Alohaa kisanak...
tau nggak, saat menyapa kalian ini tanganku melambai serasa putri indonesia..
membayangkan kalian ada didepanku...hehehe, halu, awas jatuh!
part ini bikin jempol kaki semriwing ya..
saranku, bacanya jangan saat hujan karena bikin hati serasa direndam es batu
nyeri sangatttt....
apalagi kalau masih jomblo...wahhh forbidden tuhh..
ehhhh...bentar lagi tanggal 14 februari lho, kok masih jomblo sihh
jangan lupa di koment dan like yaa..
---------------------------------------------------------------------
Dia AkaN mEnJadi MiLikmu
Sudah jam empat sore , Dari arah belakang didengarnya suara Kilau dan teman-temannya sedang bercanda, mungkin mereka berenang, pikirnya. Alaska duduk dipinggir ranjang, termenung, pikirannya berkecamuk tentang banyak hal. Terutama bayangan gadis yang sedang tertidur didepannya. Ya dia sudah membuat keputusan, terpenting dalam hidupnya. Dia sudah menyiapkan segudang rencana. Bersama seorang gadis yang akan mengubah seluruh hidupnya. Seseorang yang selalu membayangi pikirannya, yang akhir-akhir ini membuat hidupnya jungkir balik.
Digenggamnya erat tangan Biru. Diamatinya sekujur tubuhnya, ada beberapa ruam dipipi, dahi dan lengan. Beberapa kali dia mengolesi ulang dengan salep, sesuai pesan Kilau dan jagad tadi. Disentuhnya keningnya, sudah tidak sepanas tadi. Nafasnya mulai teratur tidak tersenggal-senggal seperti tadi. Diusapnya pelan ruam-ruam itu. Disentuhnya dengan punggung tangannya pipi Biru.
Tangannya terulur menyingkirkan helai rambut yang lengket dan menutupi pipi gadis itu. Diusapnya titik keringat dikeningnya, dengan hati-hati. Agar tidak mengganggu tidur lelap gadis itu. Beberapa kali Biru tidurnya bergerak-gerak, tangannya berusaha menggaruk. Tapi Alaska selalu bisa mencegahnya. Dia melihat ada beberapa ruam dibagian dadanya, tapi dibiarkannya. Dialihkannya matanya kearah lain,” kenapa Kilau membiarkan tidak pakai baju, setelah diobati tadi? gerutunya .
Tiba-tiba Biru bergerak, tangannya berusaha menggaruk bagian bahu, badannya bergerak miring ke kanan, menghadap Alaska yang duduk dipinggir ranjang. Akibatnya selimutnya agak melorot. Seketika mata Alaska melotot lebar, tenggorokannya susah untuk menelan ludah. Pandangannya terpaku pada bukit kembar mulus yang menyembul dari balik selimut dan terpampang didepannya. Gadis itu masih bergerak-gerak , selimutnya semakin tertarik kebawah, dan separuh dari bagian areola yang berwarna kecoklatan sudah terlihat.
Matanya menelusuri dua bukit itu mulus itu, yang dipisahkan oleh lembah ditengahnya. Ada beberapa bercak merah dibagian itu. Tangannya masih memegang salep, tapi hatinya ragu. Setelah diam beberapa saat. Akhirnya diolesinya ruam itu, tangannya menyentuh kulit halus disekitar belahan itu. Sebenarnya dia sudah berusaha mematikan perasaannya, tapi otaknya tidak mau diajak kompromi. Tangannya berhenti lama, matanya terpejam, tidak bergerak untuk merasakan bagaimana lembut dan halusnya kulit itu.
Tiba-tiba dia menarik tangannya, jemarinya menggenggam dengan erat, gemetar dengan nafas yang memburu. Berusaha mengembalikan otak dan pikirannya, agar kembali waras. Dihelanya nafas kaut-kuat, sebanyak mungkin. Berusaha menahan gejolak gairahnya. Tapi saat matanya kembali terbuka, dua bukit mulus itu yang tertangkap netranya. Membuatnya hilang kendali, otaknya dan pikirannya kembali menjadi liar.
Dia laki-laki normal, pernah menonton film dewasa. Bahkan kadangkala, dia nonton bareng dengan teman-temannya di mess karyawan. Bukan karena hobi, tapi hanya ingin menghilangkan stres dan lelah karena tekanan pekerjaan. Mereka harus berangkat pagi-pagi buta, dan baru kembali ke mess lewat tengah malam. Karena itu mereka berusaha mencari hiburan untuk mengurai rasa lelah dan terutama rasa kangen kepada keluarga. Apalagi teman-temannya sebagian besar banyak yang sudah berkeluarga. Mereka baru bisa pulang enam bulan sekali. Di mess dia tinggal dengan sekitar lima belas orang dari berbagai negara. Hanya tiga dari mereka yang belum berkeluarga termasuk dirinya.
Jadi ketika sekarang dihadapannya tersaji adegan yang sesungguhnya, bukan sekedar menonton, bahkan dia bisa meraba dan merasakannya. Pikiran dan otaknya seketika menjadi ambyar.
Keringin dingin mengaliri punggungnya. Jantungnya semakin berlarian, sebagian otaknya menyuruhnya merapikan selimut Biru, tapi sebagian lagi, menyuruhnya membiarkan ,” biarkan saja!, nikmati dulu aja!”.
Setelah berdiam cukup lama, berulang kali menarik nafas , tangannya menyentuh pelan, selembut angin. Disepanjang bukit kembar itu, dari sisi kanan terus bergerak lambat ke sisi kiri. Kemudian kembali lagi dan turun mengikuti alur belahannya. Telunjuknya bergeser kearah tengah kebagian area yang berwarna coklat, berhenti sesaat, lalu terus perlahan turun. Berhenti sejenak, untuk mengambil nafas lagi, berhenti atau terus?. Tubuhnya menunduk kaku, dahinya berkerut, menelan ludahnya dengan susah payah.
Akan tetapi nafsunya lebih berkuasa. Kini jemarinya menyelinap lebih dalam, dan merasakan tonjolan mungil dibalik selimut yang masih tertutup. Dibelainya lembut gundukan itu, diusapnya pucuknya. Jemarinya melingkupi bukit kenyal itu, putingnya terasa mungil di telapak tangannya. Pas! Hatinya memekik gembira. Sesuai dengan perkiraannya, sangat pas dalam genggamannya.
Rasanya tidak cukup hanya menggenggam saja, nafsunya berteriak meminta lebih banyak. Hasratnya bergelora, ketagihan, lagi dan lagi. Matanya terpejam, berusaha mengendalikan gairahnya, tapi hatinya berbisik, “ teruskan saja, sebentar lagi dia juga menjadi milikmu”.
Akhirnya Alaska tunduk pada hasratnya yang membara. Jemarinya kembali meremas lembut, d**a mungil itu. Kepalanya menunduk lebih dekat, menghirup aroma diantara belahan itu. Diciumnya lembut p******a yang sebelah kanan, kemudian berpindah yang sebelah kiri. Setelah itu kembali ke lembah diantara dua bukit mulus itu. Lama dia menciumnya, membelai kulit halus itu dengan lidahnya.
Namun itu tidak cukup, sangat tidak cukup. Dan sang nafsu terus saja berteriak,”teruskan! Ayo.. turunkan selimut itu!”. Kepalanya menoleh kearah pintu kamar yang tertutup rapat, bangkit dan berjalan kearah jendela yang terletak disisi kanan ranjang. Disibaknya sedikit gorden itu untuk mengintip keluar. Setelah memastikan Kilau dan teman-temannya masih berenang. Perhatiannya kembali tertuju pada Biru. Tangannya bergerak perlahan, menurunkan selimut lebih rendah lagi. Seketika matanya melahap rakus dua bulatan mulus, putingnya mencuat. Pupil matanya melebar, glek! ... dibasahinya bibirnya yang kering.
Tangannya berkeringat, nafasnya memburu. Jantungnya serasa berloncatan mau keluar. Matanya hanya menatap lurus ke depan ke satu titik. Setelah menghembuskan nafas, untuk mengurangi rasa gugupnya . Kepalanya kembali menunduk, mencium d**a mungil ranum itu. Bibirnya bergerak dari atas turun lebih kebawah, mendekati p****g merah jambu itu.
Mulutnya kembali mencium tepat diujung puncak yang mungil itu. Setelah diam sesaat, dijilatnya p****g mungil itu, lagi dan sekali lagi. Akhirnya mulutnya melahap dengan rakus, mengulumnya, menghisapnya , dibelainya dengan lidahnya. Rasanya Lembut , sangat lembut.
