9. Pak Sat Nyebelin

845 Kata
Farissa mendengus sebal saat lagi-lagi Satria mengomel sambil menunjuk kotoran yang dibuat Farissa di dapurnya. Dimana-mana dapur buat masak ya pasti kotor. Kalo nggak mau kotor ya masak aja di kamar mandi. Kotor tinggal siram.  Lagian bukan Farissa juga yang minta masak disini. Bukannya bantuin atau apa. Ini malah ngomel-ngomel. Pengen wajah ganteng Satria dia cakar-cakar. Eh tapi sayang deh. Masak ganteng gitu di rusakkin mukanya. Jadi jelek entar. "Cuci udangnya yang bener dong. Nanti kalo saya keselek kulitnya gimana. Masuk rumah sakit gimana? Biaya rumah sakit mahal. Terus nyucinya berkali-kali biar kumannya mati." Satria dan mulut lemesnya adalah kombinasi sempurna membuat kepalanya berasap. Pengen makan orang rasanya. "Heran deh kurang bener apalagi sih bapak. Apa perlu saya nyucinya pake deterjen biar mati semua kumannya . Biar sekalian bapak mati juga gitu."  Mata Satria melotot. Waduh dikira dia takut apa. Iya emang sih hehe. Badan segede kingkong gitu mana bisa dilawan. Paling di kunci pake ketek Satria nggak bisa kabur dia. Hmm tapi Farissa ikhlas ikhlas aja dikunci diketek Satria. Sedep palingan ketek duda. Ya ampun Ca sedep sih sedep. Tapi langsung di mutilasi kali sama Pak Sat. Pak Sat kan lagi PMS. "Kamu doain saya mati?!"  Farissa mengangkat bahunya cuek. Dia tidak memperdulikan Satria yang mengikuti pergerakannya dengan mata tajam dan tangan dipinggang. Ih serius deh. Dia berasa jadi babu dirumah calon sendiri. Hihi... nggak papa lah ya itung-itung latihan jadi ibu rumah tangga yang baik dan patuh kepada titah baginda suami tercinta. "Kalo bapak mati yang jadi suami saya nanti siapa dong? Masak belum nikah udah jadi janda aja. Ndak lucu kan pak." Farissa memotong bawang bombai tipis-tipis.  "Edan! Siapa yang mau nikah sama bocah kayak kamu." Mata Satria memindai tubuhnya naik turun. Eh duda kurang ajar. Tubuh anak perawan diliat-liat. Satria tersenyum miring. "Masih kayak papan penggilesan gimana mau nyusuin anak saya. Bisa mati kelaperan anak saya nanti."  Bunuh duda kurang ajar dosa nggak sih? Rasanya mulutnya pengen dia siram pake air yasin aja biar adem dikit kalo ngomong. Tiap ngomong selalu aja pedes. "Kebanyakan nyemilin cabe apa gimana sih Pak mulutnya pedes banget." Tanya Farissa sambil beralih memotong bawang merah. Kalau ngeladenin duda sableng kapan selesainya masakan buat calon anak tercinta. "Saya nggak suka cabe." Kata Satria sambil bersandar memperhatikan Farissa memotong-motong.  Tiba-tiba suara nyinyir Satria kembali terdengar. "Mata saya pedes. Kok kamu tahan motong-motong begitu."  Hampir saja Farissa menyemburkan tawanya melihat mata Satria memerah dan berkaca-kaca. Lha ini yang motong bawang siapa yang nangis siapa. "Yang motong saya kok yang nangis bapak. Aneh bapak ini." Ledek Farissa membuat wajah Satria berubah masam. Dari tadi emang udah asem kecut gitu sih. Tapi ini lebih kecut lagi. Ngalah-ngalahin mangga muda bumil yang nyolong di pohon tetangga. Ngomong-ngomong soal bumil. Tadi malam mbak Maita mengabari kalau dia sudah berada di rumah sakit karena mengalami kontraksi. Padahal usia kandungan mbak Maita baru delapan bulan. Kurang satu bulan dari prediksi dokter.  Rencannya sepulang dari rumah Satria. Dia akan langsung bertandang kerumah sakit untuk melihat kondisi mbak Maita. Semoga ibu dan bayinya selamat. Supaya Adam dan Yusuf bisa melihat Tantenya yang cantik dan kece ini. "Lagian daritadi motong bawang terus. Pedih nih. Potong yang lain aja." Satria kembali ke tempatnya semula. Hm... syukur deh. Kalau diliatin terus kan demam panggung. "Yaudah sini bapak aja yang masak."  "Kamu ngejek? Saya nggak bisa masak. Saya juga nggak yakin makanan kamu nggak ngeracunin saya sama Abi nanti." Ih ih mulutnya bener-bener harus disiram air yasin nih.  "Kita ngomong buktinya aja deh Pak." Satria mengangkat alisnya menantang. Farissa menghembuskan napas lelah. Capek juga ternyata perang sama Satria. Buktinya dia udah ngos-ngosan kayak habis lari marathon dari kutub utara ke kutub selatan. "Kemaren kan saya udah buatin bapak bekel. Bapak mati nggak? Nggak kan! Malah saya liat wadah bekelnya ludes."  "Biasa aja. Itu juga habis saya kasih makan kucing." Jawab Satria santai sambil mengupas apel.  "Apaa?!!!!!" Farissa memukul-mukulkan centong kayu ditangannya sambil melotot. Sedangkan yang dipelototi dengan santainya mengangkat apel merah itu ke atas. Menawarkan kepada Farissa. "Saya capek-capek masak bapak kasihkan ke kucing! Bapak ngeselin."  "Aduh nggak nggak Ca. Saya makan kok." Aduh Satria melindungi kepalanya dari amukan singa betina. "Udah Ca sakit." "Biarin makanya jangan ngeselin jadi orang." Farissa mendengus menyudahi acara menyiksa duda suka nyinyir. Tiba-tiba baju Farissa ditarik Satria saat hendak kembali masak. "Ca."  Farissa salah tingkah saat Satria menatapnya dalam. Rona merah tidak dapat dia tutupi menyebar ke seluruh pipinya.  "Cepetan ya masaknya. Saya laper." Heladalah!!!! Dikirain mau nyatain perasaan taunya terphpkan lagi. "Aduh senangnya penganten baru..." suara nyanyian itu membuat Satria melepaskan cekalannya. Dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Yang sebenernya emang nggak terjadi apa apa sih. "Mbak Abi udah lapeeeeeerr."  "Abi udah laper lama banget sih kamu masaknya." Protes Satria. Farissa meliriknya tajam. Nggak sadar banget siapa yang buat dia masak selama ini. Ya bapaknya Abi itu ngakakin perang terus.  "Bantuin dong Yah. Nggak peka banget." celetuk Abi. "Biarin aja dia belajar jadi istri yang baik." Mata Farissa dan Satria bertemu. "Untuk suaminya nanti." Farissa memalingkan wajahnya dan kembali fokus pada masakan yang akan dibuat. Walaupun pikirannya sudah bercabang kemana-mana.  Apa maksud pak Satria?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN