"Sudah lah, jangan pendam seperti itu. Katakan kepada ku, tentang semua yang kamu rasakan. Aku tahu, kamu sedang tidak baik-baik saja."
•••
Happy reading :)
Abaikan typo, baca pelan-pelan.
Supaya baca nya semangat, ubah tampilan wp dengan cara klik tanda 'Aa' di layar atas nya dan ubah warna tampilan wp sesuai keinginan supaya nggak bosan dengan tampilan yang itu-itu aja :"D (Ex: Black)
•••
"Hahaha!!"
Gelegar tawa siswi dari dari kelas 11 IPA 2 seolah meriuhkan keadaan sekolah. Di jam pelajaran seperti ini, kelas memang tidak aktif pelajaran ketika ada hari besar atau perayaan nasional seperti acara Agustusan seperti ini. Hal itu tentu membuat hampir semua siswa/i bersorak gembira, seolah mereka baru saja memenangkan kuis dengan hadiah liburan ke Hawaii.
Tetapi bagi murid-murid, bahagia itu cukup sederhana. Pergi kesekolah dengan tanpa pelajaran, bebas tugas dan yang lebih penting adalah mendapat uang saku seperti hari aktif biasa.
Rea mengerucut kan bibir sebal ketika ia selesai menceritakan kejadian kemarin, saat Jaka datang kerumah nya. Awal nya memang Rea berniat bercerita ke Vera, namun kemudian Farah ikut nimbrung, lalu ditambah Cindy dan Dinda, lalu akhir nya tanpa Rea sadari semua siswi dan beberapa Siswa yang ingin tahu sudah melingkar di meja Rea.
Adam, cowok yang kata nya 'setengah matang' itu tertawa paling keras membuat siswi disekitar nya menatap Adam muak. Kelihatan nya, Adam mulai merasa tidak nyaman ditatap oleh cewek-cewek disekitar nya. Akhir nya Adam memilih melangkah pergi, dengan cengiran kuda nya.
Namun diantara semua siswi yang tertawa keras, seseorang yang paling bahagia ada Vera. Tentu saja, dia merasa sangat beruntung telah menolak peran terkutuk itu.
"Alhamdulillah yaAllah, engkau telah menyelamatkan ku.." Vera menenggadahkan wajah nya.
"Tapi.. Apa gara-gara itu ya si Joko absen kelas hari ini. Hahaha!" Tawa Cindy mengejek, diikuti celotehan beberapa siswi dibelakang nya.
"Kalian nggak ngerti, sih. Joko itu malu-maluin, dia itu--"
"Gue kenapa?"
Tiba-tiba saja, siswi yang bergerombol di meja Rea menyingkir dan memberi jalan untuk Jaka yang ternyata sedari tadi ditempat nya. Jaka seperti nya sengaja mendengar kan Ucapan Rea sampai selesai.
Jaka menatap satu per satu siswi disekeliling nya dengan tatapan menusuk, kelihatan sekali bahwa Jaka kesal dan penuh emosi.
Rea hampir saja tersedak saliva nya sendiri, begitu pun dengan Vera. Mulut Rea membuka sedikit, lalu melempar tatapan nya ke arah lain guna menghindari tatapan Jaka. Rea tahu bahwa Jaka marah karena ia menceritakan 'aib' Jaka kemarin.
"Twinkle twingkle little star.." senandung nya seolah tidak terjadi apa-apa.
Tetapi kemudian, reaksi Jaka nyata nya diluar dugaan. Rea merangkul Rea sok akrab, membuat Rea tersenyum paksa.
Jaka menarik pipi Rea gemas, tertawa renyah. "Ngemeng apaan lo, tuan puteri?"
"I-itu, Hehe.. Aku cuman becanda. Iya kan semua nya?" Rea melirik kearah teman-teman nya dengan senyuman lebar, dibuat-buat tentu nya.
Satu per satu, mereka semua mengangguk bergantian kemudian terkekeh kecil.
"Kata Rea, kemarin lo kerumah nya ganteng banget!"
