Begitu turun dari taksi, Azel menarik napas dalam – dalam sambil mendongak dan menikmati surya yang menerpa wajahnya. Alih – alih terasa panas, Azel justru merasakan kenyamanan karena akhirnya bisa lepas dari Yudistira. Sesaat ia ingin menikmati suasana sendirian tanpa sang kakak yang sudah seperti bodyguard pribadinya. Tapi tunggu dulu! Ada sesuatu yang terasa ganjil. Azel memandang ke kanan dan ke kiri dengan alis bertaut. Kepalanya sedikit meneleng berusaha mengingat sesuatu. “Astaga, tasku!” Sontak Azel memandang ke jalanan. Namun jelas taksi itu sudah sangat jauh sekarang. Meski sadar jika kemungkinannya sangat kecil, tapi Azel berharap taksi itu berhenti. Ia melangkah melewati trotoar yang tidak dilindungi pepohonan. Rasa gerah perlahan dirasakannya, namun semua barangnya ada