Alaska terlonjak kaget, karena tiba-tiba Biru bergerak, merubah posisi tidurnya menjadi telentang. Dielusnya kepala gadis itu, beberapa saat kemudian tenang, dan tidur kembali. Disingkirkannya rambut yang menempel dikeningnya, diusapnya titik-titik keringat diujung hidungnya. Ditunggunya sampai gadis itu terlelap lagi. Melihat posisinya yang terlentang, mata Alaska berbinar. Diturunkannya lagi selimut yang menutupi dua bukit mulus itu. Kali ini kedua puncaknya terpampang tanpa ada penutup. Kedua tangannya terulur, diremasnya bulatan mungil itu pelan. Diusap-usapnya ujung mungil yang sekarang berdiri tegak .
Seperti seorang anak yang mendapatkan mainan baru. Kesenangan yang berubah menjadi candu baginya. Ketika mulutnya dibuat sibuk dengan pucuk tegak nang mungil itu, tangannya tidak tinggal diam. Saat mulutnya mengulum benda mungil yang sebelah kiri, tangannya meremas yang sebelah kanan, begitu juga sebaliknya. Dia berpesta, bukan hanya sekedar mencium, tapi dia bisa mengulum, menghisap dengan sepuasnya. Bahkan di hampir seluruh area yang seharusnya terlarang bagi dia.
Tiba-tiba dia tersenyum dengan cengiran lebar. Ya..dia akan memberi tanda kasih untuk kenang-kenangan bagi dirinya sendiri, kalau dia kangen. Yes! Teriaknya dalam hati. Dikeluarkannya Hp nya, lalu berpikir sejenak. Kemudian direkamnya seluruh tubuh gadis itu, terutama bagian yang terbuka. Setelah selesai, langsung dicek lagi hasilnya, dan tersenyum senang. “Tapi kok ada yang kurang ya, aku nggak ada disitu,” batinnya.
Ah...teriaknya gembira. Kembali dia menyiapkan kamera Hpnya, tapi kemudian disimpannya lagi. Dipasangnya telinganya tajam-tajam, tidak terdengar apapun. Tangannya dengan cepat merapikan selimut Biru. Dia seperti pencuri yang takut ketahuan. Kemudian berjalan keluar kamar, kearah belakang.
Dilihatnya Kilau dan teman-temannya masih berada dikolam renang, tapi mereka sedang duduk mengitari meja yang penuh dengan makanan dan minuman. Mamanya juga ada disana, “pantes sepi” batinnya. Dihampirinya mereka, dengan langkah pelan, lalu duduk disebelah Rayyan.
“ Gimana Biru, kak? tanya Rayyan.
“ Masih belum bangun, emang lama gitu ya Kil? seperti tidak terjadi apa-apa. Seakan dia baru saja kembali menjenguk Biru dikamar
“ Aduh..mama takut, kita bawa ke dokter aja ya? ucap Tante Amelia.
“Kalau minum obat alergi memang gitu, tidurnya lama, kadang tiga sampai empat jam”, jawab kilau tersenyum diikuti anggukan rayyan dan Dino.
“ Memang begitu ya? kok lama? tanya tante Amelia
“ Mungkin ada obat tidurnya, ma”, ujar Alaska.
“ Iya ada, tadi dia minum setengah butir, nanti malam yang setengahnya” tambah Kilau.
“ Nafasnya sudah nggak sesak khan? dia memang tidurnya lama kak”, kata Dino tersenyum geli.
“ Iya ya...padahal cuma makan semangkok kecil aja, emang tadi itu tomatnya banyak ya tante? Tanya Rayyan.
“ Iya..memang tomatnya tante banyakin, pakai saos tomat cuma sesendok. Ah...tante jadi menyesal. Terus kita nggak jadi bikin kue bareng-bareng”, keluhnya.
“ Begitu ya”, kata Alaska sambil mengangguk, wajahnya terlihat lesu tidak bersemangat. Padahal hatinya bersorak, Yes! Berarti nanti malam dia bisa menjalankan rencananya. Informasi yang dia inginkan sudah didapat, tanpa harus bersusah payah. Rupanya semesta mendukungnya. Kembali mereka bercakap-cakap sambil bersenda gurau. Berbagai panganan yang tadi tersedia dimeja, sudah ludes tanpa sisa.
