Hampir satu setengah jam berlalu melewati kemacetan, keluarga Rere akhirnya tiba di kediaman mereka. Saat mobil berhenti, dari dalam langsung bi Narsih berlari menyambut. Membukakan gerbang lebar-lebar seperti biasa. tapi kali ini hanya dua orang yang turun. Rere dan ibunya. Sementara ayahnya yang tadi memang sudah ada janji meeting, langsung pergi begitu mama dan Rere turun dan masuk gerbang.
“Sudah pulang Non,” bi Narsih menyambut.
“Iya, bibi sudah selesai beres-beres rumahnya?” balas ibu Rere. Sementara Rere hanya mengangguk dan tersenyum membalas sapaan bibi lalu masuk lebih dulu dan langsung berlari ke kamarnya di lantai dua. “Re, habis ganti baju cepat turun dan makan dulu, mama mau pergi lagi.” kata mama Rere sedikit dengan suara keras karena yang diajak bicara sudh sampai ke lantai atas.
“Iya Ma, nanti.” jawab Rere.
Sejak tadi ia sudah tidak sabar. Gelang dengan inisial RR yang terlihat unik itu ingin segera ia pakai. Sampai di kamar ia buka kotak pemberian Reno tadi. Duduk di dekat jendela kamarnya yang langsung menghadap ke arah gerbang dan membuka kotak itu.
Reno memang beda. Ya, meskipun sempat terlintas dalam bayangan Rere, ingin seperti di film-film. Sebelum si pria pergi, dia berlutut lalu menyematkan sebuah cincin di jari manis. Rer langsung senyum-senyum tak jelas membayangkannya. Ah, rasanya terlalu berlebihan. Lagipula terlalu mainstream. Pernyataan cinta dan cicin itu terlalu mainstream. Entah kenapa Reno memilih gelang. Yang pasti kalau Reno yang memberi, apapun itu terasa spesial.
Rere langsung mengenakannya di pergelangan tangan kanan. Cantik. Gelang itu terlihat indah dan menyatu dengannya. Pensaran ia buka-buka lagi kotak itu. Barang kali dalam kotak kecil itu ada yang tertinggal. Dan ternyata benar, ada sebuah kertas kecil di sana. Entah apa?
Reno yang ia kenal selama lima tahun ini emmang selalu penuh kejutan. Rere berusaha mengeluarkan kertas dari dalam kotak kecil itu. Ada sebaris tulisan di sana, bunyinya seperti ini.
“Bagiku, kamu tersa sedekat nadi. Tak peduli seberapa jauh aku pergi dan tak peduli seberapa jarang bisa saling menatap. Bagiku kamu tetap sedekat nadi. Dan semoga selamanya seperti ini.”
Deg!
Sumpah demi apapun ini kedengaran gombal. Tapi, Reno bukan tipikal penggombal. Kalau dia bicara, artinya ya isi hatinya sama seperti itu.
“Aaaaaaaaaaa!” Rere langsung melompat dari pinggir jendelanya pindah ke atas temapt tidur. Melompat-lompat di sana sambil bersorak tak karuan.
Dari lantai bawah sampai terdengar suara berisik dari dalam kamar Rere.
“Bi, itu Rere lagi ngapain? Coba di lihat ya, ini saya sudah buru-buru mau berangkat ke butik. Ada janji dengan yang pesan gaun.” Perintah ibu Rere pada bibi. Ia sendiri sudah bersiap untuk pergi lagi.
“Iya Bu, taxi ibu sudah datang?” tanya bibi sebelum baik ke kamar Rere.
“Belum, tapi kelihatannya sebentar lagi.”
“Ya sudah Bu, saya ke atas dulu lihat Non Rere.”
“Eh, jangan lupa Rere suruh cepat makan. Saya nanti makan di butik saja.”
“Oh, iya, baik Bu.”
“Ibu mau saya bawakan makan siang?”
“Gak usah, nanti saya makan di luar sekalian sama klien yang mau pesan gaun.”
“Oh, ya sudah baik Bu, permisi.”
Baru saja bibi ingin bergegas naik. Taxi pesanan ibu Rere sudah berhenti di depan rumah. Jadilah bibi terpaksa menunda langkahnya dan menemani nyonya nya terlebih dahulu. Mengantarkan ibu sampai ke depan gerbang lalu mengunci pintu kembali setelah taxi itu berlalu.
Di kamar, Rere sedang senyam-senyum sendiri di depan cermin. Berulang kali ia memperhatikan pergelangan tangannya sendiri. Melihat sesuatu yang cantik yang ekarang tersemat di sana.
“Duh, berapa jam lagi sih baru bisa telepon? lama banget. Penerbangan dari Indonesia ke Kongo berapa jam ya? Lupa gak nanya lagi kemarin.” Rere bicara sendiri. Ia lalu mengotak-atik ponselnya mencari tahu. “Hah? Dua puluh jam?” Setengah berteriak Rere melotot manatap layar ponselnya. membaca artikel tentang lama perjalanan yang harus ditempuh untuk bisa tiba di Kongo.
Pada waktu yang bersamaan bibi baru saja sedikit mendorong pintu kamar Rere yang kebetulan tidak dikunci. Bibi langsung terperanjat saat mendengar teriakan Rere.
“Non ini bikin kaget aja.”
“Ih Bibi,” Rere juga ikut kaget dengan kemunculan bibi yang tiba-tiba. “Kapan bibi masuk? Kok gak panggil dulu? ngagetin banget sih, gak kedengaran suaranya tau-tau ada di kamar.”
“Lho, gak kedengaran suaranya gimana Non? Bibi lari di tangga, terus panggil-panggil non tadi memang gak dengar?”
“Hah? Serius bibi manggil?”
“Iya lah non, masa bibi bohong.”
“Ah, ya udah deh, ganggu aja.” keluh Rere. Lamunannya memang langsung uyarsaat melihat penampakan bibi tadi.
“Non lagi apa?” tanya bibi.
“Ya lagi ngapain aja lah bi, memang aku harus laporan sama bibi?” Rere sedikit manyun.
“Ya bukan begitu non, tapi suara non itu kedengaran sampai ke lantai bawah. Makannya tadi nyonya minta bibi cepat periksa.”
“Halah, pakai diperiksa segala. Emang aku apaan,”
“Bukannya begitu non, takutnya non kenapa-kenapa. Soalnya dari kamar non kedengaran berisik tadi.”
“Oh, ya udah deh. Aku gak apa-apa kok. Udah ‘kan cuma mau tanya itu aja?”
“Iya non, terus ….”
Rere menuntun bibi agar keluar dari kamarnya. Sambil tersenyum-senyum sebagai isyarat tak mau di ganggu.
“Terus apa Bi?” tanya Rere saat sudah menuntun bibi sampai ke depan pintu.
“Terus nyonya pesan, non harus cepat makan siang. Jangan nanti-nanti makannya. Takut sakit. Sebaiknya non sekarang turun dulu. Makan dulu. Kalau nanti mau berisik-berisik lagi di kamar silahkan. Yang penting non makan dulu. kalau gak, nanti bibi yang dimarahi.”
Rere menghela napas. Hingga usianya sudah bukan anak-anak lagi, ia memang masih selalu diperlakukan seperti ini. Makan, pergi atau apapun kegiatannya selalu dalam pengawasan ibunya. Diteruskan melalui bi Narsih yang sudah menjadi pengasuhnya sejak kecil.
“Iya deh, iya. Ibu udah nungguin di meja makan ya?” tanya Rere. Ia tidak pernah mau membantah. Kasihan pada bibi. Kalau ia tidak menurut nanti bibi yang kena marah.
“Gak non, ibu sudah pergi naik taxi. katanya ada janji sama yang pesan gaun di butik.”
“Hmm, ya udah deh, bibi aja yang temani aku makan ya.”
“Iya, tenang aja.”
Mereka berdua menuruni tangga. Sejak Rere kecil, kedua orang tuanya memang super sibuk. Rere sendiri lebih sering di temani bi Narsih di rumah. Hingga hubungan mereka sudah begitu dekat. Tidak membedakan meski bi Narsih adalah asisten rumah tangga sekaligus pengasuh bagi Rere.
“Eh, gelangnya cantik banget non? Baru ya? Eng … ada hurufnya, dari den Reno ya?” bibi langsung nerocos bertanya saat melihat gelang cantik itu ditangan Rere.
“Ih, kepo deh,” Rere langsung lanjut mengambil nasi di piringnya.
“Tapi betul ‘kan? Memangnya dari siapa lagi? Masa iya non beli sendiri.”
“Ih, bibi nih, pengen tahu aja.”
Bibi hanya senyam-senyum. Diam-diam ia penasaran. Karena sepanjang limatahun pacaran dengan Reno, setiap kali mereka berdua bertemu, bibi selalu ikut. Selalu ada. Selalu menemani.
“Kalau gak salah, non sama den reno sudah lima tahun ya? Tapi kok den Reno belum ada tanda-tanda mau melamar? Bibi belum pernah dengar den Reno bilang ‘will you marry me’?”
Rere langsung tertawa hingga nyaris tersedak saat mendengar bibi mengatakan itu. Ia tak mau menceritakan soal apa yang dibisikkan Reno sehari sebelum berangkat. bisa-bisa kalau bibi dengar, ibu dan ayah otomatis akan tahu. Biar saja ini masih menjadi rahasia Rere dan Reno.