About Love

1647 Kata
"Ketika aku merasa takut kehilangan mu dengan hadir nya, Ketika aku harus menutup mata ketika dia mampu membuat mu tertawa lebih lebar. Apa itu Cemburu?" -Kasa. • Play Now: Cinta luar biasa? ••• "Karena lo suka dia?" "Lo? Suka sama dia?" "Karena lo suka dia?" "Karena.. Lo.. Suka.. Dia?" Kasa menarik rambut nya depresi, lalu mengacak nya hingga berantakan. Cowok itu membuka kacamata nya, hingga anak rambut nya menutupi sebagian wajah nya. Kasa menyisir anak rambut nya dengan jari keatas, hingga wajah nya terlihat dengan jelas. Bibir tipis memerah, kulit putih pucat, hidung runcing, pipi tirus.. Mata cokelat bening yang indah dengan bulu mata panjang dan lentik. Kasa menyentuh dahi nya, memejamkan mata lelah. Hati Kasa tidak tenang, memikirkan kata-kata Cowok yang Kasa anggap sebagai Cowok sialan sedunia. Ken, cowok sok itu membuat Kasa gelisah setiap Rea bersama nya. Kasa masih ingat kejadian kemarin, dimana saat ia berniat menghampiri Rea dengan mengagetkan nya. Namun ia mendengar suara langkah kaki yang mendekati Rea, disusul suara cowok asing yang membuat langkah Kasa terhenti. Kasa berjalan mundur beberapa langkah, ketika ia mendengar ucapan Ken yang terdengar menggoda Rea. "Jangan pergi, Cinde-Rea.. Kamu milik ku," Mengingat nya saja langsung membuat rahang Kasa mengeras. Seenaknya saja dia mengklaim bahwa Rea adalah milik nya. Walau sebenar nya Kasa tahu bahwa Ken tidak benar-benar serius mengucapkan nya didepan Rea, tetap saja Kasa tahu bahwa Ken seperti nya menyukai Rea. Tapi.. Apa yang salah? Kasa tidak mengerti, kenapa ia bisa sekesal ini. Toh Rea bukan kekasih nya atau tunangan nya sekalipun. Tangan kekar Kasa meremas rambut nya sendiri, lalu bangkit dari meja dan kursi belajar nya. Kepala nya pusing, dengan hati tidak tenang. Kenapa di keadaan seperti ini, Kasa malah menakutkan suatu hal. Kasa takut kehilangan Rea. "Ya allah, gue beneran suka sama Rea ya?" Cicit Kasa pelan. "Kalo iya, kenapa gue seposesif ini.." Perlahan-lahan, Rea mengangkat tangan nya perlahan. Jemari lentik nya menyentuh ke arah kelopak mata nya, Cowok itu memejamkan mata seolah menikmati sentuhan jemari nya sendiri. "Aden?" suara Mbok Inah diikuti ketukan pintu dikamar Kasa, membuat Cowok itu langsung mendekati meja belajar nya. Kasa meraba-raba meja, mencari kacamata hitam nya. Kasa memang berusaha untuk tidak memperlihatkan kedua mata nya, dia sedikit risih. Sejak dia mendapat kan sambutan dari beberapa anak sekolah reguler dimana mereka berkata bahwa mata Kasa tidak berguna. "Punya mata cakep, tapi gak bisa liat." "Ga guna! Bongkar aja tuh mata." Kasa memegangi d**a nya yang sesak setiap kali mengingat kejadian menyakitkan itu. Rasa nya, ucapan mereka menulikan telinga Kasa. Suara mereka seolah menjadi pisau yang menyayat telinga nya hingga menjadi bongkahan kecil. Ceklek Kasa membuka pintu. Cowok itu tahu bahwa Mbok Inah ada didepan nya, dengan bau minyak kemiri khas nya. Sejujur nya Kasa suka dengan bau harum Mbok Inah, bahkan sesekali Kasa tidak jarang meminta secara terang-terangan minyak kemiri yang Mbok Inah punya. "Den, Bu Sandra udah nunggu di ruang tamu." Ucap Mbok Inah semangat, dengan penuh kelembutan. Kasa mengangguk, mencoba untuk tersenyum paksa. "Kasa bakal kesana." "Iya, jangan lama-lama ya." Kasa tidak menjawab. Cowok itu hanya mengangguk lalu menutup pintu seolah menganggap bahwa Mbok Inah sudah pergi. Padahal Kasa tahu bahwa Mbok Inah masih ada didepan kamar nya. Kasa juga tahu, setiap Kasa menuruni tangga untuk menemui Sandra, Mbok Inah selalu mengikuti langkah Kasa dari belakang hanya untuk memastikan bahwa Kasa akan baik-baik saja. Itu adalah permintaan dari Kirana, Bunda nya. Walau sudah beberapa kali Kasa meminta kepada Mbok Inah untuk tidak mengikuti nya, karena cowok itu seolah ditampar oleh kenyataan bahwa diri nya bukan lah cowok remaja normal yang bebas melakukan apa saja. Dia berbeda, dia cacat. Tetapi seperti nya Mbok Inah tidak menggubris perintah Kasa yang berbalik dengan perintah Kirana. Wanita karir itu bahkan meminta Mbok Inah mengawasi Kasa kemana pun dengan diam-diam, ke taman atau ke toko buku sekalipun. Tapi Mbok Inah tidak mengerjakan begitu saja apa yang diperintah kan Kirana, untuk mengawasi tuan muda nya dengan urusan pribadi Kasa. Mbok Inah tahu, bahwa Kasa berbeda dari tunanetra lain nya. Kasa remaja yang cerdas, meskipun Kasa memiliki keterbatasan tidak seperti remaja normal lain nya. Mbok Inah percaya, Kasa cukup pintar untuk mengetahui bahwa Mbok Inah mengikuti Kasa atau tidak. Entah darimana Kasa tahu tentang apa yang terjadi disekeliling nya dengan kondisi buta seperti itu, yang Mbok Inah tahu Kasa adalah remaja berketerbatasan yang berbeda. Bruk! Kasa menendang sesuatu di karpet kamar nya, Cowok itu membungkuk untuk meraih benda persegi yang berada di ujung sepatu ringankuljas Dengan sekali raih-an, cowok yang mengenakan kaus hijau tosca tanpa gambar itu sudah mengambil benda yang menjadi penyebab Kasa tersandung tadi. Kasa menyentuh tekstur benda berbentuk persegi panjang bervolume itu pelan, meraba dengan detail. Tidak lama, cowok itu akhir nya sudah merasa tidak asing lagi dengan apa yang ada di tangan nya. Radio mini lama milik nya, yang merupakan hadiah dari Kirana saat Kasa pertama kali masuk ke SLB. Kasa memang selalu merawat benda itu. Cowok itu sudah tidak memakai radio mini nya sejak Kirana mengganti nya dengan sebuah handphone android terbaru, lengkap dengan dua earphone baru. Tetapi karena Kasa memang jarang mengenakan android nya, Cowok itu hanya sesekali saja membawa nya ketika ditoko buku contoh nya. Ketika membaca, Kasa cenderung menyukai ketenangan. Tetapi karena terkadang suasana toko buku terdengar ramai di telinga nya, Kasa memilih untuk memutar musik dengan earphone milik nya agar tidak mengganggu pengunjung lain nya. Semalam Kasa memang berniat mengganti baterai radio mini nya, barangkali Radio usang itu bisa hidup kembali. Tetapi seperti nya, Radio yang menemani nya bertahun-tahun itu memang rusak parah hingga tidak bisa menyala meskipun Kasa sudah mengganti baterai nya beberapa kali. Mungkin semalam Kasa lupa menyimpan kembali Radio itu ke laci kamar nya, karena semalam Kirana mengetuk pintu kamar Kasa seperti biasa hanya untuk memastikan bahwa putera semata wayang nya sudah terlelap. "Allah ngambil mata kamu dan kamu nggak marah?" Ingatan Kasa tentang Rea kecil 12 tahun lalu muncul tiba-tiba ketika cowok itu hendak menyimpan Radio mini nya di laci meja. Kalau tidak salah, Kasa kecil membawa radio milik nya ketika ia dan Rea kecil bertemu ditaman. Kasa tersenyum pahit, menghela napas. Gue marah, kok. Gue belum siap tinggal di dunia tanpa cahaya. Tapi gue berusaha buat nggak nunjukin kelemahan gue didepan orang, yang bakal semakin ngebuat gue sakit dan kecewa. ••• "Ken, kamu nggak mau nemenin Papi sarapan?!" tegur Willy setengah berteriak, sembari membalikkan letak piring yang terlungkup dimeja makan. Ken yang mendengar teriakan nya dari dapur hanya memutar bola mata nya malas, "Gak, Males!" Cowok yang memiliki tinggi sekitar 175 Cm itu membuka kulkas, mengambil sebotol air mineral didalam nya dan menutup pintu kulkas kembali. "Mas Ken mau Bibi buatkan sesuatu? Barangkali nggak suka sama sarapan nya." Sahut seorang wanita yang berumur sekitar setengah abad itu seraya menuangkan teh kedalam dua cangkir kecil. Ken meneguk air terakhir di botol yang cowok itu pegang, lalu tersenyum tipis kearah Asisten Rumah Tangga nya. "Nggak, Kok. Ken lagian suka sama sarapan nya," "Ya terus kenapa nggak mau makan sarapan nya?" Raut wajah Ken mendadak jengkel, melipat kedua tangan nya didepan d**a. "Ken lagi males sama Papi tuh, Bi! Nggak ngertiin banget mau nya Ken gimana." Wanita asal kampung dengan rambut mulai memutih yang biasa disapa akrab dengan Bi Lilis itu terkekeh pelan, hingga mata nya mulai menyipit. "Berantem aja terus Mas nya. Kenapa lagi, sih?" tanya Bi Lilis seraya menggeleng-gelengkan kan kepala nya beberapa kali. "Terus kenapa nggak pake seragam sekolah nya?" "Ken males sekolah, males sama Papi, males sarapan sama Papi, males ngomong sama papi!" Bi Lilis menyentuh pundak Ken yang memang lebih tinggi dari nya dengan berjinjit, mengusap nya beberapa kali. "Tuan Willy bikin Mas Ken kesel?" "Gimana gak kesel coba, Bi? Masa Papi suka sama Tante Desi salah satu tetangga baru kita?" Bi Lilis tertawa pendek, "Bukan nya udah biasa ya, Tuan suka sama banyak Wanita?" "Iya, Bi. Tapi masalah nya Tante Desi itu mama nya cewek yang Ken suka!" "Ciye.. Curhat!" Willy bersedekap d**a, dengan suara yang tiba-tiba membuat Ken sedikit terjengkit kaget. "Papi ngikut aja, apaan sih!" "Jadi itu yang bikin kamu males sama Papi?" Ken terdiam, hanya menatap kearah lain. "Sesuka itu ya Ken sama anak nya Bu Desi?" tanya Willy dengan kerlingan mata, menggoda. Pria itu mengusap-usap kerah kemeja nya lalu bergumam. "Yah, apa boleh buat. Kali ini aja, deh." ••• "ANJING, ITU JOKO?!" "WAAA, AMBIL MATA GUE!! MANA TAHAN, BANG!" "k*****t, JOKO MIRIP OPPA KANG DANIEL!" "YA ALLAAH, MAS JOKOO.. INI BINI LO, BANG!" "NYESEL GUE GAK MAU JADI CINDERELLA, a***y!!" Teriakan paling keras dari mulut Vera itu disusul dengan jeritan siswi-siswi 11 IPA 2 yang histeris melihat Jaka mengenakan seragam ala Prince dari kerajaan. Cowok yang mendapat respon 'dahsyat' itu mati-matian mencoba berdiri dengan kaki gemeteran. Teriak-teriakan histeris itu benar-benar membuat Jaka sedikit 'ngeri'. Apalagi Siti, cewek yang dikenal pendiam dikelas juga ikut-ikutan meneriaki nama Jaka dengan heboh. Jaka meringis, padahal Jaka belum mengenakan seluruh kostum nya. Hanya mengenakan mahkota pangeran dengan gaya rambut yang diubah total oleh Dinda, cewek feminim berstatus ketua kelas yang mahir dalam bidang make up. Kalau biasa nya Jaka dipandang miring oleh seisi siswi kelas, sekarang Jaka malah dipuja-puja sedemikian rupa. Baru saja Jaka keluar dari kelas yang sekarang dipakai sebagai ruang make-up dan kostum, siswi-siswi kelas nya sudah berteriak heboh memuja nya. Bahkan sekarang siswi dari kelas sebelah juga ikut mengumpul, membaur menjadi satu. Ceklek Dinda keluar dari kelas paling terakhir setelah mendadani Jaka. Penampilan Sang ketua kelas itu tampak awut-awutan dengan hidung sedikit memerah bekas darah mimisan. Dinda menatap sekeliling nya, siswi-siswi yang kini berteriak memanggili Jaka. Sumpah, Jaka seperti seekor tikus yang terjebak di ribuan Kucing kelaparan. "Dinda lo kok pucet gitu? Lo kenapa?!" Dinda menatap kearah teman-teman nya dengan gemetaran, tersenyum paksa. "Lo mimisan lagi tuhh!!" Cindy menunjuk hidung Dinda. "Kalian liat Jaka bentar aja udah teriak-teriak semaput gini, apalagi gue yang dandan in dia berjam-jam seruangan. MANA GUE TAHAN, YA RABB!!" Seketika, Mimisan Dinda semakin deras. #tebece
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN