Wejangan Bibi

1026 Kata
Ponsel Rere berdering. Kebetulan ia letakkan di meja. Baru saja Rere ingin meraih ponsel itu, bibi melarangnya. "Non teruskan makan saja. Biar bibi yang jawab telepon." tanpa menunggu lama bibi meraih ponsel Rere. Rere hanya mengangguk. Tidak keberatan bibi menjawab ponselnya. Ini memang sudah biasa, karena panggilan yang masuk di ponselnya tidak lain dari ibu, ayah atau sahabatnya. Lagi pula sekarang ini mana mungkin Reno telepon, dia 'kan sedang dalam pesawat. "Hallo," bibi menjawab panggilan itu. Rere melirik sambil terus mengunyah makanannya.  "Dari siapa Bi?" tanyanya. "Non Salma non,"  "Bilangin aja aku lagi makan."  Bibi mengangguk lalu menyampaikan pesan Rere pada yang menelpon. Tak sampai satu menit bibi meletakkan kembali ponsel itu di meja.  "Salma bilang apa Bi?" "Katanya mau kesini non, sudah di jalan. Sudah dekat." jawab bibi. "Oh, ya udah biarin." "Non mau pergi sama non Salma?" "Hmm," Rere mengangguk. "Mau ke Butik baru aku. Aku 'kan sekarang punya butik kayak ibu. Tapi beda." sebutnya bangga. Gadis ini memang baru sebulan belajar terjun ke bisnis fashion. Bukan hal yang baru sebenarnya. Sudah setahun lebih ia menekuni bisnis fashion. Dari modal hanya membeli bahan dan menggunakan jasa orang lain untuk menjahit kerudung, Rere membuat merek kerudungnya sendiri dan menjualnya secara online. Namun dengan dorongan sang ibu, dan setelah lewat perhitungan dan perenungan panjang, Rere akhirnya berani melebarkan bisnisnya. Bekerjasama dengan sahabatnya Salma, dan tentunya modal dari ayah. Ia membuka sebuah butik. Merek fashion miliknya sekarang tidak hanya memproduksi kerudung. Tapi banyak mode pakaian. Tentunya sesuai tren dan selera seusianya. Berbeda dengan butik ibu. "Iya deh non, yang udah punya butik, bibi kapan diajak main ke butik non? Tugas bibi 'kan mendampingi non kemana saja. Tapi ke butik bibi gak pernah diajak." "Nanti lah bi, kalau butik aku sudah bagus, sudah rapi, sudah selesai renovasinya. Sekarang kan sebagian ruangannya sedang di renovasi. Kemungkinan dua Minggu lagi baru selesai. Nanti bibi boleh temani aku setiap hari di butik kalau sudah beres." kata Rere. "Asiiik, bibi jadi bisa kerja di luar rumah. Gak di rumah terus." Bibi lalu senyum-senyum sendiri. "Eh Non, eng … maaf sebelumnya ya," kalimat bibi menggantung buat penasaran. "Apa bi?" "I-itu non, kalau menurut bibi ya, non jangan suka curhat sama non Salma soal den Reno. Ya untungnya den Reno sekarang jauh. Pokoknya jangan terlalu cerita tentang den Reno ke non Salma." kata bibi. Entah kenapa mendadak bilang seperti itu. "Kenapa bi?" tanya Rere heran. "Pokoknya nurut aja sama bibi. Jangan." "Ya gak bisa dong, aku harus tahu alasannya." "Eng … perasaan bibi bilang, non Salma itu suka sama den Reno." cetus bibi. Rere langsung menghentikan suapan makanan ke mulutnya. Diam sesaat dengan mata sedikit melebar. “Ah bibi, yang gak-gak aja nih. Jangan aneh-aneh lah Bi, Salma itu shabat aku udah dari lama. lagian juga ngapain dia suka sama Reno? Lihat Reno aja jarang. Kalau aku sering jalan sama Reno, terus Salma sering lihat, terus dia suka diam-diam lihatin Reno, nah itu baru ada peluang.” Ujar Rere. Berusaha memungkiri omongan bibi. “Ya jangan salah ya non, rasa suka itu bisa datang gak hanya karena sering bertemu. Sekali dua kali bertemu kalau berkesan juga bisa suka. Coba non ingat-ingat, non Rere pernah gak memuji-muji den Reno?” “Hmm, pernah sih,” Rere terlihat berpikir. Sepertinya mulai termakan omongan bibi. Maklum saja, sejak bayi bibi adalah orang yang paling sering berbicara dengannya. Suaranya yang paling sering ia dengar. Dan tempat curhat yang paling banyak menampung curhatan Rere. “Makannya non, pokoknya non jangan terlalu mengumbar cerita tentang non sama den Reno ke non Salma. Apalagi kalau den Reno belum ada signal mau mengajak non menikah. Artinya den Reno dan non baru sekedar pacaran. Bisa saja kalau ada orang yang suka sama den Reno, merasa itu sebagai peluang.” Bibi terus bicara panjang lebar. Meski terkesan mengompori, tapi sebenarnya ini tulus. Murni karena peduli pada Rere. Nalurinya sebagai orang tua yang berpengalaman yang mendorongnya bicara begitu.  “Eng … jadi artinya kalau Reno sudah memberikan kepastian mau melamar aku kapan, artinya itu sudah aman. Artinya orang yang misal punya perasaan sama Reno gak akan mungkin menggangu?” tanya Rere polos. “Ya tetap belum aman Non, pokoknya jangan terlalu menceritakan semuanya pada sahabat terdekat sekalipun. Kalau kita terlalu menceritakan kelebihan pasangan kita ke sahabat kita, salah-salah dia malah semakin kagum, lalu penasaran, dan diam-diam naksir.” Bibi semakin kedengaran serius bicaranya. Rere mendadak senyum-senyum sendiri. “Hayo, bibi kok kayak dari hati banget ngomongnya? Pengalaman pribadi ya?” ledeknya. Bi Narsih langsung salah tingkah. Dia memang memilih hidup sendiri sejak lama. lama sekali bahkan. Anak semata wayangnya disekolahkan di pesantren. Sementara yang Rere tahu, rumah tangga bi Narsih memang sudah kandas sejak lama. “Ah, non ini bisa saja.” Bibi lalu kelihatan sedikit tersipu. “Pokoknya non dengar pesan bibi. Ini buat kebaikan non. Ya, bukan berarti menjaga jarak sama non Salma. Bersahabat ya tetap bersahabat. Tapi, tidak usah selalu ceritakan tentang kelebihan-kelebihan atau kebaikan den Reno. Apalagi menceritakan kebiasaannya, apa yang dia suka, lalu ya pokoknya tentang den Reno lah. Pokoknya jangan.” lanjut bibi lagi. Terdengar suara bell dari pintu rumah berbunyi. Pertanda ada seseorang di depan gerbang sana. “Tuh Bi, Salma kali. Aku mau cuci tangan dulu ya, tolong bibi bukakan pintunya.” “Ok non,” Rere berlari ke dapur. Menaruh piring bekas makan siangnya lalu membasuh tangannya di wastafel. Diantara gemericik suara air dari kran, ia pasang telinga. Tidak kedengaran suara khas salma yang akan memanggilnya dengan kencang dan langsung berlari menyelonong ke dalam rumah. Mencari ke setiap ruangan sampai menemukannya. “Salmanya mana Bi?” tanya Rere setelah menyusul ke teras. Pandangan matanya lansgung tertuju ke bibi lalau ke gerbang. Tidak terlihat sahabatnya di sana. “Bukan non Salma non, tapi den Zafran.” Sebut bibi. “Hah? Siapa?” Rere baru mendengar nama itu. “Itu non,” bibi menunjuk ke kursi teras. Rere langsung menoleh. Seorang pria menyapanya dengan senyum. “Assalamualaikum, saya Zafran.” ucap pria itu. “Waalaikum salam,” Rere menjawab salamnya kemudian tertunduk. Pria ini wajahnya tenang, teduh, senyumnya ramah dan sikapnya terlihat sopan. Bukan hanya itu, kalau boleh di bilang soal ketampanan, dia tak kalah tampan dari Reno.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN