"Maaf ya sudah membuatmu nggak nyaman." Taka menyeka keringat di kening dan leher istrinya. Yusa menggeleng lemah. Ia memiringkan badan, menangkup satu sisi pipi Taka dan menatapnya lembut. "Tapi aku suka," jawabnya lirih, hampir tak terdengar. Taka tersenyum kecil mendengar jawaban Yusa. "Jangan kaget ya kalau lihat spreinya ada darahnya." Yusa terbelalak. "Darah?" tanyanya. Sebelum Taka menjawab, ia teringat sesuatu yang pernah dibacanya. "Pantas saja sakit banget, Ka," keluhnya. "Maaf, ya." "Nggak perlu minta maaf. Ini kan sudah kewajibanku." Taka mengusap rambut Yusa dengan jemarinya. Bibir itu terus mengulas senyum, tapi sorot matanya menunjukkan bagaimana ia menyimpan sebuah kegelisahan. "Kenapa, Ka?" tanya Yusa menyadari sesuatu yang berbeda pada suaminya. "Apa kamu kecewa ka

