Yusa terus berada di samping pintu kamar Taka. Ia duduk memeluk lutut, menguatkan hati dan meyakinkan diri jika suaminya tidak akan menyentuh wanita lain. Ia hanya beranjak ketika azan berkumandang dan kembali lagi setelah melaksanakan kewajibannya. Semakin malam keadaan rumah bukannya semakin hening, justru semakin berisik. Banyak teman Taka yang keluar masuk, bahkan bertambah. Asap rokok menyeruak pekat hingga ke lantai dua. Yusa meluruskan lututnya yang lebih sering ditekuk hari ini. Tubuhnya doyong, bersandar di sebuah lemari kecil yang ada di sampingnya. Kepalanya sakit, bibirnya kering, perutnya terasa panas dan tidak nyaman. Kepulan asap rokok, ditambah lagi dengan perut yang belum terisi apapun sejak pagi menyebabkannya seperti itu. Cklak! Tenaganya tiba-tiba saja terkumpul ke

