Kiss

2004 Kata
"Terkadang, gue benci dimana gue harus terlihat lemah didepan lo." -Kasa. • Jangan Salfok sama titlle nya, okay :")) ••• "Mau kemana?" tanya Desi sambil melanjutkan menggulung adonan diatas Telenan, menatap kearah Rea sekilas yang sedang mencari-cari sesuatu. "Ke taman," Jawab Rea tanpa menoleh kearah Desi sedikit pun. Cewek yang sekarang ini mengenakan kemeja berlengan sepertiga dan celana pendek hitam itu masih sibuk menggeledah nakas dapur dengan mata jelalatan. Gusar, Cewek berbando bintang berwarna kuning itu menendang pelan nakas didepan nya. "Nyariin apa, sih?" tegur Desi jengah. "Jangan kasar kenapa, sih." "Bedak bayi Rea nggak ada, Ma. Perasaan tadi pagi pas mau berangkat ke sekolah Rea taruh disini, tapi sekarang nggak ada." Ujar Rea gusar. Desi mencuci tangan nya di wastafel dapur, mengeringkan tangan nya dengan lap kering. Wanita itu mendekati nakas dapur, membantu mencari apa yang Rea maksud. "Lagian kenapa ditaruh didapur? Kamu aneh-aneh aja, deh." omel Desi geram. "Ya tadi pagi Rea mau buru-buru ambil minum dikulkas sambil bawa bedak, terus nggak sempet balikin ke kamar soalnya telat." Sanggah Rea. "Akhir-akhir ini kamu sering ke taman?" Rea mendadak bungkam, ia sudah tidak berniat lagi mencari bedak bayi nya. Sekarang Rea hanya Menginginkan Desi menghilang didepan nya, atau Desi melupakan pertanyaan nya. Kan malu juga kalau Rea menjawab bahwa Rea ingin bertemu dengan Seorang Kasa. "Karena lo suka dia?" Pertanyaan Ken kemarin membuat Rea syok setengah mati. Bagaimana bisa Ken menanyakan hal yang membuat Rea sensitif seperti itu? Lagipula mustahil juga, kan? Mungkin saja Kasa hanya tidak ingin berbagi teman ke pada orang lain. Kasa sendiri juga pernah bercerita bahwa Kasa selalu dipandang miring oleh kebanyakan orang. Mungkin Kasa merasa tidak mau saja kehilangan Rea yang notabene nya adalah satu-satu nya TEMAN. masuk akal kan? "Ma, Rea pergi langsung aja deh." Ujar Rea gugup, nyengir lebar. Desi mengernyitkan dahi, berpikir keras dengan tatapan curiga. "Loh, kenapa?" "Nggak, nggak apa. Lagian aku udah buru-buru," Desi lalu paham dengan gelagat Rea, lalu menunjuk Rea dengan tatapan memicing iseng. "Mau ketemu cogan, ya?" Rea memutar bola mata nya malas. Demi apa, Rea selalu ingin lari dari hadapan Desi kalau Mama nya itu mengungkit-ungkit 'Cogan' didepan Rea. Rea paham kalau Desi hanya bercanda saja, tapi tetap saja Rea jadi sedikit sensitif. Terlebih ketika Rea sadar bahwa Kasa juga termasuk Tipe Cogan yang dimaksud Desi. Eh?? Rea membulatkan mata. "Mama aja sana sama Om Willy!" Ketus Rea membalas. "Beneran, nih? Mama boleh kawin lagi?" Pertanyaan itu dibalas dengan tatapan menusuk dari Rea. Pasal nya, Rea selalu Agresif dengan kata 'menikah'. Rea adalah alasan Desi tidak mau menerima kehadiran laki-laki lain selain Daniel. Desi tahu, Rea mencintai Daniel karena mendiang suami nya itu selalu memanjakan Rea. Desi tidak mau melihat Rea hancur untuk yang kedua kali nya, tepat ketika Daniel pergi dan tidak akan pernah kembali. "NGGAK!" ••• "Kasa!" Panggil Rea semangat, setelah cewek itu menolehkan kepala nya ke kanan-kiri mencari Kasa. Seorang Cowok mengenakan earphone nya, dengan kacamata hitam nya yang sudah tidak asing lagi dengan Suara itu menoleh kearah sumber suara. Kasa melepaskan sebelah earphone nya, untuk memastikan pendengaran nya. Cowok itu mendengar sayup-sayup suara Rea diantara nada lagu yang Kasa putar. Antara iya atau tidak, Kasa memang terlalu sensitif ketika mendengar suara Rea. "Hai!" Sapa Kasa tidak kalah semangat, ketika suara derap langkah sepatu kets mendekati nya dari tempat prediksi Kasa dimana Rea berdiri. Rea mengulum senyum ceria, ketika cowok itu tersenyum lebih dahulu kearah nya. Senyuman Kasa memang tidak pernah membuat Rea bosan, Kasa memang sempurna bagi Rea. Mungkin Iya, Pikir Rea yakin. Aku nggak mau bohong lagi, aku emang suka sama Kasa. Aku tau, Kasa juga suka sama aku. "Duduk disini." Tanpa menoleh kearah Rea, Kasa menepuk tempat duduk disebelah nya setelah mengusap tempat duduk disamping nya itu, bermaksud membersihkan tempat duduk itu untuk Rea. "Heh?" Kasa bersuara lagi. "Diem-diem bae!" "Iya, santuy aja ngapa." Rea menurut, Cewek itu merasa d**a nya berdesir hebat. Kalau dipikir-pikir, Kasa belum pernah memperlakukan Rea sebegitu manis nya. Tanpa Kasa sadari, Rea memalingkan wajah nya tidak kuat. Cewek itu meremas ujung kemeja nya sendiri, menahan senyuman nya agar Kasa tidak curiga. "Kasa.." Suara Rea entah kenapa tertahan, tidak seperti biasa nya. "Apa?" ".. Nggak, deh. Hehe," Dahi Kasa berkerut, lalu akhir nya memangut-mangut. "Oke." Rea menahan napas nya, merutuki kebodohan nya sendiri. Bagaimana bisa ia berlaku bodoh didepan Kasa, kalau Kasa il-feel bagaimana? Cewek itu menepuk dahi nya sendiri pelan. "Oh iya," Suara Kasa menyadarkan pikiran Absurd Rea. "Soal kemarin ditaman, gue.. Minta maaf." "Kenapa minta maaf?" tanya Rea tidak mengerti. "Ya, buat.." Tiba-tiba suara Kasa hilang, dengan bibir kelu. "Pokok nya minta maaf aja, lo harus maafin gue." "Kok maksa?" Sungut Rea memprotes. "Tapi serius, Re." Kata nya memberi jeda. "Gue emang nggak suka sama dia." Blush! Dia cemburu? Tanya Rea senang dalam hati. "Ken?" Kasa mendengus jengkel. "Mau dia Ken, kek. Kan, kek. Kun, kek." "K-kenapa?" tanya Rea basa-basi. Rea pikir, ia perlu memastikan alasan Kasa secara langsung. "Soalnya.." Kasa menyeringai lebar. "Gue yakin tampang nya nggak ada apa-apa nya sama gue. Lo nggak usah deket-deket sama orang jelek, nanti ketularan loh!" Sebentar.. Sebentar, Rea berpikir sejenak. Ada tanda seru di kalimat Kasa. "Lo nggak usah deket-deket sama orang jelek, nanti ketularan loh!" "Nanti ketularan loh!" Entah kenapa di telinga Rea, suara Kasa malah berubah menjadi; "Nggak usah deket-deket sama orang jelek, nanti cantik nya luntur jadi jelek loh." Klarifikasi dari kalimat Kasa barusan adalah, Kasa berkata bahwa Rea cantik. "Diem lagi lo, monyet!" Dengus Kasa lagi. Rea mengerlingkan mata nya iseng. "Aku cantik nggak?" "Ya mana gue tau! Gue kan But-" Sedetik kemudian, Rea menyentuh kedua tangan Kasa dan menuntun nya ke arah wajah nya. Cewek itu membawa sentuhan jemari lentik Kasa mulai dari pipi nya. Merasakan gerakan jemari Kasa sendiri, Rea berinisiatif untuk melepaskan tangan nya dari jemari Kasa seolah memberikan cowok itu kesempatan untuk meraba wajah Rea sendiri. Suasana Taman memang cukup ramai, namun biasa nya saat sore hari taman hanya dipenuhi oleh anak-anak. Berbeda dimalam hari, taman menjadi tempat umum orang-orang bermesraan bersama pasangan masing-masing. Ibu jari Kasa menyentuh dahi Rea yang lembut, refleks Rea memejamkan kedua mata nya. Cowok itu tidak berkata apa-apa selain membawa jemari nya menjelajah ke wajah Rea. Kemudian, jemari Kasa turun ke alis tebal Rea sekaligus kedua mata Rea dengan bulu mata lentik nan panjang. Cowok itu kemudian mengalihkan jemari nya ke pipi cewek itu, sedikit chubby. Rea mulai membuka mata, ketika jemari Kasa mulai sampai di hidung runcing nya lalu turun perlahan ke bibir tipis Rea. Jemari Kasa berhenti tepat di bibir Rea, mengusap nya lama. Semakin lama, Rea menjadi canggung sendiri. Cewek itu merasakan kedua pipi nya yang memanas. Padahal Rea sendiri yang lebih awal menuntun tangan Kasa untuk menyentuh wajah nya. Cantik, Batin Kasa. Kasa menjauhkan jemari nya dari wajah Rea, lalu tersenyum renyah. "Mirip kuntilanak!" "Lah? Ngeselin!" Rea memukul lengan Kasa tiga kali, lalu mencebikkan bibir nya sewot. "Orang mirip Selena Gomez gini dibilang kuntilanak." Kasa tertawa lebar, "Becanda, kok. Iya iya--Lo cantik!" "Lah? Nggak ikhlas gitu jawab nya." "Iyaa, Lo cantik!" "Tuh, kan.. Masih keliatan nggak ikhlas." Kasa mengambil napas banyak-banyak, "Iyaaaa, Lo cantiiiik banget!" Rea tersenyum puas, "Makaci, Kaca!" "Kaca? Cermin sekalian." "Hahaha, Lucu!" Rea tertawa dibuat-buat. "Lah? t*i dasar." Rea tidak berhenti tersenyum. Fakta Memang pernah berbicara bahwa kita tidak akan pernah bisa berhenti tertawa setiap didekat orang yang kita cintai. Dan Rea sudah membuktikannya hari ini. "Mulut kamu wangi banget, ya? Pake odol apaan?" tanya Rea iseng, sekaligus penasaran sih. Kasa tersenyum tipis. "Lo mau?" "Mau apa?" tanya Rea bingung. "Kiss," Blush Rea merasakan kedua pipi nya memanas, mendengar jawaban Kasa. Kasa benar-benar kelewat m***m. "Heh? Kok diem? Mau nggak?" Sebelum Rea membuka mulut nya, Kasa sudah menyodorkan tiga bungkus permen dari saku celana nya. Tiga bungkusan kecil dengan kemasan berwarna merah, bertuliskan 'Kiss' di kemasan depan nya. Cewek itu melotot, mendadak ia jadi salah tingkah sendiri karena telah berpikiran buruk tentang Kasa. Jawaban Kasa yang terdengar Ambigu itu memang akan membuat siapa saja bisa berpikiran yang sama dengan Rea. "K-kiss?" Suara Rea mendadak mengecil. Kasa mulai memikirkan kalimat nya, lalu kemudian terbahak-bahak mengerti. Cowok itu tidak percaya kalau Rea bisa memiliki pikiran yang seperti itu. "Oh, jadi lo mau Kiss yang beneran?" ••• "Makasih, Kasa!" Seru Rea dengan wajah sumringah setelah dirinya dan Kasa sudah sampai didepan rumah nya. Padahal Rea sangat berharap kalau waktu berhenti saat Kasa mengantar nya pulang tadi, terdengar modus sih kalau Rea mengemukakan alasan nya bahwa ia hanya ingin berlama-lama dengan Kasa diperjalanan pulang menuju rumah nya. "Sama-sama, gue pulang duluan ya." "Iya, hati-hati. Kalo nanti ada kunti, kamu langsung ajak kawin ya? Hahaha!" Ujar Rea asal, lalu tertawa lebar. Kasa tersenyum renyah, "Iya, kalo lo kunti nya." Blush! Kalo deket Kasa terus, lama-lama bisa bikin aku mati jantungan nih. Batin Rea seraya memegangi d**a nya. "Baper mbak nya?" goda Kasa, tersenyum puas. "Iya, Aku laper." "Receh, kunyuk." Kedua insan tersebut tertawa serempak. "Gue pulang deh, dah!" Rea tersenyum ketika Kasa mulai melangkah pergi menjauh. Cewek itu menatap punggung Kasa yang semakin menjauh, hingga punggung Kasa mulai menghilang. Rea menghembuskan napas panjang, hari nya bersama Kasa kali ini terasa lebih istimewa. Rea semakin yakin, Kasa juga memiliki perasaan yang sama terhadap nya. Mungkin saja, Kasa masih belum siap untuk mengungkapkan nya. Tapi tidak apa, Rea bertekad menunggu nya. Kalau perlu mengungkap kan perasaan nya lebih dahulu. Rea terkekeh memikirkan nya. "Assalamualaikum, Ma." Sahut Rea seraya membuka pintu rumah nya. Kedua mata Rea tidak sengaja mengarah ke seorang cowok seumuran nya, yang kini juga menatap nya lembut. Rea membeku ditempat nya, apa dia salah rumah? Seperti nya tidak. Nafas Rea tertahan, mata nya menyipit untuk memperjelas pengelihatan nya. "Ken?" "Halo," Ken berdiri dari tempat duduk nya, lalu tersenyum. Di waktu yang sama, Desi muncul dari dapur membawa setoples nastar keju. Mungkin niat nya untuk cowok yang sedari sore tadi menunggu Rea hingga malam begini. Desi mendekati Rea dengan wajah garang. "Ken dari tadi nungguin kamu sejak sore, nggak dibaca ya w******p nya Ken?!" omel Desi. "Loh? Ken kan nggak punya nomor--" "Tadi Mama kasih buat nge-hubungin kamu. Tapi kamu nya nggak bales-bales, bahkan baca aja nggak." "Lah maap, Hape Rea dikamar. Nggak Rea bawa, Ma!" "Minta maaf ke Ken!" Ken mendekati kedua ibu-anak yang sedang beradu mulut itu. Merasa tidak enak, Ken mulai angkat suara. "Tante, nggak apa-apa. Salah Ken juga kesini nya nggak bilang-bilang dulu," Ucap Ken menengahi, membela Rea. "Iya, Ma! Salah Ken juga kenapa dia nggak--" Desi buru-buru menutup mulut Rea yang berkicau semangat 45 ketika ada pembelaan atas diri nya. "Rea, gue kesini mau ngasih ini aja sih. Jangan dibuka sekarang ya, Gue nggak tau lo suka apa enggak." Ken menyodorkan sebuah kotak kado bergambar Unicorn dengan pita pink diatas nya, dengan senyuman tulus. Desi sontak melepaskan bekapan tangan nya dari Rea, lalu membuang muka seolah ia tidak melihat kearah kedua remaja didepan nya. "Lalala, Kayak nya ada kerjaan didalam deh." Gumam Desi, lalu sengaja meninggalkan kedua nya. "Ma!!" Rea memanggil Desi. Aduh, situasi apa lagi ini!! Batin nya kesal. "Gue pulang ya," Kata Ken akhir nya, setelah ia memberikan kotak berlapis kertas kado itu ke tangan Rea. "Assalamualaikum." Rea tidak bisa berkata apa-apa, ia menahan lengan Ken ketika cowok berjaket Biru laut itu hendak melangkah pergi. Ken menoleh kearah Rea, tanpa pernah menghilangkan senyuman nya. "Kenapa?" Rea menelan saliva nya susah payah, "Aku kan--nggak ulang tahun," "Hahaha," Ken tertawa ringan. "Iya, gue tau. Tapi ngasih hadiah nggak harus nunggu lo ulang tahun dulu, kan?" "I-iya, sih. Tapi kenapa ngasih ini ke gue? Terus ini apaan? Jangan-jangan Bom ya!" Sengaja, Rea berusaha berkata konyol untuk mencairkan suasana yang kurang nyaman untuk nya. Ken lagi-lagi tertawa kecil, "Kan gue udah bilang pas pertemuan pertama kita, Gue suka sama lo. Serius! Dan tenang aja, Bom didalam nya nggak berbahaya kok. Paling cuman ngeledakin perasaan lo aja," Rea menyipitkan mata, mengerjap beberapa kali. "Soalnya, kayak nya gue suka sama lo." Ingatan itu refeleks muncul dengan sendiri nya, Rea lalu menggelengkan kepalanya tidak percaya. Apa Ken serius? Tapi kenapa secepat ini? "Gue pulang ya, selamat malam!" # Tebece.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN