“Apa yang kau lakukan, Sial*n?” desis Rudolf penuh emosi.
Pasha belum selesai memproses kesakitannya ketika dihadapkan dengan Rudolf yang emosi. Tulang punggung wanita itu nyeri dan terasa menyakitkan. Begitu pun dengan mulutnya tiba-tiba membisu.
Pria yang duduk dengan seorang wanita yang mengoral kelelakiannya mulai bangkit. Rudolf hanya mengenakan celana bahan tanpa atasan ketika menghampiri Pasha yang masih belum sadar daratan. Pria itu merenggut rahang si wanita dengan sangat kasar. Kedua insan itu berpandangan, salah satunya sangat membenci dan satunya mendamba. Dalam kilat pandangan tersebut, Rudolf menghancurkan rahang Pasha hingga hampir remuk hanya dengan sebelah tangannya.
“Apa kau bisu, Sial*n?”
Pasha akhirnya bisa sadar akan ketakutannya terhadap pria itu, bahwasanya Rudolf bukanlah pemuda yang lemah lembut, seperti lima tahun yang lalu dalam pertemuan mereka di kejadian yang menandaskan bendungan hingga runtuh. Pria itu sudah sangat berbeda dan jauh lebih kejam. Bahkan sorot matanya tidak bisa dikenali olehnya lagi. Namun sosoknya masih sama, masih gagah dan luar biasa tampan, masih juga menjadi cintanya. Hanya jika Pasha tidak mengingat bahwa pria itu telah meledakkan rumah dan anggota keluarganya. Pasha praktis membenci Rudolf.
“Kau pria jahat!” Sembur Pasha.
Teriakan itu telah menjadi bom waktu bagi Rudolf, buktinya pria itu segera menyeret Pasha yang tak gentar ke pinggir balkon. “Beraninya kau menjawab perkataanku, Jal*ng?”
“Kau pikir siapa dirimu bisa seenaknya di sini?” teriak Rudolf. “Aku dapat dengan mudah mendorong dirimu dari balkon ini. Mau mati sekarang atau nanti?” Ancam Rudolf. Pria itu mengambil pecahan botol yang berserakan untuk ditudingkan ke sisi mata Pasha. Pemangsa yang siap melukai kelincinya.
“Teganya kau membunuh keluargaku!” Tuding Pasha tak mau kalah. Ia memikirkan nasib keluarganya yang diledakkan oleh bom tadi siang. Sungguh kejam pria itu.
“Aku tega, kau harus tahu itu. Aku tega juga karenamu.” Bantah Rudolf. Pria itu membawa wanita yang tiba-tiba terisak tangisnya ke pagar kanopi warna putih. Akhirnya Pasha menggantung di sana, kepalanya berada di atas angin dan hanya berbekal cekalan tangan dari Rudolf ia bisa bertahan. Salah sedikit saja, tamat riwayatnya. Ketakutan merasuk dari tulang belakangnya. Apakah Rudolf tega melemparkannya ke kolam renang yang airnya beriak di bawahnya? Kendati demikian, hal itu tentu bisa menjadi batu loncatan dalam hidupnya, tersiksa oleh orang tuanya dan berakhir tewas di tangan pria yang memiliki seluruh hatinya akan memuaskan sisi pengecut Pasha.
“Bunuh aku, Rudolf! Bunuh aku!” Tantang Pasha. Bagaimanapun juga Pasha telah menginginkan kematian sejak lama bahkan sebelum bertemu dengan si pemuda tampan itu di tepi hutan karena siksaan dari orang tuanya.
“Aku tidak akan membunuhmu dengan mudah, kau aku bawa ke mari untuk menikmati neraka dunia. Kau harus menerima takdirmu sebagai jal*ngku, Patya,” perintah Rudolf dengan bersungguh-sungguh, begitu kejam nadanya ketika menikmati ketakutan lawan mainnya.
Pasha juga pucat pasi dengan ancaman menjadi simpanan pria itu, baginya lebih baik mati daripada harus menerima siksaan batin oleh pria yang dia cintai dari lubuk hatinya itu. Terlebih siksaan itu sangat tidak bermoral. Ia wanita beradab dan menjunjung tinggi moral dalam berhubungan walaupun kenyataannya kesuciannya juga telah direnggut oleh Rudolf di antara puing-puing. Menjadi gund*k pria itu jelas akan membunuhnya secara perlahan, apalagi alasan ia menjadi gund*k hanya demi kakak kembarnya. Sungguh kejam dunia memperlakukan Pasha.
“Teganya dirimu …,” lirih Pasha sembari berderai air matanya. Netra wanita itu penuh dengan tetesan likuid yang sangat memilukan dan ditujukan kepada Rudolf.
“Aku adalah wanita baik-baik. Menjadi pelac*rmu tidak pantas untukku. Keluarkan aku dari sini, Rudolf. Aku mohon padamu!” mohon Pasha sembari berurai air matanya. “Aku mohon lepaskan aku.”
“Aku bukan malaikat, menikmati keperawananmu juga mudah bagiku, sungguh murah harga dirimu, Patya. Pria ini yang melamar padamu dan kau permalukan. Luka seperti itu tidak ada bandingannya.”
Hampir saja Pasha memberontak dan mengatakan bahwa ia berdarah-darah hatinya melihat Rudolf malah melamar Patya alih-alih dirinya setelah persetubuhan mereka. Namun semua itu hanyalah angan, bagaimanapun juga Pasha memiliki tanggungan besar terhadap ibu kandungnya untuk tetap diam dan tidak mengatakan bahwa sakit hati yang dialami Rudolf adalah karena kesalahan pria itu sendiri.
“Memang tidak ada bandingannya, Rudolf. Manusia tempatnya salah.”
“Tapi tidak dengan kesombonganmu, Patya.” Pria itu sangat kecewa dilihat dari wajahnya. Kendati demikian, Pasha tidak bisa menerima kenyataan bahwa pria itu juga terluka oleh kakaknya. Seharusnya Pasha adalah pihak yang paling terluka karena dikhianati oleh Rudolf yang melamar kakak kembarnya. Lantas mengapa Rudolf berlaku seperti itu?
“Aku sangat membencimu, Patya, sampai akhir hayatku, aku sangat membencimu,” tutur pria tampan itu.
Pasha tidak bisa tidak terluka dengan anggapan seperti itu. Dia sangat mencintai cinta pertamanya itu. “Kau berubah,” tuturnya pelan.
“Aku sangat membencimu. Aku akan memastikan hidupmu seperti di neraka.” Sumpah Rudolf sebelum mendorong Pasha melewati pagar balkon putih tersebut. Akhirnya tubuh berbalut gaun merah itu melayang dan terjun dalam pusaran air kolam di lantai paling bawah. Suara airnya memecah gendang telinga saking keras riak gelombangnya. Sedetik saja tubuh itu terperosok dalam kesesakan udara dan kegelapan air.
Pasha masih tidak menyangka akan menyambangi hal yang paling ia benci yakni, kolam renang. Dalam kesesakan dadanya yang dipaksa meregang oleh air, hatinya jauh lebih sakit. Rudolf tidak pernah berpikir dua kali untuk melemparkannya pada kolam di bawahnya. Bahkan ketika ia memandang netra pria itu sebelum jatuh, hanya ada kebencian yang besar di sana.
“Tolong! Tolong ….”
Pasha menggapai-gapai udara dari luar permukaan air kolam karena kenyataannya ia memang tidak bisa berenang. Kaki-kakinya berusaha menggapai dasar kolam yang terasa sangat dalam baginya. Kalau begini, bisa tewas dirinya di hari pertama jumpa dengan sang cinta pertama. Paru-parunya terasa seperti terbakar karena terjepit oleh tekanan air kolam dan kepalanya otomatis pusing.
“Jena! Tolong … tolong aku!” sesekali Pasha menggapai luar permukaan untuk meminta tolong.
“Siapa pun tolong aku!” pintanya frustasi. Wanita itu berusaha mempertahankan kesadarannya sebagai pertahanan alamiah tubuhnya dalam menghadapi bahaya. Namun jika memang hal itu menjadi jembatan ajalnya, Pasha merelakan takdirnya untuk mati di tangan pria yang dicintainya. Perlahan-lahan kegelapan mengurungnya dalam rasa panas yang meledak dalam dadanya. Otaknya kosong dan kepalanya hendak pecah. Pasha praktis tidak sadar daratan dan siap menjemput ajalnya.
Dalam kepasrahannya itu, seseorang melompat di air yang beriak. Pasha merasakan orang itu telah merenggut pinggangnya dengan kuat. Sebuah lengan yang kokoh menariknya untuk keluar dari air. Rupa orang itu tinggi dan bahunya lebar, kulitnya selegam emas tembaga yang ditempa sinar matahari. Namun tindakan itu tidak berarti apa-apa. Pasha praktis tidak sadar karena kehabisan oksigen.
“Jangan berani mati sebelum aku puas dengan tubuhmu, Patya Dmitry. Balas dendamku masih panjang.”
Rudolf merenggut bibir wanita yang berubah biru itu, dad*ny ditekan dengan keras. “Bangun, Sial*n. wanita hina sepertimu tidak pantas mendapatkan kematian yang mudah.” Rudolf menekan terus menerus d**a Pasha dan memberikan napas buatan. Sebuah usaha yang dilakukannya akhirnya berbalas dengan muntahan air yang banyak.
“Bawa wanita ini ke kamarnya dan panggil dokter!” perintah Rudolf. Sosoknya tanpa peduli meninggalkan Pasha yang masih belum sadar melatar di lantai tepi kolam dengan air beriak besar. Pria itu membiarkan ajudannya membawa wanita yang lebih dulu ia periksa apakah masih bernapas atau tidak ke kamar. Rudolf menerima sebuah handuk dari pelayannya dan meninggalkan lantai bawah manor.
Pasha sendiri terbaring kaku dalam ambang kematian. Dokter memeriksanya dan menyarankan, “Dia terkena hipotermia, sebaiknya dirawat dan diawasi selalu. Metode Skin-to-Skin akan sangat membantunya.”
Ishak yang diberi tahu oleh dokter segera mengiyakan dan mengantarkan dokter pulang. Setelahnya ia menaiki tangga dan mengetuk pintu kamar tuan besarnya. “Tuan Rudolf, ini saya Ishak. Izin untuk memberikan kabar.”
Sekretaris yang paling setia itu membuka pintu dan menemukan seorang pelayan wanita yang berpenampilan berantakan tengah duduk di lantai tepat di bawah tuan besarnya. Rambutnya lusuh, kemejanya hampir di buka, wajahnya sembab oleh air mata dan meringis sembari memegangi rahangnya. Ishak membungkuk hampir pergi namun ditahan oleh perintah Rudolf sendiri. Akhirnya ia menunggu pelayan tersebut membersihkan pecahan botol anggur di lantai.
“Ini mengenai Nona Patya,” ujar Ishak setelah pelayan wanita keluar. Rudolf sendiri masih duduk di kursi yang ada di kanopi sembari mengemut cerutu. Pria itu masih telanjang dan hanya dilapisi handuk di pinggangnya, dengan begitu Ishak paham kenapa pelayan tadi menangis dan memegangi rahangnya. Tuan besarnya jelas sedang menikmati waktunya yang berharga dengan para pelayan yang bermurah hati membuka mulut atau kaki untuknya.
“Setelah Anda mengeluarkan semua air dalam tubuhnya, Nona Patya terserang hipotermia. Dokter mengatakan bahwa metode Skin-to-Skin adalah solusi terbaik.”
Rudolf tampak tidak peduli dan membuang kotoran cerutunya. Asap mengepul di udara sore hari yang dingin bercampur dengan kerasnya hati pria tampan itu. Kakinya yang besar dan jenjang tidak berlapis alas dan menjajaki lantai dingin untuk sampai di ujung balkon. Dengan penampilan setidak wajar itu, Rudolf tetap berhasil tampil mempesona.
“Apakah ada kendala dalam pengiriman hari ini?” tanya Rudolf.
Ishak bahkan tidak menyangka bahwa tuannya tidak sudi bertanya keadaan wanita yang nyaris saja tewas di tangannya. Ia menelan ludah karena saking terkejutnya dan menjawab, “Semua transaksi berhasil hari ini tanpa kendala. Ada tiga pengajuan kerja sama dari pejabat pemerintah, Tuan. Salah satunya beliau adalah calon presiden tahun depan. Haruskah saya memberi respon?”
Rudolf, pria itu membuang cerutunya dan mengeratkan handuk putih di pinggangnya. Udara dingin khas pegunungan tidak menjadi bahan kesakitannya. “Biarkan mereka datang ke mari.” Putusnya.
“Baiklah, Tuan Besar.” Patuh Ishak.
“Tunggu! Bagaimana dengan kediaman Radimir?”
Ishak meneguk ludahnya dan memandang punggung besar milik bosnya yang dipenuhi oleh tato dramatis. Ia menjawab dengan takut-takut, “Orang-orang kita menyisir dan tidak menemukan jasad Tuan Albert dan Nyonya Anastasius. Keduanya berhasil melarikan diri sebelum ledakan, Tuan Besar.”
Rudolf berbalik dan memandang sebal sekretarisnya itu. Pria itu perlahan melangkah hingga berdiri kokoh di depan Ishak. “Bagaimana caranya?”
Ishak dengan sama kakunya menjelaskan, “Mereka berhasil kabur melalui hutan serambi kiri. Setelah ditelusuri lagi ternyata di sana terdapat sebuah lorong rahasia menuju tepi hutan yang berbatasan langsung dengan proyek bendungan milik negara yang mangkrak.”
Kini Rudolf memikirkan beberapa kenangan di masa lalu. Ternyata lorong yang dilewati Albert dan istrinya adalah lorong yang ditempuh Patya lima tahun lalu di mana akhirnya membuat mereka tidak sengaja bertemu. Pertemuan mereka yang panas membara di antara reruntuhan puing-puing bendungan. Dengan tegas ia memerintah, “Temukan mereka secepatnya, bunuh di tempat!”