Sebuah Janji

1022 Kata
Seperti biasa Reno memacu SUV miliknya dengan santai. Kalau boleh, dia ingin berkeliling menyusuri jalanan kota sekalian. Biar semakin lama bisa bersama Rere. mengingat hari ini adalah hari terakhir mereka bersama. Untuk menunggu punya momen bersama lagi, masih tahun depan. Butuh mengurai kesabaran dalam hati. Tapi terlalu tidak mungkin. Bisa-bisa bibi di belakang mengoceh habis-habisan. Memang kedengarannya konyol ketika bibi malah bisa mengatur anak majikan. Tapi kenyataannya antara Rere dan bi Narsih memang demikian. Di sini Bi Narsih yang pegang kendali. Jadi mau tak mau Reno tetap mengikuti rute yang biasa. Hingga jarak semakin habis dan mereka sudah sampai di depan Rumah Rere. Bi Narsih bergegas turun saat mobil berhenti sempurna. "Den Reno, Bibi masuk dulu ya, Bibi mau masak," pamitnya saat masih di dalam mobil. "Iya Bi," jawab Reno dengan senyum yang khas. Andai masih muda mungkin Bi Narsih tergoda untuk merebut Reno dari Rere. Rere mematung. Pandangannya mendadak kembali kosong. Ia terbayang bayang suara bom yang menggelegar dan dentuman senjata yang bersahutan. Matanya berair tenggorokan terasa getir namun mulutnya terkunci. Reno menyadarinya saat ia telah keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Rere. "Re, kamu enggak apa apa kan?" Rere masih membisu. Ia melangkahkan kakinya keluar dari mobil tanpa berkata. "Aku mau pamitan dulu sama Ayah dan Ibu," Rere tak merespon. "Ok, kamu disini dulu aku mau cari Ayah dan Ibu di dalam," Reno meninggalkan Rere yang masih mematung. "Assalamualaikum Yah," ucap Reno ketika mendapati Ayah Rere sedang duduk bersantai membaca koran. "Waalaikumsalam, wah jagoan Ayah nih, maaf tadi waktu kamu jemput Rere Ayah dan Ibu sudah duluan pergi lari pagi jadi kita nggak ketemu," sambut Ayah. Ibu tiba tiba muncul dari dapur membawakan segelas teh untuk Ayah. “Reno, kangen Ibu sama kamu, kamu sibuk terus ya, besok sudah mau berangkat lagi," ucap Ibu lembut. Reno memang didamba-dambakan menjadi menantu di keluarga ini. Tapi semua harus bersabar. “Iya Bu, Yah, Reno mohon doanya untuk keberangkatan besok," Suara Bariton Reno tertata santun. Ibu dan Ayah mengangguk. "Reno pamit," Reno mencium tangan Ibu dan Ayah. "Rere masih di depan Ren?" tanya Ibu. "Iya Bu, nanti Reno suruh masuk," Langkah gagah Reno tiba di teras. Ibu dan Ayah kali ini tak mengikuti. Ia mendapati Rere sudah bercucuran air mata. Rupanya Rere tak sanggup lagi menyembunyikan perasaannya. Reno berdiri di hadapan Rere. Ingin Ia mengusap air mata itu. Tapi Reno adalah prajurit sejati yang memegang janji. Ia berjanji pada Ayah menjaga Rere sebaik mungkin. Menjaga sebagaimana fitrahnya sebagai seorang puteri Ayah yang belum halal untuk disentuh walau sebatas mengusap air mata. Ia melangkah ke dalam mobil mengambil tissue dan kembali mendekat ke hadapan Rere lalu menyerahkannya. Rere menerimanya tanpa kata. Lalu mengusap sendiri air matanya. Tiba tiba Reno membungkukkan badannya. Jaraknya tak sampai satu langah di depan Rere dan kini wajahnya semakin dekat. Perlahan ia bisikkan lembut di telinga Rere. Suara yang langsung masuk ke telinga itu membuat jantung Rere kian berdebar. "Jangan menangis lagi, aku akan melamarmu saat kembali nanti. Kita menikah," bisik Reno dengan sangat lembut. Hati Rere bagai bunga yang nyaris mati karena kekeringan lalu disiram air. Tak dapat lagi