.
"Iya ... iya deh, kamu menang," balas seorang pria yang berlari mengekor. Nafasnya tak kalah terengah engah.
Beberapa menit mereka habiskan untuk berlari menyusuri tepi pantai. Berlari mengikuti hembusan angin. Mengabadikan detik bersama dengan tawa yang murni.
Hari ini Claressa Vinola mematut dirinya begitu lama didepan cermin. Membongkar isi lemari mencari busana terbaik miliknya. Pemilik paras ayu bermata bulat dan hidung mancung itu bingung. Ia ingin tampil secantik mungkin tapi busana apa yang cocok untuk pertemuan pagi ini?
Setelah berulang kali mengganti pakaian Rere begitu ia biasa disapa, memutuskan menggunakan baju rajut lengan panjang berwarna putih dan tapered pants berwarna biru tua. Serta hijab warna senada dengan pakaiannya.
Tepat pukul 06.00 WIB pagi tadi, Reizhard Moreno Praditya pangeran tampan berprofesi sebagai prajurit dengan pangkat kapten itu menjemputnya.
Hati Rere berdebar lebih kencang dari biasa. Ia gugup sampai belum sempat melahap nasi goreng buatan bi Narsih. Ini pertemuannya kembali dengan Reno sepulang bertugas dari Pulau seberang. Seperti kebiasaan yang mereka lakukan. Sebuah pantai berpasir putih yang mereka jadikan tempat pertemuan sejak lima tahun mereka bersama itu selalu menjadi tempat tujuan untuk bertemu.
Reno mengendarai laju mobilnya dengan tenang. Ia tak berhasrat memacu kecepatan tinggi meski jalanan begitu lengang.
Kapan lagi ia bisa bersama Rere, selama ini Reno selalu mendapat tugas di luar pulau. Dan hanya kembali beberapa bulan sekali. Saat itulah mereka manfaatkan untuk bertatap muka.
"Kamu minum dulu," Reno menyodorkan sebotol minuman. Rere mengatur nafasnya dan menyambut botol itu lalu meminum beberapa teguk. "Kamu sekarang larinya lebih cepat," kata Reno seolah meledek.
"Ah, Mas Reno ngeledek ya? Mas sengaja ngalah kan biar aku senang?" Sahut Rere. Wajahnya tampak bersemu.
Ia memalingkan pandangan menghadap ke matahari yang langsung menyorot wajah. Matahari kini mulai meninggi. Tempat ini memang bukan tempat yang dijadikan titik untuk menyaksikan terbitnya sang surya. Namun menjadi titik dimana mereka menyatukan hati dalam janji seiring dengan datangnya hari yang baru.
Matahari yang telah meninggi itu menyilaukan. Namun, silaunya terasa tak seberapa dibanding kharisma hidung mancung mata agak sipit dengan garis wajah tegas yang kini duduk di sisi Rere. Kala sosok itu tersenyum hati Rere terasa runtuh. Jika boleh,ingin rasanya Rere bersandar pada d**a bidang nan kekar itu. Tapi ... tidak! Tidak boleh!
Prajurit berwajah tampan itu ikut memaling wajah dari sang kekasih. Ia turut menatap cahaya mentari terbit pagi ini. Cahaya yang ditunggu seperti sebuah janji. Batinnya memiliki ketakutan jika terus lekat menatap sang kekasih naluri lelakinya ingin menyentuh halus pipi gadis yang memiliki kecantikan sempurna di matanya itu.
Mereka adalah kekasih yang sempurna. Reno dan Rere dipertemukan lima tahun yang lalu. Saat itu Reno libur bertugas. Ibu mereka yang bersahabat sejak masa SMA merencanakan bertemu. Pertemuan itu di rumah keluarga Reno.
Rere yang tidak biasanya mau diminta menemani ibunya reuni dengan sahabat karibnya, entah mengapa saat itu menurut. Dan pertemuan itu pun terjadi.
Tanpa banyak cerita, bak seorang putri yang bertemu pangeran tampan nan gagah. Pun sebaliknya, bak seorang pangeran yang menemukan putri nan jelita yang menjadi impian hatinya. Perasaan mereka bertaut begitu cepat. Komunikasi diantara mereka pun mengalir begitu saja. Apalagi dengan dukungan kedua belah pihak orang tua yang saling restu. Kasih dua insan ini bagai tanpa kendala.
Rere yang merupakan puteri tunggal dan memiliki sikap yang begitu manja lama kelamaan bisa belajar dan menyesuaikan diri. Sebagai kekasih seorang prajurit ia mampu memoles sikapnya menjadi tangguh dan tegar. Tangguh melepas Reno bertugas setiap saat. Termasuk yang harus kembali ia lakukan kali ini.
"Re, kamu besok enggak boleh terlambat ya," suara bariton Reno memecah keheningan. Rere tertunduk lalu melirik ragu.
"Iya aku nggak mungkin telat untuk acara sepenting itu," jawab Rere. Suaranya kali ini berubah sendu.
"Kamu masih sabar kan nunggu aku?"
Pertanyaan Reno membuat Rere terkejut. Sejak kapan ia pernah mengatakan tak sabar dan mengeluh dengan hubungan ini?
"Sampai kapanpun aku pasti sabar, karena aku yakin, Mas Reno pasti pulang untuk Rere,"
Wajah tampan itu tersenyum. Tatapan Rere menerawang menahan gejolak tak biasa yang ia rasakan di hatinya. Ada perasaan lain melepas Reno kali ini. Entah, mungkin ini hanya perasaan berlebihan.
"Re, tugasku di Kongo kali ini tidak sama dengan tugasku yang kemarin-kemarin. Sejauh apapun kemarin aku masih di Indonesia. Dan kali ini, kamu pasti paham disana sedang ada konflik. Aku mohon pengertian lebih dari kamu jika aku tak bisa terlalu sering menghubungi kamu, tolong cukup doakan aku saja." ucap Reno tegas namun tetap lembut.
Sekali lagi Rere mengangguk. Pandangannya masih menerawang. Terbayang dalam benaknya kondisi di negara konflik yang selama ini ia lihat dari berita di televisi. Dentuman senjata bersaut. bom yang mampu meluluhlantakkan apa saja, dan bidikan tembakan yang kapan saja bisa mengenai tubuh.
Pertahanan diri Rere nyaris goyah. Ia tak mampu membayangkan orang terkasihnya berjibaku dengan situasi seperti itu.
Apa mungkin ia bisa tidur nyenyak atau sekedar bernafas dengan lega jika setiap detik sekeping hati yang sudah terasa menjadi sebelah dari jiwanya setiap saat bisa saja terancam peluru nyasar.
Ingin rasanya ia berteriak sekuat tenaga dan menggenggam lengan kekar itu erat-erat agar ia tak jadi pergi. Tapi tak mungkin. Ini bukan mental seorang pendamping prajurit.
Sejak awal ia mengenal Reno dan tahu kecintaan kekasihnya ini pada dunia militer. Rere sudah berkomitmen untuk menerima dan memahaminya.
"Aku akan selalu doakan kamu Mas," Rere melukiskan senyum di bibirnya untuk Reno. Ia tak mau Reno melihatnya berat melepas keberangkatannya esok. Rere tidak mau menjadi beban pikiran bagi Reno.
"Sudah, kamu nggak boleh sedih. Aku hanya pergi satu tahun untuk kembali selamanya,"
"Enggak siapa yang sedih, aku kan cewek yang tegar," ucap Rere manja.
"Iya-iya deh, cewek manja yang sekarang tegar," Reno meledek.
"Tuh kan, suka nyebelin," Rere memanyunkan bibirnya. Membuatnya tambah terlihat menggemaskan.
"Eh, kita foto yuk, nanti setelah aku pulang kita kesini lagi. Kita foto lagi,"
"Boleh boleh,"
Rere merapihkan kerudungnya sementara Reno merogoh sakunya dan tidak mendapati
ponselnya di sana.
"Wah, ponselku ketinggalan di mobil, kamu bawa?"
"Hmm, sebentar," Rere menoleh lalu memanggil seseorang yang memang bertugas menemaninya kala berdua dengan Reno.
"Bi ... Bi Narsih sini," Rere memberikan aba-aba Bi Narsih untuk mendekat.
"Iya non,"
"Ponsel aku tadi sama Bibi ya?"
"Iya ini Non," Bi Narsih menyerahkan ponsel yang sedari tadi ia pegang.
"Udah Bibi tunggu di sana lagi aku mau foto dulu,"
Bi Narsih kembali melangkah dan berdiri beberapa meter dari Rere dan Reno. Reno tersenyum melihat kekasihnya dengan Bi Narsih. Aneh memang, bepergian kemanapun Bi Narsih selalu diwajibkan oleh Ibu Rere untuk ikut mengawal.
Iya, memang kalau berduaan itu tidak baik karena yang ketiganya adalah syaitan. Ibu Rere sangat memegang itu. Meskipun Reno adalah putra dari sahabat baiknya. Ia tetap tak bisa melepaskan Rere pergi berdua saja dengan Reno. Bahkan untuk menonton di bioskop sekalipun, Bi Narsih harus ikut dan duduk di samping Rere. Kalau Reno bukan laki-laki yang benar-benar baik, mana mungkin bisa bersabar jika setiap kencan Rere harus selalu satu paket dengan Bi Narsih.
Rere membidikkan kamera depan ponsel miliknya ke wajah mereka berdua. Sepasang kekasih itu tersenyum. Wajah mereka abadi dalam bidikan kamera ponsel.
"Non ... non ... udah siang nih, Bibi belum masak belum beres beres," suara Bi Narsih membuyarkan suasana dan membuat Rere memanyunkan bibirnya.
"Sudah, baiknya aku antar kamu pulang sekarang," Reno menenangkan Rere yang kecewa.