Prolog
Suara katak bersahut-sahutan meramaikan sunyinya malam di sebuah Villa yang dikelilingi ladang jagung dan rentetan barisan rapi pohon cemara. Sepanjang jalan yang menjadi akses ke Villa tersebut tampak masih basah akibat guyuran hujan yang tak henti-hentinya turun selama beberapa hari terakhir. Musim hujan membawa kisah tersendiri bagi hamparan-hamparan yang beradu dengan ladang-ladang. Bau segar dan suasana dingin terasa menusuk sampai ke tulang-tulang. Meski minim penerangan, sesekali cahaya rembulan mengintip malu-malu dari balik awan hitam dan mampu menjadi lentera di kala malam. Beberapa pantulannya menembus sesosok lelaki yang sedang memandang kagum panorama alam yang terlihat dengan samar-samar dengan bantuan rembulan dari jendela villa itu. Seekor burung hantu datang dan bertengger tepat pada dahan sebuah pohon yang tumbuh di depan jendela dan membuat suara khas seakan mengucap salam ke arah lelaki itu, seketika Ia pun tersenyum menyapa balik. Menampakan lengkungan bibir di mukanya yang temaram. Sungguh pemandangan yang manis.
Meski suasana amat dingin, pakaian lelaki itu sangat tidak mendukung untuk sekadar menghangatkannya. Ia mengenakan setelan semi formal kemeja kotak-kotak berlengan pendek dan celana chino berwarna gelap serta dipadu padankan dengan sepatu model loafer berwarna gelap pula yang menyempurnakan postur tingginya. Di pergelangan tangan kirinya melingkar jam hitam brand internasional yang sudah tidak berdetak. Namun, ia sudah tak mempermasalahkan kondisi jamnya itu yang memang sudah mati. Ia tak mempedulikan pergantian waktu yang terjadi. Entah sejak kapan, ia pun tak ingat. Yang ada dalam benaknya hanyalah keberadaannya setelah tersadar sudah tergeletak di sebuah jalan sunyi. Sendiri. Kebingungan atas apa yang sebenarnya terjadi, siapa dia, dan kenapa dia ada di sana saat itu. Nalurinya mengatakan bahwa dia harus mengesampingkan segala macam tanda tanya yang bersarang di benaknya dan segera mencari tempat berteduh. Setelah cukup lama berjalan dan berkeliling, akhirnya sampailah dia pada sebuah rumah yang lebih mirip Villa. Villa berinterior kayu modern dengan furniture yang serba kayu pula di dalamnya. Membuat kesan estetika tersendiri dan menambah kehangatan yang membuat nyaman penghuninya. Tempat teduh yang pas untuk jiwa yang kesepian seperti dirinya. Sudah entah berapa purnama ia menghuni tempat itu sampai sekarang. Selama itu pula ia masih belum mengetahui jati dirinya, apakah ia tercipta memang sedari awal berupa makhluk halus atau di kehidupan sebelumnya dia juga pernah merasakan menjadi makhluk bernyawa bernama manusia? Entahlah. Tak ada petunjuk untuk itu.
Selesai beramah tamah dengan malam dan begitupun sang burung hantu pamit lalu pergi mengepakkan kedua sayap putihnya yang sangat lebar nan cantik dan tak lupa membuat suara yang cukup mencekam untuk didengar, entah ke mana burung epik itu tertuju, mungkin akan pergi menyapa kawannya yang lain. Lantas sosok lelaki rupawan itu berjalan menjauh dari jendela, gerakannya mampu menggoyangkan vitrase putih tipis yang menghiasi jendela tersebut dengan lembut. Kini ia kembali berkawan dengan sunyi dan sepi, menuju ke pintu tertutup yang tinggal beberapa meter di depannya.
Setttt! , tanpa ragu dilewatinya pintu itu. Ah, mungkin bukan berjalan, lebih tepatnya melayang. Tanpa membuka daun pintu. Hanya melesat pasti dengan elegan. Ya, dia menebus begitu saja pintu yang terbuat dari kayu jati itu tanpa luka maupun goresan sedikitpun.
…….…
Tampak seorang gadis berlarian sembari terengah-engah di tengah remang-remang malam. Keringat membasahi sekujur tubuhnya disertai rambut sebahu yang tampak lepek dan acak-acakan. Jantung memompa dadanya amat cepat dan keras, seakan-akan dadanya seperti akan meledak. Entah sudah berapa meter? Atau bahkan kilo kah dia berlari. Haus yang amat sangat mengeringkan kerongkongannya. Ia hanya ingin minum seteguk sebelum kembali melarikan diri. Namun tak ditemukannya sumber air barang setetespun. Sesekali ia menoleh lagi ke belakang. Dari kejauhan tampak sesosok lelaki tinggi, besar, beringas sedang mengacungkan pisaunya yang tampak mengkilat diterpa cahaya rembulan. Pemandangan yang mencengkam dan membuatnya semakin ketakutan.
“Sial!”. Umpatnya. Tanpa alasan yang jelas, si gadis merasa sudah ada di kondisi dan situasi seperti ini. Random sekali. Dikejar-kejar lelaki aneh dan menakutkan seperti itu. Ia pun tak tau, kenapa juga harus melarikan diri hanya karena nalurinya mengatakan untuk segera lari, lari menjauh darinya. Jangan sampai tertangkap. Meski ia sendiri ragu kenapa juga ia harus lari dan tidak menghadapi, kenapa juga ia harus terus-menerus dikejar. Namun, seberapa jauh pun dia berlari selalu hampir bisa terkejar. Nyatanya lelaki mengerikan itu selalu mampu mengekorinya. Kanan kiri jalan yang dilalui gadis itu tumbuh lebat pohon-pohon dan semak-semak. Ia kembali menghentikan langkahnya sejenak. Rasanya sudah tak sanggup lagi bila dipaksakan terus menghindar, cepat atau lambat ia akan jatuh tersungkur karena kakinya mulai lunglai. Dilihatnya kembali sekelilingnya. Ada rerimbunan semak-semak di sekitar pepohonan. Terbesitlah sebuah ide, Ia baru akan segera melesat ke dalam semak-semak, mungkin saja lelaki yang layaknya begal itu bisa dikelabui. Ok, gadis itu baru akan ke semak-semak. Tapi tunggu!, semak-semak itu bergerak-gerak, bukankah di sana tempat bersemayam puluhan atau bahkan ratusan ular derik? Membayangkan ada ratusan ekor ular beracun itu mengerumuni badannya, seketika si gadis bergidik ngeri. Ahh, ini gila! Si preman atau begal atau apalah itu hampir mendekat, dan di sisi lain bayangan ular derik juga mengancam. Benar-benar mengerikan sekali di posisinya sekarang. Dadanya semakin lama semakin bertambah panas. Ketakutan luar biasa sudah menyelimutinya. Dia akan segera menangis, pasrah. Nyatanya kakinya sudah lemas. Dia sudah cukup lama dan jauh untuk terus berlari. Sungguh, Lelah luar biasa.
“ Ya Tuhan, apa-apaan ini?! Aaaaa, siapapun tolong…!” Si Gadis berteriak sembari memejamkan mata.
Bertepatan setelah itu, sekelebat bayangan putih menyergap tubuh mungil gadis itu. Merangkulnya dengan sepasang tangan kekar nan kuat lalu membawanya menjauh dari lokasi Ia berada. Si gadis kaget bukan kepalang, Ketika Ia membuka matanya hanya melongo tak percaya. Kaki dan badannya bahkan sudah tak menapaki tanah. Ia terbang! Lantas melongok kebawah, dilihatnya si lelaki beringas masih mengacung-acungkan pisau ke arahnya sembari memintanya segera turun, dan tak jauh dari lelaki itu berdiri ada semak-semak yang ternyata benar, ada puluhan bahkan ratusan ular derik juga mendongak-dongak ke arah si gadis seperti juga menuntut untuk segera kembali ke bawah. Wah, seperti yang ia bayangkan!
Oke, untuk sementara ini ia lega untuk dua hal itu, dan apa ini… siapa yang dengan tiba-tiba menggendongnya dan mengajaknya terbang? Penyelamatnya? Atau penjahat lain yang berhasil mendapatkannya?
Tangan milik seorang lelaki. Masih belum hilang guncangan jantungnya akan kejadian tadi dan sekarang dia harus dihadapkan dengan situasi ajaib lain. Rambut sebahu gadis itu berkibar-kibar diterpa angin dan menutupi rupa sosok lelaki yang masih samar-samar terlihat. Disibaknya segera rambutnya dan woah!, apa ini, wajah malaikat…seketika mata gadis itu berbinar…lelaki ini jauh berbeda dengan lelaki yang ditemuinya di awal, yang sekarang jauh dari kata menakutkan meski rupanya tak terlihat jelas, entah sensasi aneh apa ini, rasanya justru nyaman, resah dan gelisah sirna seketika berada dipelukannya, dan dia penyelamatku…bisiknya dalam hati. lelaki malaikat itu masih tetap memandang lurus kedepan, tak menghiraukan tatapan orang yang dipeluknya. Si gadis tersenyum takjub masih belum percaya akan apa yang dilihatnya sekarang. Malam yang tampak remang mencekam di tengah hutan tadi, berubah atmosfernya, sinar rembulan mampu menerangi sekitarnya. membawa kehangatan tersendiri. Siapakah yang membawa kehangatan tiba-tiba ini? sang rembulan ataukah sosok yang baginya malaikat ini? entahlah.
“Kamu siapa…?” Si Gadis akhirnya memberanikan diri untuk memulai percakapan. Tatapannya tak bisa lepas ke arah lelaki itu. Menunggu dengan khidmat sepatah dua patah kata yang mungkin akan keluar dari yang ditanya. Lantas lelaki itu menoleh dalam gerakan lambat dan senyum menawan ke arahnya...
Namun, belum sempat mendengar jawabannya, sebuah tangan terbang tiba-tiba menepuk pipinya. Lumayan keras terasa. Berkali-kali. Bukan, bukan tangan lelaki itu. Tangan kekarnya masih setia memeluknya erat, mungkin takut bila gadis itu terjatuh. Kalau bukan tangannya, lalu tangan siapa itu?
…