Naira berjalan bersama Lita menuju kelasnya selepas istirahat. Dia memasuki kelas dan langsung ke tempatnya. Saat itu dia melihat sebuah kertas ulangan berada di atas mejanya.
Naira menghembuskan nafasnya. Dia heran kenapa selama ini dia tidak pernah mendapatkan nilai yang memuaskan dipelajaran itu. Padahal dirinya sudah belajar mati-matian. Permintaannya tidak muluk-muluk untuk mendapatkan nilai sempurna, nilai 0,5 di atas KKM saja dirinya sudah bersyukur.
Dari semenjak dia menduduki bangku sekolah dasar, dia lemah dalam pelajaran itu. Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan itu membuat kepalanya berdenyut-denyut seketika. Bukannya dia tidak mempunyai jiwa nasionalisme, tapi karena mungkin basic otaknya lebih kehitungan dari pada hapalan.
"Ra." Suara bass berhasil membuatnya tersadar. Naira langsung menghadapkan wajahnya ke arah sumber suara itu. Dia Bagas-ketua kelasnya.
"Kata Bu Ratih kalau mau remedial temui beliau sesudah pulang sekolah nanti."
Naira mengangguk. "Siapa aja yang remedial?" Tanya Naira.
"Lo doang." Bagas langsung pergi meninggalkan Naira. Naira terduduk lemas di bangkunya.
"Ngga usah galau gitu sih. Remedial itu kan biasa." Lita bersuara dan mencoba untuk menghibur Naira.
Remedial itu sih biasa. Tapi yang ngga biasa itu Naira tidak pernah tidak remedial dipelajaran itu.
Naira hanya tersenyum tipis ke arah Lita.
Setelah shalat Ashar, Naira masuk ke ruang guru untuk menemui Bu Ratih. Suasana ruang guru terasa sepi karena sebagian guru sudah pulang ke rumahnya. Hanya beberapa guru yang belum pulang. Naira langsung menghampiri Bu Ratih yang masih duduk di tempatnya.
"Assalamu'alaykum.. Saya Naira Bu, saya ingin meminta remedial." Ucap Naira sambil mencium punggung tangan gurunya itu.
Bu Ratih menjawab salam Naira kemudian tersenyum hangat melihat sikap Naira. Dan langsung memberikan Naira sebuah kertas yang berisi soal remedial untuknya. "Kamu kerjakan disana saja ya." Bu Ratih menunjuk sebuah ruangan di dalam ruang guru, yang Naira yakini itu adalah ruang makan.
Kepala Naira mulai berdenyut-denyut melihat soal itu. Dia berdoa dalam hati, agar Allah mempermudahnya untuk menjawab soal itu.
Satu persatu soal mulai dikerjakannya. Dia berusaha mengingat-ngingat materi yang kemarin dia pelajari. Meskipun jawaban yang dia berikan tidak sesuai dengan bahasa buku, minimal dia tahu garis besarnya.
Seseorang membuka pintu ruangan itu dan Naira langsung menatapnya. Pandangan mereka bertemu. Naira tersenyum kikuk. Dia maluuuuuu ketemu orang itu lagi semenjak kejadian 'nama' waktu pertama kali dia masuk sekolah ini.
"Loh kamu ngapain disini?" Reza bertanya. Dari raut wajahnya Reza terlihat bingung.
"Remedial Kak." Jawab Naira singkat. Reza hanya mengangguk-nganggukan kepalanya.
"Bu Ratih kemana ya?" Reza kembali bertanya. Pandangannya dia edarkan ke seluruh ruangan.
"Tadi ada di mejanya Kak." Seru Naira. Dan mencoba menjawab soalnya lagi.
"Ngga ada."
"Shalat Ashar kali Kak."
Reza terdiam mendengar jawaban Naira. Dan mencoba membenarkan jawaban itu.
Satu soal lagi yang belum Naira kerjakan. Naira berniat untuk bertanya kepada Reza jawaban soal itu. Mungkin saja kan kalau Reza mau membantunya. Dilihat dari wajahnya Reza itu orang baik. Fikir Naira.
"Kak.." Naira mencoba memanggil Reza. Kemudian Reza menatapnya. Menanti kalimat Naira selanjutnya.
"Kasih tahu jawaban soal nomer 6 dong ka." Naira melihat dua sudut bibir Reza berkedut seperti menahan tawa. Naira menyesal mengatakan itu.
Reza berjalan mendekati Naira yang sedang duduk lalu diraihnya lembar soal remedial Naira. Reza terlihat berfikir sejenak lalu tersenyum.
"Inikan soal gampang, kamu ngga bisa menjawabnya?" Tanya Reza yang sukses membuat Naira kesal. Naira mengerucutkan bibirnya. Dalam hati dia menyesal sudah bertanya kepada Reza.
Naira terkejut saat Reza mulai menjelaskan sesuatu yang dia yakin kalau itu adalah jawaban dari soal yang dia tanyakan. Kemudian dia langsung menuliskan kembali ke lembar jawabannya. Naira tersenyum.
"Terima kasih Kak."
"Ja, ngapain disini." Bu Ratih tiba-tiba masuk. Dan membuat mereka terkejut.
"Ini Mah Eja mau nanya, Mamah mau pulang sama Eja atau minta jemput Pak Tono?"
Mah? Mamah maksudnya? Naira terkejut. Dan membelalakkan matanya.
"Tadi Mamah sudah minta jemput pak Tono, Ja." Jawab Bu Ratih. Reza mengangguk.
"Kalau gitu Eja pulang duluan ya Mah." Reza meraih tangan ibunya dan mengecup punggung tangan itu. Reza langsung pergi meninggalkan ruang guru yang sebelumnya sempat memberikan senyum ke Naira. Tapi Naira tidak membalas senyum itu karena dia masih terkejut.
Dengan cepat Naira langsung memberikan lembar jawaban remedialnya kepada Bu Ratih dan langsung pamit untuk pulang.
Di sepanjang koridor sekolah, Naira merutuki dirinya sendiri. Tidak seharusnya dia menanyakan jawaban soal kepada anak dari gurunya. Dia takut kalau Reza bilang kepada ibunya kalau dia menyontek. Huaaaaaa. Naira mengusap wajahnya frustasi.
***
Naira tak dapat memejamkan matanya. Padahal saat ini jam sudah menunjukkan pukul 23.00, orang tua dan juga kakaknya sudah terlelap sejak tadi dan hanya dia yang masih terjaga.
Bayangan Reza menari-nari di pelupuk matanya. Berkali-kali dia beristigfar dalam hatinya. Lalu mengusap wajahnya frustasi.
Dia membuka akun instagramnya dan mengetik sebuah nama di mesin pencarian akun tersebut. Muncullah akun yang dicarinya. Matanya terbelalak dan hatinya bergetar saat melihat sebuah foto yang di upload di akun tersebut. Seorang laki-laki sedang berdiri di depan mobil. Dia memakai baju berwarna merah dengan celana jeans hitam, ditambah sepatu kulit yang menambah kesan maskulin laki-laki itu.
Naira memandang foto itu. Laki-laki itu begitu sempurna untuknya. Fikir Naira. Segalanya di miliki oleh laki-laki itu. Keluarga yang terhormat, wajah yang tampan, dan juga memiliki jiwa kepemimpinan.
Naira buru-buru menepis rasa itu. Dia harus menjaga hatinya. Dia ingin mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apapun di dunia. Dia tidak ingin terlalu berharap kepada laki-laki itu. Lalu dia teringat perkataan Imam Syafi'i
Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.
Naira turun dari ranjangnya. Mengambil sebuah buku berwarna biru. Di sampulnya tertulis 'buku agenda'. Lalu Naira mulai menuliskan sesuatu.
Disini pernah ada rasa simpati
Disini pernah ada rasa mengagumi
Rasa ingin memilikimu..
Memasukkanmu ke dalam hati ini
Menjadi penghuni
Mencoba berlindung dibalik fitrahnya hati
Untuk mencari pembenaran diri
Namun ternyata semua hanya permainan nafsu
Untuk memburu cinta yang semu
Aku.. Tertipu
Tuhanku berikanku cinta
Yang kau titipkan, bukan cinta yang pernah ku tanam...
Pada seseorang
Aku ingin rasa cinta ini masih menjadi cinta perawan
Cinta hanya aku berikan saat ijab qabul telah tertunaikan.
(Maidany-jangan jatuh cinta tapi bangun cinta)