Mahakarya
Aloha ...
Siapa yang hari ini masih semriwing...
Part ini aku kasih dikit lagi ya..
Pake baju hangat takut masuk angin kalau semriwing terus
He..he..he
Oh ya..aku lagi belajar nulis narasi,
Jadi kalau ada bagian yang nggak nyambung, maaf ya
Ok deh, selamat membaca
Jangan lupa like dan koment ya...
*******
Seperti pepatah, akan ada seseorang yang membuatmu jatuh cinta, tanpa sebab, tanpa alasan, yang membuatmu merasa nyaman. Cinta bisa datang kapan saja, dimana saja akan tetapi diwaktu yang tepat. Cinta juga mengajarimu tentang sabar dan mengerti meski sulit.
Alaska termenung, dia ingat nasehat kakeknya. Waktu dia masih SMA, saat dia mulai mengerti arti cinta. “ Mencari teman hidup itu bukan tentang harta, tahta apalagi rupa, tapi tentang seseorang yang mau mendampingimu, berjalan bersama sampai rambut kita memutih dan raga ini letih, tak mampu lagi untuk bergerak”.
Tapi apakah mereka, dia dan Biru bisa? Apakah sanggup menjalani semua proses itu?. Biarlah waktu yang akan membuktikan. Ini bukan tentang dia lebih tua atau Biru yang lebih muda. Ini tentang apakah mereka bisa mengarungi bahtera rumah tangga, bersama dan selaras.
Menghargai sebuah proses adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan saat ini. Semua butuh waktu.
Bagaimana kita bisa menyakinkan diri kita. Bahwa dia menyayangi kita. Itu akan terlihat bukan dari apa yang dia ucapkan tapi apa yang dia lakukan untuk kita. Yang tak akan berubah oleh jaman. Dan tak akan lekang oleh waktu.
Ingatannya kembali mengulang, sebuah buku yang pernah dia baca, yang disalah satu halamannya, memuat kata “ Kita bisa memilih, tapi ketika sudah memilih, jalanilah. Jangan terus memilih. Terimalah dia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Karena dia juga sedang berusaha untuk menerima kita dengan segala kekurangan kita”.
Ya...bersama gadis itu dia ingin merajut banyak asa. Bersama gadis itu dia ingin berjalan bersama mengarungi samudera kehidupan. Bersama gadis itu dia ingin tertawa dan menangis bersama. Bersama gadis itu mereka akan belajar saling menerima, saling memberi dan saling memperbaiki. Bersama berjalan beriringan untuk menyongsong masa depan.
Cinta itu misterius, dia bekerja diluar batas nalar kita. Semua seperti diluar kendali kita. Carilah dia yang bukan hanya nyaman bersamamu tapi yang juga bangga memilikimu
Ketika engkau merasa dunia tak lagi berpihak kepadamu. Pulanglah. Dia yang akan selalu menjadi tempatmu untuk pulang. Yang membuatmu berani, untuk menantang dunia.
“Anak-anak sudah pada tidur?” Alaska terlonjak, menoleh ke arah suara mamanya yang tiba-tiba sudah duduk dikursi tunggal disebelah kirinya.
“ Biru dikamar bawah, Kilau keluar sama Jagad”, tangannya menunjuk kamar tamu. Mamanya hanya mengangguk.
“Mama bikin s**u, kamu mau? Alaska hanya mengangguk dan mengekori mamanya menuju dapur.
Sambil menunggu, Alaska menopangkan tangan didagunya, matanya mengikuti gerakan mamanya yang menuang s**u digelas, lalu meletakkan didepannya.
“ Mau nggak?” tanya mamanya yang sudah membuka tutup wadah milo. Alaska hanya menggeleng.
“ Mereka itu ada hubungan ya?”
“Siapa?”
“Jagad sama Kilau”.
“ Saling suka tapi belum ada hubungan” jawabnya.
“Maksudnya gimana? Kok mama bingung. Kalau sudah sama-sama suka kenapa tidak berhubungan. Padahal mereka saling sayang”, dumel mamanya. Alaska tersenyum dan mengangkat bahu.
“ Mungkin nunggu Kilau lulus, mama khan tau Kilau dan Biru itu seumuran. Tahun depan mereka baru jalan 20” jelas Alaska.
“Terus rencana kamu gimana? Mama maunya dipercepat aja. Mama sudah suka dan sayang sama Biru. Anak itu baik, penyayang juga sopan. Dia pasangan yang pas buat kamu. Mama nggak mau yang lain”, setelah mereka terdiam beberapa saat.
“ Iya..ini lagi usaha ma, makanya doain”, jawab Alaska.
“ Usaha gimana, kalau kerjanya cuma melamun depan televisi aja”, jawab mamanya ketus.
“ Aku maunya nanti langsung menikah aja, tanpa lamaran. Kalau harus ikut aturan umum, harus ada lamaran. Waktunya yang nggak ada. Karena aku pulangnya nggak bisa diprediksi”.
“ Iya..tapi kapan? kalau rencana aja ya percuma! gercep dong”, sahut mamanya gemes. Alaska tertawa mendengar istilah mamanya.
“ Makanya doanya yang banyak ma...tapi tante dewi udah setuju kok ”, sambung Alaska.
“ Doa udah! Acara hari ini juga dalam rangka bantu kamu pedekate! Tapi kalau usahanya nggak serius sih ya, jadinya ga....”, ucapan mamanya berhenti tiba-tiba.
“ Apa kamu bilang? Serius?! Mereka setuju! kalian menikah?! ”, teriak mamanya dengan gembira.
“ Iya ma, tadi itu Jagad cerita, kalau mamanya udah setuju ”, disertai anggukan, membenarkan ucapan mamanya.
“ Akhirnya!... terus kapan? mama nanti rembukan sama papa juga eyang”, ujar mamanya antusias juga lega. Matanya menoleh kearah kalender dinding disebelah kulkas.
“ Itu nanti mama sama tante Dewi yang ngatur, karena aku pasti nggak bisa pulang. Pulangnya mungkin juga beberapa hari sebelum acara. Memanfaatkan waktu yang ada. Oh ya...mama jangan cerita dulu sama Biru, karena tante Dewi sendiri yang akan ngomong”, kata Alaska memandang mamanya yang tersenyum sendiri sambil memegang gelas s**u. Dia yakin mamanya pasti sudah merencanakan sesuatu.
“Maa...mama dengar khan?”.
“Iyaa...jangan cerita dulu, gitu khan? mama dengar ya!”, omelnya.
Lalu mereka ngobrol tentang rencana-rencana untuk acara pernikahan itu. Mamanya ngobrol dengan semangat dan banyak tersenyum. Matanya berbinar bahagia.
“ Biru itu tahun depan baru jalan 20, mama nggak papa? Masih manja, masih kekanakan. Suka ngambek juga”.
Mamanya mengangguk dengan cepat,” iya... mama kepingin ngerti rasanya punya anak perempuan yang ngambek, suka manja-manja, apalagi cengeng. Mama sudah kadung sayang sama Biru”.
“Yakin?”.
“Iya! Kenapa sih! awas kalau kamunya yang macam-macam. Jangan sampai bikin mantu mama nangis!”, tangannya membuat gerakan memotong leher. Alaska meringis melihatnya.
Alaska melihat jam yang ada diatas kulkas. Sudah jam sebelas lebih. Tadi Biru minum obat hampir jam sembilan lebih. Dia khawatir Biru sudah terbangun, karena pengaruh obatnya habis. Kalau itu terjadi, dia tidak akan bisa menjalankan rencananya. Gagal! Karena itu dia berharap mamanya cepat-cepat kembali ke kamar lagi.
Matanya melirik lagi jam yang terus berjalan. Kenapa jarum jam itu rasanya cepat sekali berputar. Dia gelisah sedari tadi. Tik tok tik tok...Sampai kemudian mamanya menguap dan mengajak tidur. Akhirnya... dia menghela nafas lega. Setelah merapikan meja dan mengumpulkan gelas ditempat cucian. Mereka berjalan beriringan.
“ Kamu mau kemana? Kamarmu khan diatas”, tanya mamanya bingung, ketika dilihatnya Alaska berjalan kearah kamar tamu.
“ Nengok calon istri ma”, sambil cengengesan, karena ketahuan.
“ Awas ya! jangan aneh-aneh!”.
“ Cuma pegang dikit, boleh khan ma?” rayunya. Mamanya mendengus mendengar jawaban itu.
“ Ya sudah, dijaga calon mantu mama!” sambung mamanya sambil melangkah. Alaska mengangkat jempol, tanda OK. Setelah mamanya hilang diujung tangga, dia melangkah ke kamar tamu. Dibukanya pelan agar tidak membangunkan tidur gadis itu.
Tangannya menekan tombol lampu disamping pintu. Ditunggunya beberapa saat, tidak ada tanda-tanda Biru terganggu dengan sinar lampu. Dia melangkah mendekati ranjang. Ditariknya kursi agar bisa memandang raut muka gadis itu lebih dekat. Untuk disimpannya dihati dan pikirannya. Sewaktu dia kangen kala mereka berjauhan.
Dipegangnya tangan Biru, digenggamnya erat dengan kedua tangannya. Diciumnya telapak tangan itu. Pemilik tangan ini yang akan melangkah bersamanya. Bergandengan menjalani hari-hari bersamanya.
Tangannya merapikan rambut yang menjuntai dipipi. Diusapnya pipi gadis itu dengan punggung tangannya. Diperhatikannya mulai muka, lengan. Digesernya selimut turun untuk melihat ruamnya. Masih terlihat ruam dibeberapa tempat, walaupun sudah mulai samar.
Dia berjalan kearah pintu, memastikan kalau sudah terkunci. Kemudian berdiri disisi ranjang. Diambilnya Hp dan mengambil foto Biru. Dari berbagai sisi. Setelah puas, ditelitinya hasil foto-foto itu sambil tersenyum geli. Dia merasa seperti anak SMA yang baru mulai mengenal pacaran.
Ah... Alaska tersenyum sendiri, teringat rencananya. Dipandangnya gadis yang masih terlelap dengan tenang itu. Nafasnya terdengar teratur. Diperhatikannya gaun tidur Biru, memakai tali kecil dipundaknya. Tadi dia tidak memperhatikan baju gadis ini karena luarnya dilapisi jaket yang dipinjamkannya tadi sore. Gaun itu bermotif bunga-bunga kecil berwarna putih dengan dasar hitam. Dengan kancing-kancing dibagian depan, dan berleher rendah yang membentuk seperti bra. Dengan belahan yang membelah dua bukit itu.“Kenapa pake baju yang model gini sih?” omelnya, sambil berjanji dalam hati kalau sudah menikah nanti tidak akan dibiarkannya Biru memakai pakaian seperti ini lagi, kecuali di dalam kamar. He..he..he
Alaska menyeringai, tersenyum malu sendiri. Dia merasa seperti ABG tua, yang lagi cemburu. Persis lagu yang sering dinyanyikan keponakannya. Atau mungkin bener juga yang dikatakan si Dinosaurus itu, bahwa dia memang mirip Datuk Maringgih. Ckck... dia berdecak sendiri sambil nyengir.
Sungguh..dia tidak pernah seperti ini. Alaska mengingat mulai dia remaja sampe sekarang, dia tidak pernah sekalipun berotak m***m. Mimpi basah pernah, itu normal untuk anak laki-laki. Melihat wanita cantik atau dengan dandanan yang terbuka sekalipun, dia biasa aja.
Saat masih sekolah, dia dan Jagad disibukkan dengan berbagai macam kegiatan. Atau nongkrong di perpustakaan. Kalau sekarang, pekerjaan menuntut mereka harus maksimal hingga sering sampe larut, begitu tiba di mess langsung tertidur. setiap hari seperti itu rutinitasnya.
Bahkan banyak dari rekan-rekan kerjanya, kalau libur mereka akan mengunjungi club malam. Di sana mereka bertemu dengan berbagai macam wanita dengan dandan yang mencolok dan baju yang terbuka. Bahkan ada yang sampai kencan dengan mereka. Tapi dia tidak pernah tertarik sama sekali apalagi berhasrat.
Dia tidak pernah lepas kendali, dia juga tidak pernah dikendalikan oleh gairah. Tapi dengan gadis ini, ya...”Semenanjung Laut Biru”, diejanya nama itu dengan pelan. Kenapa dia berubah menjadi pria m***m. Tepatnya, Pria tua yang berotak m***m. Hasratnya bergejolak, menjadi liar. Melihat bibir mungil basah berwarna pink itu, rasanya kepingin melumatnya. Membayangkan dua bukit mulus dengan pucuknya yang berwarna dadu, mengundang untuk.....Alaska menggelengkan kepala, untuk menghilangkan bayangan m***m diotaknya yang mulai tak waras.
Setelah menutup matanya sejenak, untuk mengembalikan kewarasan otaknya. Kedua sikunya diletakkan dipinggir ranjang, dia mencondongkan tubuhnya agar bisa mengamati gadis itu lebih dekat.
Alisnya walaupun nggak lebat tapi bentuknya melengkung indah. Pas, menaungi matanya. Hidungnya kecil bangir. Bibirnya mungil berwarna pink. Rambutnya lurus dan hitam lebat. Kulitnya putih bersih karena mengikuti gen mamanya, dan... “halus juga lembut” lanjutnya dalam hati.
Dipandangnya lagi Biru, niatnya menjadi maju mundur. Setelah kembali duduk, diambilnya Hp, diletakkan dipingir ranjang. Dia akan membuat suatu moment yang akan menjadi pengobat rindu saat mereka berjauhan nanti. Diturunkannya selimut sampe batas perut. Diciumnya belahan d**a mulus itu. Dihirupnya aroma vanilla yang sudah mejadi candunya. Diendusnya kulit mulus dua bukit kembar yang hanya tertutup separuh.
Setelah puas, lalu tangannya beralih membuka kancing gaun itu hanya di pertengahan perut juga. Tangannya gemetar. Satu persatu dikeluarkan kancing itu dari lubangnya. Meski kancingnya sudah terlepas, Tapi gaun itu masih tetap menutupi tubuh Biru.
Ada rasa bangga juga dia melihat reaksinya sendiri, saat melepas kancing baju tadi. Tidak seperti tadi siang, dia sampe tidak bisa bernafas apalagi jantungnya. Serasa berloncatan keluar. Itu pertama kalinya dia menyentuh tubuh seorang perempuan. Walaupun deg-degan juga.
Dia merasa bahwa Biru sudah menjadi miliknya, apalagi saat Jagad berkata bahwa orang tua mereka sudah merestui. Jadi yang dilakukannya saat ini adalah sebagai ungkapan rasa memiliki dan sayang. Yang terus bertambah tiap detiknya. Itu menurut Alaska, begitulah cara berpikirnya.
Tadinya Alaska sempat kurang suka dengan gaun tidur yang dipake Biru, itu karena dia khawatir ada laki-laki lain yang melihat saat gadis itu memakainya. Tapi sesungguhnya dalam hati dia bersorak, kegirangan. Hore..hore..hore. Karena model gaun itu memuluskan rencananya.
Setelah kembali duduk dan hanya diam memegang Hp. Sambil menggaruk rambutnya, dia berpikir akan mulai darimana dan bagaimana. Diletakkannya lagi Hp itu, lalu tangannya mulai menggeser gaun itu agar terbuka, setelah tadi dia melepas kancingnya. Lalu.... Ambyar!!
Ya... Karena saat ini pandangan matanya terpaku, tanpa berkedip, bahkan tangannya masih mencengkeram baju dikedua sisi tubuh Biru. Rasanya sulit menelan ludah, walau hanya untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Lehernya terasa mencekik.
Kalau tadi Alaska merasa bangga karena tidak kaget lagi, tapi kini rasa itu tidak bersisa sedikitpun. Semuanya itu menjadi euforia yang terburu-buru. Pemandangan yang tersaji didepan matanya, menghancurkan pertahanan yang dibangunnya sejak tadi. “ Ini Cuma foto, F.O.T.O”, ejanya dalam hati. Dia kembali menyakinkan dirinya bahwa semua ini hanya untuk koleksi pribadi kalau tiba-tiba dia kangen dengan gadisnya.
“ Tapi....Kalau sudah seperti ini kejadiannya, harus bagaimana....
“Tarik nafas, pejamkan mata dan hembuskan kembali dengan pelan...Ulangi lagi”, gumamnya. Mencoba memberi sugesti pada dirinya sendiri. “selain sugesti, kata yang pas apa ya? masak sih memberi dukungan moral? lanjutnya. “ Ini khan tindakan yang tidak bermoral”, pikirnya, geli sendiri.
Setelah memastikan camera perekam di Hpnya siap. Alaska mulai merekam bagian wajah biru. Baru berjalan lima menit, dia berhenti. Lalu mulai merekam lagi, berhenti lagi. Sampai tiga kali, begitu terus. Dia merasa hasilnya tidak sesuai keinginannya. Matanya menoleh ke arah jam yang ada diatas nakas ranjang. Hampir jam dua belas malam. Sudah mendekati waktunya putri tidur terbangun.
Kembali dia mengarahkan camera ke wajah Biru. Kemudian turun ke leher terus ke bawah..terus berhenti agak lama di dua bukit kenyal. Lalu turun lagi ke arah perut. Setelah itu dia melihat hasilnya, bibirnya tersenyum puas.
”Kok kayak nonton film biasa ya” keningnya berkerut.
Dia ingin menjadi bagian dari video itu. Dirubahnya menjadi camera depan. Mulai! Tangan kanan merekam dan tangan kirinya merapikan rambut gadis itu. Diciumnya pipi, alis, bagian tengah antara kedua alis. Ketika sampai bibir, agak bimbang. Ini yang pertama buat Biru, memang seperti itu yang dikehendaki Alaska. Dia menginginkan menjadi yang pertama. Semua yang berhubungan dengan gadis ini, dia selalu ingin menjadi yang utama. Dalam segala hal.
Jadi.... Diciumnya pelan, dinikmatinya rasa bibir berwarna pink itu. Yang selalu basah, yang selalu menggoda dan mengundangnya untuk dikecup. Yang selalu ceriwis, membantah dan protes semua ucapannya. Diulangnya ciuman itu, lagi dan lagi. kecupan-kecupan ringan, seringan kapas.
Tanpa disadarinya, mulutnya mulai turun, menyusuri leher. Terus turun mulutnya mengecupi lembah itu diantara dua tonjolan . Menghirup dalam-dalam aromanya. Untuk disimpannya didalam ingatannya. Tangannya mengelus dua bulatan putih mulus yang sangat pas digenggamannya. Jarinya bergerak pelan diatas bukit kenyal itu. Mengusap dengan pungung tangannya. Bermain dengan ujung mungilnya. Diciumnya seluruh bagian payudaranya, mulutnya bergerak melingkari, bergantian. Menikmati aroma tubuhnya selama mungkin, sampai puas.
Setelah puas mencium, meremas dan mengusap puncaknya. Giliran mulut dan lidahnya yang bekerja. Mulutnya bergerak ke arah dua buah bulatan ranum dengan puncak berwarna merah dadu. Mungil tapi kokoh, tegak, mencuat seakan memanggilnya.
Jantungnya mulai berulah. Berloncatan ingin keluar. Dadanya bergemuruh. Matanya bersinar-sinar, gairahnya mulai menyala-nyala. Darahnya bergejolak. Hasratnya terbakar. Ada bagian tubuhnya yang berdenyut. Lengkap sudah.
Terus gimana?? ......
Tangannya masih memegang HP. Tetap merekam. “ Kalau ini nggak dituntaskan, bisa-bisa hati dan pikirannya akan letih lesu. Bisa jadi tubuhnya akan ngambek”.
Pandangannya tertuju ke bulatan mungil dipuncak p******a gadis itu. Tangannya bergerak, mengusap, kepalanya menunduk. Bibirnya kering. Dijilatnya pelan, ujung merah jambu itu. Sekali lagi dan lagi.
Kurang, masih sangat kurang. Setelah menjilat, dikulumnya. Seperti bayi yang sedang menyusu. Mulutnya terasa penuh. Matanya terpejam. Diulangnya, pelan-pelan melumat dan menghisapnya. Bermain dengan lidahnya. Bergantian sebelah kanan, lalu sebelah kiri. Mencium kulit putih mulus, halus dan kenyal itu. Kembali menjilat, mengulum dan menghisap. Begitu terus, tapi kenapa tidak membosankan ya? .
Saat melihat hasil rekamannya. Tersenyum lebar, manggut-manggut, puas!. Tiba-tiba melintas satu ide dikepalanya.
Diciumnya lagi dua bulatan ranum itu. Dilumatnya. Mulutnya menghisap layaknya bayi. Lalu dipegangnya p******a sebelah kanan, diangkat keatas. Kepalanya menunduk, menyusup ke bagian bawah daging kenyal itu. Dihisapnya bagian bawah p******a itu, hingga meninggalkan bekas memar kemerahan. Kissmark!
Ya...Alaska sengaja membuat kissmark, dibagian bawah p******a gadis itu. Dengan pertimbangan gadis itu tidak akan mengetahuinya. Bahkan mungkin tidak akan pernah menyadarinya. Karena letaknya yang tersembunyi. Dibulatan payudaranya tapi dibawah sekali. Kecuali pemilik bulatan ranum menggemaskan ini meneliti tubuhnya. Dia membuat dua buah kissmark di setiap p******a.
Setelah puas dengan hasil kerjanya. Diciumnya lagi bulatan itu. Sepertinya tidak akan pernah ada puasnya.
Mulutnya berpindah ke perut mulus itu. Diendusnya seluruh permukaan halus itu. Pusarnya terletak ditengah. Disentuhnya pusar itu, seraya tersenyum geli. “ Bentuknya kecil lucu”. Diberinya kecupan-kecupan kecil.
Tangannya bergrilya, meraba kesana kemari. Agar bisa menyentuh kulit halus lembut seputih s**u itu. Karena menurutnya, semua itu adalah Hak Miliknya. Menyusup ke bawah selimut. Sampai kemudian tangannya menyentuh sesutu, seperti pinggiran kain. Seketika gerakannya berhenti. Kembali tangannya meraba. Mencoba menyakinkan diri apa yang tadi teraba di jari-jemarinya. Pelan-pelan disingkapnya selimut yang menutupi.
Dalam hati sebenarnya Alaska sudah bisa menebak. Tetapi itu semakin menambah rasa penasaran. Rasa ingin melihatnya. Rasa ingin membuktikan, tebakannya benar atau salah. Walaupun dia juga sudah tahu hasil dari tebakan itu.
Berenda! warnanya cream. Sewarna kulitnya. Bagian pinggir ada renda sewarna bahannya. Berbentuk segitiga. Dan menutup mulai bawah pusar sampe area sensitif.
Kepalanya berdenyut-denyut , menutup matanya yang mulai berkunang-kunang. Dia takut kalau pingsan. Khan nggak lucu.
Setelah menarik nafas, dengan mata perpejam. Tangan bergeser, meraba si segitiga berenda itu. Lembut, dielusnya dengan telapak tangan. Ujung hidungnya mengendus-ngendus. Wangi, sampai dengan bagian ujung bawah segitiga, yang kelihatan lebih menonjol. Disentuhnya dengan ujung telunjuknya, pelan.
Hasratnya sudah berteriak sedari tadi. Menyuruhnya menarik turun si berenda itu. Bahkan kalau bisa menyingkirkan si berenda itu dari muka bumi. Tapi sisi otaknya yang masih waras mencegahnya. Sedangkan tangan, mata dan mulutnya mati-matian ditahannya. Agar tidak bablas tanpa batas.
“Ini daerah segitiga Emas bro, jangan sembrono”.
Sampai pada titik dimana, dia tidak bisa mengendalikan gerakan tangannya. Tiba-tiba saja jemarinya sudah menyusup dibalik sela-sela bagian yang keukeuh ditutupi si berenda. Setelah didalam, berhenti sejenak, lalu mulai mengelus kulit halus lembut itu. Bergerak dari ujung ke ujung.
Jemarinya meminta terus. Sekarang bergeser lebih ke bawah, dia juga penasaran gimana rasanya menyentuh bagian yang menonjol itu. Otaknya merangkai potongan-potongan gambar di majalah dewasa milik teman-temannya di mess. Sesaat kemudian, Lalu jemarinya sudah melingkupi gundukan itu. Meresapi rasanya, sentuhan dibagian terpenting dari “Miliknya”, Hak Miliknya. Merasakan rambut-rambut halus tidak beraturan, ditelapak tangannya. Rasanya hangat. Tangannya berhenti bergerak. Hanya diam.
Setelah menuruti jemarinya, ganti imaginasinya yang menjadi liar tak beraturan. “ini kesempatan terakhirmu, besok sudah tidak bisa lagi” suara hatinya keukeuh berteriak. Menyuruhnya menyingkirkan si berenda itu dari singgasana. Dengan begitu mereka, gairah dan hasratnya bisa berkuasa. Dan merebut semua yang berada dalam kekuasaan si berenda. Kemudian menikmatinya, hanya untuk dirinya sendiri
Nafasnya terengah-engah. Kepalanya digeleng-gelengkan, berusaha menyingkirkan pikiran m***m yang bersarang di otaknya. Dan menjadi lebih waras. Badannya panas dan butir keringat menghiasi keningnya
“ Haruskah?”.
Tangannya masih berada diatas gundukan yang dilindungi oleh secarik kain berwarna cream, Si Berenda.
Akhirnya akal sehatnya yang memenangkan pertarungan. Hasrat dan gairahnya meronta tidak bisa menerima kekalahan. Sangat menyakitkan. Dengan janji bahwa kelak mereka akan bisa berpesta setelah perjanjian kerjasama mereka ditandatangi. Pertanda bahwa mereka SAH. Saat itulah waktunya merayakan kemenangan.
“Kalah untuk Menang”.
Dan untuk saat ini sebagai tanda bahwa mereka setuju bekerjasama dalam gairah dan hasrat yang kelak akan membakar seluruh jiwa dan raga. Setelah berhasil meyakinkan mereka. Alaska menunduk menciumi si Berenda. Ketika sampai bagian terbawah, dia membenamkan dalam-dalam mukanya dan menghirup aromanya untuk disimpan dalam ingatannya. Diberinya kecupan-kecupan singkat.
Terakhir! Diciumnya seluruh tubuh Biru, mulai dari kepala, wajah, bibirnya sampai bengkak. Terus lembah dan dua buah bukit yang ranum dengan. Puncak mungil itu dikulumnya. Sampai perutnya yang putih mulus. Berakhir diarea segitiga tertutup. Lama berhenti digundukan segitiga itu. Tangannya meremas bukit kembar itu, mukanya terbenam terbenam di area segitiga.
Teringat sesuatu, seketika matanya terbuka. Mencari Hp yang tadi diletakkan disisi ranjang. Setelah camera siap, Alaska mulai merekam. Sepuluh menit kemudian, dilemparnya ke ranjang. Dia berdiri disamping ranjang, tangannya terlipat didada. Mengamati seluruh tubuh Biru yang yang terbuka, hampir telanjang. Hanya bagian bawah yang tertutup oleh si berenda itu.
“Mahakarya”.
Sebuah mahakarya terindah yang pernah dilihatnya. Dan mahakarya itu adalah miliknya. Hak Miliknya. MUTLAK.