“Gampang tante , kapan-kapan kita kesini lagi rame-rame terus bikin kue. Pokoknya kalau ada acara makan-makan, kita pasti datang kok,” jawab Rayyan kalem, yang disambut pukulan dan lemparan bola dari yang lain.
“ Beneran ya! tante tunggu lho”, serunya gembira.
“ Eh..tadi itu hebat lho, katanya tidak suka pedas, Kok bisa sih, kak? kata Dino, sedikit bingung dan menunggu penjelasan. Karena dia merasa ada yang aneh waktu acara tantangan tadi. Cuma dia belum tahu apa itu.
“ Itu semua demi pujaan hati, dasar bekicot”, jawab Rayyan.
“ Kalau untuk sang Putri, kak Alaska memang harus jadi hebat, bener khan? sambung Kilau, kepalanya menoleh kearah Tante Amelia dengan senyum lebar.
“ iya bener itu, hanya orang hebat yang layak untuk sang putri”, lanjut tante Amelia, mengedipkan matanya ke Kilau. Kemudian mereka tertawa bareng.
“ Ayo, ini sudah hampir maghrib, kalian mandi sana, terus kita makan” kata tante Amelia, kemudian berdiri masuk ke dalam.
Mereka masih meneruskan ngobrol beberapa saat, setelah itu semua masuk kedalam untuk membersihkan diri. Ketika lewat ruang makan, sudah ada Biru yang sedang duduk, minum s**u coklat hangat. Badannya masih banyak ruam merah, tangannya terlipat didada. Mereka semua berteriak senang, Kilau yang paling heboh sambil memeluknya. Biru hanya mencebik melihat ulahnya. “dasar si anak cebong”.
“ Hei La...” sapa Rayyan. Biru hanya nyengir dan melambaikan tangan.
Dinosaurus bahkan merentangkan tangan mau memeluknya. Tapi langsung menurunkan tangan dengan cemberut , karena Alaska sudah berdiri didepannya untuk menghalangi niatnya. “ Pocecip banget cihh, bapak Datuk Maringgih ini”, gerutunya.
Udah..mandi sana, basah ih, ini rumah orang” usirnya, menghentikan kegilaan mereka. Mereka hanya tertawa sambil berlalu, lalu Alaska mengulurkan jaket. Biru menerima tanpa berkata apapun dan langsung memakainya.
“ Kata Jagad, kalian nggak boleh pulang dulu”, Biru mengangguk sambil memegang gelas.
“ Iya, kalau mama tau, pasti dilarang pergi-pergi lagi. nanti malam tidur dirumah Kilau aja”.
“ Disini aja, nggak usah ke rumah Kilau”, sahut Alaska
“ Tapi.... besok pesawat pagi khan? terus aku disini sama siapa?” tanya Biru.
“ Udah dirubah kok, jadinya berangkat malam”.
Rayyan dan Dino datang, sudah rapi, tangannya menenteng tas. Tidak lama Kilau juga ikut bergabung, mereka ngobrol ngalor ngidul sambil tertawa cekikikan sampai tante Amelia masuk dengan membawa piring ikan.
“Ayo..kalian semua makan dulu, Biru juga makan ya?
“ Yes! Sop iga “ teriak Kilau.
“ Ini tanpa tomat khan? tanya Dino meringis. Tante Amelia tersenyum mengangkat jempol.
“ Baiklah, silahkan Yang Mulia, semua aman terkendali”, kata Rayyan, tangannya mengulurkan piring kepada Biru, yang dibalas dengan cibiran.
“ Habis ini minum obat ya? kata Tante amelia, Biru mengangguk.
Alaska senang mamanya hari ini kelihatan bahagia sekali, Biasanya kalau ayahnya dinas luar kota mamanya akan sendirian. Hari ini matanya bersinar-sinar, tidak merasa kesepian lagi. Dia rasanya seperti mengurus anak perempuan yang tidak pernah dimilikinya. Apalagi ditambah dengan teman-teman Biru, rumahnya menjadi hidup. Ramai oleh teriakan mereka, saling cela dan bercanda. Dia seperti seorang ibu yang menyiapkan makan anak-anaknya.
Mereka makan sambil bercanda, terutama rayyan dan Dinosaurus. Mata Alaska mengikuti setiap gerakan Biru, masih memakai baju tadi pagi, kaos lengan panjang dan rok. Dilapisi jaket Coklat miliknya. Biru merasa ada yang memperhatikan, kepalanya menoleh dan mendapati sepasang mata tajam tapi berbinar. Dahinya berkerut sebelum cepat-cepat menunduk dengan muka merah. Kilau yang sedang mengajaknya ngomong heran, “ kenapa si Moo mukanya merah gitu ya? pikirnya. Matanya menjelajah dan menemukan Alaska sedang menatap sahabatnya . Ah...sang pangeran mulai beraksi” tersenyum geli. Rupanya bukan hanya Kilau yang memperhatikan, Tante Amelia pun mengamati tingkah mereka berdua. Pasangan yang tampaknya mulai terkena panah asmara. Hatinya memekik kesenangan, akhirnya dia berhasil mendapatkan menantu perempuan seperti keinginannya.
Selesai makan mereka pindah ke dalam, ke ruang keluarga. Bercerita sambil makan kue bikinan tante Amelia. Hampir semua acara televisi mereka komentari. Beberapa saat kemudian Rayyan dan Dino pamit. Disusul Tante Amelia pamit duluan ke kamar, ngantuk katanya. Tinggal mereka bertiga yang masih ngobrol. Beberapa kali Biru masih menggaruk tubuhnya.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Alaska bangkit berjalan ke depan, untuk melihat siapa tamunya. Kemudian sama-samar terdengar orang bercakap-cakap. Alaska masuk kembali, diikuti Jagad dibelakangnya.
“Kak Jagad”, teriak kedua gadis itu berbarengan. Yang dibalas dengan senyuman lebar. Kemudian berjalan dan duduk disebelah adiknya.
“Masih panas? ruamnya masih banyak?” tangannya memegang kening Biru, lalu memeriksa muka, dan bagian lainnya.
“ Sudah nggak panas, tapi masih gatal”, jawab Biru.
“ Mandi terus minum obat sana!”, tangannya mengulurkan botol kecil.
“Lho..ini ketinggalan ya? kata Biru, Jagad mengangguk.
“ Ayo..nggak mandi? kepalanya menoleh pada Kilau.
“Lha..tadi habis berenang khan mandi”.
“kalau gitu temani ya”, rayunya, yang dijawab cibiran sama Kilau.
Setelah mereka pergi, Jagad melepas jaketnya disampirkan dipunggung kursi. Lalu menoleh pada Alaska, ” Jadi berangkat besok malam?”.
“ iya, tiketnya sudah diubah, tapi tidak bisa mundur harinya” jawab Alaska lesu.
“ Oh.. nggak usah sok sedih, mama udah setuju, nggak usah lamaran. Biar mama sama tante yang cari waktunya. Paket hemat nih ya” kata Jagad.
“ Aku baru bisa pulang , mungkin tiga bulan lagi, itupun bisa agak lama kalau disetujui cutinya. Nanti aku info ke mama kapan tepatnya, biar bisa ngatur acaranya”, wajahnya sumringah, seperti mendapat lotre. Dia lega karena satu masalah sudah selesai, tapi masih banyak yang harus direncanakan.
“ Biasa aja kalee..”dengus Jagad.
Lalu Ingatan jagad memutar kembali ketika dia dan orang tuanya membicarakan tentang rencana Alaska.
“ Kalau memang Alaska serius dan yakin dengan keinginannya itu, mama setuju. Sebenarnya rencana mama nunggu adikmu lulus dulu, tapi kalau memang Alaska niatnya tulus, ya mama dan papa merestui mereka berdua”.
“ Iya, papa setuju mereka menikah sekarang, disana pasti banyak godaannya” kata papanya yang khawatir.
“ Alaska nggak akan tergoda, calon menantu papa itu, jalannya lurus. Cuma mess ke kantor, pulangnya tengah malam langsun tidur, gitu aja tiap hari”, sela jagad sambil tertawa.
“ Iya, kalau dari sisi waktu, memang lebih praktis langsung menikah, karena kalau harus lamaran dulu, kasihan dia akan mondar-mandir, apalagi nunggu jadwal dia pulang mungkin baru tahun depan mereka bisa menikah”. Papa mengangguk menyetujuinya.
“Terus kapan, orang tuanya ke sini? Nunggu Alaska pulang lagi atau gimana?” sambung papa.
“ Dia nggak ikut. Cuma orang tuanya aja, karena mungkin dia baru bisa pulang tiga bulan lagi, itupun cuma sebentar, waktunya sudah habis dijalan. Terus gimana Laut Biru? Kalau dia menolak?” tanya Jagad.
“ Biar nanti mama yang ngomong, kalau nggak bisa, giliran papa”, jawab mama menoleh kearah papanya, yang langsung menggaruk rambutnya yang mulai memutih. Disambut gelak tawa jagad dan mamanya.
“ Jomblo memang hatinya agak sensitif ya, tapi kalau hidupnya? Sensitif atau malah ambyar? ”, sindir Alaska tawanya tergelak.
“ jangan cerita dulu, biar mama aja yang ngasih tahu” sambung jagad.
“ Noted, kakak ipar ”, dibalas Jagad dengan dengusan.
Beberapa saat kemudian, Kilau dan Biru bergabung lagi, “ sudah minum obat?” tanya Jagad.
Biru menggeleng dan menunjukkan bungkus ditangannya lalu duduk disebelah jagad, Kilau menyusul disebelahnya. Mereka melanjutkan obrolan sampe Kilau mengingatkan untuk minum obat.
Biru bangkit berjalan ke dapur untuk mengambil minum, setelah itu kembali lagi dan duduk dikursi tunggal disebelah Jagad. Wangi tubuhnya menyerbu penciuman Alaska. Aroma sabun mandi dan harum vanilla, bercampur melewati hidungnya. Sesaat matanya terpejam, otaknya dipenuhi bayangan gadis itu sedang tidur telentang dengan dua bukit kembarnya . Alaska menggeleng-gelengkan kepalanya, mengenyahkan pikiran tak pantas yang menyerbu kepalanya.
“Sudah? Udah dipakein salep?” tanya Jagad, dibalas anggukan adiknya.
“ Habis ini istirahat aja, kakak keluar bentar ama Kilau ya? kata jagad lagi.
“Mau kemana? Pacaran?” bibirnya mencibir. Alaska tertawa terbahak, sedang Kilau hanya tersenyum malu-malu.
“ Ketemuan sama teman, soal kerjaan”, disentilnya kening Biru.
“ Aahh!...awas aja kalau pacaran, bilangin mama biar suruh nikah duluan”, gerutunya, tangannya mengusap keningnya yang merah.
“ Kembalikan sebelum tengah malam! kalau lewat, awas! jadi kecebong ”, ujarnya santai. Semua tertawa lebar, Alaska sampe memegang perutnya yang kaku. Hanya Kilau yang cemberut, menekuk mukanya.
“ ehh... kedelai hitam, awas! Tunggu aja!”, balas Kilau.
Mereka masih ngobrol beberapa saat, sampai Biru menguap, mungkin karena pengaruh obat yang diminumnya tadi. Jagad menyuruhnya tidur dulu, tapi ditolaknya karena akan menunggu mereka berangkat dulu. Alaska yang nggak tega akhirnya menyuruhnya tidur dikamar tamu aja, dengan janji dia akan dibangunkan kalau Kilau sudah pulang nanti malam.
“Yaudah.. jangan lupa anak orang dikembalikan!”, sambil berjalan ke kamar tamu sebelah tangga. Jagad hanya tersenyum geli, dan Kilau tetap aja cemberut.
Setelah Biru masuk kamar, lima belas menit kemudian mereka berangkat. Mereka berjalan beriringan, Kilau mendahului keluar lebih dulu dan menunggu disebelah mobil “Nitip si bocah ya, kalau nanti kemalaman mungkin nggak kesini. Jangan lupa besok balikin, utuh!”, dibalas Alaska dengan senyum geli. Sebelum masuk mobil, Kilau mencium tangan Alaska.
Setelah membalas lambaian tangan Kilau, dan mobil Jagad sudah keluar dari pagar, Alaska menutup pintu lalu kembali menonton tv. Tapi dia hanya diam mematung, pandangan matanya ke layar televisi tapi otak dan pikirannya melayang-layang. Matanya menatap lurus kedepan, satu titik, yaitu pintu kamar yang tertutup rapat. Yang didalamnya terdapat seorang gadis yang sedang tidur. Senyumnya, matanya, tatapannya, kulit tubuhnya yang halus, semua muncul dan memenuhi isi kepalanya.