Beberapa jam telah berlalu sejak malam menurunkan tirainya yang lembut. Vale terjaga perlahan. Di sisinya, Evelina terlelap, rambutnya terurai bagai helaian sutra yang memeluk bantal, napasnya teratur, dan wajah mungilnya dilukis lembut oleh sinar sore yang menyelinap di sela tirai. Vale menatapnya lama. Ada sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, seakan seluruh kekacauan dunia terdiam saat gadis itu berada di dekatnya. Ia sadar, dengan Evelina, ia bisa bernapas tanpa sesak, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh pertempuran, ia bisa tidur tanpa mimpi yang menakutkan. Tangannya menahan diri agar tidak membangunkan sang Lady kecilnya. Ia menatap wajah Evelina sekali lagi, lalu berbisik lembut: “Tidurlah, My Lady.” Jari telunjuk Vale menyentuh perlahan pipi Evelina.

