"Aku bahagia bersama kamu. Walau seperti nya, kamu lebih nyaman tanpa ku."
•
Play Now: imagination?
•••
"Ra, pinjem pulpen!" Pinta Farah seraya merapikan poni nya hati-hati dengan pandangan kearah cermin mini yang selalu ia bawa kemanapun dia aku rok abu-abu nya.
Vera yang sedang memasang earphone di telinga nya terpaksa melepaskan sebuah earphone dari sebelah telinga, lalu menatap Farah menantang. "Emang lo siapa?"
Farah menatap Vera kesal, bibir nya mengerucut dengan alis menyatu kebawah. "Vera pelit! Harus nya gue tau dari awal kalo lo gak mau minjemin."
"Bagus, deh. Jangan pinjem gue lagi!"
"Ver, plis dong. Lo juga kan pernah minjem pensil gue!"
Vera memutar bola mata nya malas. "Pensil ya pensil, pulpen ya pulpen."
"Curang!" Ketus Farah sebal lalu mengeluarkan hape nya cepat. Jemari nya mengusap-usap layar hape nya, lalu bibir nya bergerak seirama dengan jemari nya yang lincah. "Apdet status, pu-nya tem-en dari or-ok.. Pelit-nya min-ta am--pun!" bibir nya mencicit setiap ejaan yang ditulis nya.
"Ver, Far. Kalian pagi banget dateng nya?" Ucap Rea setiba nya ia dikelas.
Cewek berseragam paling putih mencolok karena masih baru dengan almameter lengkap di seragam nya itu meletakkan tas punggung nya ke kursi dan duduk disamping Vera, cewek yang mengangguk singkat saat Rea menyapa nya tadi.
Farah menatap Rea ceria, lalu mendekati teman baru nya itu dengan senyuman lebar. "Pagi, Rea sayang!"
"Iya," balas Rea tak kalah ramah.
Jaka, cowok yang duduk di kursi paling belakang yang mendengar ucapan Farah menyahut keras. "BERISIK!"
"Ngikut aja, Jaka tarub mata keranjang!" Sahut Farah sebal.
Cowok yang sedang memainkan game dari ponselnya menatap tajam Farah. "Lo bilang apa?"
"Mata keranjang! Lo nggak pernah baca cerita jaka tarub apa? Yang ngintipin cewek mandi dikali!"
"Farah? Kamu jangan teriak-teriak, kuping aku bisa pecah nih." Protes Rea seraya mengusap kedua daun telinga nya.
Farah mengalihkan mata nya, lalu tertawa. "Haha, iya."
"Tau si Farah, bebeb gue kuping nya sakit nih." sahut Adam, lalu mengerling-ngerling kan mata nya kearah Rea.
Cowok yang baru datang itu memilih mengambil posisi didekat Rea, lalu merangkul pundak Rea sok akrab.
"Pagi, Reya.."
"Eh?" Rea menggerakan bahu nya, melepaskan tangan Adam. "Nama ku bukan Reia, maaf."
"Ya, itu panggilan sayang tau."
Rea tersenyum lebar dibuat-buat, lalu singkat waktu menatap Adam tajam dengan ekspresi datar. "Jangan panggil sayang-sayang!"
"Yee.. Galak banget, njir."
"Dam, lo mau gue tampol? Pergi sana, nggak usah caper!" Vera yang berusaha diam tadi tidak tahan mendengar bising disekitar nya.
"Mak lampir." Sebelum laki-laki jakung itu pergi ke kursi nya, bibir nya sempat mencetus kata-kata u*****n yang diperuntukkan untuk Vera. Namun seperti nya Vera terlihat ogah meladeni Adam, terbukti saat cewek itu memilih mengenakan kembali eraphone nya.
"Rea, pinjem pulpen yak?" Pinta Farah dengan puppy eyes nya, tersenyum manis. "Si Vera nggak mau minjemin. Dia pelit,"
Rea terkekeh. "Oh, boleh boleh. Bentar ya?"
Rea mengangkat ransel nya ke meja, membuka resleting tas nya. Sebuah tempat pensil baru berwarna biru laut dengan gantungan kunci naruto dan Rasenggan yang tampak imut dibuka, hingga Rea mengeluarkan dua buah pulpen hitam ditangan nya.
"Kamu mau yang mana? Standard apa Faster?" tanya Rea.
Mata Farah berbinar-binar, "Wah, Makasih ya. Gue mau yang Faster aja,"
"Oh, nih. Buat kamu aja, besok biar aku beli yang baru." Kata Rea, menyunggingkan senyum nya.
"Thanks ya, Re."
•••
"Lo yakin, Re? Pulang sendirian? Atau mau gue anter aja gimana? Gue ga buru-buru banget, kok." Ucap Vera semangat, mengenakan jaket nya dan menggendong tas nya dengan sebelah bahu sesuai style sekarang.
"Iya, nggak apa kok. Gue bisa pesen ojek onlen,"
Bel pulang sudah 20 menit berlalu, namun karena banyak siswa/i yang langsung bergerombol ke pintu kelas untuk pulang membuat Vera lebih memilih untuk menunggu sampai kelas benar-benar sepi. Rea yang juga seperti nya malas berhimpit-himpit dengan yang lain memilih tetap duduk di bangku nya bersama Vera.
Kepala Rea menoleh kebelakang, lalu tertawa. "Si Farah udah pulang ya?"
"Itu anak. Harus nya jangan lo kasih hati tau ga, Re?" Kata Vera tiba-tiba, dengan nada sewot.
Lagi-lagi Rea mengernyitkan dahi tidak mengerti. "Siapa? Farah?"
"Iya. Ntar dia keterusan! Pepatah bilang, sih dikasih hati minta jantung. Lo harus tau, dia itu--"
"Vera, kamu nggak usah cemas. Aku tau apa yang baik buat aku, kok." Sela Rea cepat, telapak tangan nya menyentuh bahu Vera lembut.
Sejujur nya, Rea tidak mau ada perdebatan diantara mereka dan diri nya. Rea sudah cukup nyaman bersama Vera dan Farah, cewek itu tidak suka jika salah satu teman nya dinilai buruk walau oleh teman lain nya. Rea sendiri yakin, Farah adalah perempuan yang baik. Tetapi mungkin Farah sedikit kekanak-kanakan, karena itu lah dia terlalu mudah memutuskan argumen dan bertindak sesuka nya.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Semua masih canggung, diam. Akhir nya Vera menghembuskan napas panjang, lalu mengangguk-angguk kan kepala nya mengerti.
"It's okay, gue paham." ucap Vera.
"Tap-tapi, Ver.. Kamu nggak--marah?"
Vera tersenyum, lalu tertawa dibuat-buat. "Apaan, sih? Santai aja kali."
Rea tersenyum lega. Cewek itu berdiri, mengusap-usap telapak tangan nya karena suhu mulai dingin. Gerimis memang datang sejak pagi tadi, namun sampai sekarang gerimis belum kunjung berhenti, malah semakin deras.
Walau pun begitu, siswa/i di SMA Cempaka tidak begitu memedulikan kondisi deras nya hujan. Mereka seolah tidak tahan untuk pulang, membayangkan bagaimana keadaan rumah. Tidak terkecuali dengan Rea.
"Yuk keluar." Ajak Rea.
Kedua siswi itu berjalan beriringan, sesekali obrolan ringan menemani kedua nya di lorong-lorong sekolah yang mulai sedikit sepi. Bau khas tanah yang basah karena hujan membuat Rea terhenyak, hati nya dingin seketika.
"Lo ngendus apaan?" Vera menyenggol lengan Rea pelan. "Kerasukan setan ya?" ledek nya.
"Bau hujan nya segar banget. Aku suka!"
Refleks, Vera ikut-ikutan mengendus-endus sekitar nya. "Dih, biasa aja tuh."
"Ngingetin aku sama.." Suara Rea mulai memelan, lalu menghilang.
Vera mendekatkan wajah nya, dengan senyuman menggoda. "Siapa hayo? Lo polos-polos udah punya pacar, ya?"
"Bukan, Veraa.. Aku jadi keinget sama Papa."
"Bokap lo? Emang kenapa sama bokap lo?" Suara Vera terdengar cepat, penasaran.
Cewek yang menggunakan jepit rambut merah muda di dua sisi kepala nya itu tersenyum paksa, "Papa meninggal, dia suka banget ngajak aku hujan-hujanan sampe Mama marah-marah kalo aku sakit." terawang nya.
Vera menatap Rea terkejut, pandangan nya melemah. Bibir cewek itu bergetar, "So-sori, gue gak tau."
"Gapapa, bukan salah kamu juga kali." Kata Rea sembari tersenyum.
Hingga kedua pasang sepatu kets mereka berhenti di parkiran. Vera memasukkan tangan nya kesaku rok, mendapati sebuah kunci mobil milik nya.
"Eh? Ujan nya masih deres. Gue anter aja lah, ya?"
Rea menggeleng cepat. "Nggak usah, bentar lagi juga ujan nya reda kok."
"Emang lo peramal cuaca apa?"
Kedua cewek itu tertawa kompak.
Vera, Cewek ber-rambut pendek serupa dengan model rambut laki-laki itu menggenggam tangan Rea. "Ayo!"
•••
"Makasih, ya. Nanti abis lurus jalan ini, belok kanan ya." Kata Rea sambil menunjuk kearah depan, yang langsung dibalas anggukan oleh Vera.
"Oke."
"Beneran aku nggak ngerepotin?" Tanya Rea seraya menoleh ke samping, tepat nya kearah Vera.
Vera tampak nya tersenyum lebar, menatap sedetik Rea. "Ya iyalah, lo kayak baru kenal gue aja."
"Lah? Emang iya?" Rea tertawa.
"Iya juga, sih."
Kedua nya tertawa keras, di antara bising nya hujan.
Rea menghela napas panjang, "Aku capek ketawa."
"Gajelas, ya? Candaan kita rendah banget." sahut Vera.
Rea menepuk wajah nya pelan, tertawa pelan dan menyeka air mata nya yang hampir mengalir karena perut nya yang geli.
Kemudian Rea menjauhkan tangan nya dari wajah nya saat didepan, ia melihat sesuatu. Mata nya mendelik kaget, saat bayangan seseorang itu mulai jelas.
Kasa yang sedang duduk di halte, diam tidak melakukan apa-apa selain mendengarkan musik dari earphone hitam nya.
"Stop! Stop!" tangan Rea menyentuh tangan Vera yang sedang mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang.
Vera menginjak rem mendadak, hingga membuat kepala nya dan Rea nyaris terlempar kedepan kalau saja mereka tidak memakai sabuk pengaman.
"Kenapa? Kenapa? Gue nabrak apaan?!" Pekik Vera panik. "Gue gak mau dipenjara. Sumpah gue ga sengaja!!"
Rea mengernyitkan dahi bingung, tidak mengerti. Rea tidak menyangka saja kalau respon Vera akan seheboh ini untuk ukuran cewek yang memiliki sifat sejutek Vera.
Telapak tangan Rea menyentuh Bahu Vera, "Heh, kamu nggak nabrak apa-apa kali."
"Serius?" tanya nya meyakinkan dengan mata melotot.
"Iya."
"Ya ampun, terus kenapa minta gue berhenti tadi?" Ujar Vera geram, menatap Rea gemas.
Rea tersenyum, "Aku turun disini aja, ya?"
"Rumah lo dimana?" tanya Vera heran, dengan kepala menatap ke sekeliling. "Kata nya dibelokan jalan."
"Iya, nggak apa. Aku turun disini, kebetulan aku nggak langsung pulang." Jawab Rea antara berbohong atau tidak.
Kemudian, Mata Vera memicing kearah cowok yang memegang tongkat di halte itu lalu menatap kearah Rea yang masih menatap Kasa dengan senyum sumringah.
Tidak banyak waktu, Vera tahu cowok itu ada hubungan nya dengan Rea yang minta diturunkan disini.
Mata Vera mengerling, paham. "Aciye, lo pengen nyamperin itu cowok ya?"
Rea menoleh kearah Vera kaget, lalu menutup mulut nya rapat-rapat salah tingkah. Wajah nya memerah, lalu menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Hah? Enggak, kok. Eh, maksud nya dia bukan siapa-siapa kok. Nggak seperti yang kamu pikirin," Ujar Rea cepat, tersenyum nyengir sambil menggelengkan kepala nya.
"Emang gue mikirin apaan? Nggak ada, tuh."
"Ih, kamu ngeselin deh." Rea memukul bahu Vera pelan.
"Tapi tunggu dulu," Vera menatap Kasa teliti. "Dia kok bawa tongkat?"
Rea tersenyum lebar. "Dia buta. Tapi meskipun gitu, dia cerdas banget. Dia nggak kalah sama cowok lain nya, bahkan lebih baik." kata nya menggebu-gebu.
"Ciyee.. Yang ngebelain cowok nya. Santai, dong. Gue cuman tanya, nggak masalah kok dia buta apa enggak. Yang penting dia baik dan bisa diandelin buat lo," Jelas Vera dengan gaya nya yang sok bijak.
"Ya udah sana, samperin gebetan lo sana. Biar bisa modus sekalian pas ujan-ujan gini, lumayan kan." Goda Vera melanjutkan seraya menyenggol beberapa kali bahu Rea.
"Ngawur kamu. Udah ya, aku turun disini."
"Silahkan."
Rea menyentuh tangan Vera lembut. "Makasih, ya."
"Santai aja kali." Tukas Vera. "Hiii, geli gue." Vera mengibaskan tangan nya sambil bergidik, sambil menatap Rea geli.
Rea gretetan, cewek itu sekali lagi mendorong pelan bahu Vera hingga Vera terbahak. "Sana sana, ntar gebetan lo kabur lagi."
"Aku duluan, ya.."
•••
"Jadi lo abis dari mana?"
Rea tersenyum kearah Kasa yang ia sendiri juga tahu bahwa cowok itu tidak akan melihat nya. Rea diam sejenak, menghela napas seraya menyibakkan poni nya yang basah ke belakang telinga.
"Dari sekolah. Kamu sendiri ngapain disini?" tanya Rea penasaran, lalu mengayun-ayun kan kaki nya yang tidak sampai di lantai halte.
"Ke toko buku kayak biasa nya, sih."
"Wah.. Rajin nya anak ini," Goda Rea. "Pantes kemarin bisa sadar pas aku ajak ke rak tempat cerita anak-anak. Ternyata sering kesana, toh."
Keadaan Halte memang tidak seramai biasa nya, mungkin karena kebanyakan beberapa orang lebih memilih untuk tidak keluar rumah dengan keadaan mendung seperti ini. Namun entah kenapa, Rea sedikit bersyukur tadi menerima tawaran Vera untuk mengantar nya pulang. Sehingga Rea bisa bertemu dengan Kasa, cowok yang sekarang mengenakan topi hitam tanpa kacamata, jaket yang sama seperti kemarin dengan dalaman abu-abu.
Kasa melepaskan earphone nya sebelah, lalu menyodorkan nya kepada Rea. "Lo suka Anime?"
"Hah?" Mata Rea mengarah ke earphone hitam milik cowok itu, lalu mengambil nya ragu. "Dikit, sih." jawab nya akhir nya, dengan nada gugup.
Cewek itu memasangkan sebelah earphone milik Kasa ke sebelah telinga nya, lalu mengangguk kan kepala nya mengerti.
"Aku pernah denger lagu nya, Himawari no?"
Kasa mengangguk, "Gue nggak tau dari anime apaan. Tapi begitu gue denger sekali lagu nya, gue langsung suka."
"Kamu tau apa arti lagu nya?" tanya Rea iseng. "Biasa nya kalo orang langsung suka sama sesuatu yang baru, Pasti punya alasan yang jelas kan?"
Kasa tertawa pelan, "hahaha, lo cerdas juga ya!"
"Kok kesel, ya?" Rea menatap Kasa jengkel.
"Jadi.." Ujar Kasa memberi jeda. "Awal gue tertarik sama lagu ini, gue langsung minta mbok Inah buat nyari transletan nya di internet. Dan gue semakin suka pas tau ternyata transletan nya nggak kalah keren nya sama lirik nya,"
"Oh ya?" Perlahan, Rea melepaskan earphone dari telinga nya. "Gimana arti nya?"
"Lagu ini nyeritain seorang cowok yang ngelarang cewek nya nangis. Karena bagi cowok itu, cewek nya itu bagaikan matahari yang menghangatkan. Jadi cewek itu nggak pantas sedih. Cowok itu selalu ingin sang cewek tetep jadi cahaya di kegelapan nya," jelas nya setelah lama berpikir, mengatakan nya tanpa jeda.
Rea terhenyak, diam. Mata nya menatap kearah wajah Kasa yang sebagian tertutup oleh topi yang cowok itu kenakan. Diam-diam cewek itu takjub dengan Kasa, segala yang berhubungan dengan Kasa.
Mendengar penjelasan Kasa, Rea menjadi membayangkan sesuatu tentang kalimat terakhir yang Kasa katakan.
Menjadi cahaya di kegelapan? Pikir Rea.
Cewek itu seolah mengerti, menganggukkan kepala nya paham. " ..Kapan-kapan, aku bakal nyari lagu nya."
Kasa tidak menjawab, lalu meraih hape nya dari saku nya dan mengusap-usap beberapa kali layar hape nya dengan gerakan jemari yang lincah.
Lagi-lagi Rea dibuat takjub oleh Kasa. Bagaimana cowok itu bisa menggunakan hape nya dengan tanpa melihat?
"Eng.." Rea baru saja hendak membuka mulut nya untuk bertanya, namun Kasa sudah cepat menyela.
"Gue pernah sekolah di SLB, dan disana gue dapet pendidikan dengan media tablet sama hape. Jadi, gue udah terbiasa dan hapal semua fitur di hape ini dengan mudah." Jelas Kasa yang seolah tahu dengan jalan pikiran Rea.
Rea memangut-mangut. "Tapi Aku inget kejadian ditaman dulu, pas Mbok Inah nyuruh kamu pulang karena ada.. Bu San-dra? Kenapa kamu nggak sekolah di SLB lagi?" tanya nya.
Entah lah, Rea merasa selalu ingin mengetahui banyak hal tentang Kasa. Bagi Rea, semua tentang Kasa selalu menarik.
"Gue keluar." Kata Kasa pelan, dengan senyuman khas nya.
Suara hujan yang turun semakin deras membuat Rea sedikit tidak bisa mendengar suara Kasa yang lebih rendah. Cewek itu menggeser duduk nya untuk lebih mendekat, lalu mendekatkan kepala nya kekepala Kasa.
"Maaf, apa tadi?" tanya Rea.
"Gue keluar dari SLB." Ucap Kasa lebih keras. "Seperti yang lo tau sebelum nya, Gue itu terlalu sensitif kalo menyangkut.. Kekurangan gue. SLB gue ini nggak kayak SLB pada umum nya. Sekolah SLB itu punya kegiatan dan jam pulang yang sama kayak sekolah reguler. Dulu waktu setelah beberapa hari gue beradaptasi di SLB, gue sering banget ketemu sama anak dari sekolah reguler. Dan setiap gue nungguin Mbok Inah jemput, gue selalu denger ledekan anak dari sekolah reguler yang ngata-ngatain anak SLB. Mereka bilang, anak dari SLB nggak bisa apa-apa karena mereka semua.. Cacat." jelas nya panjang lebar, tersenyum miris.
Rea menahan napas, lalu menunduk. Ada sesuatu yang sesak di d**a nya, menyakitkan. Cewek itu mendongak, menatap kearah Kasa yang berusaha terlihat baik-baik saja dihadapan Rea. Telapak tangan Rea menyentuh bahu Kasa, membuat sang empu nya menoleh ke bahu nya.
"Suatu hari nanti, mereka yang pernah bilang kalo anak SLB nggak bisa apa-apa itu pasti menyesal. Aku bisa jamin!" Ucap Rea berapi-api.
Kasa terkekeh, menepis lembut tangan Rea dari bahu nya. "Gue benci bilang ini, tapi gue harus bilang. Apapun itu, jangan tersinggung ya?"
"Hh? Ap-apa?" tanya Rea dengan d**a berdebar.
"Se-ngenes apapun hidup gue yang lo tau, jangan nunjukin kalo lo kasian sama gue ya? Soalnya gue ga suka." Kata Kasa sambil tersenyum paksa.
Dahi Rea berlipat-lipat, menandakan bahwa Cewek itu sedang berpikir keras. Mata cokelat bening nya menatap kearah Kasa yang masih tersenyum paksa kearah lain.
Meskipun banyak yang ingin Rea bantah dari permintaan Kasa barusan, Rea memutuskan untuk tidak membantah lagi untuk menghindari perdebatan dengan Kasa lagi. Rea mulai mengerti bagaimana sifat Kasa yang keras kepala dan selalu kekeh dengan permintaan nya.
Rea tersenyum, mengangguk mengerti. "Oke, aku janji." Tangan Rea menyentuh tangan Kasa dan menautkan jari kelingking nya paksa ke jemari kelingking Kasa.
Kasa menggerakkan badan nya, jemari nya menggenggam tangan Rea spontan. "Gila! Tangan lo dingin banget, kenapa lo nggak bilang kalo lo kedinginan?"
Rea menarik tangan nya dari Kasa dan menggosok telapak tangan nya beberapa kali untuk sekedar mencari kehangatan, lalu memeluk diri nya sendiri. "Nggak seberapa dingin, kok. Hehe.."
Telinga Kasa mendengar suara pergerakan Rea, lalu melepaskan jaket nya dan melemparkan nya tepat ke wajah Rea.
"Gue keliatan egois ya, pake jaket didekat cewek yang lagi kedinginan tanpa Jaket?" Kekeh Kasa seraya menyingkap lengan baju nya hingga ke siku.
"Eh? Aku nggak kedinginan. Kamu pake aja,"
"Pake aja, elah. Kalo nolak lagi, gue ambil beneran loh." Kata Kasa dengan nada sedikit mengancam.
Rea tersenyum tipis, menatap kagum Kasa. Dengan cepat, Cewek itu memakai jaket tebal milik Kasa. Jaket yang lumayan besar untuk ukuran tubuh nya itu terlihat sedikit menenggelamkan badan nya. Bahkan jemari nya saja tidak terlihat karena tenggelam di jaket milik Kasa. Aroma wangi khas Vanila yang sering membuat Rea penasaran, dengan parfum apa Kasa gunakan itu tercium jelas di indera penciuman Rea.
"Selesai!" Rea menutup resleting jaket nya hingga menutupi leher dengan ekspresi ceria. "Makasih, ya!"
"Apaan?" Kasa mendekatkan kepala nya ke dekat Rea.
"Makasih!!" Rea mengeraskan suara nya.
Kasa mengangguk. "Sama-sama."
Sekali lagi, Rea mengayun-ayunkan kaki nya bersamaan dikursi halte. "Hm.. Bau hujan emang bikin rileks."
"Lo suka hujan?" tanya Kasa basa-basi.
Rea mengangguk semangat. "Iya, suka banget. Almarhum Papa juga suka hujan, suka ngajak aku main hujan-hujanan."
"Semua emang punya penilaian yang beda." Komentar Kasa.
"Kenapa? Kamu ga suka hujan?"
"Gue benci hujan, berisik banget. Gue jadi rada kehilangan pendengaran gue kalo hujan, apalagi ada petir."
Rea tersenyum, lalu menepuk bahu Kasa dengan kedua tangan. "Kamu nggak usah takut sama ujan, apalagi sama petir. Kamu harus yakin, setelah hujan berakhir selalu ada pelangi."
Sedetik. Dua detik. Tiga detik.
Lalu, Kasa tertawa terbahak. "PRANK CHAT NIH, YEEE!"
#
Tebece