Dear (Future) Husband

1452 Kata
Now... Naira berjalan mendekati suaminya yang sedang memakai baju kantornya. Hari ini dia harus menjalani kehidupan seperti biasa karena cuti setelah menikah sudah habis. Hanya statusnya yang berubah, yaitu menjadi seorang istri. Naira bertekad untuk berusaha menjadi istri yang baik untuk suaminya. "Biar Nai bantu, Kak." Naira mengambil alih dasi yang di pegang suaminya. Dia melingkarkan dasinya ke leher suaminya dan langsung membentuknya. Reza hanya tersenyum melihat tingkah istrinya itu. Dalam hati Reza bersyukur karena perhatian Naira. "Selesai.." Naira tersenyum ke arah Reza. Dan Reza mengucapkan terima kasih kepada istrinya itu. "Kak, boleh aku minta sesuatu?" Ada perasaan tidak enak saat Naira mengucapkan itu. Namun kejujuran adalah salah satu fondasi utama dalam pernikahan. Kening Reza mengkerut, lalu kepalanya mengangguk. "Jadilah pengacara yang 'bersih'. Jangan hanya membela yang kuat dan mengabaikan yang lemah. Jadilah penegak kebenaran, karena selamanya kebenaran adalah kebenaran." Naira diam sejenak, lalu melanjutkan kalimatnya. "Demi Allah, aku masih bisa menahan lapar dari pada menerima nafkah yang tidak halal." Selama ini Naira berfikiran kalau pengacara itu adalah salah satu profesi yang riskan. Dia takut kalau suaminya membela seseorang yang salah-karena kliennya. Dan malah menentang kebenaran. "Demi Allah, Kakak juga tidak akan membiarkan istri Kakak kelaparan. Insya Allah, Kakak bekerja di jalan-Nya." Reza menangkupkan kedua tangannya ke wajah Naira. "Ich liebe dih." Gumamnya. Naira yang mendengar suaminya berkata seperti itu tersenyum. Dia yakin kalau pipinya itu sudah memerah. "Senyum-senyum, memangnya tahu artinya?" Naira mengangguk. "Aku cinta kamu, kan?" "Aku cinta kamu juga." Reza tersenyum bahagia telah menggoda istrinya itu. Reza melihat wajah Naira yang memerah karena ulahnya. "Genit." Naira mencubit pinggang Reza. Reza merintih kesakitan, sedangkan Naira yakin kalau cubitannya itu tidak berarti apa-apa untuk tubuh suaminya itu. "Kamu mau Kakak laporin ke komnas HAM atas tuduhan KDRT?" "Huh susah kalau sama pengacara, apa-apa nuntut." Naira berdecak kesal. Reza yang mendengarnya terkekeh geli. *** Naira mengedarkan pandangannya ke anak muridnya. Saat ini sedang ada perayaan hari ibu di sekolahnya itu. Dia ditugaskan untuk menjaga ruang 1 untuk salah satu lomba di perayaan itu. Anak-anak didiknya itu sibuk melukis, ada yang membuat karangan, dan juga ada yang latihan menyanyi. Semuanya berkaitan dengan 'ibu'. Juara 1,2, dan 3 akan ditampilkan dipuncak acara perayaan itu. Namun saat ini pandangannya dia fokuskan ke salah satu anak didiknya yang bernama Lulu. Waktu sudah berjalan selama 30 menit, namun anak itu sepertinya belum melakukan apa-apa. Lalu Naira menghampirinya. "Lulu mau buat apa?" Tanya Naira. Tangannya mengelus puncak kepala anak itu dengan sayang. "Mau buat karangan, Bu. Tapi Lulu bingung." Naira menautkan alisnya, lalu tersenyum. "Buat aja karangan bagaimana Ibu Lulu sehari-hari." Lulu mengangguk. Lalu dia meminta izin kepada Naira untuk pergi ke toilet. Naira pun mengizinkan. Lama. Anak itu belum kembali dari toilet. Naira sedikit khawatir kepadanya. Dia berniat untuk melihatnya. Takut terjadi sesuatu. Naira melihat seorang anak kecil dengan pakaian putih-merah sedang menangkupkan wajahnya di kedua lututnya. Dia yakin kalau itu adalah Lulu, anak didiknya. Tapi langkahnya terhenti saat Naira mendengar suara isakan dari anak itu. Dengan cepat Naira langsung menghampirinya. "Lulu kenapa? Ayok kita masuk kelas." Kepala Lulu menggeleng. Lulu menaikkan kepalanya untuk menghadap Naira. Naira terkejut melihat kondisi muridnya itu. Matanya sembab, hidungnya memerah, dan juga banyak air mata yang mengalir di pipi chubby anak itu. "Lulu ngga mau masuk kelas, Lulu bingung harus cerita apa!" Lagi-lagi Naira bingung. Bukannya dirinya itu sudah bilang ke Lulu kalau Lulu bisa menceritakan kehidupan ibunya sehari-hari. "Lulu ngga punya ibu." Deg! Tangisan Lulu makin kencang. Anak itu menggigit bawahnya. Sedangkan Naira bingung apa yang harus dilakukannya saat ini. "Lulu mau nyanyi buat Ibu, tapi suara Lulu jelek Bu Guru. Lulu mau lukis wajah Ibu Lulu, tapi Lulu ngga tau wajah Ibu Lulu seperti apa. Lulu juga mau cerita tentang Ibu Lulu, tapi Lulu ngga pernah ketemu Ibu Lulu. Kata Ayah, Ibu Lulu meninggal saat Lulu lahir." Jelas Lulu panjang lebar. Sesekali dia terisak. Hati Naira terasa miris. Bagaimana dia membayangkan hidup Lulu selama ini. Lulu masih terlalu kecil untuk ditinggal ibunya. Naira langsung memeluk anak itu. Mengusap kepalanya lembut dan memberi kenyamanan kepadanya. "Ibu guru pernah bilang, kalau surga itu di bawah telapak kaki ibu. Berarti Lulu ngga bisa ngelihat surga Lulu dong Bu." Ucap Lulu dalam pelukan Naira. "Bukan begitu sayang, maksudnya kalau kita mau masuk surga, kita harus berbakti sama orang tua, terutama ibu." "Kalau begitu Lulu ngga bisa masuk surga dong Bu guru. Lulu kan ngga punya Ibu." Naira nampak berfikir sejenak. Anak didiknya satu ini benar-benar kritis menurutnya. "Lulu masih bisa berbakti kok sama Ibu Lulu." Ucap Naira. Lulu langsung menatapnya dengan wajah penasaran. Matanya mulai berbinar-binar kembali. "Bagaimana caranya Bu?" Tanya Lulu. "Caranya dengan mendoakan ibu Lulu. Karena doa Lulu yang sekarang diburuhin sama Ibu." "Doa Bu?" Naira mengangguk. "Iya, doa anak yang shalih Insya Allah bisa membantu orang tuanya. "Kalau gitu setiap Lulu kangen sama Ibu, Lulu mau berdoa biar Ibu Lulu bisa masuk surga. Bukan begitu Bu guru." Ucap Lulu. Dia langsung menghapus sisa-sisa air matanya. Naira mengangguk. "Iya sayang, sekarang Lulu tulis aja surat buat Ibu Lulu." "Surat ya Bu. Oke Bu." Dengan spontan Lulu langsung mencium pipi Naira. Naira terkejut dengan sikap anak muridnya itu. Lalu dia tersenyum, betapa anak ini menyayanginya. Itulah kenapa sejak dulu Naira berkeinginan menjadi guru-terutama guru SD. Sikap mereka tidak dibuat-buat. Kalau mereka tersenyum atau tertawa itu artinya hati mereka lagi senang. Kalau mereka menangis, artinya sedang sedih. Sesederhana itu. *** Naira tersenyum saat melihat layar handphone pintarnya. Disana tertera sebuah pesan dari Reza kalau saat ini suaminya itu sudah di depan gerbang sekolah untuk menjemputnya. Naira langsung segera merapikan berkas-berkasnya lalu menaruhnya di sebuah kotak file di atas mejanya. Dia langsung berpamitan kepada rekan guru yang saat ini masih berada di ruang guru. Sesekali dia mendengar ledekan dari rekan se-profesinya itu. Naira melihat seseorang yang sedang berdiri di depan mobilnya. Dia terlihat sibuk dengan ponselnya dan tidak menyadari kehadiran Naira. "Assalamu'alaykum Kak." Naira mengucap salam dan langsung di jawab oleh Reza. "Wa'alaykum salam." Naira meraih tangan Reza dan langsung mencium punggung tangan suaminya itu. Kemudian tangan Reza bergerak untuk membukakan pintu mobil untuk Naira. Naira tersenyum, dia tidak menyangka kalau suaminya bisa bersikap manis kepadanya. Setelah mereka masuk, mobil itu langsung bergegas meninggalkan sekolah. Disatu sisi, terlihat seorang laki-laki yang meremas tangannya sendiri. Buku-buku tangannya sampai memutih. Melihat senyum itu diperuntukkan untuk orang lain, dan bukan untukknya. Hatinya terasa sakit. Dia merutuki diinya sendiri, kalau saja dia tidak terlambat, mungkin saat ini dirinyalah yang berada diposisi laki-laki itu. "Kita mau kemana Kak?" Tanya Naira saat mobil Reza berbelok ke kanan, pada saat di perempatan jalan menuju rumahnya. Harusnya mobil itu lurus. "Sebentar lagi juga tahu." Jawab Reza singkat. Dia tersenyum ke arah Naira. Naira bingung saat mobil Reza memasuki sebuah rumah. Reza langsung memarkirkan mobilnya itu di garasi rumah tersebut. Rumah itu terlihat minimalis-modern. Naira mengedarkan pandangan saat dirinya sudah turun dari mobil. Rumah ini terdapat taman kecil dan juga rumah ini dikekelilingi oleh pagar. Pintu depan yang besar dan bergaya modern saat ini, tidak terlalu banyak jendela yang ditampilkan namun rumah ini dominan dengan kaca-kaca yang bening. Reza mengeluarkan sesuatu dari saku celana. Sedetik berikutnya pintu rumah ini terbuka. Naira masih bingung, kenapa suaminya itu punya kunci rumah ini. Sebenarnya ini rumah siapa? Tanya Naira dalam hati. "Kak, ini rumah siapa?" Tanya Naira kepada Reza. Dia tak bisa menahan rasa penasarannya itu. Dia mengedarkan pangangannya ke penjuru ruangan." "Rumah kita." Jawab Reza. "Sebelum Kakak menikah, kakak nabung buat beli rumah ini." "Kita pindah sekarang Kak? Barang-barang aku masih di rumah Mamah." "Kamu tenang aja, semuanya sudah dipindahin kok." Naira terkejut. Benar. Buktinya dia melihat komputer bututnya di salah satu ruangan. Dia yakin kalau itu adalah ruang kerja Reza. Naira terlihat sibuk merapikan pakaiannya yang berada di koper ke dalam lemari. Satu-persatu baju itu ditata dengan rapi. "Nai." Naira berdehem menjawab panggilan Reza. "Bisa kamu jelasin ini?" Tanya Reza. "Jelasin ap- Kakak! Itu buku diary aku!" Naira sampai berteriak saat dirinya tahu kalau buku diarynya itu berada di tangan suaminya. Dari mana dia dapet itu? Naira langsung berusaha meraih buku itu dari tangan Reza. Namun tetap saja tidak bisa, karena tinggi badannya di bawah tinggi suaminya. "Ya Allah jika dia jodohku, dekatkan aku dengannya. Jika dia bukan jodohku, maka kumohon jodohkan aku dengannya." Reza membaca salah satu kalimat yang ada di buku itu. "Maksa banget sih doanya." Ucap Reza sambil tertawa. Reza membuka kembali lembar berikutnya. "Siapa orang ini? ganteng banget, Nai. Keren lagi." Naira terlihat kesal dengan tingkah Reza. Biar bagaimanapun juga buku diary itu adalah privasinya. Di tambah lagi Reza yang pura-pura tidak tahu kalau foto itu adalah foto dirinya yang diam-diam Naira ambil dari akun instagramnya. Rasanya Naira maluuuu banget saat ini. Rahasia yang selama ini dijaganya terbongkar. Dia sudah tidak punya muka lagi untuk melihat suaminya itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN