Pagi datang terasa lebih cepat dari biasa. Maklum saja, semalaman Rere nyaris tidak bisa tidur. Hanya berguling kesana-kemari di atas tempat tidur. Bahkan sesekali dia membuka jendela kamar memperhatikan balkon kamar rumah sebelah yang kosong itu. Berusaha cuek saja tapi rasanya kenyataan yang ada saat ini sulit ia terima. “Gak mungkin! Gak mungkin! Kenapa sih jadi kayak gini?” Rere membuka mata yang sejka malam tak mau diajak pindah kea lam mimpi. Menutup wajah dengan bantal dan mulai merasakan kepalanya sedikit pusing. Suara ketukan terdengar di pintu kamar. Dia tahu itu pasti bibi. Seperti rutinitas di pagi-pagi sebelumnya yang selalu sama. “Non, boleh bibi masuk?” “Iya!” Rere menjawab dengan ketus. Terlihat bibi masuk langsung menyuguhkan senyum hangat seperti biasa. “Non, sudah

