Rere berjalan di lobi rumah sakit dengan langkah malas dan wajah yang terus ditekuk. Tangannya menenteng bungkusan berisi makanan yang rasanya ingin ia buang saja ke tong sampah.Sambil berjalan pikirannya terbang kemana-mana. Ingat terakhir ia mengantarkan makanan untuk Reno dalam pertemuan beberapa bulan yang lalu saat Reno libur dari tugas. Saat itu rasanya hati Rere berbunga-bunga bukan main dan mau dengan suka rela ikut repot membantu bibi di dapur. Berangkat dari rumah dengan rona penuh bahagia lalu bisa menatap langsung wajah yang selalu ia rindukan. Menantikan Reno berkomentar atas masakan yang ia buat. Tapi kali ini situasinya jauh beda. “Nih, bibi aja yang kasih ke dia!” Rere menyerahkan bungkusan berisi bubur ayam spesial itu kepada bibi. Sebenarnya sudah tidak spesial lagi. Sej