"Bener, Jok! Gue jadi nggak percaya loh, berhubung Rea yang bilang ya udah gue percaya.";
Farah mengeluarkan hape nya, jemari nya mengusap layar hape nya lincah. "Ap-det sta-tus, @Mahardika.j.s ter-nya-ta gam-pang ba-nget di-ti-pu. Ha-ha-ha! Selesai!" cicit nya lalu tersenyum puas.
Seluruh pasang mata mengarah ke asal suara, menatap Farah muak.
"Apa?" Farah ganti menatap semua siswi dengan tanda tanya besar dikepala nya.
"Pagi anak-anak!"
Suara itu akhir nya membubarkan gerombolan siswi maupun siswa yang tadi nya melingkar ke meja Rea dan Vera. Semua seisi kelas 11 IPA 2 mengatur ke posisi masing-masing, sesekali membenahi posisi kursi yang tidak nyaman di duduki.
Rea mengernyitkan dahi bingung dengan kedatangan Bu Gina. Pasal nya, di jadwal hari ini tidak ada mata pelajaran Fisika. Rea kemudian mengingat sesuatu, mungkin kah dia salah melihat jadwal? Cewek itu akhir nya mengatur napas agar tetap tenang, dan bersikap seperti biasa nya.
"Pagi, Bu!" Kor seisi kelas serempak.
"Loh, Bu? Sekarang nggak ada mapel Fisika bukan nya?" Tanya Dinda yang memang duduk didepan, berhadapan langsung dengan meja guru.
Pertanyaan Dinda membuat Rea bernafas lega, ternyata memang benar bahwa hari ini tidak ada mata pelajaran Fisika.
Sedangkan itu, Bu Gina hanya tersenyum menjawab pertanyaan Dinda. "Udah tahu belum kalo sekolah ngadain teater yang harus mewajibkan setiap kelas nampilin satu drama? Udah tau kan pasti nya. Nah.. berhubung lusa adalah acara penampilan nya, sekarang kalian harus berjuang keras buat latihan!"
Ucapan Bu Gina mendapat reaksi lesu dari semua murid, termasuk Rea. Tidak sampai disitu, bahkan Reno dan Adam bahkan terang-terangan menunjukkan komentar tidak suka.
"Jadi nggak free class, dong?!" Tanya Adam memprotes. "Tau gini, gue nggak sekolah aja tadi."
"Bu, saya tuh bukan pemain drama yang baik. Noh si Farah, Idup nya dipenuhi sama sandiwara." Komentar Reno menambahi.
Sahutan Reno mampu mengundang tawa dari seisi kelas, kecuali cewek yang duduk dibelakang Rea yang tampak kesal dengan perkatakaan Reno.
"Ya udah ya udah, Reno sama Adam dari pada ikut pentas teater nya lebih baik nggak usah latihan aja." Tutur Bu Gina memutuskan.
Reno dan Adam saling melempar tatapan, lalu tersenyum lebar dan berkata Yes tanpa suara. Mereka juga bingung dengan keputusan Bu Gina yang tidak seperti biasa nya.
"Tapi sebagai ganti nya.." Bu Gina memberi jeda.
Reno dan Adam membeku dengan wajah pucat. Seharus nya Adam dan Reno sudah tahu dari awal kalau Bu Gina tidak akan berhenti membuat anak didik nya sengsara, begitu ulasan adam dan Reno.
"Kalian kerjain paket Fisika halaman seratus empat sampe seratus tujuh. Soal nya Esai, jadi harus ditulis cara pengerjaan nya sekalian!" Perintah Bu Gina tegas, dengan nada ancaman.
"Nggak jadi protes, Bu!" "Nggak, Bu!"
Dalam satu waktu, dua penolakan keras terdengar serempak dari mulut Reno dan Adam.
"Maka nya, nggak usah cerewet!" Omel Bu Gina.
"Iya, Bu." Reno dan Adam mengangguk cepat.
Bu Gina lalu beralih ke murid nya yang lain, dengan wajah semangat 45 lagi. "Nah, untuk itu.. Ibu ada kejutan buat kalian semua!"
Seketika, wajah murid-murid kelas 11 IPA 2 berubah cerah. Mereka bersorak gembira, sesekali memukul-mukul meja saking senang nya. Vera dan Rea saling bertepuk tangan riuh.
Farah pun begitu, cewek yang aktif di sosial media itu tampak mengeluarkan hape nya dengan mata berbinar. Tanpa ditulis disini pun, kalian semua pasti tahu apa yang akan dilakukan Farah.
Membuat status.
Seakan tidak ada habis nya, Farah menceritakan nya dengan kata-kata yang kadang sok bijak. Walau sebenar nya beberapa kali Rea menegur status Farah karena Farah tidak menggunakan tanda baca dengan benar di status nya. Mulai dari tidak ada tanda baca, sampai tidak ada spasi setelah tanda baca seperti koma, titik dan yang lain nya.
Tetapi bukan Farah nama nya jika dia harus menerima nasihat dari orang lain. Farah memang tipikal tidak suka dinasehati, tapi sangat pintar msnasihati orang lain. Lucu memang. Ada kah orang yang seperti Farah disini? (Ku harap tidak).
"Bu Gina makin cakep aja deh hari ini!!"
Kalimat itu menjadi kalimat yang membuat kondisi kelas menjadi sepi, digantikan dengan lirikan mata kearah sumber suara.
Jaka, cowok itu menjadi pusat perhatian sekarang "Ngapa?! Gue bener kan?"
"Ah, Joko.. Kamu bisa aja."
Itu bukan suara Bu Gina, melainkan suara dari samping Jaka. Fino, Cowok keturunan Cina itu tampak memeluk lengan Jaka erat dengan kedipan mata centil.
"Saya kan jadi malu, ih dasar Joko nakal banget." Sambung Fino, Jaka bergidik sendiri.
"Apaan, Curut?! Jauh-jauh lo sama gue!"
Bu Gina tertawa, tawa Bu Gina disusul oleh tawaan sekelas. Memang begitu lumrah nya. Untuk guru sekiller Bu Gina yang memang jarang tertawa di jam nya, merupakan sebuah keharusan bagi seisi kelas mengeraskan tawa nya untuk sekedar menyenangkan hati Bu Gina.
Entah pikiran itu hanya ada di SMA cempaka ini saja atau berlaku di setiap sekolah. Yang pasti pikiran itu juga muncul di pikiran Rea.
Bu Gina menyentuhkan jari telunjuk an didepan bibir pertanda bahwa ia meminta ketenangan. "Tenang semua nya.."
Setelah seisi kelas mulai menatap Bu Gina, guru Fisika itu membuka buku dimeja nya dengan sumringah.
"Waktu nya pembagian kostuuuum!"
•••
"Tidak pangeran, aku harus pergi sekarang. Maafkan aku," Rea mengatakan nya dengan ekspresi menyesal, dengan suara parau yang dibuat-buat.
"Jangan pergi, Cinde-rea.. Kamu milik ku."
Deg!
Kertas lembaran berisi naskah yang Rea pegang jatuh ke rerumputan pendek taman, ketika telinga nya mendengar suara yang sudah tidak asing lagi. Suara cowok yang mati-matian Rea hindari karena Jaka mempermalukan diri nya kemarin.
Padahal Rea kemari untuk menemui Kasa, bukan Ken.
Cowok blesteran itu tersenyum manis ketika Rea menatap nya, dengan senyuman paksa. "Kamu ya?"
"Belum selesai-selesai ya latihan kemarin?" tanya Ken ingin tahu, lalu duduk di kursi taman yang ada didekat Rea berdiri. Tangan nya memegang bungkusan kecil, dengan kantung plastik hitam yang cukup tebal.
Rea mengalihkan mata nya kearah lain. Sejujur nya dia tidak ingin Ken mengungkit kejadian memalukan kemarin, tetapi Rea lupa kalau Ken adalah cowok menyebalkan yang suka membuat Rea merasa kesal dan malu. Tentu saja Ken akan mengungkit kejadian kemarin, dan membuat Rea malu.
"Belum."
"..." hening.
Suasana canggung menyelimuti kedua nya. Rea sendiri merasa tidak enak saja meneruskan latihan nya karena ada Ken, ada perasaan risih dan malu.
Sedangkan Ken memilih untuk duduk bersandar di kursi panjang berwarna putih mengelupas itu, dengan melipat kedua tangan nya didepan d**a.
"Heh!" Ken bersuara, mengagetkan Rea yang sedari tadi diam seperti patung dengan wajah bodoh.
Rea menoleh, "Apa?"
"Duduk sini," Ken menepuk kursi disamping nya, seraya menggeser duduk nya. "Lo ga capek apa berdiri terus?"
Rea akhir nya duduk di kursi yang sama, lalu melipat naskah drama cinderella nya berniat menyudahi.
Ken menatap kearah naskah yang dipegang cewek disamping nya dengan dahi berkerut, menyeringai kecil hingga gigi taring nya terlihat. "Kok udahan latihan nya?"
"Y-ya emang kenapa? Terserah aku lah."
"Dih, Sewot. Bilang aja kalo lo malu kan sama gue?"
Ini orang bisa baca pikiran? Pikir Rea kaget.
"Sok tau, deh. Orang aku dari tadi udah latihan, ya capek lah." Tukas Rea membantah, seraya menyeka keringat di leher nya dengan punggung tangan nya.
Ken menunjukkan ekspresi terkejut, menutup mulut nya dengan tatapan iseng. "Oh, capek? Mau minum?"
Rea berpikir keras dengan d**a berdesir. Pasal nya, kalimat pertanyaan Ken yang seperti nya pernah ia dengar dari Kasa membuat nya sedikit lebih sensitif. Apalagi mengingat jawaban Kasa yang dulu membuat Rea down.
"Lo mau minum?"
"Iya, mauu!"
"Beli aja di warung nya Mbak Siti,"
Rea mendadak kesal sendiri mengingat nya. Bukan nya mendapat adegan romantis seperti yang sering ia lihat di drama korea, malah perasaan kesal dan gregetan dari Kasa.
Cukup sudah, Rea tidak mau dibodohi oleh orang yang berbeda untuk kedua kali nya.
"Aku bisa beli minum di warung nya mbak Siti."
Ken memangut-mangut, lalu meraih sebungkus kantung plastik hitam tadi yang ia letakkan di rerumputan taman dekat sepatu kets nya.
Jemari kurus, panjang dan indah nya itu membuka tutup botol minuman teh nya seraya melirik singkat Rea yang menelan saliva nya beberapa kali dengan tatapan kearah benda yang Ken pegang sekarang.
Diam-diam Ken tersenyum melihat reaksi Rea, menggemaskan. Bahkan cowok itu sengaja memperlambat gerakan tangan nya.
"Ken, aku mauu!" terdengar seperti rengekan, Rea menatap Ken penuh harap ketika leher botol itu nyaris menyentuh bibir merah Ken dengan gerakan lambat.
Ken menurunkan tangan nya, lalu menyodorkan sebotol teh dingin itu kearah Rea dengan senyuman hangat.
Rea berbinar, lalu menyambar nya penuh minat. Hingga tandas setengah nya, Rea belum berhenti meneguk minuman dari Ken. Sebenarnya malu juga dilihat Ken, minum dengan cepat seperti ini. Tetapi Rea memutuskan untuk tidak memusingkan hal ini, Cewek itu membuang rasa malu nya. Toh Ken bukan siapa-siapa.
Tuk
Rea menyemburkan teh dalam mulut nya ketika seseorang menyibak rambut nya dari belakang.
Ken terkejut, lalu menoleh kebelakang diikuti Rea yang kini naik pitam.
Namun sebelum Rea benar-benar menoleh kebelakang, Ken menahan kepala Rea karena sebuah tongkat masih berada di rambut Rea.
Tongkat siapa lagi kalau bukan Kasa. Parfum Vanila Kasa menyeruak. walau Rea belum sempat menoleh kebelakang karena tangan Ken yang menahan kepala nya, Rea tahu siapa yang telah menyibak rambut nya dengan tongkat.
"Hati-hati," Ken menasihati Kasa lembut.
Rea memang benar. Cowok itu selalu bertutur kata dengan lembut, meski terkadang menyebalkan. Sejauh ini, Rea tidak pernah melihat Ken berteriak atau membentak.
Rea melepaskan tangan Ken pelan, "Nggak apa, Kok. Dia teman ku, Kasa."
"Oh ya?" Ken akhir nya bangkit, memperbaiki kemeja nya dan mendekati Kasa. Ken menyentuh lengan Kasa yang sedari tadi diam saja, berniat menuntun cowok yang saat ini mengenakan kacamata nya seperti biasa. Tetapi sayang nya, Kasa tidak menyambut baik bantuan Ken.
Kasa tidak suka, seseorang membantu nya. Kasa tidak suka seseorang mengasihani nya. Kasa tidak sepayah itu.
Kasa menepis tangan Ken cepat, "Gue ini cuman buta, bukan nya lumpuh. Gue bisa jalan sendiri!"
Ken sedikit tidak mengerti dengan jawaban kurang meng-enakan dari Kasa. Seumur-umur, ia baru bertemu dengan manusia seperti Kasa. Bukan nya terima kasih, malah mengetusi nya. Tetapi Ken tidak memperpanjang masalah sepele ini, dia lalu tersenyum tulus lalu mundur selangkah dari Kasa.
"Oke, silahkan.." Tutur Ken.
Rea yang menyadari kondisi ini merasa harus turun tangan. Dia mendekati kedua cowok itu, lalu menyentuh masing-masing lengan Ken dan Kasa.
"Ken, Ini Kasa." Ucap Rea memperkenalkan kearah Ken. "Kasa, ini Ken." lanjut nya sambil beralih ke Kasa.
"Gue Ken," Kata Ken mengenalkan diri, walau ia sendiri tahu bahwa Kasa seperti nya tidak memedulikan nya. Entah lah, Ken adalah calon psikolog. Dia tahu arti dan makna guratan wajah seseorang atau dengan nada bicara nya sekalipun.
Seperti nya Kasa tidak menyukai Ken.
Ken tidak menyodorkan tangan nya seperti pada umum nya seseorang mengenalkan diri untuk mendapat jabatan tangan, ia tahu bahwa Kasa tidak akan membalas jabatan tangan Ken.
Rea menoleh kearah Kasa, "Kasa?"
"Iya, gue denger." Jawab Kasa singkat.
"Nah, karna kalian udah saling kenal. Kalian harus jadi teman baik, ya!" Seru Rea semangat, dengan wajah sumringah.
Ken tersenyum, ia benar-benar tertarik dengan senyuman Rea. "Oke,"
"Gak."
Senyuman dari dua orang remaja didepan Kasa memudar ketika Kasa mengatakan satu kata itu.
"Apa?" tanya Rea ragu, cewek itu berharap bahwa ada masalah dengan pendengaran nya.
"Gue gak suka dia."
Mata Rea mengerjap beberapa kali, dahi nya berkerut bingung. Berbeda sekali dengan reaksi Ken yang tampak biasa-biasa saja. Sebagai sesama laki-laki, Ken paham apa yang terjadi dengan Kasa.
"Loh? Kenapa? Ken baik kok, walau terkadang dia ngeselin." Ujar Rea meyakinkan.
Ken hanya tersenyum tipis. Ken rasa ia tidak perlu mengatakan apa-apa, sampai ia mendengar langsung alasan Kasa tidak menyukai nya.
"Gue gak suka sama dia!" tegas Kasa penuh penekanan.
"Gue juga nggak suka lo deket-deket sama dia!"
"Gue nggak mau ada dia!"
Otak Rea blank seketika, dia masih tidak mengerti.
Ken tersenyum semakin lebar, mengangguk paham. "Karena lo suka dia?"
#tebece