Pagi di hari berikutnya, sepertinya Rere mau tak mau harus berkompromi dengan hatinya untuk mau berdamai dengan bibi. Siang nanti sudah tiba jadwal ayah dan mamanya akan pergi. Di meja makan Rere sudah siap sejak tadi. Dia tidak mau sampai bibi keburu mengetuk pintu kamarnya. Masih gengsi. “Silahkan Non, ini menu sarapan kesukaan Non lho,” bibi menyuguhkan masakannya. Rere hanya mengangguk tanpa senyum dan tanpa kata. “Kamu kayaknya kok sikapnya berubah sama bibi? Ada apa ini?” tanya mama. Sebetulnya mama sudha menyadarinya sejak kemarin. Tapi masih belum dapat kesempatan yang pas untuk bertanya pada putrinya itu. “Gak ada apa-apa Ma,” Rere menjawab dengan mulut yang mulai mengunyah. “Mama sama Ayah mau pergi gak sebentar lho, jadi sebaiknya kalian berdua harus akur dan baik-baik s

