"Lo mau jadi cinderella dan gue pangeran nya?"
"Nggak."
"Kalo lo jadi barbie dan gue Ken nya?"
"Nggak. Aku cuman mau jadi Ainun buat seorang Habibie."
"Oke, pertanyaan terakhir. Lo berharap siapa yang jadi Habibie?"
•
Play Now: Perfect?
•••
"JOKO!"
Seisi kelas menahan napas ketika nama itu diucapkan oleh Bu Gina dalam satu tarikan napas. Wanita berkulit putih dengan tubuh langsing ideal itu langsung menatap kearah Jaka yang saat ini hanya tersenyum bangga menyambut nama panggilan nya yang diucapkan lantang oleh Bu Gina diikuti tatapan dari seisi kelas.
Cowok yang cukup tampan itu menyisir rambut depan nya dengan sela jemari kanan nya, bergaya seolah diri nya adalah seorang pangeran.
"Ko, gue pengen nampol muka lo." Sahut Vera yang memecah keheningan, membuat Jaka langsung down menatap Vera kesal.
Kata-kata Vera membuat seisi kelas tertawa terbahak.
"Sa ae lu, Upil tuyul." cibir Jaka menyahut.
"Bu, Saya nggak setuju kalo si Joko k*****t ini jadi pangeran nya Cinderella!" Tukas Cindy, cewek yang cukup famous karena menjadi anggota osis itu sesekali menyibakkan rambut nya.
"Iya, Bu!!" Beberapa siswi lain nya menyahut.
"Mendingan juga siapa, kek. Jangan Joko, Bu!"
"Dia jorok, Bu."
Bu Gina mengernyitkan dahi, menyentuhkan telunjuk nya didepan bibir berusaha menenangkan. "Heh, Nggak boleh gitu. Kita harus profesional dong. Lagian Joko nggak jelek-jelek amat, ganteng kok dia."
"Bu.. Engkau lah pendamping ku." Jaka mendekati Bu Gina, mencium punggung tangan nya beberapa kali.
"Gue jadi nggak minat ngarep lagi buat dapet peran Cinderella, nya." Farah menyeletuk, diikuti oleh beberapa anak siswi dibelakang nya.
Bu Gina tertawa, lalu memasukkan tangan nya kedalam toples bekas wadah biskuit bertuliskan 'GIRL' dalam huruf kapital. Lima detik kemudian, Bu Gina sudah mendapatkan segulung lembaran kertas ditangan nya hingga membuat beberapa siswi dalam kelas dan Jaka menatap Bu Gina intens.
Bu Gina membuka gulungan kertas kecil ditangan nya, lalu menunjukkan ekspresi terkejut sambil menatap kearah satu per satu anak didik nya.
Tentu saja hal itu sukses membuat seisi kelas gregetan sendiri, termasuk Rea. Cewek itu menoleh kearah Vera yang terlihat ogah-ogahan, lalu menepuk teman sebangku nya itu.
"Kamu pengen terpilih?" tanya Rea.
"Terpilih apaan?" Vera menatap Rea kurang yakin. "Jadi princess nya si Joko?"
Rea terkekeh pelan, "Aku malah lebih suka nyebut nya Cinderella. Tapi kalo kamu suka nyebut nya gitu, no problemo sih." kata nya jahil.
"Ya kali, Re.. Mending gue jadi babu nya aja." sungut Vera jengah.
"Lah, Cinderella emang jadi babu bukan nya ya?"
"Cinderella bukan nya yang nikah sama pangeran yang dikutuk sama Monster itu?"
Rea tertawa sambil menutup mulut nya, menahan suara nya agar tidak menyembur keluar. Tubuh Rea bergetar, lalu menunduk sembari memegangi perut nya yang terasa terkocok.
Rea tidak percaya bahwa Vera tidak mengerti dengan jelas siapa Cinderella. Bahkan Vera mengira Cinderella dan Bella, putri dari film Beauty and the beast adalah orang yang sama.
Vera menatap sebal Rea yang tertawa meledek nya. "Ih, lo ngeledek gue ya?"
"Vera sayang, yang nikah sama monster itu Bella. Ini cinderella.."
"VERA!"
Mata Vera nyaris meloncat. Bagaimana tidak? Ketika cewek itu masih asyik mendengarkan penjelasan Rea, tiba-tiba saja seisi kelas menge-kor nama nya dengan kompak.
Mata nya membola sempurna setelah melihat Bu Gina memperlihatkan gulungan kertas ditangan nya dengan senyuman misterius.
"S-saya, Bu?" ulang Vera seraya menunjuk diri nya sendiri.
"Iya, kamu." Ucap Bu Gina meyakinkan.
Farah cepat-cepat mengeluarkan hape nya dari tas, lalu memotret Vera dari belakang yang masih diam tidak tahu harus berkata apa-apa. Jemari nya mengetik kan sesuatu, "Apdet status, @veera_ jadi cinderella nya @Mahardika.j.s HAHAHA."
"Heh, itu yang pegang hape. Sini in hape nya!"
Farah menoleh kearah Bu Gina, menyembunyikan hape nya ke balik punggung dan tersenyum kuda. "Hehe, maaf Bu."
"BU, SAYA NGGAK MAU SAMA VERA! DIA BUKAN CEWEK, BU! BUKAN!!" Teriak Jaka keras, seraya menatap kearah Bu Gina dengan pandangan mengiba.
Bu Gina menggelengkan kepala nya, "Tidak bisa. Lagipula siapa bilang Vera bukan perempuan. Ngawur kamu!"
"HEH, JAKA TARUB MATA KERANJANG. SIAPA JUGA YANG MAU SAMA LO! MATI AJA SONO!" Balas Vera seraya menunjuk-nunjuk Jaka dengan intonasi tinggi.
Rea menahan Vera yang hampir~~ semakin meledak itu, "Vera, sabar ya? Kamu jangan marah, dong."
"Lagian kenapa acara unfaedah gini sih, Bu? Kenapa drama se-t*i ini dipake buat acara agustusan?! Saya mau protes, Bu!!" Vera masih tidak mau mengalah. "Pokok nya saya nggak akan mau jadi cinderella atau Bella atau juliet kek!"
Bu Gina menghela napas panjang, memijit pelipis nya pusing. "Saya kasih dua pilihan, ya?"
"Nah gitu, dong!" Vera mengangguk puas, diikuti Jaka.
"Kamu mau jadi Cinderella dan Jaka pangeran nya, atau kamu jadi pangeran nya dan jaka jadi cinderella nya?" Tanya Bu Gina menawarkan.
Seisi kelas saling menatap ke arah satu sama lain, lalu berakhir ke arah Vera dan Jaka yang sama-sama membelalakan mata.
"APA?!"
•••
"Gimana, nih?" Desak Vera dengan keringat dingin, menggenggam erat pergelangan tangan Rea seraya menggerakkan kaki nya gemas.
"Gimana apa nya? Ya gitu." Balas Rea apa ada nya sambil meletakkan sendok yang telah ia gunakan kedalam mangkuk bakso nya yang telah tandas.
Farah meminum jus apel nya lalu melanjutkan aktifitas nya yang sempat tertunda untuk menatap sedetik Vera, cewek itu kembali memoleskan bedak ke wajah nya dengan hati-hati dan menambahkan lips-tin ke bibir nya.
Farah menutup bedak nya, menatap Vera Heboh. "Kalo gue jadi elo, sih.. Gue mau-mau aja. Soalnya kan lumayan, bisa numpang hits di drama ini. Apalagi dapet peran Cinderella!"
"Ya itu elo, bukan gue." Ujar Vera kesal, menatap ketus kearah Farah.
"Biasa aja kali tatapan nya. Gue cuman ngasih komentar," Balas Farah bersungut-sungut.
Rea memutar bola mata nya malas, "Kalian itu kata nya temen dari kecil, tapi suka nya berantem terus."
"Eh iya, Rea sayang.." Farah mengalihkan arah pandangan nya kearah Rea. "Sekarang gue ada keperluan sama Bu Gina. Gue pergi duluan ya, Tolong bayarin makan gue. Nanti gue ganti, kok. Boleh ya?"
"Eh? I-ya." Rea mengangguk pelan, menatap kearah Vera dua detik. "Nggak usah diganti, nggak apa kok."
"Oh, oke. Thanks!" Ucap Farah ceria, berdiri dari kursi nya dan melangkah menjauh dari tempat ini.
Sebenar nya Rea sendiri sempat memikirkan ucapan Vera kemarin, ditambah ucapan Kasa mengenai teman baru nya itu.
"Gue yang buta aja cukup pinter nyari temen."
Sekarang, Rea mengerti apa yang dikatakan Kasa. Namun untuk menolak permintaan teman nya itu, Rea tidak bisa. Entah lah, apalagi saat Farah berkata kalau ia akan mengganti uang Rea. Rasa nya Rea merasa tidak enak, hitungan dengan teman nya sendiri. Mau berkata sejujur nya ke Farah pun, Rea takut menyinggung perasaan Farah.
Rea tersadar, lalu mencoba untuk mencari topik yang bagus untuk mengalihkan Vera yang masih diam menatap kepergian Farah. Rea tahu, Vera pasti akan membicarakan pembahasan soal Farah seperti kemarin. Tetapi untuk sekarang ini, Rea tidak bisa mendengar nya. Tidak untuk sekarang.
"Vera, habis ini biologi ya? Kamu udah catat yang dipapan kemarin nggak? Aku--"
"Re, gue benci harus ngomong gini. Tapi, gue harap ini terakhir kalo lo nurutin apa semua kemauan Farah." Kata Vera serius. "Seperti yang lo bilang tadi, gue ini teman Farah dari kecil. Jadi gue paham betul gimana sifat anak itu,"
Rea tertawa dibuat-buat untuk mencairkan suasana, "Heh, apaan sih. Nggak baik tau ngomongin Temen sendiri tentang hal yang nggak baik,"
"Ya Allah, Rea.. Gue mohon lo jangan terlalu baik. Lo nggak ngerti, Farah itu cuman mau berteman sama orang yang bisa ngasih dia keuntungan. Contoh nya gue, lo pikir kenapa dia bisa dapet nilai bagus selama ini? Dengan dandanan nya? Dengan pacaran sama cowok b******k diluaran sana?"
"Gue tau setelah ini lo pasti nge-cap gue buruk. Gue cuman nggak mau dia ngelakuin hal yang sama kayak dia manfaatin gue. Tapi mungkin, cara gue yang salah. Kata-kata gue mungkin terlalu kasar dan--"
"Aku.. Nggak tau. Aku cuman nggak mau bikin Farah tersinggung," sela Rea jujur, lalu tersenyum. "Tapi ya udah lah, biarin aja."
Rea menghela napas, jemari nya memainkan ujung gelas dengan pikiran kemana-mana.
Sejujur nya dari hari ke hari, Rea mulai memikirkan apa yang dikatakan oleh Vera. Dan Rea percaya.
•••
"Assalamualaikum!"
Rea menekan kembali bel di dinding rumah didepan nya sembari mengucapkan salam.
Cewek yang mengenakan kaus hitam yang kebesaran milik mendiang papa nya yang dipadukan dengan celana jeans selutut itu membenarkan letak jepit rambut nya yang lagi-lagi tidak menjepit erat helaian rambut nya. Mungkin karena jepit rambut merah muda berbentuk stroberi itu sudah lama ia gunakan, hingga jepitan nya mulai tidak berfungsi dengan maksimal. Namun apa boleh buat, sepasang jepit rambut itu memang berharga untuk nya. Bukan hanya karena bentuk nya yang lucu, tetapi jepit rambut itu merupakan hadiah dari Daniel dulu. Dan Rea selalu memakai nya.
Sore itu, kompleks perumahan Rea tidak begitu ramai. Mungkin beberapa orang sudah berada dirumah untuk melepas lelah setelah seharian beraktivitas. Namun tidak bagi Rea, cewek itu semula ingin pergi ke Taman untuk menemui Kasa. Tetapi karena Rea tidak menemukan tanda-tanda ada nya Kasa di taman, Rea memutuskan untuk pergi langsung kerumah Kasa.
Berbekal alamat yang masih diingat nya dengan jelas saat Rea bertemu Kasa untuk pertama kali nya di jalanan, Rea dengan sebuah kantung plastik hitam ditangan nya pergi kerumah Kasa.
"Apa salah rumah, ya?" gumam Rea.
Tetapi seperti nya, Kasa tidak ada dirumah. Rea mendesah kecewa saat tidak ada jawaban dari dalam rumah yang menjawab salam nya.
"Wa'alaikum salam,"
Baru selangkah Rea hendak pergi meninggalkan rumah yang ia yakini adalah rumah Kasa, sebuah suara menjawab salam Rea dari dalam rumah.
Walau pintu masih belum terbuka, Rea tahu yang menjawab salam itu adalah seorang wanita. Tentu saja dari suara wanita itu sendiri.
Ceklek
Rea terhenyak, melihat seorang Wanita muda asing berkacamata minus dengan pakaian rapi membukakan pintu untuk nya. Cewek bersepatu kets putih itu semakin yakin kalau ia вenar-вenar salah rumah.
Sebelum malu sendiri, Rea memutuskan untuk pergi dan meminta maaf. "M-maaf, Bu.. Mungkin saya salah alamat."
"Oh, gitu ya. Nggak apa-apa, kok." Kata wanita itu seraya menunjukkan senyuman nya yang manis.
"Kalo gitu, saya pergi dulu."
"Memang nya kamu mau cari siapa? Alamat rumah yang kamu cari dimana?"
"Saya--"
"Rea, ya?"
Bibir Rea terbuka, tidak melanjutkan kata-kata nya selain menatap kebelakang wanita itu. Tepat nya kearah cowok yang menggunakan kacamata hitam nya seolah sebagai identitas, bahwa diri nya adalah seorang tunanetra.
Setelah lama menunggu guru nya yaitu Bu Sandra membuka pintu, Kasa malah mendengar suara Rea dari dalam rumah. Cowok itu tidak langsung bangkit dan menememui Rea, melainkan memilih untuk mendengarkan tujuan Rea pergi kemari dulu. Tetapi karena Rea tidak mengatakan alasan apa-apa untuk datang, Cowok itu bergegas bangkit dari duduk nya sebelum Rea pergi.
"Eh, Kasa? Aku pikir tadi aku salah alamat." Ujar Rea setengah terkejut. "Syukur, deh. Kamu datang diwaktu yang tepat,"
Kasa tersenyum tipis.
"Loh? Temen nya Angkasa, ya? Maafin Ibu ya, Ibu nggak tahu." Ucap Sandra dengan nada menyesal.
"Nggak apa-apa, Bu. Aku juga tadi nggak nyematin nama Kasa. Maka nya Ibu nggak tau," Jawab Rea ramah. "Nama saya Rea."
"Saya Bu Sandra, panggil aja Bu Sandra."
Kasa yang sedari tadi diam saja saat Sandra mengenalkan diri nya, mulai angkat suara.
"Bu, Belajar nya udah selesai kan? Ibu bisa pulang." kata Kasa tanpa ragu.
Rea membulatkan mata nya kaget, mendengar ucapan Kasa yang menurut nya sangat keterlaluan. Bibir Rea bergetar hebat, lidah nya seolah kelu. Ia menjadi menyesal telah datang kemari.
Tetapi aneh nya, respon Sandra tidak terpikir di otak Rea. Sandra hanya tersenyum seolah tidak tersinggung oleh perkataan Kasa.
"Iya, Ibu juga mau pulang. Jangan lupa kerjakan tugas yang tadi, ya?" Sandra mengeratkan tali tas yang sedari tadi bertengger di bahu nya dan memperbaiki posisi kacamata nya yang mulai menurun.
Kasa mengangguk, tanpa menjawab.
"Rea, saya pulang dulu ya. Jaga Kasa," Pesan Sandra kepada Rea.
"Saya tidak se-lemah itu, Bu. Rea nggak perlu menjaga saya," Tukas Kasa menyahut.
"Eh? Maksud Ibu bukan begitu." Ujar Sandra cemas. "Tapi.."
"Maaf atas ucapan nyeleneh Kasa, Bu Sandra. Dia memang begitu," Kata Rea menengahi.
"Nggak apa. Saya pergi duluan, selamat sore."
•••
"Ada apa?" Tanya Kasa to the point saat ia menyadari bahwa Rea sudah duduk didekat nya sambil membereskan buku-buku milik Kasa yang berceceran di meja.
Rea menumpuk buku-buku tanpa sampul kertas itu menjadi satu hingga menjadi tumpukan yang rapi. Cewek itu meletakkan kantung plastik hitam yang ia bawa ke atas meja, membuat Kasa mengernyitkan dahi mendengar suara plastik dimeja yang ada didepan nya.
"Lo bawa sesuatu?" tanya Kasa yang lagi-lagi tidak mendapat jawaban dari Rea. "Heh, gue yakin lo masih disini. Lo diem aja?"
"Kasa, kamu dirumah ini sendiri nggak?" tanya Rea tiba-tiba.
Kasa terdengar heran, tetapi menjawab saja.
"Iya, Mbok Inah lagi belanja buat nanti makan malam." jawab nya. "Kenapa?"
Rea menghela napas panjang, "Nggak apa. Karena itu arti nya.. Aku bisa bebas."
"Bebas ap--"
"KAMU TUH, YAAA!!!" Teriak Rea keras, hingga sontak saja membuat Kasa menutup kedua telinga nya rapat-rapat. "MIKIR NGGAK, SIH! BU SANDRA ITU SIAPA, KAMU SIAPA?! DIA ITU GURU KAMU!!"
"Kuping gue sakit!" Kata Kasa seraya memegangi telinga nya. "Jangan teriak-teriak, kuping gue sensitif.." Pinta nya dengan tangan gemetar.
Rea buru-buru mendekati Kasa, ia baru sadar kalau telinga Kasa memang peka terhadap bunyi sekecil apapun. Mungkin suara-suara keras akan terlalu mudah menyakiti nya.
Rea menelan saliva nya susah payah saat melihat Kasa masih menutup kedua telinga nya rapat-rapat. "Kasa, k-kamu kenapa?"
Perlahan-lahan, Kasa mulai menurunkan tangan nya dari kedua telinga nya untuk mencoba membiasakan telinga nya dari bunyi sekitar nya. Kepala nya masih cenat-cenut, dengan telinga masih berdengung.
"Kamu.. Kamu.. Kamu, Mikir.. Mikir.. Mikir.. Nggak.. Nggak.. Nggak.., sih!"
Suara nyaring itu masih berdengung di telinga nya, kepala nya makin pusing. Kalau saja tidak ada Rea disini, mungkin Kasa sudah tumbang dari tadi. Namun masalah nya Rea ada disini, dan Kasa tidak mau terlihat lemah didepan Rea.
"Kasa? Jangan buat aku takut!" Rea menepuk-nepuk pipi Kasa pelan.
Cowok itu berusaha mengumpulkan kesadaran nya, lalu mati-matian bersikap biasa saja. "Hehe, gue cuman becanda."
"Becanda? Serius? Tapi.. Wajah lo pucat?"
"Arti nya, akting gue bagus. Hehe.."
"Dasar b**o!!"
"Maka nya, jangan teriak-teriak lagi. Haha.."
Rea memukuli bahu Kasa kesal, "Jahat, aku cemas tadi."
"Eh? Tadi lo bawa apaan?" tanya Kasa untuk mengalihkan topik pembicaraan.
Rea mengacak rambut nya sendiri konyol, "Oh iya, aku sampe lupa. Ini Jaket kamu yang kemarin. Terus.."
Dari luar rumah, diam-diam ada seseorang yang mengamati Kasa dan Rea dengan senyuman manis. Ditangan nya ada sebuah tas lebar yang dipenuhi oleh sayur-sayuran dan bahan dapur lain nya.
Itu adalah Mbok Inah.
Den Kasa berusaha kuat didepan Neng Rea. Neng Rea keliatan Khawatir sama Den Kasa. Kayak nya aku mulai ngerti gimana perasaan mereka masing-masing, pikir Mbok Inah dalam hati.
#
Tebece
"Lo mau jadi cinderella dan gue pangeran nya?"
"Nggak."
"Kalo lo jadi barbie dan gue Ken nya?"
"Nggak. Aku cuman mau jadi Ainun buat seorang Habibie."
"Oke, pertanyaan terakhir. Lo berharap siapa yang jadi Habibie?"
•
Play Now: Perfect?
•••
"JOKO!"
Seisi kelas menahan napas ketika nama itu diucapkan oleh Bu Gina dalam satu tarikan napas. Wanita berkulit putih dengan tubuh langsing ideal itu langsung menatap kearah Jaka yang saat ini hanya tersenyum bangga menyambut nama panggilan nya yang diucapkan lantang oleh Bu Gina diikuti tatapan dari seisi kelas.
Cowok yang cukup tampan itu menyisir rambut depan nya dengan sela jemari kanan nya, bergaya seolah diri nya adalah seorang pangeran.
"Ko, gue pengen nampol muka lo." Sahut Vera yang memecah keheningan, membuat Jaka langsung down menatap Vera kesal.
Kata-kata Vera membuat seisi kelas tertawa terbahak.
"Sa ae lu, Upil tuyul." cibir Jaka menyahut.
"Bu, Saya nggak setuju kalo si Joko k*****t ini jadi pangeran nya Cinderella!" Tukas Cindy, cewek yang cukup famous karena menjadi anggota osis itu sesekali menyibakkan rambut nya.
"Iya, Bu!!" Beberapa siswi lain nya menyahut.
"Mendingan juga siapa, kek. Jangan Joko, Bu!"
"Dia jorok, Bu."
Bu Gina mengernyitkan dahi, menyentuhkan telunjuk nya didepan bibir berusaha menenangkan. "Heh, Nggak boleh gitu. Kita harus profesional dong. Lagian Joko nggak jelek-jelek amat, ganteng kok dia."
"Bu.. Engkau lah pendamping ku." Jaka mendekati Bu Gina, mencium punggung tangan nya beberapa kali.
"Gue jadi nggak minat ngarep lagi buat dapet peran Cinderella, nya." Farah menyeletuk, diikuti oleh beberapa anak siswi dibelakang nya.
Bu Gina tertawa, lalu memasukkan tangan nya kedalam toples bekas wadah biskuit bertuliskan 'GIRL' dalam huruf kapital. Lima detik kemudian, Bu Gina sudah mendapatkan segulung lembaran kertas ditangan nya hingga membuat beberapa siswi dalam kelas dan Jaka menatap Bu Gina intens.
Bu Gina membuka gulungan kertas kecil ditangan nya, lalu menunjukkan ekspresi terkejut sambil menatap kearah satu per satu anak didik nya.
Tentu saja hal itu sukses membuat seisi kelas gregetan sendiri, termasuk Rea. Cewek itu menoleh kearah Vera yang terlihat ogah-ogahan, lalu menepuk teman sebangku nya itu.
"Kamu pengen terpilih?" tanya Rea.
"Terpilih apaan?" Vera menatap Rea kurang yakin. "Jadi princess nya si Joko?"
Rea terkekeh pelan, "Aku malah lebih suka nyebut nya Cinderella. Tapi kalo kamu suka nyebut nya gitu, no problemo sih." kata nya jahil.
"Ya kali, Re.. Mending gue jadi babu nya aja." sungut Vera jengah.
"Lah, Cinderella emang jadi babu bukan nya ya?"
"Cinderella bukan nya yang nikah sama pangeran yang dikutuk sama Monster itu?"
Rea tertawa sambil menutup mulut nya, menahan suara nya agar tidak menyembur keluar. Tubuh Rea bergetar, lalu menunduk sembari memegangi perut nya yang terasa terkocok.
Rea tidak percaya bahwa Vera tidak mengerti dengan jelas siapa Cinderella. Bahkan Vera mengira Cinderella dan Bella, putri dari film Beauty and the beast adalah orang yang sama.
Vera menatap sebal Rea yang tertawa meledek nya. "Ih, lo ngeledek gue ya?"
"Vera sayang, yang nikah sama monster itu Bella. Ini cinderella.."
"VERA!"
Mata Vera nyaris meloncat. Bagaimana tidak? Ketika cewek itu masih asyik mendengarkan penjelasan Rea, tiba-tiba saja seisi kelas menge-kor nama nya dengan kompak.
Mata nya membola sempurna setelah melihat Bu Gina memperlihatkan gulungan kertas ditangan nya dengan senyuman misterius.
"S-saya, Bu?" ulang Vera seraya menunjuk diri nya sendiri.
"Iya, kamu." Ucap Bu Gina meyakinkan.
Farah cepat-cepat mengeluarkan hape nya dari tas, lalu memotret Vera dari belakang yang masih diam tidak tahu harus berkata apa-apa. Jemari nya mengetik kan sesuatu, "Apdet status, @veera_ jadi cinderella nya @Mahardika.j.s HAHAHA."
"Heh, itu yang pegang hape. Sini in hape nya!"
Farah menoleh kearah Bu Gina, menyembunyikan hape nya ke balik punggung dan tersenyum kuda. "Hehe, maaf Bu."
"BU, SAYA NGGAK MAU SAMA VERA! DIA BUKAN CEWEK, BU! BUKAN!!" Teriak Jaka keras, seraya menatap kearah Bu Gina dengan pandangan mengiba.
Bu Gina menggelengkan kepala nya, "Tidak bisa. Lagipula siapa bilang Vera bukan perempuan. Ngawur kamu!"
"HEH, JAKA TARUB MATA KERANJANG. SIAPA JUGA YANG MAU SAMA LO! MATI AJA SONO!" Balas Vera seraya menunjuk-nunjuk Jaka dengan intonasi tinggi.
Rea menahan Vera yang hampir~~ semakin meledak itu, "Vera, sabar ya? Kamu jangan marah, dong."
"Lagian kenapa acara unfaedah gini sih, Bu? Kenapa drama se-t*i ini dipake buat acara agustusan?! Saya mau protes, Bu!!" Vera masih tidak mau mengalah. "Pokok nya saya nggak akan mau jadi cinderella atau Bella atau juliet kek!"
Bu Gina menghela napas panjang, memijit pelipis nya pusing. "Saya kasih dua pilihan, ya?"
"Nah gitu, dong!" Vera mengangguk puas, diikuti Jaka.
"Kamu mau jadi Cinderella dan Jaka pangeran nya, atau kamu jadi pangeran nya dan jaka jadi cinderella nya?" Tanya Bu Gina menawarkan.
Seisi kelas saling menatap ke arah satu sama lain, lalu berakhir ke arah Vera dan Jaka yang sama-sama membelalakan mata.
"APA?!"
•••
"Gimana, nih?" Desak Vera dengan keringat dingin, menggenggam erat pergelangan tangan Rea seraya menggerakkan kaki nya gemas.
"Gimana apa nya? Ya gitu." Balas Rea apa ada nya sambil meletakkan sendok yang telah ia gunakan kedalam mangkuk bakso nya yang telah tandas.
Farah meminum jus apel nya lalu melanjutkan aktifitas nya yang sempat tertunda untuk menatap sedetik Vera, cewek itu kembali memoleskan bedak ke wajah nya dengan hati-hati dan menambahkan lips-tin ke bibir nya.
Farah menutup bedak nya, menatap Vera Heboh. "Kalo gue jadi elo, sih.. Gue mau-mau aja. Soalnya kan lumayan, bisa numpang hits di drama ini. Apalagi dapet peran Cinderella!"
"Ya itu elo, bukan gue." Ujar Vera kesal, menatap ketus kearah Farah.
"Biasa aja kali tatapan nya. Gue cuman ngasih komentar," Balas Farah bersungut-sungut.
Rea memutar bola mata nya malas, "Kalian itu kata nya temen dari kecil, tapi suka nya berantem terus."
"Eh iya, Rea sayang.." Farah mengalihkan arah pandangan nya kearah Rea. "Sekarang gue ada keperluan sama Bu Gina. Gue pergi duluan ya, Tolong bayarin makan gue. Nanti gue ganti, kok. Boleh ya?"
"Eh? I-ya." Rea mengangguk pelan, menatap kearah Vera dua detik. "Nggak usah diganti, nggak apa kok."
"Oh, oke. Thanks!" Ucap Farah ceria, berdiri dari kursi nya dan melangkah menjauh dari tempat ini.
Sebenar nya Rea sendiri sempat memikirkan ucapan Vera kemarin, ditambah ucapan Kasa mengenai teman baru nya itu.
"Gue yang buta aja cukup pinter nyari temen."
Sekarang, Rea mengerti apa yang dikatakan Kasa. Namun untuk menolak permintaan teman nya itu, Rea tidak bisa. Entah lah, apalagi saat Farah berkata kalau ia akan mengganti uang Rea. Rasa nya Rea merasa tidak enak, hitungan dengan teman nya sendiri. Mau berkata sejujur nya ke Farah pun, Rea takut menyinggung perasaan Farah.
Rea tersadar, lalu mencoba untuk mencari topik yang bagus untuk mengalihkan Vera yang masih diam menatap kepergian Farah. Rea tahu, Vera pasti akan membicarakan pembahasan soal Farah seperti kemarin. Tetapi untuk sekarang ini, Rea tidak bisa mendengar nya. Tidak untuk sekarang.
"Vera, habis ini biologi ya? Kamu udah catat yang dipapan kemarin nggak? Aku--"
"Re, gue benci harus ngomong gini. Tapi, gue harap ini terakhir kalo lo nurutin apa semua kemauan Farah." Kata Vera serius. "Seperti yang lo bilang tadi, gue ini teman Farah dari kecil. Jadi gue paham betul gimana sifat anak itu,"
Rea tertawa dibuat-buat untuk mencairkan suasana, "Heh, apaan sih. Nggak baik tau ngomongin Temen sendiri tentang hal yang nggak baik,"
"Ya Allah, Rea.. Gue mohon lo jangan terlalu baik. Lo nggak ngerti, Farah itu cuman mau berteman sama orang yang bisa ngasih dia keuntungan. Contoh nya gue, lo pikir kenapa dia bisa dapet nilai bagus selama ini? Dengan dandanan nya? Dengan pacaran sama cowok b******k diluaran sana?"
"Gue tau setelah ini lo pasti nge-cap gue buruk. Gue cuman nggak mau dia ngelakuin hal yang sama kayak dia manfaatin gue. Tapi mungkin, cara gue yang salah. Kata-kata gue mungkin terlalu kasar dan--"
"Aku.. Nggak tau. Aku cuman nggak mau bikin Farah tersinggung," sela Rea jujur, lalu tersenyum. "Tapi ya udah lah, biarin aja."
Rea menghela napas, jemari nya memainkan ujung gelas dengan pikiran kemana-mana.
Sejujur nya dari hari ke hari, Rea mulai memikirkan apa yang dikatakan oleh Vera. Dan Rea percaya.
•••
"Assalamualaikum!"
Rea menekan kembali bel di dinding rumah didepan nya sembari mengucapkan salam.
Cewek yang mengenakan kaus hitam yang kebesaran milik mendiang papa nya yang dipadukan dengan celana jeans selutut itu membenarkan letak jepit rambut nya yang lagi-lagi tidak menjepit erat helaian rambut nya. Mungkin karena jepit rambut merah muda berbentuk stroberi itu sudah lama ia gunakan, hingga jepitan nya mulai tidak berfungsi dengan maksimal. Namun apa boleh buat, sepasang jepit rambut itu memang berharga untuk nya. Bukan hanya karena bentuk nya yang lucu, tetapi jepit rambut itu merupakan hadiah dari Daniel dulu. Dan Rea selalu memakai nya.
Sore itu, kompleks perumahan Rea tidak begitu ramai. Mungkin beberapa orang sudah berada dirumah untuk melepas lelah setelah seharian beraktivitas. Namun tidak bagi Rea, cewek itu semula ingin pergi ke Taman untuk menemui Kasa. Tetapi karena Rea tidak menemukan tanda-tanda ada nya Kasa di taman, Rea memutuskan untuk pergi langsung kerumah Kasa.
Berbekal alamat yang masih diingat nya dengan jelas saat Rea bertemu Kasa untuk pertama kali nya di jalanan, Rea dengan sebuah kantung plastik hitam ditangan nya pergi kerumah Kasa.
"Apa salah rumah, ya?" gumam Rea.
Tetapi seperti nya, Kasa tidak ada dirumah. Rea mendesah kecewa saat tidak ada jawaban dari dalam rumah yang menjawab salam nya.
"Wa'alaikum salam,"
Baru selangkah Rea hendak pergi meninggalkan rumah yang ia yakini adalah rumah Kasa, sebuah suara menjawab salam Rea dari dalam rumah.
Walau pintu masih belum terbuka, Rea tahu yang menjawab salam itu adalah seorang wanita. Tentu saja dari suara wanita itu sendiri.
Ceklek
Rea terhenyak, melihat seorang Wanita muda asing berkacamata minus dengan pakaian rapi membukakan pintu untuk nya. Cewek bersepatu kets putih itu semakin yakin kalau ia вenar-вenar salah rumah.
Sebelum malu sendiri, Rea memutuskan untuk pergi dan meminta maaf. "M-maaf, Bu.. Mungkin saya salah alamat."
"Oh, gitu ya. Nggak apa-apa, kok." Kata wanita itu seraya menunjukkan senyuman nya yang manis.
"Kalo gitu, saya pergi dulu."
"Memang nya kamu mau cari siapa? Alamat rumah yang kamu cari dimana?"
"Saya--"
"Rea, ya?"
Bibir Rea terbuka, tidak melanjutkan kata-kata nya selain menatap kebelakang wanita itu. Tepat nya kearah cowok yang menggunakan kacamata hitam nya seolah sebagai identitas, bahwa diri nya adalah seorang tunanetra.
Setelah lama menunggu guru nya yaitu Bu Sandra membuka pintu, Kasa malah mendengar suara Rea dari dalam rumah. Cowok itu tidak langsung bangkit dan menememui Rea, melainkan memilih untuk mendengarkan tujuan Rea pergi kemari dulu. Tetapi karena Rea tidak mengatakan alasan apa-apa untuk datang, Cowok itu bergegas bangkit dari duduk nya sebelum Rea pergi.
"Eh, Kasa? Aku pikir tadi aku salah alamat." Ujar Rea setengah terkejut. "Syukur, deh. Kamu datang diwaktu yang tepat,"
Kasa tersenyum tipis.
"Loh? Temen nya Angkasa, ya? Maafin Ibu ya, Ibu nggak tahu." Ucap Sandra dengan nada menyesal.
"Nggak apa-apa, Bu. Aku juga tadi nggak nyematin nama Kasa. Maka nya Ibu nggak tau," Jawab Rea ramah. "Nama saya Rea."
"Saya Bu Sandra, panggil aja Bu Sandra."
Kasa yang sedari tadi diam saja saat Sandra mengenalkan diri nya, mulai angkat suara.
"Bu, Belajar nya udah selesai kan? Ibu bisa pulang." kata Kasa tanpa ragu.
Rea membulatkan mata nya kaget, mendengar ucapan Kasa yang menurut nya sangat keterlaluan. Bibir Rea bergetar hebat, lidah nya seolah kelu. Ia menjadi menyesal telah datang kemari.
Tetapi aneh nya, respon Sandra tidak terpikir di otak Rea. Sandra hanya tersenyum seolah tidak tersinggung oleh perkataan Kasa.
"Iya, Ibu juga mau pulang. Jangan lupa kerjakan tugas yang tadi, ya?" Sandra mengeratkan tali tas yang sedari tadi bertengger di bahu nya dan memperbaiki posisi kacamata nya yang mulai menurun.
Kasa mengangguk, tanpa menjawab.
"Rea, saya pulang dulu ya. Jaga Kasa," Pesan Sandra kepada Rea.
"Saya tidak se-lemah itu, Bu. Rea nggak perlu menjaga saya," Tukas Kasa menyahut.
"Eh? Maksud Ibu bukan begitu." Ujar Sandra cemas. "Tapi.."
"Maaf atas ucapan nyeleneh Kasa, Bu Sandra. Dia memang begitu," Kata Rea menengahi.
"Nggak apa. Saya pergi duluan, selamat sore."
•••
"Ada apa?" Tanya Kasa to the point saat ia menyadari bahwa Rea sudah duduk didekat nya sambil membereskan buku-buku milik Kasa yang berceceran di meja.
Rea menumpuk buku-buku tanpa sampul kertas itu menjadi satu hingga menjadi tumpukan yang rapi. Cewek itu meletakkan kantung plastik hitam yang ia bawa ke atas meja, membuat Kasa mengernyitkan dahi mendengar suara plastik dimeja yang ada didepan nya.
"Lo bawa sesuatu?" tanya Kasa yang lagi-lagi tidak mendapat jawaban dari Rea. "Heh, gue yakin lo masih disini. Lo diem aja?"
"Kasa, kamu dirumah ini sendiri nggak?" tanya Rea tiba-tiba.
Kasa terdengar heran, tetapi menjawab saja.
"Iya, Mbok Inah lagi belanja buat nanti makan malam." jawab nya. "Kenapa?"
Rea menghela napas panjang, "Nggak apa. Karena itu arti nya.. Aku bisa bebas."
"Bebas ap--"
"KAMU TUH, YAAA!!!" Teriak Rea keras, hingga sontak saja membuat Kasa menutup kedua telinga nya rapat-rapat. "MIKIR NGGAK, SIH! BU SANDRA ITU SIAPA, KAMU SIAPA?! DIA ITU GURU KAMU!!"
"Kuping gue sakit!" Kata Kasa seraya memegangi telinga nya. "Jangan teriak-teriak, kuping gue sensitif.." Pinta nya dengan tangan gemetar.
Rea buru-buru mendekati Kasa, ia baru sadar kalau telinga Kasa memang peka terhadap bunyi sekecil apapun. Mungkin suara-suara keras akan terlalu mudah menyakiti nya.
Rea menelan saliva nya susah payah saat melihat Kasa masih menutup kedua telinga nya rapat-rapat. "Kasa, k-kamu kenapa?"
Perlahan-lahan, Kasa mulai menurunkan tangan nya dari kedua telinga nya untuk mencoba membiasakan telinga nya dari bunyi sekitar nya. Kepala nya masih cenat-cenut, dengan telinga masih berdengung.
"Kamu.. Kamu.. Kamu, Mikir.. Mikir.. Mikir.. Nggak.. Nggak.. Nggak.., sih!"
Suara nyaring itu masih berdengung di telinga nya, kepala nya makin pusing. Kalau saja tidak ada Rea disini, mungkin Kasa sudah tumbang dari tadi. Namun masalah nya Rea ada disini, dan Kasa tidak mau terlihat lemah didepan Rea.
"Kasa? Jangan buat aku takut!" Rea menepuk-nepuk pipi Kasa pelan.
Cowok itu berusaha mengumpulkan kesadaran nya, lalu mati-matian bersikap biasa saja. "Hehe, gue cuman becanda."
"Becanda? Serius? Tapi.. Wajah lo pucat?"
"Arti nya, akting gue bagus. Hehe.."
"Dasar b**o!!"
"Maka nya, jangan teriak-teriak lagi. Haha.."
Rea memukuli bahu Kasa kesal, "Jahat, aku cemas tadi."
"Eh? Tadi lo bawa apaan?" tanya Kasa untuk mengalihkan topik pembicaraan.
Rea mengacak rambut nya sendiri konyol, "Oh iya, aku sampe lupa. Ini Jaket kamu yang kemarin. Terus.."
Dari luar rumah, diam-diam ada seseorang yang mengamati Kasa dan Rea dengan senyuman manis. Ditangan nya ada sebuah tas lebar yang dipenuhi oleh sayur-sayuran dan bahan dapur lain nya.
Itu adalah Mbok Inah.
Den Kasa berusaha kuat didepan Neng Rea. Neng Rea keliatan Khawatir sama Den Kasa. Kayak nya aku mulai ngerti gimana perasaan mereka masing-masing, pikir Mbok Inah dalam hati.
#
Tebece