Udah Kebelet?
Alohaa...
Masih ada yang nungguin nggak?? semoga masih banyak..
Maafkan, ini reader nya banyak ya cewek ya..
tanpa edit dan typo bertebaran ya..
ok. Baiklah nyisanak..
selamat membaca...
&&&&&&&
Waktu masih menunjuk pada pukul delapan kurang, ketika Alaska terlihat menuruni tangga. Rambutnya masih basah, wajahnya sumringah, segar. Dan ..... wangi. Mamanya memandang heran, alisnya mengkerut.
“ Tumben sudah bangun?”.
“Mantu mama belum bangun ya?” tanyanya, tanpa perlu menjawab pertanyaan kepo dari mamanya.
“ Heh!.. kalau orang tua bertanya itu dijawab!”, omelnya.
“ Mama, mau tau apa mau tau banget?” goda Alaska. Tangannya meraih kopi s**u yang baru saja diletakkan si bibik.
“ Yang sudah nggak jomblo, jangan belagu ya!”, cibir mamanya. Alaska terbahak, didorongnya kursi mundur. Lalu berjalan kearah kamar tamu.
“eeee...mau kemana?” tiba-tiba saja mamanya sudah berdiri didepannya. Tangannya terentang menghalangi langkah Alaska. Sampai dia terlonjak, kaget.
“ Bangunin mantu mama dong”, jawabnya santai, geli melihat tingkah mamanya.
“ Nggak boleh! laki-laki nggak diijinkan masuk kamar anak perawan!”.
“Udah nggak perawan lagi ma, maksudnya bibirnya lho! gara-gara anakmu ini!”.
“ Lha...kok nggak boleh sih ma? rengeknya. “ Ini mau nengokin, sudah sembuh apa masih sakit?. Itu anak orang, kalau sakit, orang tuanya marah gimana? Anak sendiri kok dicurigain sih”, gerutunya.
“ Beneran? Cuma nengok aja?” matanya memicing, curiga. Dibalas anggukan kuat Alaska yang berdiri didepannya, tangannya terlipat didada. Menunggu titah ibunda ratu selanjutnya.
“ Ya sudah, awas! mata dan tangannya dijaga!” dengan helaan nafas seperti tidak rela. Tangannya dikibas-kibaskan menyuruh Alaska pergi.
“ Kalau sudah bangun, ajak makan sekalian”, Alaska tidak menjawab hanya mengangkat tangannya tanda mengerti.
Dibukanya pelan pintu kamar, setelah mengetuk beberapa kali. Matanya meneliti seluruh kamar, mencari keberadaan Biru. Ranjangnya kosong, selimut sudah terlipat rapi. Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. “ Mungkin sedang mandi”, pikirnya.
Alaska berjalan ke arah jendela dan membuka gorden. Sinar matahari membuat kamar menjadi lebih terang. Sebelah kanan jendela ada meja kecil dengan satu buah kursi. Alaska lalu duduk sambil menunggu Biru . Dibukanya Hp untuk cek email, mungkin ada pesan dari kantor.
Ceklek.... Tiba-tiba terdengar pintu kamar mandi dibuka. Alaska mengangkat kepalanya yang tadinya menunduk. Matanya tak mampu berkedip. Mulutnya kering. Rasanya ada bongkahan batu yang mengganjal di tenggorokan. Pandangannya terus mengikuti gerakan gadis yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Rambut masih digulung handuk. Bajunya masih seperti tadi malam. Aroma sabun mandi menyergap penciumannya. Dia berjalan ke arah ranjang, kemudian menunduk untuk melepas handuk. Kemudian dipakainya untuk mengusap-ngusap rambutnya. Setelah itu berjalan lagi masuk ke kamar mandi, dan keluar beberapa menit kemudian. “ Cuma naruh handuk tapi kenapa bikin deg-degan ya?” ucapnya dalam hati.
Alaska tetap diam, hanya matanya yang mengikuti semua aktifitas Biru. Pandangannya menelusuri tubuh gadis itu. Mulai rambutnya yang masih basah. Baju dengan belahan d**a rendah yang menonjolkan lekuk payudaranya. Baju yang semalam membuat tubuhnya panas dingin. Baju yang membuat jantungnya menari salsa di dalam. Jakunnya bergerak perlahan, rasanya sulit walau hanya untuk menelan salivanya.
Pemandangan didepan memicu detak jantungnya. Setiap kakinya melangkah, mendekati gadis itu. Iramanya bergerak lebih cepat seiring langkah kakinya. Lebih cepat...lebih cepat dan lebih cepat. Irama jantungnya yang sejak tadi turun naik makin kencang, layaknya rollercoster.
Dia tidak mau mengejutkan gadis itu. Tersisa jarak tiga langkah. Tiba-tiba Biru menoleh, lalu mematung dengan mata membelalak, lucu. Tangannya berusaha menutupi dadanya. Mulutnya membuka lalu mengatup kembali. Seperti berusaha mengatakan sesuatu. Tangannya menunjuk-nunjuk Alaska.
Ketika kesadaran Biru kembali, seketika mulutnya membuka. Menjerit sekuat tenaganya. Tetapi yang terjadi adalah..hmmpt..hmmpt..tidak ada suara apapun yang keluar.
Ya... sepersekian detik Biru akan berteriak. Alaska bergerak maju untuk membungkam mulutnya. Tangan kiri memeluk pinggang Biru, sedang tangan tangan menempel di mulutnya. Alaska memeluk Biru dengan erat Jadi hanya matanya yang melotot.
Rasanya berbeda...Lebih enak memeluk orang yang sudah bangun, daripada tidur.
Biru memberontak berusaha melepaskan tangan Alaska yang membungkam mulutnya. Tangannya menarik dan memukul apa saja. Tubuhnya meronta bergerak ke kanan ke kiri, hingga tiba-tiba Alaska melepas tangan yang membekap mulutnya. Saat yang sama Biru menarik tangan Alaska dengan sekuat tenaga. Yang terjadi adalah tubuhnya terdorong ke depan, menabrak tubuh Alaska. Hingga tanpa sengaja Bibir mereka saling menempel. Saling bersinggungan.
Dan semesta selalu mempunyai cara untuk menyatukan mereka.
Matanya mengerjap, tubuhnya kaku. Sedangkan Alaska hanya diam. Matanya menatap lekat ke manik mata Biru. Tatapannya dalam dan tenang. Cepat-cepat Biru mundur, tangannya menutupi mulutnya. Matanya berkaca-kaca, mau menangis.
“ Jangan teriak ya, sungguh ini tidak sengaja. Jangan nangis, sayang... maaf..maaf”, Alaska berusaha menenangkan. Biru hanya terdiam dan menunduk saja. Karena masih shock
Setelah Biru agak tenang, digandengnya gadis itu, diajaknya duduk diranjang. Tubuhnya miring menghadap gadis itu. Berkali-kali Biru mencoba menarik tangannya dari genggaman Alaska. Tapi selalu tidak berhasil, karena Alaska tidak mau melepaskan.
Ya...sampai kapanpun dia tidak akan pernah melepaskan genggaman ini. Karena hanya pemilik tangan ini yang akan selalu bersama dirinya untuk menggenggam dunia. Memberi warna indah pada dunia, berdua.
Tiba-tiba...” aaaahhh... ciuman pertamaku! sudah terrenggut. Aku sudah ternoda”, tangisnya, tangannya sibuk memukuli Alaska. “ Kalau tidak ada yang mau menikah sama aku gimana?” Racaunya sambil menangis terisak-isak.
Alaska yang mulanya khawatir, akhirnya tertawa terbahak. Walaupun hanya samar karena takut gadis itu akan semakin marah. Diperhatikannya Biru yang sibuk mengomel, tangannya mengusap air matanya yang terus menetes. Tangannya mengelus kepala Biru dengan lembut.
Alaska melepaskan genggamannya, lalu menangkup wajah Biru dengan kedua tangan. “Sayang... jangan khawatir, aku mau menikah sama kamu kok. Jadi jangan sedih ya. Walaupun kamu sudah ternoda ”, lanjutnya dengan senyum geli disudut bibir.
“ Tapi aku nggak mau menikah sekarang, aku maunya nanti setelah lulus. Tapi lihat apa yang terjadi sekarang? Ada yang mencuri ciuman pertamaku? Sekarang aku sudah tidak suci lagi ...huhuhu”, tanpa melihat Alaska, airmatanya kembali menetes.
Alaska tertawa tertahan. Tubuhnya terguncang pelan, karena meredam tawa agar tidak terbahak-bahak. Diamatinya Biru yang sibuk mengusap pipinya. Rambutnya basah dan berantakan. Tentu saja basah karena tadi dia baru saja mandi, dan rambutnya masih basah. “ Baju tidur yang semalam”, matanya berkilat-kilat, tertuju pada belahan d**a rendah dengan dua bulatan ranum. Memperlihatkan kulit putih mulus , yang hanya sebagian tertutup. Sepertinya tidak pake bra. Karena pucuk mungil merah jambu itu membayang tegak dari balik bajunya. Ingatan Alaska kembali peristiwa semalam. Fokus! erangnya.
Dialihkannya lagi pandangannya ke arah Biru, gadis itu masih tertunduk, sesekali menghela nafas dengan kasar. Seperti menanggung beban. Tangannya saling meremas. Sampai tidak menyadari bajunya terbuka, memperlihatkan pahanya yang seputih s**u. Rupanya baju itu hanya terkancing dibagian d**a saja, hanya dua kancing. Selebihnya terbuka, bajunya melambai disisi kanan dan kiri kakinya. Alaska menyipitkan matanya, menatap ke arah kaki Biru yang duduk menyilang. Area segitiga dipangkal pahanya mengintip malu-malu. Si beranda! . Ya pemandangan yang tersaji di depan matanya membuat jantungnya bersalto lagi. sekarang warnanya hitam.
Fokus!...Hitam...Fokus! sekarang warnanya hitam! Fokus! Fokus!
Aaahhh!...teriak Biru. Tangannya menyilang didepan d**a, berusaha menutupi belahan dadanya. Tangannya membenahi baju dibagian paha yang terbuka. Alaska sampai terlonjak kaget, mendengar teriakannya. Menghentikan seketika otaknya yang mulai merajalela.
“ Aku ternoda lagi, Kenapa aku mengalami ini? Apa aku pernah berbuat salah? Hu hu hu”, tangisnya meledak lagi. “ Aku benar-benar sudah nggak tertolong lagi, pasti tidak ada yang mau denganku”, ujarnya disela-sela tangis. Alaska hanya geleng-geleng kepala saking takjubnya melihat calon istrinya yang cengeng.
“ Sayang, sekarang cuci muka terus ganti bajunya ya. Setelah itu kita makan. Tas kamu sudah aku pindahin ke sini semua”, ditariknya pinggang gadis ceriwis itu, dipeluknya erat.
“ Kapan?” tangannya berusaha mengurai pelukan Alaska.
“ Tadi malam, karena Kilau nggak kembali kesini, katanya udah terlalu malam. Jadi daripada repot naik turun, aku pindah aja, Apa ada yang tertinggal? karena semua sudah aku masukkan tas”, jawabnya.
“ Nggak ada! Kenapa Si anak cebong nggak balik ke sini? serunya ketus.
“ Sayang, kalau mereka balik ke sini, terlalu jauh. Kasian mereka”, jelasnya dengan sabar.
“ Jangan panggil sayang! Sayang!”, pekiknya cemberut.
Alaska terbahak seraya memeluk Biru lebih erat lagi, dan mengucapkan kata maaf, mengurangi potensi merajuk apalagi sampai marah. Kepalanya menyusup ke dalam ceruk leher gadis itu. Samar-samar tercium harum shampo. kulitnya terasa halus menempel dihidungnya. Alaska merasakan dua buah bulatan lembut dan kenyal menempel ketat di dadanya. Karena Biru berusaha melepaskan diri, tubuhnya bergerak kesana kemari.
Benarkan, lebih enak kalau orangnya bergerak-gerak seperti ini, rasanya lembut dan kenyal. Apalagi no bra. Fokus!
“ Jangan lihat ke sini! sambungnya, tangannya masih berusaha menutupi tubuhnya. Alaska menarik selimut lalu ditutupinya seluruh tubuh Biru. Jadi sekarang gadis itu berubah seperti kepompong.
“ Nah sudah, sekarang ganti baju ya. Aku tunggu di meja makan”, diputarnya tubuh gadis itu, didorongnya pelan ke arah kamar mandi. Alaska tersenyum geli melihatnya.
Setelah Biru menghilang masuk ke kamar mandi. Alaska keluar sambil menghela nafas. Rasanya ingin dipercepat saja pernikahan mereka. Rasanya sudah tidak kuat lagi menahan rengekan otak m***m-nya yang meronta-ronta . Rasanya tidak sangup lagi menahan hasrat dan gejolaknya.
Tanpa disadarinya, dia telah duduk dimeja makan. Hanya diam memandangi mamanya yang tengah menyiapkan makanan. Jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja. Melihat itu, mamanya mengernyitkan kedua alisnya.
“ Kenapa?”.
“ Haaa..., mama kenapa?”, Alaska gelagapan.
“ Tck...kok mama kenapa. Kamu itu lho kenapa? omel mamanya.
“Oh... lagi nunggu calon istri dong”, ujarnya menggoda. Disambut dengusan mamanya.
Beberapa saat kemudian Biru datang, wajahnya segar. Walaupun matanya kelihatan sedikit sembab. Rambutnya digerai, karena mungkin masih lembab. Memakai baju atasan warna merah maroon dengan corak bunga kecil. Luarnya dilapisi cardigan abu gelap. Bawahannya masih rok jeans yang kemarin. Aroma vanilla menguar, menyerbu penciuman Alaska. Dihirupnya dalam-dalam. Hatinya seketika merasa bahagia.
Alaska memperhatikannya sejak gadis itu datang sampai duduk dekat mamanya. Melihat mereka ngobrol, sudah seperti sedemikian dekat meski baru saja kenal. Dan saling menyayangi. Tatapannya kini melembut penuh sayang. Apalagi melihat mamanya banyak tersenyum, Itu sudah mengurangi sedikit bebannya.
“Kenapa pakai rok itu lagi? tiba-tiba Alaska nyeletuk.
“ Ck.. itu tadi celananya jatuh dikamar mandi, basah!”, jawab Biru, jutek. Matanya hanya melirik singkat tanpa berniat menoleh.
“ Yaudah...taruh aja, biar si bibik yang nyuci nanti”, kata mamanya. Tersenyum penuh kasih. Seperti seorang ibu yang sedang ngobrol bersama putrinya. Itu yang dilihat Alaska saat ini.
“ Ya ampun tante... nggak usah, biar di rumah aja. Oh ya..ada tas plastik nggak tante? buat tempat celana yang basah itu, soalnya masih saya taruh dikamar mandi”.
Setelah menerima tas plastik dari si bibik, Biru bangkit berjalan ke kamar lagi. Langsung masuk ke kamar mandi. Memasukkan celana basah kedalam tas dengan penuh amarah. Teringat bagaimana ciuman pertamanya sudah diambil Alaska. Dia merasa dirinya sudah ternoda, sudah tidak suci lagi. Berjalan keluar kamar mandi dengan amarah yang datang kembali.
“Dasar songong!” teriaknya tertahan, dilemparkannya tas berisi celana basah itu disamping tas miliknya. Kemudian melempar tubuhnya ke atas ranjang, lalu diambilnya bantal untuk menutupi mukanya.
“ Siapa yang songong?
Biru terlonjak mendengar suara disampingnya. Diangkatnya sedikit bantal itu untuk mengintip suara siapa tadi. Setelah tahu siapa yang bertanya, dia tetap tidur. Alaska hanya geleng-geleng melihat Biru merajuk.
Saat seorang wanita marah, berikan dia waktu. Jangan ikut larut dalam pertikaian emosi dan egonya. Karena dalam setiap amarah dan diamnya itu, dia sedang menunggu. Menunggu dirimu untuk membujuk, menunggu dirimu untuk memeluk, menunggu dirimu untuk menggenggam tangannya. Dan Berjalan bersama, merangkai masa depan.
“ Masih lama marahnya? jangan lama-lama, kasihan mama nunggu kita lho”, kata Alaska.
Tiba-tiba Biru bangkit, melempar bantal diujung ranjang. Duduk, lalu merapikan bajunya. Mukanya ditekuk cemberut. Tidak dihiraukannya Alaska yang ikut duduk di sebelah kirinya. Tanpa melirik apalagi menoleh. Setelah menghela nafas, berjalan ke arah tas travel. Alaska mengikuti dibelakangnya.
Dan...seorang laki-laki harus memahami, ketika seorang wanita marah. Apalagi sampai menyuruhmu pergi, itu artinya jangan pergi. Tetaplah disini. Bersamaku.
“ Tidak ada yang ketinggalan? Tanya Alaska, tangannya mengambil tas dari tangan Biru.
“ Sayang, jangan marah lagi? nanti malam aku berangkat lho. Kita jalan-jalan ya?. Kenapa cemberut sih? Biru hanya diam.
Karena tidak ada jawaban, Alaska meletakkan kembali tas itu. Dipegangnya tangan Biru. Ditariknya pelan untuk mendekat. Dipegangnya wajahnya dengan kedua belah tangan. Ditatapnya mata jernih itu lekat-lekat.
“ Yang masalah tadi? Itu nggak sengaja, tapi aku tutup mata kok. Serius!”.
“ Jangan suka bohongi anak kecil, itu dosa besar!cibir Biru.
“ Yah..ada ngintip dikit sih. Cuma dikiittt, terus aku tutup mata lagi”, tawanya tergelak mendengar, merasa lucu mendengar jawaban Biru. Ditariknya kedua bahu gadis itu, lalu dipeluknya dengan erat. Untuk menenangkan agar amarahnya mereda.
“ Ya khan! bener khann!” jeritnya, matanya mendelik, tangannya mulai memukuli Alaska.
“ Yaudah..aku minta maaf, besok lagi aku langsung tutup mata pake kain deh”, sambil jarinya membentuk huruf V.
“ Ehh...enak aja, nggak ada lain kali ya. Awas aja! serunya. Ditepisnya tangan Alaska dari pundaknya, lalu berjalan kearah pintu dengan muka menekuk. Alaska hanya tersenyum disudut bibirnya, lalu mengangkat dua tas dan mengikuti gadis itu yang berjalan dengan kaki yang dihentak-hentakkan.
Luar biasa, saat ini Alaska sedang menonton dua orang perempuan yang sedang ngobrol dengan serunya. Setelah meletakkan tas milik gadis ceriwis itu, tangannya terlipat didada. “ Sepertinya badai telah berlalu ” batinnya. Pemandangan didepannya menguatkan dugaan itu. Biru sedang tertawa sampai cekikikan dengan mamanya. Hangat dan bahagia.
“Mataharinya cerah ya”, ujarnya, setelah menarik kursi didepan Biru. Mamanya menoleh dengan kening berkerut, Biru hanya melirik dengan sudut matanya. Setelah itu, tidak ada kejadian apapun.
“ Mama nggak kepingin jalan-jalan? mumpung cerah, udah nggak mendung.” katanya lagi, karena dua orang wanita itu tidak mengganggapnya ada.
“Nggak! kamu kenapa sih? gerutu mamanya. “ Ayo ..makan dulu, mau apa? Roti atau nasi goreng?” mengajak Biru makan.
“ Kok aku nggak ditawari?! Alisnya terangkat sebelah, protes.
“ Kamu bisa ambil sendiri, jangan manja!”, jawab mamanya kalem.
Biru lebih suka sarapan roti daripada nasi, mengambil sedikit untuk mencicipi,” “ ini siapa yang bikin nasi goreng? Tante? Enak lho”.
“ Iya..ini kesukaan om, hampir tiap pagi minta dibikinkan nasi goreng”, Biru mengangguk-angguk setuju.
“ Aku juga suka”, kata Alaska, tapi hanya seperti angin yang sepoi-sepoi, karena tidak ada yang merespon ucapannya. Mama sibuk mengoles roti dengan selai coklat, Biru hanya mendelik dengan cemberut. Hal itu sukses membuat Alaska serasa menjadi tamu di rumah sendiri. Hahh....
“ Habis ini mau kemana? tanya mama, tapi lebih ditujukan untuk Biru. Badannya memutar menghadap Biru yang duduk disampingnya. Diletakannya piring dengan setangkup roti berisi selai coklat kesukaan gadis itu.
“ Kencan dong!” , mamanya menoleh dengan kening berlipat dalam, tatapannya tajam. Alaska langsung mengangkat tangan, membuat gerakan tutup mulut dibibirnya. Dengan wajah polos yang dibuat-buat.
“ Pulang aja tante”, jawab Biru kalem, tangannya meletakkan gelas, lalu mengambil roti isi selai coklat kesukaannya. Dibukanya mulutnya tangannya sudah mendorong separuh roti itu kedalam mulutnya, ketika....
“ Pelan-pelan, nggak ada yang merebut roti itu. Ini masih banyak”, Suara Alaska sukses menghentikan nafsunya untuk menikmati roti itu. Matanya memberi delikan maut pada Alaska yang duduk didepannya. “ Dasar songong!”.
“Oh...kak Alaska mau roti ini? tangannya mengulurkan roti yang sempat masuk ke mulutnya, sorot matanya mengancam. Alaska yang mengetahui kalau Biru sedang mengerjainya karena masih marah. Dterimanya roti itu untuk menjaga situasi tetap kondusif, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “ Demi matahari tetap bersinar cerah”.
“ Mama habis ini mau jenguk tetangga di rumah sakit, bareng ibu-ibu kompleks. Biru ikut aja ya?”.
“ Waahhh...jangan tante, aku pulang aja, ini belum ganti baju juga”.
“ Mama ini nggak pengertian! kasih kesempatan buat anaknya kek”, protes Alaska.
“ Kamu terlalu lama mikir, jadinya ketinggalan kereta terus. Gercep dong! Kalau sudah dikasih kesempatan tapi nggak ngasih mama cucu, awas aja!” jawaban ibunya membuat Alaska melongo, kaget!. Kenapa sekarang mamanya suka ngomong aneh-aneh? Ikut-ikutan jadi anak milenial.
Uhuukk...
Jawaban itu juga sukses membuat Biru yang sedang makan nasi goreng terbatuk-batuk. Mukanya merah, matanya berair. Selesai mengusap bercak air dimeja bekas semburan air minumnya tadi. Lalu mengangkat kepala, mengarahkan pandangannya ke depan, saat yang sama Alaska juga memandangnya, saling menatap. Alaska mengangkat sebelah alisnya, dengan pandangan bertanya, sedangkan Biru melotot penuh ancaman.
“Yaudah...mama siap-siap dulu, kalian lanjutin makannya”.
Alaska tersenyum geli, melihat Biru yang menatapnya dengan aura permusuhan. Apalagi melihat bibir mungil yang kemerahan itu, karena sang pemilik baru saja menghabiskan sepiring nasi goreng pedas. Teramat sangat menggodanya. Rasanya kepingin melumatnya saja. Beberapa kali dihelanya nafas, untuk sekedar melegakan dadanya yang terasa sesak. Berusaha mengusir ajakan-ajakan liar yang selalu mengganggunya. Berusaha meredam pertikaian antara hasrat dan gairah yang saling berlomba, untuk menariknya dalam sekutu mereka.
Ditatapnya lekat-lekat Biru yang sedang menikmati rotinya dengan gigitan kecil. Mukanya ditekuk, bibirnya cemberut.
“ Jangan marah terus, nanti cantiknya ilang lho. Jadi bikin gemes”.
Biru memutar bola matanya keatas, bibirnya mencebik “ Sama, bedanya aku tuh gemes karena pingin....” tangannya membuat gerakan memotong leher. Alaska hanya mengangkat sebelah alisnya, melihat itu Biru semakin jengkel. Tangannya memasukkan semua sisa roti ke dalam mulutnya, pipinya menggembung. Tidak dihiraukannya Alaska yang melotot melihat ulahnya itu.
“ Laut Biru! Makan itu pelan-pelan”, tegurnya. Yang membuat ulah tenang-tenang saja mengunyah rotinya.
“ Kenapa? tiba-tiba mamanya datang. “ Biru pulang kapan? nunggu tante ya? “.
“ Sekarang tante, kalau nunggu tante nanti malah kesorean”, jawabnya. Mamanya hanya mengangguk. “ Yaudah mama tinggal ya, awas! dijaga mantu mama! Lecet dikit...”. Alaska bener-bener heran, kenapa semua orang sekarang jadi menakutkan ya? matanya menyipit melihat mamanya menggerakkan tangan seperti memotong leher, meniru Biru tadi.
Biru berdiri, berjalan ke wastafel, mencuci tangan dan berkumur. Setelah itu mengikuti berjalan keluar. Setelah melambai lalu kembali ke ruang makan, mengambil tasnya. Semua itu dilakukannya dengan wajah datar, tanpa ekspresi. Kecuali waktu mengantar mamanya Alaska tadi.
“ Laut Biru”, memanggil namanya dengan suara tegas , membuat langkahnya terhenti seketika. “ Dasar songong! Teriaknya dalam hati. Kepalanya menoleh, dipasangnya wajah datar, tanpa dosa.
“ Jangan marah terus ya? mau pulang sekarang? ”, rayu Alaska. Diambilnya tas dari tangan Biru, lalu digandenganya gadis itu. Setelah menutup pintu, lalu dia berputar ke samping, setelah duduk dibelkang kemudi, ditaruhnya tas dikursi belakang .
Biru hanya duduk dan diam, tangannya terletak dipangkuannya. Kepalanya memandang keluar jendela, pemandangan diluar lebih menarik perhatiannya daripada makhluk songong disampingnya itu.
“ Mau mampir beli ice cream matcha? tawar Alaska. Melihat Biru mengangguk, Alaska tertawa, walaupun hanya di sudut bibirnya. Itu saja, sudah cukup melegakan, meskipun tidak ada percakapan diantara mereka. Hatinya terasa lebih ringan.
Sejujurnya Alaska merasa bersalah juga, atas kejadian tadi, harusnya dia tidak duduk di kursi dekat jendela itu, yang memberi kesan, kalau dia sengaja bersembunyi. Seandainya tadi dia memberi tanda tentang kehadirannya di kamar itu, pasti gadis itu akan lebih siap, tidak memakai baju tidur seperti tadi.
Tapi semua sudah terjadi, dia akan berusaha membujuk gadis itu agar bisa tersenyum lagi, agar mereka bisa menghabiskan waktu bersama tanpa ada ganjalan lagi. Karena waktu mereka hanya terbatas, nanti malam dia harus sudah berangkat.
Dia berusaha duduk sejauh mungkin bahkan seperti badannya melekat ke pintu mobil, memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Mogok bicara, hanya mengangguk kalau ditanya.
Rasanya sedih..
Rasanya marah..
Rasanya malu..
Rasanya ternoda..
Rasanya.....
Ahhh... teriaknya, perasaanya campur aduk jadi satu. Kepalanya menoleh ke arah samping, matanya menyorot penuh amarah. Setelah itu kembali memusatkan pandangannya ke luar jendela.
“ Habis ini nggak usah telpon-telpon, aku nggak mau!. Aku mau menata hidupku lagi. Aku akan mengatur rencana untuk masa depannku sendiri. Setelah ternoda!”, ucapnya tanpa menoleh.
“ Terus kalau kangen gimana? masak telpon aja nggak boleh? sayang, aku minta maaf? Ok? terus aku harus gimana, supaya kamu mau memaafkan?”, Alaska berusaha membujuk.
“ Kalau kepingin dimaafkan, ya seperti kataku tadi”.
“ Putus komunikasi? Biru mengangguk, tanpa menoleh.
“ Aku sudah punya rencana untuk masa depan kita, kamu nggak perlu memikirkan itu. Kita akan menjalaninya berdua, apapun yang terjadi kita akan selalu bersama-sama. Jadi jangan pernah berpikir untuk merancang masa depan sendiri!”, tegas, matanya menatap tajam ke arah gadis disamping kirinya yang kini tengah menunduk dengan muka cemberut.
Iya..tapi khan ga harus sekarang khan?! lulus kuliah juga masih bisa!” jawabnya ketus.
“ Sekarang atau nanti, tidak ada bedanya. Kalau hasilnya sama saja kenapa harus membuang banyak waktu. Sama saja dengan melakukan hal yang sia-sia”.
“ Kenapa sih ngotot kepingin nikah sekarang?! Kalau udah nggak tahan, kebelet kawin cari orang lain saja! Seru Biru dengan mata berkaca-kaca.