Brrrrr...
Farissa memeluk lengannya sendiri. Huhhh sebel sama Bapaknya Abi. Sudah tau dingin-dingin begini nyalain AC. Apalagi sedari tadi sama sekali tidak bicara dan wajahnya itu lho duingin banget. Datar kayak temboknya anak tk.
Lama-lama Farissa beku nih jadi es. Heran berasa ada di kutub utara. Jadi laki-laki kok nggak mikirin perasaannya perempuan. Sebel pokoknya sebel.
Farissa menghentakkan kakinya tanpa kentara karena terlalu kesal. Tapi sayangnya gerak-gerik anehnya dilihat Satria.
"Kamu kenapa?"
"Ndak papa cuman dingin."
"Owh..."
Tuh kan jawabannya bikin keki deh.
Tapi ketika Satria mematikkan AC mobil. Farissa hampir lompat-lompat kegirangan. Akhirnya ya Allah si manusia lempeng peka.
Separuh perjalanan dilewati mereka saling berdiam diri. Tidak tau juga apa yang mau dibahas. Ditanyain jawabannya cuman iya, owh, nggak, ok. Apa ya ndak kesel Farissanya.
"Adudududuhhhh... Pak!"
Farissa memegangi perutnya yang tiba-tiba mules. Kok ya dia mules disaat yang tidak tepat. Gara-gara bapaknya Abi nih pokoknya. Kalo dingin dingin kan Farissa jadi pengen panggilan alam.
"Mules?"
Farissa mengangguk menggigit bibirnya lalu dia melihat Satria mendengus.
"Makannya sebelum berangkat ke toilet dulu. Ngerepotin banget kan jadinya."
Bibir Farissa manyun. Lha emangnya dia yang minta dikasih mules sekarang?
"Siapa yang dateng subuh-subuh kerumah saya? Saya kan jadi ndak sempet ke toilet. Pokoknya cariin saya toilet umum. Udah ndak tahan Pak."
"Iya iya cerewet. Saya turunin tau rasa."
"Ihhh bapak tega banget ama saya... huhuhu padahal saya disuruh masak dirumah bapak. Tapi malah diginiin. Pulangin aja saya kerumah Mama Papa."
Farissa mengusap matanya yang tiba-tiba berair. Lha wong udah mules banget kok ya di ancem-ancem.
"Jangan nangis... nih lap."
Ucapan Satria yang lembut membuat kepala Farissa menoleh ke samping. Ternyata Satria sudah memberikan selembar tisu. Tapi tatapannya fokus kejalanan.
Malu-malu Farissa mengambil tisu dari tangan Satria. Baru begini aja dia udah meleleh. Aduh Mas Satria manis banget deh kalau begini.
Oh iya ngomong-ngomong. Akhirnya dia sudah tau nama bapaknya Abi. Bukan bapaknya Abi sih yang kasih tau. Tidak sengaja Farissa melihat ktp bapaknya Abi tergeletak di dashboard. Tapi belum sempat membaca nama kepanjangannya udah disamber duluan sama yang punya.
Mungkin takut disantet kali hihi.
"Udah sana turun. Jangan lama-lama."
Terburu-buru Farissa keluar dari mobil. Sambil memegangi perutnya dia berlari memasukki toilet umum. Membuat Satria menggelengkan kepalanya heran.
Di jaman sekarang kok ya masih ada perempuan yang nggak ada jaim jaimnya sama laki-laki.
Bibir Satria berkedut menahan senyum. Dari tadi sebenarnya wajahnya sudah kebas. Tapi ya gengsi rasanya senyum sama Farissa yang kelakuannya bikin geleng-geleng kepala itu.
Tapi senyumnya malah makin lebar. Jujur Farissa itu menggemaskan. Eh- ndak jadi muji deh nyebelin bocahnya. Bikin gregetan.
"Bapaaaaaak... aduhh sakit. Kepleset tolongin Pak Sat."
Teriakan Farissa membuat Satria tersadar dari lamunannya yang tidak jelas itu.
Satria keluar dari mobil menyusul Farissa ke toilet umum yang... yah seperti toilet umum pada umumnya. Bau pesing dimana-mana tidak terurus lah pokoknya.
Dan dia melihat Farissa tergeletak di depan pintu toilet meringis memijat kakinya yang sepertinya terkilir.
Alisnya terangkat saat Farissa mengangkat wajahnya yang basah dengan air mata. Hidungnya yang kecil terlihat memerah.
"Bapak saya kepleset."
"Bisa berdiri?"
Farissa menggeleng. Bibirnya mencebik membuat Satria susah payah menahan tawanya. Duh gemes.
"Tadi udah coba berdiri. Tapi jatoh lagi. Kaki saya kayaknya terkilir. Sakit kalo buat gerak. Aduh gimana ini kalo kaki saya ndak bisa gerak selamanya? Ndak bakalan diamputasi kan Pak?"
Satria berjongkok menumpukkan badannya di lutut. Menghindari tatapan Farissa yang seperti anak kecil jatuh dari sepeda itu. Bener bener gemesin kalo diliat-liat.
"Maaf saya pegang boleh?"
Kepala Farissa mengangguk-angguk.
Pelan-pelan Satria menyentuh pergelangan kaki Farissa. Itupun sudah membuat gadis yang hari ini tampak manis dengan kerudung instan berwarna merah hatinya meringis kesakitan.
"Sakit?"
"Ya iyalah pertanyaan bapak. Saya kan jatohnya di lantai bukan dikasur ya jelas sakit dong. Aw... sakit."
"Tahan."
Dengan mahir. Satria memijat pergelangan kaki itu. Dan setelah berbunyi klek. Barulah Satria menjauhkan tubuhnya.
"Coba gerakkan."
Farissa menggerakkan kakinya. Ih ajaib! Udah ndak sakit.
"Alhamdulillah udah ndak sakit. Selain ganteng bapak ternyata juga punya bakat jadi tukang urut ya?"
Satria tersenyum tipis. Farissa melongo menatapnya. Ya Allah senyumnya bener-bener manis.