diungkapkan. Senyumnya terulas sangat manis. "Sana cepat masuk, Ibu dan Ayah menunggu," Rere mengangguk dan menurut tanpa kata. Ia segera masuk rumah. Reno kembali masuk ke mobil dan memacu SUV miliknya. *** Pagi telah tiba. Bukan hanya Rere yang sibuk bersiap untuk mengantar Reno ke bandara. Kedua orang tuanya tak kalah sibuk sejak tadi. "Rere, cepat sedikit Nak, ini sudah jam berapa?" ibu Rere mondar-mandir di bawah tangga sambil berulang kali memandangi arloji di tangannya. Yang di tunggu belum juga muncul. “Rere!” Ibu Rere mengulangi panggilannya setengah berteriak. Berharap puterinya yang sudah repot berhias sejak selepas solat subuh itu bergegas keluar dari kamarnya yang terletak di lantai dua rumah ini. "Iya Bu," Tiga menit berlalu Rere akhirnya keluar dari kamarnya. Ia mengenakan rok panjang dan blouse berwarna mocca serta kerudung warna senada. Ia terlihat begitu anggun. Langkahnya ayu berlenggak lenggok mulai menuruni anak tangga. Ibu menatap putrinya dari atas hingga bawah lalu mesam-mesem dengan sedikit menggeleng. Pertanda pujian sekaligus teguran. Pujian karena Rere hari ini tampak begitu ayu sekaligus teguran karena ibu dan ayah sudah dibuat menunggu hampir dua jam. "Sudah?" Tanya Ibu sembari tersenyum. Rere mengangguk. Lalu memutar tubuhnya. "Gimana Bu? Cantikkan?" “Cantik lah, dandannya aja dua jam.” Balas ibu. “Ayo cepat lah, nanti kita terlambat repot.” Ibu bergegas menggandeng Rere. "Ayah mana Bu? Tadi Rere disuruh cepat, sekarang Ayah belum kelihatan," “Ayah mu sudah manasin mobil dari dua jam yang lalu. Sudah ketiduran kali ayah di dalam mobil nungguin kamu.” “Oh, hehe, emang aku lama ya?” Rere nyengir. “Bukan lama lagi. Luaaamaa,” Rere terkekeh melihat reaksi ibu. Cepat-cepat ibu menggandeng Rere ke halaman rumah. Benar saja ayah terlihat duduk menunggu dengan kaca mobil yang dibiarkan terbuka. Duduknya terlihat gelisah seperti sopir angkot yang tidak sabar menunggu penumpang. “Yang sabar ya Yah,” ledek Rere dari Jendela. Ayah yang sedikit mulai mengantuk akibat lama menunggu dibuatnya terkejut. “Kamu ini ngagetin aja. Udah siap belum? Ayo nih, kemeja ayah sampai kusut lagi kelamaan nungguin kamu.” “Iya siap.” Rere langsung duduk di kursi belakang sementara ibu memanggil bi Narsih yang masih berkutat di dapur. Bi Narsih langsung sigap berlari mendengar panggilan dari nyonya rumah. Sedan hitam milik ayah mulai melaju keluar dari halaman rumah. Bi Narsih kembali menutup pintu gerbang tinggi berwarna silver itu lalu menguncinya. Sementara suasana di bandara khusus untuk penerbangan prajurit militer sudah begitu ramai. Mereka yang berseragam loreng terlihat dimana mana. Berbaur bersama keluarga mereka. Hari ini seribu orang prajurit akan diberangkatkan ke Kongo, Afrika sebagai pasukan perdamaian. Rere dan keluarga telah tiba di lokasi dan segera membaur. Ia menoleh kesana kemari mencari keberadaan Reno. "Rima, sini," terdengar suara seseorang memanggil Ibu Rere dari arah belakang. Ibu Rere menoleh dan mendapati sahabat karibnya sejak di bangku SMA itu melambaikan tangan. "Itu di sana," kata Ibu seraya menggandeng tangan Ayah dan Rere menuju ke arah seseorang yang memanggilnya. Jantung Rere mulai berubah irama. Reno muncul di samping Ibunya. Tangannya menggenggam sebuah bouquet bunga mawar pink yang merupakan bunga kesukaan Rere.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN