Mata kedua insan ini bertemu ketika Rere kian berjalan mendekat. Keempat orang tua mereka seakan paham, lalu bergeser sedikit memisahkan diri dari Reno dan Rere.
Dari jarak beberapa meter pandangan Ibu masih mengawasi Rere. Iya, ibu memang sangat protektif. Bahkan di tempat seramai ini pun Ia rasanya tak ingin lepas pengawasan ke Rere.
Ayah menggamit tangan Ibu seakan memberi kode agar tidak terus terusan mengintai Rere.
"Anak kita sudah besar," bisik Ayah.
Ibu tertunduk malu dan menarik sorot intaiannya dari Rere.
Dua pasang orang tua yang sudah saling bersahabat ini lantas bercakap cakap ringan. Mereka sengaja memberi ruang untuk putra putri mereka.
Reno tertegun. Mata mereka masih saling menatap dalam. Ada senyum kecil di hatinya, kali ini dia benar benar bersama Rere tanpa bayang bayang Bi Narsih.
"Ini untuk kamu," suara bariton Reno memecah keheningan mereka di tengah riuh suasana.
Rere menyambutnya tanpa berkedip. Ia sekali lagi terpesona pada lelaki dihadapannya yang mengenakan seragam kebanggaan serta baret biru khas pasukan perdamaian.
Irama degup jantungnya kian tak menentu. Dan lagi lagi hatinya meronta. Ingin sekali memeluk sosok dihadapannya ini.
"Re, kamu cantik sekali,"
Wajah Rere bersemu. Ia menarik tatapan lekatnya dan tertunduk malu. Lipstik warna pink natural tampak mempertegas senyum manis dari bibir sensualnya yang juga selalu membuat Reno berdebar.
Reno sedikit membungkukkan badannya mendekatkan wajah ke telinga Rere. Lagi lagi seperti ini membuat Rere kian tak karuan.
"Berapa jam dandannya?" Bisik Reno usil. Ia lalu terkekeh melihat wajah Rere berubah manyun.
"Tuh kan ngeledek aja, Mas Reno suka nyebelin," Rere mendengus kesal.
Reno tergelak melihat reaksi dari gadis manja kesayangannya itu.
"Jadi sebenarnya suka apa nyebelin?"
"Gak tau ah," Rere masih saja manyun.
"Udah, udah jangan ngambek, ini aku sebentar lagi pergi lho, masa mau di ngambekin? Nggak kasihan sama aku? Hmm?"
Rere kembali tersenyum malu-malu.
‘Cukup Renno, cukup! Kalau kamu terus begini aku bisa-bisa tak kuasa menahan diri untuk langsung sergap memelukmu seerat eratnya,’ batin Rere.
Ia masih belum banyak berkata kata. Hanya senyum malu tersipu yang sedari tadi ia tampakkan. Rere sebenarnya sedang menata hati. Ia tau sebentar lagi debaran jantung yang berirama tak karuan itu bisa saja berubah sendu.
"Aku punya sesuatu untuk kamu," ucap Reno. Kali ini dia tidak mengatakan dengan cara berbisik lagi.
Reno lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku seragam lorengnya. Sebuah kotak perhiasan.
Angan Rere seketika melambung tak menentu. Ia mengingat ucapan Reno kemarin di halaman rumahnya. Rere yakin sekali isi kotak tersebut adalah sebuah cincin dan Reno akan menyematkannya sesaat lagi.
Terdengar aba-aba kalau Reno harus segera bersiap bergabung bersama pasukannya. Buyar sudah angan Rere tentang cincin itu. Keempat orang tua mereka mendekat. Perpisahan itu kini di depan mata.
"Kadonya dibuka nanti di rumah ya," bisik Reno sebelum melangkah mundur.
Rere menatapnya dalam-dalam. Mengabadikan wajah yang sesaat lagi akan berjarak ribuan kilometer dengannya. Pedih. Ingin rasanya memutar waktu pada hari ke tiga ratus enam puluh lima setelah hari ini. Agar saat membuka mata wajah itu langsung terlihat lagi.
Orang tua Rere dan Reno mendekat. Sudah saatnya mereka melepas putra kebanggaan ini untuk tugas mulia. Ayah Reno memeluknya erat sambil membisikkan doa agar putranya lancar dalam mengemban tugas dan selamat.
Air mata mulai menitik. Bukan hanya di wajah ayu Rere. Nyonya Mona ibu Reno, jauh lebih kehilangan. Sejak di rumah ia sudah sesenggukan tanpa henti. Satu tahun rasanya berat untuk melepas Reno pergi jauh.
Tak bisa berlama-lama Reno harus bergegas. Pelukan dari para orang tua selesai. Tak ada pelukan untuk Rere? Tidak. Belum boleh, nanti saja kalau Reno sudah mewujudkan janjinya.
Mata mereka saling bertemu. Menatap dalam sambil bersiap selangkah demi selangkah menjauh.
Derap langkah itu terus berjalan dan Reno sudah hilang dari pandangan. Rere menjatuhkan pelukan pada ibunya. Ia baru bisa menangis sesenggukan setelah Reno tak terlihat. Sejak kemarin ia sudah berjanji tidak akan menangis di depan Reno. Takut menjadi beban dan membuatnya khawatir.
"Udah dong, katanya sekarang sudah jadi perempuan yang tangguh dan gak cengeng." Ibu menghiburnya sambil mengusap punggung Rere. Beberapa lembar tisu yang sudah ibu siapkan ia keluarkan dari tas. Rere langsung menyapu air matanya.
Ayah dan ibu Rere saling berpamitan pada orang tua Reno. Mereka harus segera pulang dan kembali pada rutinitas masing-masing. Rere genggam erat kotak kecil kado dari Reno yang entah apa isinya. Tadi Reno minta Rere berjanji membukanya nanti di rumah.
Perjalanan ke rumah cukup jauh. Paling tidak makan waktu satu setengah jam perjalanan. Apalagi kalau jam macet begini. Bisa-bisa dua jam habis waktu di jalan.
Ah, mana mungkin bisa sabar. Rere sudah ingin cepat sampai di kamarnya. Ingin memeluk bantal. Menangis sesenggukan sampai puas, lalu membuka kotak kado dari si pangeran tampan itu.
"Ayo Re, ayah udah ada janji mau meeting. Ibu juga mau ke Butik." Ibu Rere membukakan pintu mobil. Menyadari anaknya masih bengong di tempat. Sesekali Rere menatap ke langit. Berharap melihat pesawat Reno yang sudah take off. "Ayo," ajak ibu sekali lagi sambil menepuk bahu Rere.
"Oh iya Bu," Rere kembali duduk di kursi baris ke dua.
Ayah langsung bergegas tancap gas. Meeting dengan klien di kantor sudah menanti.
Ibu dan Ayah asik mengobrol. Apa saja mereka ceritakan. Mulai dari butik ibu sampai urusan di pabrik ayah. Sementara Rere memilih diam. Sedang tak ada keinginan untuk ikut membaur dalam obrolan itu. Hatinya sedang hanyut terbawa yang baru pergi.
Sedikit mengintip kotak pemberian Reno tadi dari dalam tasnya. Rasanya Rere tidak bisa menunggu lagi. Mumpung ayah dan ibu sedang sibuk dengan obrolan mereka, Rere mengambil kesempatan untuk membukanya.
Ia intip perlahan, lalu pelan-pelan pembungkus kotak itu ia buka. Dibalik kertas kado itu ternyata sebuah kotak perhiasan. Apakah itu cincin seperti yang ia bayangkan tadi?
Pandangan Rere sesekali mengawasi kedepan. Memastikan ayah dan ibu tidak memperhatikannya dari spion tengah. Kalau ketahuan Ayah dan ibu akan langsung nimbrung. Bisa buyar semua suasana hati Rere.
Setelah beberapa detik memastikan aman, ia menarik napas perlahan kotak itu ia buka. Sebuah gelang emas cantik dengan inisial RR.
Rere langsung menggenggam kotak itu dengan erat. Buket mawar pink pemberian Reno ia peluk dengan hangat. Bersamaan dengan itu burung besi melintas di langit. Rere menatapnya dari balik jendela sambil mengucap salam dalam hatinya. Salam untuk dia yang pergi dan dinanti satu tahun lagi.