Pagi itu, SMA Cempaka memang terlihat ramai dua kali lipat dibanding biasa nya. Ada nya penampilan drama dari masing-masing kelas untuk meriahkan acara agustusan semakin menghebohkan ketika dari pihak sekolah mengundang semua wali murid orang tua dari siswa/i kelas 11 dan 12.
Di lapangan sekolah, sudah disediakan panggung lengkap dengan karpet merah yang membentang diatas panggung nya. Didepan panggung, ribuan kursi berwarna hijau toska semakin terlihat memenuhi lapangan. Anak kelas 10 yang tidak menampilkan apa-apa tahun ini sudah bersiap di kursi depan panggung, mencari posisi terdepan untuk menonton drama pementasan.
Beberapa orang tua wali murid sudah datang, duduk berpencar. Teori penuhi kursi terdepan sudah tidak digunakan lagi di SMA Cempaka, teori lama kata mereka. Ini memang sudah wajar saja di era mordern sekarang.
"Njir, gue ga siap!" Vera dan Farah secara kompak menggigit jari telunjuk masing-masing.
Rea yang masih didandani hanya menatap ke arah kedua teman nya dari ekor mata, "Gak siap apa nya?" tanya nya dengan bibir kaku, karena sekarang bibir nya sedang dalam tahap proses pemolesan lip-tint.
"Gak siap liat Joko sama elu lah, Curut!" Teriak Vera, diikuti anggukan Farah.
Kedua cewek yang sudah lengkap dengan dress cantik nya itu tampak mendengus sebal seolah meratapi nasib.
"Dibanding jadi peri, ya mending gue milih jadi Cinderella lah!" Dumel Farah.
"Gue nyesel. Tuker peran lagi yok, Re!" Vera menggerakan lengan Rea, merengek seperti balita yang meminta sesuatu kepada ibu nya.
"Kok jadi mendadak Suka sama Joko, sih?" Tanya Rea bingung.
"Mata lo copot apa sliwer, sih? Lo kemaren lagi nggak ada, sih pas Joko keluar pake mahkota!" Vera menyahut keras.
Dinda yang sibuk mendandi Rea hanya memutar bola mata nya malas, "Duhai anak tiri, engkau serakah sekali." Ucap nya tanpa menoleh kearah Vera.
Meskipun Dinda tidak melirik kearah nya, Vera tahu bahwa si ketua kelas itu menyindir nya.
Dinda yang menjadi Ibu tiri dalam cerita Cinderella ini hanya mengulum senyum saja saat Vera membujuk Rea bertukar peran. Kalau pun Rea mengijinkan dan mengabulkan permintaan Konyol Vera, Dinda adalah orang pertama yang akan menentang. Di hari H seperti ini mana bisa mengubah peran seenak nya, ada-ada saja.
"Din, lo emak kandung gue kan? Kenapa jadi ngebelain anak tiri lo, dah?" Sungut Vera kesal.
"Wahai manusia-manusia, jangan berantem. Ibu peri sedih liat nya," Farah dengan sok bijak menasehati.
"Apaan, sih? Sok iye, lu." Cibir Vera lalu memperbaiki tataan rambut nya. "Tapi gapapa, lah. Yang penting gue pake gaun cakep, dari pada gaun yang dipake Rea. HAHA!!" Ujar nya seolah menghibur diri sendiri.
"Eh eh eh, No! Kamu liat aja nanti pas di akhir cerita, okay?" Rea tersenyum simpul.
"Emang kenapa diakhir cerita? Lo bakal jadi pemulung, babu gue gitu? Gue gak bakal kasian!" Sungut Vera, lalu tertawa meledek.
Rea tersenyum simpul, ia tahu Vera belum pernah mendengar cerita Cinderella sebelum nya. Lihat saja nanti, gaun yang Rea pakai akan melebihi gaun yang sekarang Vera pakai.
"Nah, udah." Dinda menyeka keringat dipelipis nya. "Wanjayy, Rea cuakep buanget! Berkat keajaiban tangan gue yang dandanin dia kali, ya.."
Rea tertawa lalu mengamati pantulan bayangan nya di depan cermin, ia memang sedikit berbeda dengan tampilan begini. Apalagi ditambah dengan make-up yang tidak terlalu tebal, menambahkan kesan natural diwajah nya.
Vera terkesiap, menahan napas saat melihat sahabat nya selesai didandani. "Anjing, demi apa si Rea."
"Hah? Apa?" Tanya Rea yang semar-semar mendengar gumaman Vera.
Vera menelan ludah nya sendiri susah payah, lalu menggeleng. "Gak gak, gue lebih cantik." kata nya.
Tadi nya Vera memang tidak terlalu memperhatikan kearah Wajah Rea, karena Dinda sibuk menghalangi tubuh Rea. Tetapi Vera tidak percaya saja kalau Rea akan menjadi secantik ini.
Dinda lalu menyingkirkan Rea dari kursi yang sebelum nya Rea duduki. "Minggir, gue juga butuh make-up ini."
"Iye, santai." Rea mencibir. "Loh? Farah kemana?"
Lamunan Vera buyar, lalu celingak-celinguk kekanan dan kekiri. "Eh iya, Farah kemana?"
"Paling apdet status lagi," Sahut Dinda tanpa menoleh sedikit pun, lalu memberi bedak tipis ke wajah nya.
"Iya, ya." Dukung Rea, tertawa lebar. "Loh, Din. Kamu nggak dandanin Joko?"
Dinda nyengir, menatap Rea dengan tatapan menyipit. "Emang lo mau gue mimisan terus mati ditempat karena kehabisan darah gara-gara liat cogan?"
Rea dan Vera tertawa terbahak.
"Eh, yang dateng kesini nyokap lo kan?" Tanya Vera, mengganti topik pembicaraan nya.
"Iya lah, mau siapa lagi."
"Ya udah, nanti gue mau bilang ke nyokap lo kalo lo udah berbuat seenak nya dengan ngerebut posisi gue sebagai Cinderella!" Kata Vera seraya terkekeh, dengan nada mengancam.
"Yee.. Enak aja."
•••
Mama.
aktif pada hari ini jam 06. 45 AM.
Me
Maa, mama dimana sih? Acara nya keburu mulai! 08. 09 AM.
Rea membaca sekali lagi pesan yang sudah ia kirim. Tapi seperti nya Desi belum menerima pesan itu karena w******p Desi sudah tidak aktif sejak jam tujuh kurang lima belas menit lalu. Rea berjalan mondar-mandir di ruang make-up, dengan perasaan gelisah.
Dinda, pengatur drama sekaligus ketua kelas yang masih belum selesai memoles make-up di wajah nya itu mengamati kebingungan Rea yang sedari tadi berjalan mondar-mandir dari pantulan cermin. Lalu, Dinda menghembuskan napas lega saat tugas nya sudah selesai. Cewek dewasa itu lalu menyimpan kosmetik nya kedalam tempat yang mirip tempat pensil itu, beda nya tempat kosmetik nya tidak menggunakan kain melainkan plastik tebal.
"Lo kenapa?"
Rea mendekati meja make-up, melempar hape nya asal. "Mama aku belum sampe,"
"Elah, gitu doang aja? Santai kali, lagian kita dapet nomor urut Tiga. Masih lama juga," Ucap Dinda menenangkan.
"Iya, sih." ucap Rea pelan. "Tapi kalo ga dateng beneran gimana?"
Dinda memutar bola mata nya, "Ya gak gimana-gimana. Udah sih, nggak usah panik. Karna ku selow, sungguh selow, tetap sel--"
Nyanyian Dinda langsung ditukas cepat oleh Rea yang sudah kesal setengah mati. "Ih, Dinda! Aku serius."
"Dih, jijik a***y di kuping gue. Serius serius, gue meskipun Jomblo masih doyan laki kali."
Rea down, tidak ada lagi yang bisa Cewek itu harapkan.
"Ayo keluar, ruangan nya mau dipake anak sebelah." Ajak Dinda semangat, ia menarik lengan Rea paksa.
•••
"Bagaimana ini, aku ingin pergi ke pesta itu. Tapi aku tidak punya gaun yang bagus. Dan lagi, aku harus mengerjakan pekerjaan rumah yang menumpuk malam ini.." Ratap Rea, cewek yang sedang ber-akting sedih seraya memegang sebuah sapu ditangan nya.
Terdengar riuhan dari kursi penonton. Riuhan itu selalu terdengar semakin keras setiap kali Rea sedang berdialog, sesekali terdengar suit-suitan dari kursi penonton paling belakang yang dihuni oleh anak laki-laki kelas 10.
"Abang beliin baju, Neeeng!"
"Gue rela bantuin beresin rumah, Kak!"
"Gue kasih gaun paling cakep sini, kak!"
"Gak usah pake baju sekalian, mbak!"
Komentar terakhir itu tentu saja membuat para penonton risih. Guru-guru panitia agustusan segera mengamankan anak-anak urakan² itu, agar tidak ada keributan lagi.
Rea sedikit Nervous, apalagi saat tadi ia pertama kali muncul dipanggung. Keriuhan mulai terjadi saat itu juga, bahkan para wali orang tua khusus nya bapak-bapak sampai ada yang lupa untuk mengatup kan mulut nya yang terbuka.
Kemudian tidak lama, lampu dipanggung dimatikan. Digantikan oleh dua lampu terang dari atas panggung yang bersinar ke arah Rea dan Farah, sang ibu peri.
"Wahai gadis yang baik, aku bisa menolong mu.." kata Farah penuh kelembutan.
"Siapa kamu? Kenapa kamu mau menolong ku?" Rea berpura-pura menyeka air mata nya yang sudah susah payah ia dapatkan itu, dengan mengusap sekitar genangan air mata dipipi nya.
"Aku adalah Ibu Peri yang baik hati, aku menolong mu karena engkau adalah gadis yang baik."
Kemudian, Wati, Siti, Lina yang notabene nya adalah seekor tikus itu muncul dengan merangkak. Diantara ketiga 'tikus' itu, Lina lah yang paling cemberut ketika tampil dipanggung.
Suasana lapangan mendadak sedikit sepi, tidak seserius tadi. Para penonton fokus dengan mata kearah depan, seolah enggan melewatkan waktu barang sedetik pun.
Tidak lama, gorden merah diturunkan dari langit-langit panggung secara perlahan. Tidak beberapa lama, Farah yang tidak berada di dalam gorden merah itu hanya tinggal mengayunkan tongkat nya kearah gorden dalam hitungan mundur.
"Sim salabim!" Seru Farah semangat, dengan wajah sumringah.
Gorden merah seketika tertarik keatas lagi secara perlahan.
Suara tepuk tangan riuh menggetarkan hati Rea yang kini sudah terbalut dengan gaun biru muda yang indah, sepatu kaca nya yang pas dan mahkota berwarna putih. Make-up diwajahnya tidak diubah, karena takut tidak sampai pada durasi drama jika harus di ubah lagi. Tetapi walau begitu, Rea tampak semakin cantik dan sempurna.
Rea maju selangkah, agar penonton bisa melihat lebih jelas diri nya. Ia memasang ekspresi terkejut, lalu memutar tubuh nya tidak percaya.
"Terima kasih, Ibu peri. Aku senang sekali." Seru Rea dengan wajah berbinar."Tapi siapa yang akan menyelesaikan pekerjaan rumah selagi aku pergi?" sambung nya dengan ekspresi murung.
Farah tersenyum tipis. "Jangan khawatir, aku bisa menyelesaikan nya untuk mu."
Semua benar-benar terhipnotis dengan drama nomor urut tiga ini, kelas 11 IPA 2. Bahkan beberapa tidak fokus dengan akur cerita nya, hanya terfokus pada pesona sang Cinderella.
Sampai secara tidak sengaja, manik mata Rea bertemu dengan seorang yang sudah tidak asing lagi untuk nya. Cowok remaja dan pria dewasa yang sedang duduk dikursi barisan kedua terdepan sedang menatap kearah nya.
Rea mengerjapkan mata beberapa kali tidak percaya. Tetapi tetap saja bayangan menyerupai Ken dan Willy tidak hilang, itu arti nya mereka benar-benar ada disini.
Kehadiran mereka membuat Rea tidak bisa berkonsentrasi, bahkan beberapa kali ia terdengar grogi dan gugup mengucapkan dialog nya.
"Tidak pangeran, a-aku harus pergi."
Saat itu adegan Jaka menahan tangan Rea, membuat keriuhan yang sempat tertunda semakin menjadi. Apalagi penampilan Jaka yang sangat sempurna bak pangeran sesungguh nya. Beberapa meneriaki nama Jaka, sesekali Rea.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Jaka seraya menggenggam kedua tangan Rea erat.
Rea benar-benar tidak fokus, ia malah menatap kearah Ken yang juga menatap nya dengan tatapan yang sulit diartikan. Apalagi memikirkan kotak hadiah nya semalam, Rea menjadi sedikit salah tingkah.
Mengetahui bahwa Rea tidak menjawab sesuai dialog nya, Jaka sedikit menekan jemari Rea yang ada di genggaman nya seolah mengatakan 'ada apa?' tanpa suara.
Rea mengerjap, d**a nya berdetak cepat. Sampai dimana tadi?
"Ada apa? Kenapa diam saja? Berbicara lah terus terang, Cinderella!" Jaka sedikit meninggikan suara nya, seolah ingin menyadarkan Rea. Tentu saja apa yang Jaka katakan tadi tidak ada di dialog nya, itu hanya akal-akalan Jaka saja.
Rea yang mengerti langsung menarik tangan nya, "Maaf kan aku, pangeran. Ak-aku.. Harus segera pergi sebelum jam dua belas tepat,"
Beruntung saja Jaka menyelamatkan drama nya dengan mengatur kondisi yang sempat hening karena Rea lupa bagian dialog nya.
Rea sedikit pesimis, ia pasti akan dipermalukan oleh Ken. Terbukti saat Ken beberapa kali melempar senyuman, dan memotret nya. Kalau saja Rea tidak sedang ada diatas panggung, mungkin ia akan memukuli Ken yang seenaknya memanfaatkan keadaan dengan mengambil gambar nya beberapa kali.
Lagipula, untuk apa ia disini?
Rea memutuskan untuk tidak memikirkan nya, ia takut tidak fokus lagi. Cewek itu berusaha keras membuang bayangan Ken dalam otak nya.
•••
"Aman, aman.." Rea menghembuskan napas nya lega, seraya mengusap beberapa kali d**a nya setelah ia berhasil lepas dari tatapan Ken.
Setelah penampilan dari kelas nya, Rea memutuskan secepat nya kabur menghindari Ken dan pergi ke ruang make-up walau pun tempat itu dipenuhi oleh belasan siswi yang sedang berdandan untuk tampil di urutan selanjutnya. Rea tidak perduli, bahkan ia tidak akan keluar walau ada yang mengusir nya.
Rea bukan nya lari untuk ingin dikejar oleh Ken, Siswi yang masih lengkap dengan kostum puteri nya itu hanya enggan saja bertemu dengan nya. Rasa nya sedikit canggung dan tidak nyaman.
Kok dia disini, sih? Bukan nya sekarang jam siswa buat sekolah? Ken kan juga siswa, kenapa ada di sekolah yang bukan sekolah nya? Tanya Rea dalam hati.
"Heh, tuan puteri!"
Seseorang yang sudah tidak asing memanggil nya dengan panggilan khas nya. Jaka, yang masih lengkap dengan kostum prince nya itu langsung membuat ruangan make-up yang dipenuhi siswi itu langsung riuh meneriaki Jaka.
Rea mengamati Jaka, cowok itu memang berubah. Gaya rambut nya yang dulu berantakan kesana kemari kini terlihat rapih, dengan jambul kecil yang menambah pesona nya.
"Eh? Itu pangeran tadi ya kan?"
"Gue mau foto sama dia, ah."
"Dih, gue dulu!"
Rea panik sendiri, "Kamu ngapain disini, sih? Sana pergi! Berisik tau," usir nya seraya mendorong tubuh Jaka keluar dari ruangan make-up.
Cewek itu berniat masuk kedalam ruangan tadi kembali dan meninggalkan Jaka, tetapi Jaka lebih cepat menahan pergelangan tangan Rea.
"Lo tuh yang ngapain disini, Bu Gina minta kita buat foto noh di belakang panggung."
"Aku nggak mau ikut, aku disini aja."
Alis tebal Jaka terangkat, "Ngapa?"
"Y-ya gapapa, lah. Capek aja," Cicit Rea, berbohong.
Jaka kemudian tersenyum penuh arti, menaik-turun kan alis nya iseng. "Oh, jadi cerita lo ngode gue buat..?"
"Hh? B-buat apaan?"
"Buat gendong lo kan? Hayo, ngaku!!" Jaka menarik dagu Rea hingga wajah cewek itu menghadap kearah nya.
Rea menepis tangan Jaka cepat, "Jangan macem-macem!"
"Satu macem aja, ayok sini gue gendong. Gendong papah sini!" Jaka merentangkan tangan nya lebar-lebar dengan wajah tengil.
Rea melepaskan sebelah sepatu kaca nya yang menyulitkan ia berjalan karena terlalu menekan kaki nya, lalu menempelkan sepatu bekas kaki nya ke wajah Jaka hingga cowok itu terkejut.
Rea mengambil langkah seribu dari tempat itu, ia bergidik mengingat Jaka.
"Joko k*****t!" Umpat nya kesal, sambil terpincang-pincang karena sebelah sepatu nya ada di Jaka sekarang.
Ketika Rea melewati kerumunan, kerumunan itu menyingkir memberi jalan. Rea tidak mengerti, dia bukan kepala sekolah atau guru. Tetapi kenapa semua seolah memperlakukan nya seperti puteri?
"Reaa!"
Rea mengerjapkan kan mata beberapa kali ketika ia mendengar seseorang memanggil nama nya dari belakang. Itu suara Ken.
Rea merutuki diri nya sendiri, harus nya aku lewat dari jalan kantin.
Kerumunan itu berbisik-bisik, membicarakan cogan asing yang tersesat di sekolah k*****t ini. Rea baru tahu, sebenarnya kerumunan tadi bukan memberi jalan untuk nya. Melainkan untuk seseorang dibelakang nya, Ken.
Pantesan aja, batin Rea kesal.
Karena Rea tidak kunjung menoleh, Ken memutuskan untuk mendekati Rea lebih dahulu lalu menyapa nya sekali lagi. Rea yang tadi mengangkat gaun nya tinggi-tinggi agar ia bisa berjalan lebih leluasa, berinisiatif menurunkan ujung gaun nya. Toh juga Ken sudah menemukan nya.
Rea menoleh kearah Ken, canggung. Ditambah tatapan-tatapan siswi-siswi yang sedari tadi menjadikan mereka pusat perhatian.
Ken menoleh ke kerumunan didekat nya, yang membawa-bawa nama Rea di bahan gosipan mereka. Bibir nya terbuka sedikit dengan senyuman manis, "Loh, kalian kelas berapa?"
Semua saling melempar tatapan, akhir nya salah satu diantara mereka memutuskan menjawab. "K-kelas sepuluh, Kak."
"Tuh, Bener kan. Kayak nya tadi anak kelas sepuluh diminta ke aula, deh." ujar Ken, ramah.
Siapapun akan percaya dengan apa yang dikatakan Ken, pasal nya cowok itu mengatakan nya dengan nada lembut dan ramah. Ditambah senyuman manis yang membuat beberapa siswi hampir mimisan ditempat.
Ken memang seperti dewa yunani, hati nya setulus malaikat. Rea juga yakin kalau cowok itu memiliki IQ yang lumayan tinggi. Terbukti saat cowok itu memperlakukan Kasa dengan baik, walau nyata nya Kasa bersikap kurang enak kepada Ken. Ken berusaha sabar dari Kasa, bukan karena Ken memang tidak bisa marah. Ken adalah manusia, walau rupa nya bak malaikat. Tetap saja Ken seorang manusia yang memiliki emosional. Dari sikap yang Ken tunjukkan, Ken sangat dewasa. Ken lebih memilih untuk menahan kekesalan nya sendiri, hanya untuk menghormati orang lain.
Seketika itu juga kerumunan itu saling pandang, bertanya-tanya. Tetapi akhir nya mereka mengangguk saja dan mengucapkan terima kasih sebelum pergi meninggalkan Ken dan Rea.
"Beneran?" tanya Rea ragu, memicingkan mata nya.
"Beneran apa nya?"
"Anak kelas sepuluh disuruh ke Aula?"
Cowok yang mengenakan hoodie hitam itu tertawa renyah. "Ya enggak lah, percaya amat!"
"Lah, kamu jail banget."
Ken menghembuskan napas lega, "udah gue usir mereka nya, lo masih ngerasa nggak enak lagi?"
"Hah?" mulut Rea terbuka sedikit.
"Lo nggak nyaman kan gara-gara diliatin mereka?" Tebak Ken seraya melipat tangan nya didepan d**a.
Rea mendengus, "Sok tau!"
"Eh, iya. Tadi lo keren banget dan.. Cantik!"
"Emang. Kamu nya baru bangun?"
"Lah t*i emang, gede kepala dia mah." Cibir Ken.
Rea lalu teringat akan sesuatu, lalu mendekatkan wajah nya ke wajah cowok itu. Tatapan Rea terlihat menginterogasi, dengan mata menyipit. "Kamu kok ada disini?"
Ken mendorong wajah Rea pelan dengan telunjuk nya, menjauh kan wajah Rea dari wajah nya. Bukan nya apa-apa, Ken bisa salah fokus kalau di tatap Rea dalam jarak sedekat tadi.
"Emang kenapa? Kaget? Coba mana tadi yang gagal fokus gara-gara gue liatin," goda Ken, menyenggol lengan Rea.
Rea berusaha menyangkal, cewek itu memutar bola mata nya malas. "Apasi, ge-er banget!"
"Jadi gini," Ken menahan napas. "Mobil nyokap lo tadi mogok di jalan, terus ketemu bokap gue. Lo tau gimana Papi gue, kan? Dia suka tebar-tebar pesona, ya udah akhir nya nganter nyokap lo kesini."
"Mama kemana?" tanya Rea ragu. "Tadi kok nggak ada,"
"Nggak tau, ke toilet kali. Bokap gue tadi bilang nya, sih gitu."
Rea mengangguk-angguk mengerti, menghembuskan napas berat, berkacak pinggang. "Terus kenapa kamu ikut? Emang nggak sekolah? Modus kan kamu?!"
"Enggak juga, gue diajak bokap."
Seketika itu juga Rea melotot, membuka mulut nya lebar-lebar. "Serius?"
Ken hanya mengangguk.
Rea mendengus, Desi selalu saja seperti itu. Lalu kemudian, Rea tersadar akan sesuatu hal. Kalau Rea dan Ken ada disini berdua, maka Desi dan Willy ada disana berdua pula. Ini seperti pertemuan yang menguntungkan bagi Desi dan Willy, dan Rea tidak bisa menerima itu.
Rea masih belum ingin mengijinkan Desi dekat dengan pria lain.
"Kenapa?" tanya Ken, dengan dahi mengerut.
"Ken, Mama aku lagi sama Papi kamu?" tanya Rea meyakinkan.
"Iy-- Eh?!" Ken juga baru sadar, seperti nya Willy sengaja mengajak nya ikut agar Willy bisa berduaan dengan Desi tanpa diciduk oleh Rea ataupun Ken.
Mendengar pertanyaan Rea yang menunjukkan nada kurang suka, Ken juga baru tahu kalau Rea tidak suka jika Willy mendekati Desi. Bagus lah, Ia bisa bekerja sama dengan Rea untuk menjauhkan Willy dan Desi, sekalian modus. Begitu pikir Ken.
Kedua remaja itu berlari kearah kursi penonton setelah melempar tatapan yang sulit diartikan.
"Papi!" "Mama!"
Seruan itu sedikit mengejutkan beberapa penonton lain nya, termasuk dengan Desi yang sedang bersenda gurau bersama Willy.