4. Neraka Puncak Gunung

1240 Kata
“Tidak! Ayah! Ibu!” teriak Pasha ketika ia menyaksikan si jago merah melahap tanah kelahirannya hingga dipenuhi oleh kepulan asap yang hitam pekat. “Ayah! Ibu!” Pasha bermuram durja ketika tangannya memukuli kaca belakang mobil yang ia tumpangi. Dalam rawa-rawa yang mereka lewati, dalam gelap asap yang membumbung besar ke langit, Pasha hanya bisa terisak hebat. Bahkan untuk sekedar menegur pria di sampingnya ia tidak bisa. Terisak ia memperhatikan bagaimana si jago merah melalap harta keluarga dan tanah kelahirannya. Dinding-dinding manor putih habis dikerumuni panas dari sebuah ledakan. Dalam hatinya ia masih bisa memohon agar seluruh penghuni manor selamat. “Ayah, Ibu, para pelayan,” lirihnya. Tiba-tiba saja lengannya dikoyak dengan sangat kencang dan dagunya dicengkeram erat-erat. Rudolf pelakunya. “Diam, Jalang Kecil!” desis pria itu. “Diam atau aku seret dengan mobil ini?” “Kau pria jahat!” Bantah Pasha. Kendati demikian dirinya ketakutan setengah mati dengan ancaman pria itu namun merelakan hancurnya rumahnya juga bukan hal yang seharusnya. Satu-satunya cara adalah menghadapi pria itu. “Tolong telepon petugas pemadam kebakaran, jika… jika terlalu lama mereka tidak akan selamat. Aku mohon!” pinta Pasha. Rudolf terkekeh di sudut bibirnya melihat betapa frustasinya wanita di hadapannya itu. Ia mengirimkan sinyal kepada bawahannya yang duduk di kursi depan untuk menangani wanita yang histeris itu. Dalam sekejap saja, wanita tersebut tunduk dan lunglai. Pingsan seketika dengan suntikan di lengan kirinya. Rudolf membanting Pasha keras-keras ke sudut mobil lalu mengeluarkan sapu tangan dan membersihkan tangannya. Seolah-olah ia baru saja menyentuh sesuatu yang kotor dan menjijikan. Ia menaikkan tangannya tanda untuk menghentikan mobil dan memerintahkan ajudannya, “Singkirkan wanita ini.” Dalam sekejap saja Pasha sudah beralih ke mobil di belakang sang tuan besar itu. Rudolf menghela napas panjang-panjang dan tersenyum puas melihat asap terbang tinggi di udara. Ia membenarkan jasnya dan kerah kemejanya yang kusut. Rasa-rasanya semua penantiannya terhadap hidup itu sudah dibayar lunas setengah. Setengahnya lagi ada di wanita terkutuk itu, Patya sendiri. “Aku bersumpah, tidak akan ada kehidupan yang baik untukmu, Patya Dmitry. Tidak akan ada yang akan menyelamatkanmu, bahkan malaikat maut sekalipun. Kau akan menjadi bahan pemuasku sampai mati nanti.” Daratan Rusia padat dengan mobil-mobil yang lalu lalang di jalanan saat dilewati dengan mudah oleh deretan mobil yang membawa petinggi mafia besar itu. Tidak akan ada yang mencela ataupun curiga. Iring-iringan tersebut menuju sebuah pegunungan pribadi yang mengikuti setiap musim hawanya. Cukup tinggi dan luar biasa kokoh. Di puncaknya berdiri sebuah manor super masif lengkap dengan danau buatan dan sebuah landasan pesawat pribadi. Dari lembah gunung itu, pacuan kuda menjadi batas wilayah dengan hutan rimbun yang telah dihuni oleh hewan liar peliharaan tuan rumah. Saat ini, musim penghujan melanda daratan Rusia yang teritori. Suasana hijau dan rimbun menyeruak di gunung yang menjadi markas sindikat besar tersebut. Si tuan rumah keluar dari mobil paling mewah tepat di pelataran megah. Rudolf membeo, “Dia?” Ishak Renat -Sekretaris Rudolf- menjawab, “Dia sudah sadar, Tuan Besar.” “Bawa ke mari.” Tiga pria yang mengenakan jas hitam super mewah memaksa Pasha dan Jena menghadap Rudolf. Pria itu, yang sangat tinggi mencela dan memberi arahan tersirat kepada sekretarisnya. Ishak yang mengerti segera membuat Pasha bersimpuh di lantai yang lembab dan memisahkannya dengan pelayan kecilnya. Rudolf menjulang tinggi dari sudut pandangan Pasha. Sama sekali bukan pemuda yang ditemui lima tahun yang lalu di tepi hutan, seorang pemuda yang lemah lembut dan baik hati. “Sekarang tempat ini adalah tempat di mana kau mendekam sampai akhir hayat mu nanti.” Pasha hanya memandang lantai yang lembab oleh embun dingin, jari kakinya merasakan betapa dingin tempat itu. Namun cuaca dan udara dingin itu masih kalah jauh dari Rudolf yang sekarang ada di depannya. Rudolf Karp sangat