Baru beberapa menit dari kedatangan wanita itu sungguh membuat keadaan di sekitar menjadi seperti neraka. Meski air matanya terus menetes, Yusa berusaha sekuat mungkin untuk tidak terisak. Hatinya remuk, tak terbentuk. Beruntung, tubuh Sakhiy mampu menutupi dirinya dari pandangan Taka. Ia tetap harus terlihat kuat. Ia tak mau kalah. Taka yang harus menyerah dengan keadaan ini. Bukan dia! Yusa terus mencoba untuk fokus pada layar laptop dan semua penjelasan Sakhiy. Pria itu tetap menjelaskan apapun dengan keras. Yusa merasa jika Sakhiy sengaja bicara sekeras itu untuk menutupi isakannya. "Paham nggak, sih?" bentak Sakhiy."Jangan iya iya aja! Capek tau ngomong sama orang begok kayak lo!" "Sudah kubilang dari awal aku bodoh! Kenapa masih masih di ungkit-ungkit!" teriak Yusa. Tangis yang se

