Origami harapan.

1954 Kata
Untuk mu yang sedang berjuang. Ujian selalu jatuh kepada orang terkuat. Takdir tidak menyukai orang lemah, yang apabila tuhan membebani pundak nya dengan sebutir pasir maka Ia akan tersungkur, menangis lalu mengadu. Skenario tuhan tidak berhenti berjalan, sampai dimana seseorang yang terkuat berada pada Fase me-RAJA. -deviamelia18_ ••• Rea membuka pelan ikatan pita merah muda dikotak yang ia pangku dengan teliti. Cewek itu mengira-ngira, apa isi dalam kotak cantik dari Ken itu. Mengapa berat kotak itu sangat ringan? Rea hanya seperti merasakan berat kotak, bungkus kado dan pita nya saja. Atau kah ini hanya lelucon Ken? Yang dimana ketika Rea membuka kotak kado nya, maka tidak ada apa-apa didalam nya. Kalau dugaan itu benar, Ken benar-benar iseng! Tetapi ternyata dugaan nya salah. Didalam kotak itu, Rea hanya menemukan sebungkus origami warna-warni yang masih tertutup rapih. Di sekitar origami itu, ada juga dua buah origami biru dan pink yang berbentuk angsa. Tetapi di sayap dua buah origami masing-masing itu tertulis 'boybird' di origami biru dan 'girlbird' di origami merah muda. Rea masih tidak mengerti, tetapi yang jelas ia sedikit geli karena bentuk kedua burung kertas itu tidak sama sekali menyerupai burung kertas. Malah lebih cenderung ke angsa atau bebek. Rea mengambil kedua burung kertas itu, lalu mengamati nya teliti. Ternyata di sepasang sayap masing-masing burung, ada sebuah harapan yang berbeda. Di burung kertas boybird, tertulis; "Gue harap, yang lagi pegang boybird ini lagi senyum-senyum sekarang!" Sudut bibir Rea tertarik ke atas, membentuk sebuah lengkungan senyuman yang indah. Rea sendiri juga tidak tahu kenapa ia bisa reflkes tersenyum setelah membaca harapan konyol Ken yang ditulis di Boybird. Selanjutnya, Rea berganti membaca girlbird tertulis; "Gue harap yang pegang girlbird ini bakal jadi manusia terkuat , meskipun dunia berbuat nggak adil sekalipun." "Apaan sih, ini bocah?" kekeh Rea geli, seraya mengembalikan Boybird dan Girlbird nya ke dalam kotak nya semula. Rea lalu beralih meraih sebungkus kertas origami dari dalam kotak, tidak ada yang aneh. Rea tidak menemukan sebuah pesan dalam kemasan nya atau sebuah harapan, sampai cewek itu membalikkan bungkusan origami itu. Sebuah kertas binder bergambar pelangi yang disambut oleh dua pasang anak laki-laki dan perempuan yang sedang berdiri di bukit rerumputan hijau sambil melambaikan tangan, seolah menyapa gambar pelangi itu. Note yang ditempel di kemasan origami dengan lakban transparan itu membuat Rea tertarik dalam sekejap. "Kennath Laurent adalah manusia biasa yang nggak sengaja jatuh cinta sama malaikat tanpa sayap bernama Rea. Bagi Ken, Rea adalah malaikat terhebat. Ken cinta Rea, tapi seperti nya sang malaikat sudah lebih dulu mencintai manusia yang lebih hebat dari Ken bernama Kasa. Ken nggak menyerah, Ken akan membuat sang malaikat siap untuk menjadi milik Ken." "Cerita yang aneh, tapi dia pintar bikin cerita sih." gumam Rea terkekeh geli. "Tapi kayak nya dia serius." Rea mengernyitkan dahi, ia masih belum mengerti. Tulisan tangan latin ken memang bagus dan rapi, bahkan melebihi tulisan nya sekalipun. Cowok itu memang terlihat sempurna, aura sempurna nya selalu bisa dilihat oleh Rea bahkan saat pertemuan pertama sekalipun. Tetapi dari kotak yang Ken berikan itu, Rea hanya bisa mencerna makna tersirat didalam nya. Bahwa Ken benar-benar serius akan ucapan nya waktu itu, dimana Ken berkata bahwa ia menyukai Rea. Rea menahan napas. Cewek itu tidak pernah menduga bahwa se kembali nya di Indonesia, ia akan mencintai seorang cowok tunanetra dan dicintai oleh cowok sesempurna Ken. Rea pusing, ia masih tidak tahu apakah ia harus senang atau malah sebalik nya. Pasal nya, Rea sudah terlanjur mencintai Kasa. Tetapi, Ken memang terlalu sempurna untuk nya. Kasa tidak selembut Ken, dia juga tidak seromantis Ken. Tetapi Rea yakin, Allah pasti memiliki alasan mengapa ia malah jatuh hati dengan Kasa. Ting! Dentingan suara notifikasi dari benda pipih di nakas kamar nya, membuyarkan lamunan panjang nya. Rea menutup kotak itu rapat-rapat setelah mengembalikan bungkusan origami sekaligus note itu kedalam nya. Rea menjangkau hape nya, lalu mengaktifkan nya dengan tombol power. Rea tidak memasang kata sandi pada hape nya, malas saja. Mengingat Rea adalah cewek pelupa, Rea hanya takut tidak bisa membuka kata sandi di hape nya seperti yang terjadi pada beberapa tahun silam dimana ia lupa digit kata sandi di tablet nya. Nggak usah neko-neko¹ lah, pikir nya. Rea menyentuh aplikasi w******p nya yang dipenuhi oleh notifikasi merah. Cewek itu sedikit menyesal telah menghidupkan data seluler nya, chat tidak penting dari adik kelas laki-laki atau kakak kelas nya memenuhi layar hape nya. Dengan sabar, Rea menyentuh lama satu per satu kontak yang menurut nya tidak penting lalu menghapus nya. Hingga jemari Rea berhenti di sebuah kontak bernomor asing, dengan foto profile sebuah burung kertas. Melihat profile itu, Rea sedikit sensitif dan teringat akan Ken. Apa itu benar-benar kontak Ken? Rea menyentuh cepat foto kontak asing itu, dengan 7 notifikasi merah. +6285xxxxxxxxx ~Kennath Lau Rea kemudian memperbaiki posisi duduk nya yang kurang nyaman, meraih sebuah bantal dan meletakkan di pangkuan nya. Kontak asing itu memang Ken, dengan nama pengguna 'Kennath Lau' di profile nya. Rea yakin, pasti maksud nya 'Kennath Laurent' seperti yang ada di Note dalam kotak milik nya dari Ken tadi. Dengan lincah, jemari Rea mengusap-usap layar hape nya. Cewek itu mengganti dan menyimpan kontak Ken, tetapi dia bingung menyimpan nya dengan nama apa. Tidak lama, Rea tersenyum cerah seolah sudah menemukan nama yang cocok untuk nama profil Ken. Ken-tang basi. Rea, gw lagi di rumah lo. 15.06 PM. Hei, ini gw.. Ken. 15.10 PM. Re, lo lg dimn sih? Gw susul ya? 15. 57 PM. gw tunggu, kok :) tapi jangan lama-lama yaaaಥ⌣ಥ 16. 15 PM. Gw udah basi nih nungguin lo,- bisa balik gak? 16.49 PM. REYA, lo cantik deh. Baca, dong! 17.03 PM. Re, gw gak akan pulang! 17.04 PM. Rea sedikit mencibir kalimat Ken, memutar bola mata nya malas. Satu kata untuk Ken saat ini, keras kepala. Lagipula untuk apa Ken susah payah memberikan hadiah ke orang yang baru-baru Ken temui, dan lagi kenapa juga Ken tidak menitipkan nya ke Desi. Cowok itu memang aneh, Rea sedikit ngeri. "Duh, mana aku belum makan lagi. Keasyikan di taman sama Kasa, sih." rutuk Rea seraya mengusap perut nya yang rata. Rea menyingkirkan bantal dari pangkuan nya, lalu berdiri dan meletakkan hape nya ke ranjang nya asal. Pokok nya, malam ini Rea harus makan nasi. Rea tidak perduli dengan berat badan nya yang akan naik, kalau ia makan makanan berkarbohidrat dimalam hari. Yang pasti Rea sudah bosan menyantap burger yang bagi nya hanya habis dalam tiga gigitan saja. Kamar Desi juga ada dilantai atas seperti Rea, bersebelahan dengan kamar Rea. Maka nya ketika Rea pergi ke dapur, ia harus melewati kamar Desi. Biasa nya, pintu kamar Desi masih terbuka karena belum terlarut malam. Tapi malam ini berbeda, pintu kamar Desi sudah tertutup rapat-rapat. Kedua alis tebal Rea terangkat, lalu memutuskan untuk mangabaikan rasa pensaran nya. Mungkin saja malam ini, Desi вenar-вenar ada pekerjaan kantor yang belum diselesaikan seperti yang ia katakan tadi saat ada Ken. Rea menuruni tangga, lalu pergi ke dapur dan membuka kulkas. Sial sekali, Rea tidak menemukan sisa makan malam. Pertanda bahwa Desi tadi belum memasak. Di kulkas hanya ada sisa adonan sore tadi dan beberapa toping messes cokelat yang memenuhi toples. Rea menghembuskan napas malas, lalu menutup pintu kulkas setelah mengambil sebuah telur. Karena Desi belum memasak makanan dan menanak nasi, terpaksa Rea hanya makan malam dengan Burger lagi. Rea membuka laci atas dapur, mengambil sepotong roti yang mengembang. Dengan teliti, dia memotong Roti itu menjadi dua bagian. Rea sudah biasa memasak burger sendiri, ketika Desi benar-benar tidak memasak. Rea menggoreng telur dengan cepat, hingga telur milik nya tidak matang sepenuh nya. Rea tahu, menggoreng telur setengah matang memang tidak baik untuk kesehatan. Rumor bahwa memakan telur setengah matang dan telur mentah bisa menyehatkan tubuh itu salah. "Sekali ini aja, deh." Gumam nya. Rea membawa sepiring burger nya yang sudah tersusun itu ke meja makan, lalu mulai menyantap nya. "Loh? Rea? Belum tidur?" tanya Desi dengan wajah awut-awutan, mata nya sedikit sembab. Rea memicingkan mata, lalu meletakkan burger nya ke piring semula sembari menelan habis sisa burger di mulut nya. Rea tidak mengerti, ada apa dengan Desi? "Mama kenapa?" tanya Rea bingung, melemparkan tatapan intens kearah Desi yang kini tersenyum lebar seraya mengusap wajah nya beberapa kali. Desi lalu mengikat rambut nya keatas, lalu duduk di meja makan bersama puteri nya. "Emang mama kenapa?" "Kok, mata mama.." suara Rea mengecil, lalu menghilang. "Kenapa?" "Oh, ini." Desi mengusap mata nya beberapa kali lagi, sambil tertawa kecil. "Nggak tau, nih. Kayak nya Mama kecapekan kerja lembur terus. Ditambah kayak nya mata Mama nggak tahan sama radiasi laptop," jawab nya. Rea memangut-mangut, walau sebenar nya ia masih ragu dengan jawaban Desi. Cewek remaja itu mengangkat burger nya kembali, lalu menggigit burger nya yang masih hangat itu dari sisi yang lain. "Kamu baru makan, ya?" tanya Desi, membuat Rea menunda untuk menggigit burger nya lagi. "Iya, mau nya diet. Tapi laper!" Desi menyibakkan angin disekitar leher nya seolah ia menyibakkan rambut nya yang sedang ia ikat dengan bangga, "Iri sama body goals Mama ya?" "Dih, mirip karung beras gitu." "Apa?!" Rea tertawa, "Mama kayak karung semen aja, deh." "SAMA AJA!" Geram Desi seraya menggulung piyama nya sampai ke siku."Udah, deh. Mama mau bikin kopi, abisin burger nya!" Rea menatap Desi yang berdiri dari tempat nya, cewek itu memakan potongan burger terakhir nya lalu ikut berdiri. "Mau lembur lagi, Ma?" "Iyaa!" sahut Desi dari dapur. "Nggak capek apa?" "Yaa.. Mau gimana lagi!" Rea tidak mengatakan apa-apa lagi, ia mengambil segelas air dan membawa nya ke kamar nya. Biasa nya, Rea selalu bangun tengah malam karena haus. Entah lah, sudah sering terjadi sejak kecil. Biasa nya, Daniel yang membawa nya minuman. Rea kecil dulu hanya tinggal berteriak memanggil Daniel saja. Tapi sekarang Daniel sudah tidak ada, tidak mungkin juga Rea mengganti tugas Daniel ke Desi. Ia tidak mau membebani Desi lagi. Rea menutup pintu kamar nya, lalu meletakkan segelas air itu ke meja kamar. Cewek itu mulai memikirkan Desi, ia baru sadar ternyata Desi sangat bekerja keras untuk menghidupi nya sekaligus diri nya sendiri. Dulu memang Rea ditampung dengan keluarga Om Radit nya itu di Prancis, untuk Sekedar meringan kan beban Desi. Tetapi Rea baru sadar bahwa Desi terlalu keras bekerja untuk nya. Sebagai single parent, dia sudah terlalu berat menanggung beban hidup sendirian. Apa mungkin udah waktu nya aku ngebolehin Mama nikah lagi? Pikiran itu muncul tiba-tiba. Kalau Desi menikah lagi, tentu sang Mama tidak akan bekerja terlalu keras lagi. Semua nafkah ditanggung oleh kepala keluarga, dan Rea tidak akan melihat Desi kelelahan lagi. Tetapi kenapa rasa nya sakit saat Rea mengingat Daniel, sang Papa. Kemudian, Rea meraih kotak dari Ken lalu membuka isi nya. Cewek itu mengeluarkan selembar kertas origami berwarna kuning, ia tiba-tiba saja ingat akan ucapan Ken tentang pesawat kertas harapan. Jemari Rea begitu kaku melipat bagian-bagian kertas origami. Rea tidak tahu bagaimana cara nya membuat sesuatu dari kertas origami. Yang Rea bisa hanya lah melihat nya menjadi bentuk persegi saja. Rea mengambil hape nya, membrowsing langkah-langlah membuat pesawat kertas. Seperti nya terlihat tidak cukup rumit, tetapi saat Rea mencoba nya memang tidak semudah kelihatan nya. Walaupun begitu, pesawat kertas pertama nya sudah jadi walau tidak serapi yang ada di contoh gambar layar hape nya. Rea menggapai sebuah laci, menarik nya dan mencari spidol hitam dari sana. Rea lalu mengambil sebuah bantal dan meletakkan nya di pangkuan sebagai ganti meja untuk menulis. "Aku harap, tentang segala yang terbaik buat Mama. Aku ingin Mama bahagia, dia udah terlalu cukup menderita." Singkat nya, Rea menerbangkan pesawat kertas itu lewat balkon kamar nya. Ia berharap pesawat kertas itu akan terbang lebih dari 10 detik, seperti yang dikatakan Ken waktu itu. Pesawat kertas Rea terbang dibawa angin, meluncur dengan perlahan. Rea tersenyum sembari menghitung dalam hati. Hati nya sedikit rileks dan tenang setelah menerbangkan pesawat kertas itu. "Ken benar, ini menyenangkan." #tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN