Satria menggelengkan kepalanya melihat Abi yang masih betah tengkurap di atas sofa. Teriak-teriak lalu membanting hapenya. Setelah itu diambil lagi. Teriak-teriak lagi.
Padahal baru pulang kerja tadi sekitar jam lima. Abi main itu. Dan sekarang dia sudah mandi, bikin kopi si Abi masih setia dengan gamenya.
"Wes toh le. Nggak sepet apa matanya liat hape terus. Mbok ya belajar biar pinter."
"Nah itu Yah. Kalo belajar terus Abi malah sepet. Ini kan namanya refreshing. Meledak otak Abi kalo dari pagi sampe malem baca buku terus."
Satria mengacak rambut Abi. Meletakkan dua gelas yang satu berisi s**u. Dan yang satu kopi miliknya. Lalu dia duduk di sebelah Abi sambil memperhatikan Abi yang heboh sendiri bermain game setan di hapenya.
Anak jaman sekarang kok ya permainannya aneh-aneh banget. Game bikin jantungan aja di mainin.
"Udah maem le?"
"Udah tadi Yah. Dimasakkin mbok Jum ayam goreng. Ayah sendiri sudah maem?"
Abi meletakkan ponselnya. Sehingga perhatiannya hanya fokus ke sang Ayah.
"Belum."
"Lho kenapa Yah? Oh Abi tau."
Alis Satria terangkat melihat Abi yang tersenyum jahil. Lha ini anak kenapa senyum-senyum begitu?
"Pasti Ayah ketagihan masakkannya mbak cantik ya? Nggak mau makan selain masakkannya mbak cantik. Wah Ayah ternyata diem diem menghanyutkan."
Hah? Mbak cantik? Satria memilih tidak ambil pusing. Dia malah menyeruput kopinya. Tidak menghiraukan Abi yang mesam mesem.
"Mbak cantik siapa le? Udah itu susunya diminum selak adem(keburu dingin)."
"Mbak Icha Yah. Dia kan cuantik. Pinter masak lagi. Sayurnya kemarin enak. Sayangnya nggak dikirimin lagi ya Yah hehe."
Deg
Jadi yang Abi maksud Icha kasir aneh bin ajaib bin semprul bin k*****t itu. Satria berdehem.
Yang Abi bilang sama sekali tidak salah. Icha... dia cantik dengan hijabnya. Masakkannya juga enak. Wuenak buanget kalau kata dia.
Tapi kok ya tingkahnya itu lho yang bikin elus-elus d**a. Ada saja tingkahnya yang membuat dia takjub. Baru sekali dia bertemu perempuan yang dengan gamblang menyatakan perasaannya. Bahkan dihari pertama bertemu. Sudah meminta dia menjadi imamnya.
Dan sekarang lebih parahnya. Satria sering memikirkan kasir aneh itu yang suaranya sudah mirip petasan banting.
"Astaghfirullah."
"Kok Ayah nyebut sih. Emang mbak Icha hantu apa."
Satria memijit keningnya yang sedikit pening. Karena terlalu terlambat makan. Dia jadi males makan. Udah nderedeg duluan.
"Oh iya Abi lupa! Mbak Icha kan emang hantu Yah."
"Yang menghantui malamnya Ayah. Hehe ampun Ayaaaah. Mas Abi bercanda."
Abi berlari masuk kedalam kamarnya karena mata Satria yang seperti hendak keluar karena ucapannya barusan.
"Astaghfirullah Icha Icha."
Ucapan spontannya tersebut membuat Satria tertegun.
"Eh kok Icha. Astaghfirullah mas Abi mas Abi."
Dia mengelus dadanya sendiri. Semenjak mengantar pulang Icha. Perasaannya jadi aneh. Kok ya dia kepengen banget ketemu ini.
Masih sehat atau perlu dirawat dia kalau begini?
***
Farissa melepas kerudung yang dipakainya. Lalu menggerai rambut hitamnya. Dengan lesu dia mengambil ponsel dan duduk selonjoran di kasur.
Pesan (2) Mas Abi
"Ini tumben Mas Abi kirim WA."
Mas Abi: Assalamu'alaikum mbak cantiknya Abi&Ayah. Ih Abi kok kangen mbak Icha ya.
Icha: Wa'alaikumsalam mas Abinya mbak. Masa udah kangen?
Mas Abi: Huhuhu... kaungen banget mbak. Hampa rasanya hidup Abi tanpa mbak Icha.
Farissa tersenyum. Isi chat Abi membuatnya terhibur. Tapi isi chat selanjutnya dari Abi membuatnya merona dan ingin pingsan ditempat.
Mas Abi: Apalagi hidupnya Ayah. Hampaaaaaaaa banget mbak...
Icha: masak iya mas?
Mas Abi: ih nggak percayaan. Tanya aja deh ke kambing tetangga pasti tau..
Mas Abi: oh iya mbak bisa masak udang asam manis?
Icha: bisa Mas Abi. Emang kenapa? Mas Abi kepengen mbak masakkin?
Mas Abi: eh kok tau... Abi kan jadi malu mbak
Icha: yaudah besok mbak anter ya kerumah
Mas Abi: nooooo!!!! Mbak masak dirumahnya Abi aja ya? Nanti Abi suruh Ayah jemput mbak pagi pagi banget.
Alamakkk!! Jadi Farissa semobil lagi gitu sama bapaknya Abi. Diem-dieman terus keluar keluar beku jadi es. Hiiihhh kok serem dia bayanginnya.
Icha: kalo itu maunya mas Abi ok. Tapi mbak kesananya sendiri aja. Ndak perlu dijemput.
Mas Abi: ok... Abi tunggu mbak cantik. Yaudah Abi mau bobok dulu ya.
Farissa membaringkan tubuhnya. Mematikkan lampu dan mencoba untuk tidur. Eh tapi kok matanya jadi seger gini keingetan besok ketemu bapaknya Abi. Ada semangat tersendiri.
Ya Allah kenapa jatuh cinta rasanya semenakjubkan ini?
***
"Astaghfirullah."
Farissa sedikit mundur kebelakang saat tanpa dia duga. Bapaknya Abi berdiri di depan pintunya. Jam 4 subuh!!! Bayangkan.
Wajahnya merona saat menyadari pakaian apa yang sedang dia pakai. Piyama berwarna pink dan juga sandal berkepala kelinci.
Sedangkan bapaknya Abi pagi-pagi gini sudah rapi dan ganteng pastinya.
"Kita berangkat?"
"Eh? Pakai baju ini Pak?"
Tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Bapaknya Abi mengangguk.
"Tapi saya malu."
"Sudah cantik. Nggak perlu ganti baju."
Farissa menunduk menutupi wajahnya yang sudah merah merona menghindari tatapan dingin tapi meluluhkan bapaknya Abi. Tapi setelah itu bapaknya Abi menghela napas.
"Cepat... Abi sudah menunggu. Kamu sudah shalat subuh?"
Pertanyaan bapaknya Abi membuat Farissa menggeleng. Alis bapaknya Abi yang tebal bagai ulat bulu itu sampai menyatu dibuatnya. Mata Farissa berkedip-kedip ditatap seperti itu.
"Jangan suka menunda shalat."
"Saya ndak menunda kok. Saya kan lagi ndak boleh shalat. Tanggal merah."
"Owh."
Haaaahhh dasar kulkas. Udah dijawab. Jawabannya irit banget. Mana ditinggal pula masuk kedalam mobil duluan. Sebel! Ndak mau kenal bapaknya Abi lagi.