dingin dan tak tersentuh. Betapa pun ia ingin berkata bahwa dirinya pantas mendapatkan perlakuan yang lebih baik, bibirnya masih bungkam dan membisu. Pasha ingat ada ibu kandungnya yang bergantung dengan kelakuannya di sini. “Aku tidak menyangka kau sejahat ini kepadaku. Aku tidak menyangka kau tega padaku,” ruah Pasha dan menangis hingga dadanya sesak. Rudolf hanya memandangnya tajam dan memberikan arahan dengan dagunya kepada bawahan yang serta merta menyeret Pasha memasuki manor super besar itu dengan paksaan. Akhirnya kedua wanita itu mendekam di sebuah kamar yang tidak terlalu luas dibandingkan serambi kiri manornya sendiri. “Nona Muda, baik-baik saja?” tanya Jena. Pasha tidak mampu menjawabnya, hanya tangisan yang tiba-tiba tumpah ruah dalam kesedihannya. Rasa-rasanya dadanya ditekan oleh batu yang sungguh besar dan menyumbat pernapasannya. Hingga saat ia bisa meluapkan emosi yang bercokol di dadanya ia melatar di lantai. “Kenapa Ibu tega menukar aku dengan Kak Patya? Kenapa?” tangisnya terisak, sesekali menekan dadanya yang sesak. “Kenapa Ayah tidak menghalanginya?” “Kenapa harus aku yang menerima semua kesakitan ini? Kenapa semua orang tidak pernah memihakku?” “Tenanglah, Nona Muda. Tenanglah! Jena akan selalu ada untuk Nona walaupun tidak seorang pun ada untuk Nona.” Jena menenangkan Pasha yang sudah histeris harus menerima siksaan itu. “Rudolf bahkan melamar kakak kembarku dan Ibu menukar diriku. Memangnya apa yang lebih terluka dari menjadi simpanan pria yang dicintainya sendiri?” “Nona Muda akan melewati semua ini. Percaya dengan Jena, kita akan melewatinya nanti,” bujuk Jena. “Hidup macam apa ini? Kenapa mereka tidak langsung membunuhku saja?” Pasha mendebat takdirnya. “Tuhan, kenapa engkau membuatku merasakan kesakitan yang seperti ini?” Acara tangisan yang diliputi penderitaan itu tiba-tiba terhenti ketika dua pelayan wanita masuk dan menyeret Jena lalu mengunci Pasha sendirian di dalam kamar yang sunyi. Tinggallah Pasha sendirian dan ketakutan dalam ruangan yang sangat dingin itu. “Keluarkan aku! Jena! Kalian bawa ke mana Jena? Kembalikan Jena padaku!” raung Pasha. Wanita itu menggedor pintu kayu yang besar dan berteriak histeris, “Jena! Kembalikan Jena padaku. Aku mohon … aku mohon kepada kalian.” “Aku mohon keluarkan aku!” “Aku mohon … aku mohon …,” lirih Pasha sebelum bersimpuh dan menangis pilu di belakang pintu. Wanita itu menggedor pintu dengan sisa tenaganya sebelum menemukan jendela besar yang ada di sampingnya. Dengan panik Pasha berusaha membukanya, tiga jendela diperiksa dan semuanya terkunci. Lalu diliriknya ada lampu tidur lumayan besar di tepi ranjang, Pasha mengambilnya dan bergegas ke jendela. Dalam sekali pukulan, jendela kaca aman. Namun pukulan ke tujuh Pasha berhasil membuat kaca pecah ruah menjadi pecahan yang tajam. Kendati demikian, Pasha tetap nekat melompati jendela itu hingga membuat kulitnya tergores melintang cukup serius oleh pecahan kaca. Wanita itu memandang sebuah kanopi besar di bawah jendela yang ia naiki. Dengan bermodal kenekatan yang besar, Pasha berhasil melompati dengan satu gerakan. Suara pecahan kaca yang lain menyusul teriakan Pasha yang keras ketika jatuh dari lantai tiga ke kanopi lantai dua. “Argh …!” Belum selesai rasa sakit diproses oleh wanita itu, sebuah botol minuman kaca beralkohol terlempar dekat kakinya dan pecah ruah. Gaun merah yang ternoda darah tercela lagi oleh anggur merah dan tampak menyedihkan sekali dengan luka goresan yang melintang sana sini. Salah gerak sedikit saja, hancur kakinya oleh pecahan botol minuman. Sudah tumbang tertimpa tangga pula. Pasha menegang ketika melihat seorang pria yang tidak mengenakan atasan tengah menatapnya kesal setengah mati dari kamar balkon besar itu. Apalagi pria itu tengah mencengkram kepala seorang wanita di bawahnya. Pasha membeku melihat tindakan asusila di mana Rudolf memperkos* mulut si pelayan wanita tersebut dengan oral paksa kebanggaannya. Sakit di tubuhnya masih lebih sakit hatinya melihat pria yang ia cintai melakukan hal tersebut. “Rudolf …,” lirih Pasha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN